Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

… Sebelumnya

Iman di dalam Kristus terjadi di dalam relasi antarpribadi. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita mendapat jati diri dan kepercayaan yang menghubungkan kita dengan Allah. Selain memiliki hubungan pribadi antara yang dicipta dan Yang Mencipta, juga antara diri dan diri sendiri, serta antara diri dan orang lain yang juga dicipta Tuhan dalam peta dan teladan-Nya. 

Ada tiga jenis relasi dalam “relasi antarpribadi” (interpersonal relationship): antara saya dan Allah, antara saya dan diri, dan antara saya dan sesama yang dicipta menurut peta teladan Allah sebagai umat manusia. Manusia memiliki pribadi karena Allah juga berpribadi. Pribadi Allah terdiri dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Ketiga pribadi ini memiliki hubungan satu dengan yang lain, memiliki relasi antara pribadi dan pribadi. Relasi antara tiga pribadi ini menjadi teladan dan fondasi hubungan pribadi dengan pribadi lain. 

Allah menjadi dasar komunitas dan teladan masyarakat. Antara yang dicipta dan Yang Mencipta, Tuhan menjadi sumber segala sesuatu: relasi Allah Bapa kepada Allah Anak dan Allah Roh Kudus, Allah Anak kepada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, Allah Roh Kudus kepada Allah Bapa dan Allah Anak. Tiga pribadi ini saling berhubungan dengan teladan yang terindah, relasi yang tersuci, teradil, terbenar, dan penuh kasih. Tidak ada agama yang mengajarkan hal ini dan percaya kepada Allah Tritunggal. Tidak ada agama yang mengetahui apa artinya pribadi dan pribadi membentuk hubungan kasih, relasi, keadilan, kesucian, keabadian kekal, dan mengerti relasi Allah Tritunggal. Orang Kristen yang mengerti hubungan relasi antarpribadi ini harus mencontoh Tuhan dan mengikuti teladan Kristus yang turun ke dunia. 

Allah menciptakan manusia dengan peta dan teladan Allah. Allah menjadi teladan dengan mengirim Kristus berinkarnasi ke dalam dunia. Peta Allah diberikan dalam potensi di mana kita mempunyai peta tersebut. Kristus turun ke dunia menjadi teladan kita, menjadi satu-satunya pribadi, menjadi sumber moralitas seluruh alam semesta. Dalam Kristus kita belajar mengenal kasih, kesucian, keadilan, belas kasihan, dan kebenaran. Dalam Kristus seluruh dunia dipersatukan, semua pribadi diberikan teladan. Setelah beriman kepada Allah Tritunggal, kita beriman kepada Tuhan yang menjadi dasar iman pada diri sendiri. 

Iman kepada Tuhan menjadi dasar iman kepada diri sendiri. Orang yang percaya Tuhan mendapat kekuatan untuk percaya diri. Apakah percaya Tuhan saja tidak cukup? Apakah masih perlu percaya diri? Percaya diri adalah penilaian pertama yang menegakkan kehormatan kita sebagai pribadi. Orang yang tidak percaya diri tidak mungkin menghargai diri sendiri dan dihargai oleh orang lain. Jika engkau tidak menghargai diri sendiri, jangan menuntut orang lain menghargai engkau. Jika engkau tidak percaya kepada diri sendiri, jangan menuntut orang lain percaya kepada engkau. Memercayai diri sendiri berarti memiliki keyakinan kepada diri kita sendiri dan mampu menghargai diri kita sendiri, sehingga dengan demikian orang lain juga bisa percaya kepada kita dan menghargai diri kita. Orang lain menghargai dan menghormati kita berlandaskan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. 

Setiap orang harus mempunyai penghargaan diri. Ini berdasarkan sifat relativitas yang diciptakan Tuhan hanya untuk manusia. Tidak ada binatang yang dapat menghargai diri sendiri; binatang hanya dapat memelihara diri sendiri. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menilai diri, menghargai diri, mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, dan mengasihi diri dengan kasih sebagai peta teladan Allah. 

Allah menciptakan manusia dengan begitu ajaib. Engkau berada di dalam dirimu dan engkau berada di luar dirimu. Yang di luar dirimu adalah dirimu, yang di dalam dirimu juga adalah dirimu. Engkau memecahkan diri dari diri, sehingga melihat diri dari luar untuk menilai diri di dalam. Ini namanya relativitas, hubungan timbal-balik diri terhadap diri. Menilai diri, menghargai diri, menghormati diri, menuntut diri adalah diri terhadap diri. 

Manusia mempunyai hubungan relasi antara diri di luar dan diri di dalam. Diri berbicara ke dalam diri merupakan pemisahan diri, pembagian diri, dan juga apresiasi diri. Diri keluar dari diri, berbicara kepada diri, berdialog dengan diri sendiri, karena di dalam dirimu yang eksis, terjadi relasi relativitas yang dicipta Tuhan. Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis membedakan: being in itself dan being to itself. Ketika being in itself, saya berada di dalam diriku. Ketika being to itself, saya berada di luar diriku. Melihat dari luar diri ke dalam diri namanya menghargai diri, mengapresiasi diri, dan menghormati diri. Manusia mengerti menilai diri sendiri dari luar diri, karena manusia diberi kemungkinan bersubjektivitas untuk menilai diri yang berobjektivitas. Saya berada sebagai subjek dan menilai diri sebagai objek. Saya menjadi bagaimana, bukan karena yang dikatakan dan dinilai oleh orang lain, tetapi karena saya yang menilai diri sendiri. Ini hanya ada pada manusia. Tidak ada kucing yang dapat menilai diri sendiri, tidak ada harimau yang dapat menghargai diri sendiri. Semua binatang hanya berada di dalam diri yang tidak berseparasi. Manusia adalah satu-satunya diri yang dapat diseparasikan menjadi manusia yang menghadapi manusia, diri yang menilai diri. 

Setelah percaya dan beriman kepada Tuhan, Tuhan memberikan kita kemungkinan beriman kepada diri. Jika engkau melihat dirimu lebih tinggi dari sepatutnya, berarti engkau mengalami superiority complex (kesombongan). Jika engkau melihat dirimu lebih rendah dari seharusnya, disebut inferiority complex (rendah diri). Kedua hal ini berarti jatuh. Satu jatuh terlalu tinggi ke atas, satu jatuh terlalu rendah ke bawah. Kita mempunyai konsep bahwa jatuh harus ke bawah karena dipengaruhi daya tarik bumi. Semua di bumi jika jatuh ditarik oleh bumi, jatuh ke bumi ke bawah, tidak ada yang jatuh ke langit. Ini melawan gravitasi. Alkitab berkata bahwa yang pertama kali jatuh bukan manusia, tetapi malaikat. Malaikat berkata, “Aku ingin lebih tinggi, setinggi Tuhan.” Ini namanya jatuh ke atas, ketika malaikat meninggalkan posisi asli yang ditetapkan Tuhan sebagai malaikat. Ia tidak mau dan tidak rela menjadi malaikat, mau menjadi Tuhan, ia ingin setara Allah, ia ingin naik ke atas. Allah tidak pernah mengatakan, “Engkau dapat menjadi Allah.” Allah mengatakan, “Allah adalah Allah, manusia adalah manusia, malaikat adalah malaikat.” Menurut Alkitab, orang yang jatuh dalam dosa adalah orang yang tidak mau berada dalam posisi yang ditetapkan Tuhan. 

Jika seseorang tidak berani, tidak mau, dan tidak rela menjaga kedudukan, potensi, dan derajat yang Tuhan tetapkan, ia jatuh. Jatuh ke bawah adalah melarat dan rendah; jatuh ke atas adalah ambisi liar. Alkitab adalah satu-satunya buku yang membicarakan malaikat jatuh ke atas, bukan jatuh ke bawah. Malaikat ingin menjadi Tuhan, ini ambisi liar yang tidak boleh terjadi, tidak mungkin terjadi, dan tidak diizinkan terjadi, karena Allah adalah Allah, dan Ia tidak memberikan tempat-Nya untuk yang dicipta. Allah menciptakan malaikat, Allah tidak mengizinkan malaikat menjadi Allah, juga tidak mengizinkan malaikat menjadi manusia. Hanya Allah sendiri yang pernah merendahkan diri, berinkarnasi, dan menjelma menjadi manusia. Selain itu tidak boleh terjadi. 

Ketika manusia ingin menjadi seperti Allah, ini dipengaruhi oleh Iblis. Karena Iblis adalah malaikat yang hanya malaikat, tetapi tidak rela menjadi malaikat. Oleh karena itu, Tuhan mencampakkan dia, turun dari tempat yang sebenarnya begitu tinggi melayani Tuhan, menjadi setan yang akhirnya dibuang dari sorga. Mengapa dibuang dari sorga? Karena tidak layak lagi mempunyai tempat aslinya, yaitu tempat sebagai malaikat. Orang yang mempunyai ambisi liar, tidak puas dengan pimpinan Tuhan, akan hancur, karena berusaha jatuh ke atas. Akibatnya, ia dilempar Tuhan jatuh ke bawah. Setelah malaikat jatuh, ia mulai mengganggu dan mencobai manusia.

Tuhan adalah Allah yang ajaib, Allah yang Mahakuasa, yang tidak pernah dilampaui oleh siapa pun. Barang siapa yang tidak rela memelihara status yang diberikan Tuhan, mempunyai ambisi liar ingin lebih tinggi dari posisi yang seharusnya, Tuhan pasti mencampakkannya. 

Apa bedanya Kristus dengan setan? Apa bedanya Kristus dengan malaikat yang jatuh? Kristus diberikan kedudukan dan Ia taat kepada pimpinan Allah. Ia tidak pernah melawan Allah. Kehendak Allah dijalankan oleh Kristus dan menjadi contoh bagi semua makhluk yang harus taat kepada Kristus, seperti Kristus taat kepada Allah. Kristus adalah Allah, dan Allah Bapa menyuruh-Nya menjelma menjadi manusia. Ia rela, taat, dan mengikuti pimpinan Allah. Setan berbeda, ia mau menjadi Allah. Yesus adalah Allah Pribadi Kedua yang rela taat kepada Allah Pribadi Pertama. Setan bukan Allah, ia hanya ciptaan, tetapi tidak rela taat kepada Allah dan menjaga posisi orisinal yang Tuhan berikan, dan ia mau meninggalkan tempatnya, naik ke atas, jatuh ke atas. Kristus dipimpin Allah turun ke dunia, dari Allah Sang Pencipta, turun menjadi manusia yang dicipta. Karena kerelaan Kristus yang turun, Ia dinaikkan Allah, diberikan tempat lebih tinggi daripada siapa pun, dari segala pemerintah, dari segala penguasa, dari segala alam semesta, sehingga tidak ada yang lebih tinggi dari Kristus. Kristus yang berada di tempat yang paling tinggi, rela turun ke tempat yang paling rendah, akhirnya diangkat oleh Allah. Malaikat di tempat yang bukan paling tinggi, mau lebih tinggi lagi, akhirnya diturunkan Tuhan menjadi setan.

Bersambung

Sumber : https://www.buletinpillar.org/transkrip/iman-pengharapan-dan-kasih-bagian-11-doktrin-iman

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube