Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

Kita tidak dapat menyangkal, kita tidak dapat melarikan diri, kita tidak dapat membanggakan diri dengan segala perlindungan kita. Immanuel Kant di dalam pendahuluan bukunya, The Critique of Practical Reason, mengatakan, “Ada dua hal yang senantiasa saya takuti dan kagumi, yaitu: Pertama, memandang ke atas sana ada sorga yang penuh bintang, inilah hal yang saya kagumi, yang menggetarkan saya. Di atas sana ada langit dengan bermiliar bintang. Makin melihat, makin menyadari keberadaan langit, makin gemetar, makin takut. Dan kedua, suara hati nurani di dalam dada, yang membuat saya makin lama makin takut dan makin gemetar.” Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar, meskipun kita tidak tahu seberapa jauh iman Kristennya, tetapi ia gentar di hadapan Tuhan, karena langit di atas dan hati nurani di dalam, membuat dia begitu kagum dan gentar. Ia terkejut dan penuh perasaan takut kepada Tuhan. Di atas batu nisan Kant tertulis, “Two things make me awful, the starry heavens and the speaking conscience” (Dua hal yang mengagumkanku, langit yang berbintang dan hati nurani yang berbicara).

Apa yang Kant katakan telah tertulis di dalam Roma 1:19-20. Di sini dikatakan bahwa sejak alam semesta diciptakan, hal yang mungkin diketahui manusia sudah dinyatakan melalui alam semesta yang dicipta dan hati nurani yang berbicara. Paulus memaparkan realitas bahwa Allah telah memberikan iman dasar di dalam hati setiap orang. Setiap manusia yang dicipta menurut peta teladan Allah, tidak terkecuali, tidak ada yang terlewat, di dalam hatinya sudah Tuhan tanamkan hal ini. Karena iman ada di dalam hati setiap manusia, maka manusia yang menyangkalnya adalah manusia yang menipu dirinya sendiri. Manusia yang menyangkalnya adalah manusia yang terlalu kurang ajar kepada Tuhan. Kalau manusia menyangkal, manusia akan membinasakan diri sendiri tanpa sadar. Kesadaran rohani adalah hal pertama yang diperlukan untuk menyadari dan takut akan keberadaan Allah. Takut kepada Allah adalah tugas pertama orang beriman, karena Allah telah menanam hal ini di dalam hati manusia, sehingga seumur hidup manusia akan dikejar oleh suara hati nuraninya.

Engkau dicipta bagi Allah, engkau dicipta untuk menghadap Allah, dan engkau dicipta untuk memuliakan Allah. Inilah fungsi peta teladan Allah. Potensi adalah titik alfa, dan berproses hingga menjadi seperti Allah yang menjadi titik omeganya. Jika kita hidup seperti Allah, itu merupakan tujuan akhirnya, tetapi iman dimulai dari iman dasar, iman fundamental, iman natural, iman yang awal, yaitu benih iman yang ditanam oleh Tuhan di dalam hidup setiap manusia yang dicipta menurut peta teladan Allah.

Namun, bagaimanakah mengembangkan benih tersebut? Manusia harus mengembangkannya dengan mendengar firman, mengerti kehendak Allah, menuntut hidup seperti Tuhan, dan berjalan di bawah pimpinan Roh Kudus. Tuhan Yesus berkata, “Jika engkau tidak menyangkal diri dan memikul salib, tidak layak menjadi murid-Ku.”

Di Jakarta banyak gereja yang dipenuhi ribuan anak muda, dengan khotbah yang begitu singkat. Mereka anggap itu adalah cara mengembangkan gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menjual gereja, membius anak Tuhan, dengan cara menipu pemuda-pemudi yang hanya cinta kedagingan mereka. Gereja seperti itu tidak berkenan kepada Tuhan, meskipun banyak anggotanya, karena tujuan dan hasil pelayanannya adalah menyenangkan manusia, mengikuti Iblis, dan bukan menyenangkan Tuhan. Saya telah berkhotbah selama 62 tahun dan masih terus bisa berkhotbah karena firman Tuhan terlalu limpah dan kebenaran Tuhan terlalu kaya. Wahyu Tuhan di dalam Alkitab tidak mungkin habis digali oleh manusia. Itu sebabnya kita harus terus melayani, harus terus berkhotbah. Saya tidak takut lelah, karena saya sudah sangat lelah sebagai orang tua berumur 79 tahun. Tetapi di dalam roh saya, saya tidak berani mengaku lelah, tidak berani mengatakan lelah. Saya harus terus setia sampai Tuhan panggil saya pergi.

Iman sederhana, iman sejati, iman permulaan, iman natural, iman umum sudah diberikan kepada setiap orang. Lalu ada orang berkata, “Saya tidak beriman karena Tuhan tidak memberikan iman kepada saya,” padahal Tuhan sudah memberikan iman, lalu manusia tolak dan memakai alasan kalau tidak dari Tuhan, manusia tidak mungkin beriman. Jika Tuhan masih mau menyatakan kasih dan anugerah Ilahi-Nya, hormatilah karunia-Nya, jangan main-main. Banyak orang menjadi Kristen, banyak yang ke gereja, tetapi hanya sedikit yang tahu apa yang benar. Tuhan memberikan iman di dalam hati.

Mengapa orang yang sudah mempunyai iman sederhana, iman fundamental, iman natural, iman mula-mula, akhirnya tidak bertumbuh menjadi iman? Apa sebabnya Tuhan sudah memberikan tetapi orang tidak bisa percaya? Tuhan sudah menaruh iman, tetapi manusia tetap tidak beriman kepada Dia? Jawabannya ada di Roma 1:18. Kitab Suci begitu sempurna, begitu ajaib, begitu dalam, menyeluruh, dan limpah. Ayat ini mengatakan, “Sebab murka Allah sudah dinyatakan dari sorga atas kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran.” Allah telah menyatakan murka-Nya kepada mereka yang telah mengeraskan hati dan menekan iman yang ada dalam hatinya. Jika seseorang sudah mempunyai bibit iman, kemudian ditelantarkan, digeletakkan, dibuang, dan ditekan, sehingga tidak bisa bertumbuh, jelas adalah kesalahan diri mereka sendiri.

Ada seorang wanita berkata kepada saya, “Saya tidak beriman kepada Tuhan, meskipun saya tahu Kristen itu baik, saya mendengar banyak khotbah, mendengar khotbah Stephen Tong, tetapi saya tidak bisa beriman.” Saya bertanya kepadanya, “Kenapa tidak bisa beriman?” “Menurut ajaran orang Reformed, iman datang dari Tuhan, betul tidak Pak Tong?” Saya bilang, “Betul.” “Kalau iman dari Tuhan, berarti orang bisa beriman karena Tuhan memberikan, betul tidak?” Saya bilang, “Betul.” “Kalau ini sudah betul, saya mau katakan kalimat kedua. Kalau Tuhan beri iman kepada saya, saya beriman. Mungkin saya menolak iman, yaitu tidak menerima yang diberi. Tetapi kalau Tuhan tidak memberi iman, mana mungkin saya beriman? Jadi jika suatu hari saya tetap tidak percaya, jangan salahkan saya, salahkan Tuhan.” Saya mengatakan, “Tuhan ampuni engkau. Engkau tanya, motivasinya dari permulaan sudah tidak benar. Dengan cara ini, iman tidak mungkin muncul di dalam hatimu. Meskipun Tuhan sudah memberi, engkau menekannya.”

Alkitab mengatakan, “Sebab murka Allah sudah dinyatakan dari sorga kepada orang yang menindas kebenaran” (Rm. 1:18). Artinya iman itu sudah ada, tetapi engkau menekannya, melawan dan menindasnya, supaya tidak ada, lalu mempersalahkan Tuhan. Allah menyatakan murka dari sorga atas orang-orang yang menindas kebenaran di dalam hatinya. Kebenaran apa yang ditindas? Bukan kebenaran khotbah yang mereka dengar. Mereka belum Kristen, belum baca Alkitab, dan tidak ke gereja. Tetapi Allah telah memurkai mereka, marah kepada mereka, karena mereka telah membiasakan diri untuk menekan. Sebelum membaca Kitab Suci, sudah ada bibit yang kautindas, melawan firman yang bibitnya iman murni, iman sederhana, yang sudah ditanam oleh Tuhan di dalam hatimu. Itu sebabnya sebelum menjadi Kristen sudah dihukum. Belum mengenal Tuhan, tetapi sudah menekan bibit iman yang Tuhan berikan. Orang yang menindas kebenaran tidak bisa mengatakan, “Saya tidak mungkin beriman,” karena kemungkinan beriman ada di dalam bibit yang sudah ada dalam hatimu, tetapi engkau hina, abaikan, remehkan, dan tindas.

Theologi untuk mengenal Allah, filsafat untuk mengerti kegagalan manusia, apologetika untuk mempertahankan iman kepada Allah, dan penginjilan untuk memenangkan manusia dari kondisi sebagai manusia berdosa menjadi orang suci. Manusia terlalu licik, jahat, menipu, dan bohong, lalu pura-pura hidup suci di hadapan Tuhan. Tuhan mengampuni dosa kita dan memberikan pertobatan yang sejati kepada kita. Kiranya Tuhan memberkati kita, menjadikan kita orang yang mendengar suara yang Tuhan sudah taruh di dalam hati, bahwa ada Pencipta, namanya Allah. Dia memberikan saksi di luar melalui alam semesta yang Ia ciptakan, dan Dia memberikan saksi di dalam diri manusia melalui hati nurani yang bersuara kepada engkau, dan engkau harus taat kepada-Nya. Manusia terlalu mudah dan selalu mencari alasan melawan Tuhan, mulai dari Adam yang berkata, “Bukan saya yang salah. Engkau menciptakan Hawa, dia yang salah.” Lalu Hawa mengatakan, “Bukan saya yang salah. Ada ular masuk taman Eden yang Kauizinkan yang bikin saya berdosa.” Manusia percuma menutupi dosa, percuma mencari alasan, karena itu semua penipuan dan kebodohan dari Iblis yang telah menipu kita untuk masuk ke dalam neraka. Mari kita dengan jujur paparkan diri, minta Tuhan ampuni, dan bertobat sungguh-sungguh. Amin.

Sumber : https://www.buletinpillar.org/transkrip/iman-pengharapan-dan-kasih-bagian-3

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube