Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

Orang Farisi adalah orang beragama yang paling tinggi kelasnya di dalam masyarakat Yahudi. Ketika Yesus hidup di dunia, Ia berkata, “Celakalah engkau orang Farisi yang pura-pura. Celakalah engkau ahli hukum (ahli Taurat) yang munafik, karena mulutmu membicarakan kebenaran, tetapi hatimu jauh dari padanya.” Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang dengan seluruh hidup dan jiwanya menghadap Tuhan. Saya menaruh Tuhan di depan dan hanya hidup menghadap Tuhan. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Inilah kalimat Daud. Daud juga berkata, “Tuhan, Engkau menilik aku, bukan? Engkau memeriksa hatiku? Ketika aku berdiri, aku berbaring, aku duduk, atau aku berjalan, semua tidak ada yang tertutup dari hadapan-Mu.” 

Setiap saat, setiap peristiwa, setiap kalimat dan tindak tanduk yang manusia lakukan, tidak dapat menipu Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahatahu. Ia melihat sampai ke dalam hati kita semua. Daud mengatakan, “Dari jauh Engkau sudah melihat aku. Ketika aku berbaring, Engkau sudah menilik hatiku; ketika aku berdiri, engkau sudah mengenal pikiranku.” Daud mengatakan Tuhan tahu semua. Tetapi baru di bagian akhir Daud berkata, “Selidikilah hatiku.” Daud tidak mengatakan ini dari permulaan, karena ketika pada awalnya Tuhan menyelidiki dirinya, ia tidak tahu. Sekarang ia minta diselidiki lagi agar ia tahu. Bedanya, melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan tidak mungkin salah. 

Jika menilai segala sesuatu dengan mata kita sendiri, pasti banyak kesalahan terjadi. Tetapi ketika kita bisa melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan, maka tidak mungkin salah. Melihat segala sesuatu janganlah menggunakan pandangan subjektif mata kita sendiri. Menilai segala sesuatu harus dengan subjektivitas mata Tuhan. Setiap orang Kristen yang hidup di dalam diri sendiri tidak mungkin maju, tetapi hidup melalui mata Tuhan memungkinkan kita maju pesat sekali. Mengapa ada seseorang yang baru bertobat tiga tahun sudah bisa berkhotbah dan melayani Tuhan dengan begitu baik dan setia, tetapi ada orang lain yang sudah menjadi Kristen berpuluh-puluh tahun namun hidupnya tetap sembarangan? Hal ini disebabkan ia tidak pernah mengubah pandangannya dari subjektivitas diri yang berdosa menjadi subjektivitas Tuhan yang suci. Ia tidak pernah melihat diri melalui pandangan Tuhan. Jika seseorang terus mengikuti pandangan Tuhan, menilai segala sesuatu melalui takhta Tuhan, mengerti kriteria dan cara penilaian Tuhan, hal itu akan membuat orang tersebut tidak mungkin sembarangan jatuh ke dalam dosa. Ini yang disebut hidup menghadap kepada Tuhan. 

Ketika menghadap kepada Tuhan, maka rohanimu beriman. Yang disebut iman, berarti arah dari jiwamu kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan. Jika seseorang mempunyai satu tujuan, satu sasaran, hanya kepada Tuhan, hidup menghadap kepada Tuhan, ia adalah orang yang beriman kepada Tuhan. Iman berarti sasaran rohani kepada Tuhan.

Kedua, iman berarti melihat yang dilihat Tuhan. Di dalam Alkitab banyak istilah melihat, “lihatlah Anak Domba Allah”, “lihatlah kemuliaan Allah”, “lihatlah sesamamu”. Di dalam Alkitab, ada seorang buta yang disembuhkan Yesus. Pertama kali ia memegang matanya, Tuhan bertanya kepadanya, “Apa yang kaulihat?” Dia menjawab, “Aku melihat orang berjalan, seperti rimba yang goyang.” Berarti masih kabur, tidak jelas. Tuhan melakukan satu kali lagi, menumpangkan tangan, menjamah matanya. Setelah disentuh lagi, ditanya lagi, sekarang dia melihat apa? “Aku melihat semua dengan jelas.” Tuhan berkata, tanpa diperanakkan oleh air dan Roh Kudus, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Hanya melihat Kerajaan Allah saja belum cukup, engkau harus masuk ke dalam Kerajaan Allah. 

Alkitab sangat sering berbicara tentang melihat, melihat, dan melihat. Tetapi apakah engkau melihat dengan jelas? Orang yang melihat dengan tidak jelas, tidak mungkin bekerja dengan baik. Tentang melihat, dalam bahasa Inggris ada empat istilah yang berbeda sekali: 1) blink, artinya engkau mendadak melihat sesuatu dengan jelas, “Oh ternyata begitu,” 2) blank, melihatnya seperti terantuk, matanya seperti tertutup separuh, melihat tidak jelas, 3) blur, melihat semua kacau menjadi satu, tidak jelas apa, 4) blind (buta), tidak mampu melihat apa pun. Blink, blank, blur, blind. Setelah empat hal ini, yang paling celaka adalah black (hitam pekat). Engkau berada di posisi yang mana? Orang yang blink tidak akan sembarangan mengatakan dirinya blink. Ia melihat dengan jelas, juga melihat kekurangan sendiri. Kita perlu blink, diberikan sorotan dan cahaya dari Roh Kudus, sehingga mata rohani kita melihat. 

Yang disebut iman, pertama arahnya dibenarkan, kedua, matanya dijelaskan. Jika mata sudah jelas melihat apa pun, berbeda dengan melihat tidak jelas. Ada orang yang melihat semua kabur, semua sama, tidak bisa membedakan yang istimewa, yang akurat, dan yang benar yang mana. Ada orang yang sudah beriman kepada Tuhan dan sudah percaya, namun ia tidak bisa menjelaskan Tuhan itu bagaimana, karena ia tidak blink, tetapi blank, blur, blind. Akibatnya, ia tidak memiliki definisi atau deskripsi yang akurat untuk membuktikan bahwa ia telah melihat dengan jelas. Jika hati nuranimu sudah dikotori, dikaburkan banyak dosa, engkau tidak pernah dapat melihat apa pun dengan jelas. Mari kita tinggalkan segala dosa, menghapus segala halangan, supaya mata rohanimu melihat Tuhan dengan jernih, dengan jelas. Ini yang namanya iman. 

Ada cerita, ada seseorang yang sudah berjalan sampai Parliament House di London, mendadak ia tidak bisa melihat, karena kota London sedang berkabut. Dia terus jalan sana sini, tetapi tidak dapat melihat jelas, padahal ia ada rapat penting di mana ia sudah harus tiba di sana sepuluh menit yang lalu. Karena kabut tebal, ia belum sampai, bahkan belum tahu arahnya ke mana. Dia ke kanan salah, ke kiri salah, ke depan salah, karena terlalu gelap oleh kabut. Lalu dia mengomel sendiri, “Dua menit lagi saya mesti rapat, mereka perlu saya, dan saya perlu dengar mereka, tetapi bagaimana mau pergi?” Ketika ia sedang mengomel, mendadak di tengah kabut ada satu tangan yang memegang tangannya dan berkata, “Ikut saya!” Ia bertanya, “Siapa kamu? Mengapa saya harus ikut kamu?” Orang itu menjawab, “Saya akan bawa kamu masuk ke Parliament House.” Lalu ia menjawab, “Mau, saya mau.” Lalu tangannya dipegang, satu menit sampai di Parliament House. Ketika orang yang menggandengnya mau pulang, ia berkata, “Jangan pulang dahulu. Saya mau tahu siapa engkau yang begitu hebat, dalam satu menit bisa membawa saya dengan cepat sampai di Parliament House. Apa rahasiamu?” Orang itu senyum-senyum dan menjawab, “Rahasianya hanya satu.” Orang itu menjawab satu kalimat, yang membuat ia kaget setengah mati, “Sebab saya buta.” “Ha? Engkau bisa membawa saya begitu cepat karena buta?” Orang buta tidak dipengaruhi kabut. Berapa pun tebalnya kabut tidak masalah, karena dia buta. Tetapi ia sudah sering di sana sehingga jalan kanan, jalan kiri, dapat ia lakukan tanpa perlu melihat. Ketika kakinya menyentuh satu pintu, dia tahu ini pintu apa. Ketika tangannya memegang sesuatu, dia tahu ini engsel apa. Ia sangat peka dan pintar. 

Apa ajaran dari cerita ini? Ada orang yang matanya besar tetapi tidak melihat apa pun. Ada orang yang buta, apa pun peka, karena dunia ini dunia sindiran, dunia paradoks. Adakah orang kaya yang miskin? Banyak. Adakah orang miskin yang kaya? Juga banyak. Adakah orang pintar yang bodoh? Banyak sekali. Adakah orang biasa yang pintar? Banyak sekali. Mengapa yang pintar menjadi bodoh? Karena mereka mempunyai kepintaran duniawi, bukan kebijaksanaan dari sorga. Mengapa yang bodoh menjadi pintar? Karena mereka dianggap bodoh, kurang sekolah, tetapi hatinya mempunyai naluri yang kuat. Di dunia ini ada orang kaya yang miskin sekali, ada orang miskin yang kaya sekali. Orang kaya yang miskin sekali adalah orang yang bagaimana pun kaya tidak pernah puas. Sudah ada ratusan miliar tetap tidak puas. Maunya untung terus. Ia menipu, menyeleweng, segala sesuatu dikerjakan dengan tidak jujur. Mau kaya, akhirnya paling miskin, menjadi pengemis besar-besaran, merebut dan menipu uang orang lain. Dia mau cepat kaya, akhirnya menjadi miskin. 

Saya pernah berbicara dengan seseorang yang penting agar jangan ingin cepat kaya, akhirnya ia terjeblos. Sudah jatuh, seumur hidup tidak bisa kembali lagi. Orang itu sudah terperosok jatuh, sudah tidak bisa kembali lagi. Sekarang tidak mau lagi ikut kebaktian yang saya pimpin, karena dia pikir dia pintar, padahal bodoh. Di dunia ini banyak orang yang kelihatannya bodoh, tetapi pintar. Banyak orang yang miskin tetapi kaya, karena di dalam kemiskinannya, walaupun uangnya tidak banyak, tetapi masih kasih orang, membantu orang, menjadi orang yang berjiwa konglomerat walaupun kantongnya kantong biasa. Ada orang berkantong konglomerat, tetapi jiwanya pelit luar biasa, sehingga kelihatan kaya, tetapi miskin. Banyak orang konglomerat adalah pengemis besar-besaran, karena mereka terus kekurangan uang, terus mau kaya, terus mengambil uang orang lain. Mereka menjadi pengemis yang berkaliber besar. Tetapi ada orang biasa yang tidak terlalu kaya, ada uang memberi kepada orang, seperti orang kaya. Tuhan membuat mereka bermentalitas kaya. Jika engkau sungguh-sungguh memberi, mengasihani, menghormati orang lain, Tuhan tidak pernah melupakan kita. Dengan demikian engkau melihat yang tidak dilihat oleh orang lain. Itulah iman. 

Mengapa orang yang buta tadi bisa memimpin? Karena ia tidak dipengaruhi oleh kabut. Sekarang kita terlalu banyak yang matanya terbuka lebar, akhirnya yang dilihat hanya kabut, bukan manusia. Banyak orang Kristen yang matanya dibuka terlalu besar, akhirnya tidak bisa melihat anugerah Tuhan, hanya melihat kebanggaan diri, hanya melihat kesombongan diri. Hal demikian berbahaya sekali. Kita harus beriman. Iman berarti mengarah kepada Tuhan dan iman juga berarti melihat pimpinan Tuhan. Kedua hal ini menyatakan bahwa kita beriman kepada Tuhan. Orang Kristen yang mengikuti Tuhan harus melihat apa yang dilihat oleh Tuhan. Jika engkau tidak diperanakkan oleh Roh Kudus, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Jika engkau tidak diperanakkan melalui air dan Roh Kudus, engkau tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yang disebut melihat Kerajaan Allah berarti engkau sudah mempunyai iman kepada Tuhan, berarti engkau mengarah kepada Tuhan. Karena iman adalah arah, iman adalah penglihatan. Dalam tema berikutnya, akan dibahas aspek ketiga dari iman, yaitu iman adalah memegang Tuhan. Kiranya Tuhan memperbaiki iman kita, membenarkan iman kita, bukan menjadi orang yang sembarangan. Amin.

Sumber : https://www.buletinpillar.org/transkrip/iman-pengharapan-dan-kasih-bagian-12-doktrin-iman#

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube