Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

Doktrin iman menjadi doktrin yang paling utama dalam iman orang Kristen. Agama Kristen tidak bersandar kepada kelakuan dan kelayakan manusia, bukan bersandar kepada tingginya moral seseorang yang menyebabkan ia diterima dan diberkati oleh Tuhan. Manusia diberkati Tuhan karena iman di dalam Kristus. Tanpa iman, tidak ada seorang pun yang berkenan di mata Tuhan. 

Iman yang sejati harus ditujukan kepada Tuhan melalui Kristus yang berinkarnasi sebagai manusia. Yesus adalah Allah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal, Firman yang dari kekal sampai kekal. Alkitab menuliskan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Dan Firman itu menjadi terang dunia (Yoh. 1:14). Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di tengah kita. Kebenaran Tuhan yang tertanam di dalam hati manusia akan bertunas menjadi iman kepercayaan. Firman mengandung bibit iman, maka iman datang dari pendengaran akan firman Tuhan. Siapa yang mendengar firman pasti imannya bertumbuh. 

Iman pertama adalah iman dasar yang Tuhan tanamkan di hati manusia, iman yang percaya bahwa Allah ada. Jika sudah ada iman dasar sebagai bibit, jangan ditekan tetapi biarkan bertumbuh. Ketika engkau mendengarkan firman Tuhan, iman itu akan membuat engkau mengerti Tuhan. Iman yang mau mendengar firman akan menerima bibit iman yang baru. Iman selanjutnya adalah iman jenis kedua, yaitu iman dari firman Tuhan. Kita mengetahui bahwa Allah bukan saja ada, tetapi Ia juga memberikan keselamatan dan pengampunan kepada kita melalui Kristus. 

Setelah menerima Kristus sebagai Juruselamat, kita tidak hanya menerima wahyu umum yang percaya bahwa Allah ada, tetapi juga percaya bahwa Allah juga memberikan keselamatan, menyediakan pengampunan, dan memberikan anugerah hidup baru; inilah iman jenis kedua. Iman jenis kedua tidak cukup, iman harus diterjemahkan menjadi kelakuan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika iman menghasilkan kelakuan yang baik, barulah orang Kristen menjadi terang dan garam dunia. 

Iman jenis ketiga adalah iman yang menghasilkan kelakuan dan moral yang baik, karena iman tanpa kelakuan adalah mati adanya. Iman yang percaya bahwa Allah ada adalah iman dasar. Iman yang percaya pada anugerah Allah adalah karunia. Iman yang diterjemahkan menjadi kelakuan adalah kewajiban. Hidup kita perlu menyatakan bahwa ada iman di dalam dengan cara menunjukkan ada kelakuan di luar. 

Iman yang keempat adalah iman yang bersandar kepada Tuhan, setiap hari taat dan minta pimpinan Tuhan. Orang yang belum percaya kepada Tuhan dan menerima keselamatan, tidak mempunyai iman seperti ini. Iman yang percaya bahwa Tuhan memberi keselamatan dan membuat kita ingin melakukan kebajikan, menjalankan kelakuan, membuktikan bahwa iman kita bukan iman yang mati, tetapi iman yang hidup. Iman jenis keempat terus bersandar kepada Tuhan untuk memperoleh berkat, terus memperbarui hidup kita, dan memercayakan diri sepenuhnya di dalam Allah. 

Orang Kristen adalah orang yang bersandar kepada Tuhan, hidup memandang Tuhan, percaya dan taat kepada Allah. Selain bersandar, ia juga harus belajar mengerti. Sesudah mengerti, ia perlu taat. Hanya percaya tanpa mengerti akan menjadi iman yang buta. Hanya percaya dan mengerti tanpa menjalankan dengan taat, akan menjadi iman yang egois. Iman kita jangan buta. Kita harus mencelikkan mata kita untuk melihat kehendak Tuhan, mengerti rencana-Nya. Iman harus tidak egois, menaati Tuhan, dan menjalani semua perintah-Nya. Iman adalah hal yang terjadi dalam rohani, bukan jasmani. 

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dua aspek. Pertama, aspek jasmani: dengan debu tanah Tuhan menciptakan Adam. Kedua, aspek rohani: Tuhan meniupkan napas-Nya ke dalam hidung Adam agar dia menjadi manusia yang hidup dan bersifat roh. Maka, kebutuhan kita sebagai manusia memiliki dua aspek. Aspek pertama, aspek jasmani, kita perlu materi, makanan, yang mengisi kebutuhan jasmani. Tetapi Tuhan berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari firman Tuhan.” Firman menghidupkan kerohanian kita seperti makanan menghidupkan tubuh kita. Tubuh kita perlu makan, roh kita lebih perlu makan. Jiwa kita, rohani kita, membutuhkan firman Tuhan yang menghidupkan. Jika firman Tuhan yang dikhotbahkan dari mimbar sangat berbobot dan sesuai Alkitab, orang Kristen tidak mungkin kelaparan dan miskin rohani. Kita memerlukan jiwa yang merindukan firman Tuhan. Siapa yang selalu merasa haus akan kebenaran akan diisi hingga kenyang. Ketika badan diisi oleh makanan, dan rohani diisi oleh firman yang diterima melalui telinga, kita akan seimbang dan stabil, mendapat gizi yang cukup dari Tuhan. 

Dengan demikian, roh (aspek rohani) mengambil peran yang menentukan apakah fase iman berjalan dengan benar dan sehat. Jika mau bertumbuh dalam kesehatan yang sempurna dan seimbang, kita harus selalu mendengar firman yang penting, baik, dan berbobot untuk mengisi kebutuhan kita. Apa yang disebut iman bukan terjadi di luar tetapi terjadi di dalam. Iman adalah hal yang berkenaan dengan hal yang terjadi di dalam roh (di dalam aspek rohani kita). Contohnya, semua anak yang suka melukis, ketika mereka mengambil pena langsung menggambar. Ada yang gambarnya beres, ada yang berantakan. Yang gambarnya berantakan mengatakan, “Saya mau gambar papa mama.” Ia menggambar bulatan, lalu diberi dua bulatan kecil dan segitiga di tengahnya. Ia berkata, “Bulatan besar itu kepala, bulatan yang kecil adalah mata, dan segitiga itu hidung.” Lalu ia berkata bahwa ia sudah pandai menggambar. Namun, ia bukan sedang menggambar, melainkan membuat coretan-coretan, karena gambarnya berantakan. Coretan-coretan tidak boleh sembarangan jika mau disebut sebagai gambar. Seseorang harus mengikuti aturan dan ukuran yang benar, yaitu mengikuti apa yang sudah ada. Ini disebut imitasi. 

Aristoteles, 2.400 tahun yang lalu, memberikan definisi art is the imitation of nature (seni adalah imitasi alam). Sampai 1.900 tahun yang lalu, semua orang berpikir bahwa seni adalah imitasi alam. Tetapi setelah abad ke-15, muncullah Leonardo da Vinci, seorang yang mengubah definisi seni. Dia mengatakan, “Seni bukan imitasi alam, seni menyatakan gerak-gerik dari spirit (roh) seseorang.” Ketika melukis manusia, seorang seniman harus dapat mengutarakan jiwanya mau apa, barulah disebut seni. Jika hanya melukis orang, dua mata, itu bukan seni. Itu lukisan primitif, gambar yang mengikuti alam tetapi tidak ada seninya. Da Vinci menggambar Mona Lisa, matanya tenang, mulutnya sedikit senyum, tidak kelihatan gigi, kepalanya miring sedikit, melihat ke depan, belakangnya alam, tetapi depannya seni. Da Vinci bukan sekadar meniru, hanya mengopi alam. Ia menemukan inovasi bagaimana mengutarakan ekspresi jiwa seseorang. Ketika melihat lukisan Mona Lisa, engkau tertarik kepada matanya, mengapa ia tersenyum, mengapa matanya ke depan. Sejak itu, seni mulai mengalami revolusi besar, seni mulai berkembang luar biasa. 

Pada abad ke-19, seni menjadi impresionis, abstrak, dan kacau balau. Lukisan dari Michelangelo, Raffaello Sanzio, dan Leonardo da Vinci memikirkan bagaimana mengutarakan jiwa, keinginan, perasaan, dan inspirasi paling dalam dari manusia. Da Vinci mengatakan bahwa orang yang dapat mengutarakan, menyatakan ekspresi perasaan jiwanya menuju ke mana, disebut seniman. Spirit (roh) menentukan seni, spirit menentukan arahnya mau ke mana. Manusia terbentuk dari badan di luar yang bersifat materi dan roh di dalam yang bersifat rohani. Alkitab mengatakan bahwa kita hidup bukan hanya dari makanan saja, itu hanya materi yang sama dengan binatang. Kita perlu makanan, kuda perlu makanan. Kita perlu minuman, anjing perlu minuman. Sebagai manusia kita memiliki pendirian, tetapi tidak ada binatang yang memiliki pendirian. Binatang tidak mengetahui apa itu iman, pengharapan, cinta yang kekal, dan kebutuhan rohani, karena mereka tidak mempunyai roh seperti manusia. Itu sebabnya manusia mempunyai keinginan roh, dan keinginan roh yang membuat manusia mempunyai pengertian seni, tetapi binatang tidak. 

Da Vinci tidak salah. Aktivitas roh menentukan makna seni (the action of the spirit is the meaning of art). Jika seni tidak dapat menggambarkan arah dan gerak potensi roh, seni tidak bernilai. Kita masuk ke dalam arah, ke dalam bidang rohani untuk bicara iman, iman terjadi di dalam roh (spirit). Maka yang disebut iman adalah rohnya mau apa. Pertama, spirit harus berpaling, roh berputar arah dan menghadap Tuhan. Definisi pertama, iman adalah arah rohani. Ketika manusia mulai konsentrasi melihat Tuhan, mencari Tuhan, hidup menghadap Tuhan, serta merenungkan dan mencari pimpinan Tuhan, itu orang beriman. Jadi, iman adalah arah rohani. Kita diciptakan dengan pengertian arah. Kita diciptakan dengan mata ke depan, hidung ke depan, kuping ke depan, mulut ke depan, karena Tuhan mau kita mempunyai arah yang hanya ke depan. Lain dengan ikan. Ikan mempunyai dua mata, satu melihat ke kanan, satu melihat ke kiri. Binatang juga banyak yang satu arah tetapi binatang tidak bisa dibandingkan dengan manusia. Manusia harus mengarah bukan hanya ke arah materi, tetapi ke arah rohani, mengarah kepada Tuhan. 

 

Sumber : https://www.buletinpillar.org/transkrip/iman-pengharapan-dan-kasih-bagian-13-doktrin-iman

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube