Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Pak TongBAB VI :
JALAN DAN RANCANGAN TUHAN

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 66 :8-9).

Jika kita perhatikan apa yang dikatakan dalam Yesaya 55:8-9, maka kita akan menemukan penulis membuat perbandingan antara rancangan dan jalan Tuhan dengan rancangan dan jalan manusia. Dan boleh dikatakan bahwa ini bukan perbandingan antara perbedaan ukuran atau level, tetapi perbandingan antara perbedaan esensi yang sama sekali tidak mungkin dibandingkan. Jadi merupakan perbedaan kualitatif dan bukan perbedaan kuantitatif.

Pada abad kesembilan belas, seorang filsuf besar Denmark, Soren Aabye Kierkegaard, telah mengajukan sifat agama dan perbedaan secara kualitas. Menurutnya, perbedaan ini harus ditinjau dari tiga segi. Perbedaan antara dua level yang sama sekali berbeda. Karena langit yang sama sekali berbeda dengan bumi, demikian juga Allah dan manusia sama sekali berbeda, kekekalan dan kesementaraan juga sama sekali sekali berbeda.

Dengan kata lain, manusia tidak mungkin dapat mencapai Allah, sama seperti bumi tidak mungkin mencapai langit, demikian juga yang sementara tidak mungkin mencapai kekal. Sebab itu, tatkala Allah mengadakan perbandingan antara rancangan dan jalan-Nya dan rancangan dan jalan manusia, Dia mengatakan “Seperti jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Perbedaan antara langit dan bumi sungguh terlalu besar, tetapi dikemukakan di dalam perbandingan ini. Pertama menyangkut masalah rancangan, yang kedua mengenai masalah jalan. “Rancangan” berada di dalam, sedangkan “jalan” berada di luar. Rancangan adalah dasar dari seluruh pikiran, sedangkan jalan adalah ekspresi dari seluruh cara. Sebab itu, menggabungkan rancangan dan jalan berarti membahas tentang bagaimana konsep yang ada di dalam untuk mempengaruhi cara hidup yang ada di luar. Bagaimana rancangan seseorang, tentu akan berpengaruh pada kehidupannya. Bagaimana pikiran seseorang, akan menentukan cara hidup dan tingkah lakunya.

Psikologi mempunyai berbagai cara untuk menyatakan nilai kehidupan manusia. Manusia adalah apa yang dimakannya. Namun, Anaxagoras menentang pandangan itu dengan menyatakan bahwa apa yang dimakan tidak sama dengan yang ada. Misalnya, kita tidak makan rambut, mengapa tumbuh rambut? Pendapat lain menyatakan bahwa manusia adalah apa yang dipikirkan, namun kaum wanita menentangnya dengan berpendapat mengenai apa yang dirasakannya. Ada lagi yang berpendapat bahwa manusia adalah apa yang dikatakannya. Para ahli etika dan agamawan kebanyakan menekankan pada apa yang diperbuat oleh manusia.

Apakah manusia itu? Manusia adalah gabungan dari rancangan yang di dalam dirinya dan kehidupan yang di luar dirinya. Selama lebih dari 2.000 tahun ini, tatkala filsafat dan sejarah telah melakukan banyak riset yang berbeda-beda, Yesaya yang hidup lebih awal dari Konfusius maupun Socrates telah mengungkapkan kedua ayat tadi ;”Rancanganmu dan jalanmulah yang membentuk seluruh keberadaanmu, golongan antara pikiranmu dan perbuatanmu adalah ekspresi dari keseluruhan dirimu.”

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “rancangan” dan “jalan”? Menurut saya pribadi ini adalah dua aspek besar dari kebudayaan. Apakah aspek kebudayaan? Dari segi internal merupakan rancangan yang memimpin seluruh aktivitas masyarakat, dan secara eksternal merupakan ekspresi dari tingkah laku etika dan aktivitas masyarakat. Adapun kedua aspek itu adalah ideologi yang berada di dalam dan the way of life yang tampak di luar. Kehidupan orang India terbentuk berdasarkan rancangan India yang berada di dalam dirinya. Demokrasi di dunia Barat adalah ekspresi yang mencetuskan dambaan mereka terhadap rancangan demokrasi yang ada di dalam diri mereka. Tuhan bersabda, ”Jalan-Ku lebih tinggi daripada jalanmu, rancangan-Ku lebih tinggi daripada rancanganmu. Rancanganmu bukan rancangan-Ku, jalanmu bukan jalan-Ku.” Ini merupakan perbedaan kualitatif yang mutlak antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Jalan Allah lebih tinggi daripada kebudayaan manusia. Pada saatnya, segala kesuksesan manusia dan kristalisasi kebudayaan manusia akan tampak kekurangannya ketika diperhadapkan dengan penghakiman Allah berdasarkan kebenaran-Nya.

Pada waktu manusia bergumul, berjuang di dalam proses menjalankan mandat kebudayaan dan memperoleh kesuksesan tertentu untuk penemuan mereka akan hikmat yang Tuhan sembunyikan di dalam alam semesta, manusia seharusnya merasa kemuliaan Tuhan itu begitu besar. Kesuksesan ilmiah manusia adalah menemukan hikmat Allah yang disembunyikan di dalam alam yang diciptakan-Nya. Tujuan terakhirnya adalah menyatakan kemuliaan, kuasa dan keilahian-Nya yang kekal. Bukan saja supaya manusia merasakan keberadaan-Nya, tetapi juga mengembalikan kemuliaan kepada-Nya.

Ayat ini sekaligus merupakan suatu proklamasi yang serius. “Jalan-ku lebih tinggi daripada jalanmu, rancanganKu lebih tinggi daripada rancanganmu.” Firman yang Allah wahyukan jauh melampaui pikiran filsafat manusia. Kemuliaan hidup Allah dan peta teladan Allah yang terhormat jauh melampaui semua kesuksesan moral etika manusia. Kristus yang datang ke dalam dunia adalah puncak manifestasi rancangan dan jalan Allah di dalam sejarah manusia dalam tubuh jasmani. Ketika Yesus Kristus datang ke dunia, Dia telah memanifestasikan firman Allah yang melampaui semua filsafat, sistem pemikiran, dan bentuk pemikiran manusia ke dalam dunia. Kehidupan Tuhan Yesus mewujudkan apa yang seharusnya dicapai, namun nyatanya gagal dicapai oleh manusia, yaitu sebagai gambar dan rupa Allah.

Amin.

SUMBER :
Nama buku : Dosa dan Kebudayaan
Sub Judul : Bab VI Jalan dan Rancangan Tuhan
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Institut Reformed STEMI, 1997
Halaman : 51 – 54
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube