Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

Kekristenan dan kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang percaya. Tanpa iman kepercayaan yang benar, kita tidak mungkin mendapat perkenanan Tuhan. Ketika saya pertama kali membaca Kitab Yesaya yang mengatakan, “Ketika Abraham menyendiri…” ( Yes. 51:2), saya sangat terkejut. Siapa pada zaman itu hidup sendirian? Di dalam setiap zaman ada jutaan orang yang hidup, mengapa Abraham memilih hidup seorang diri? Itu bukan karena ia belum menikah atau masih lajang sehingga seorang diri, melainkan pada saat semua orang di dunia ini sedang memberontak dan menentang kehendak Tuhan, ketika mereka berjalan di jalan mereka sendiri, Abraham seorang diri beriman dan berharap kepada Tuhan.

Allah berkata, “Inilah anak-Ku, yang dengan iman datang kepada-Ku; dia adalah orang beriman yang hidup menurut kehendakKu.” Maka Allah melalui orang beriman ini, membangun satu kerajaan, satu bangsa. Mulai saat itu Allah membenarkan Abraham. Abraham bukan lah orang yang tidak berdosa sama sekali. Ia juga bukan orang yang sempurna suci. Ia pernah berbohong dan menipu. Abraham juga mempunyai kelemahan sebagai manusia. Namun, imannya membuat Allah membenarkan dia. Beberapa ribu tahun kemudian, Paulus mengerti firman ini, lalu mengatakan bahwa karena iman, Abraham diperhitungkan sebagai orang benar di hadapan Tuhan (Rm. 4). Abraham sebenarnya bukan orang benar; ia juga adalah orang berdosa yang harus mendapat penghakiman Tuhan. Ketika seseorang mempunyai iman yang murni kepada Tuhan, maka Allah mengatakan, “Aku tidak menganggap engkau musuh, tetapi akan menggabungkan engkau ke dalam kelompok orang benar.” Bukan karena kebenaran Abraham, maka ia diterima oleh Tuhan. Tetapi karena Allah telah memberikan kebenaran-Nya kepada Abraham, maka Abraham dibenarkan.

“Dibenarkan” mengandung dua unsur. Pertama, imputasi dosa. Allah tidak lagi melihat orang itu sebagai orang berdosa. Di dalam kehidupan orang Kristen, kita menyelesaikan dosa dengan cara Kristus mati bagi kita, di mana Dia dihakimi karena kita, mengalirkan darah-Nya untuk menyucikan dosa kita. Dari sisi Allah, dosa kita tidak lagi diperhitungkan, karena dosa kita telah diimputasikan (ditempelkan dan disatukan) ke dalam Kristus.

Kedua, imputasi kebenaran, di mana secara aktif di atas kayu salib, Allah memberikan (mengimputasikan) kebenaran Kristus kepada kita. Kebenaran ini diberikan kepada kita, karena memang bukan kebenaran kita. Tidak seorang pun yang bisa diterima oleh Tuhan karena kebenarannya sendiri. Kita bisa diterima karena Allah mengimputasi kebenaran Kristus ke dalam kita, sehingga kita dapat disebut sebagai orang benar.

Bukan saja tidak lagi memperhitungkan dosa kita, tetapi karena kebenaran Kristus telah diberikan kepada kita, kita semua adalah orang yang dibenarkan karena iman, karena ada kebenaran Kristus di dalam diri kita. Dan itu menjadikan kita orang-orang yang hidup di hadapan Allah, karena iman kita adalah iman yang dibenarkan, yang kemudian diubah menjadi iman yang bersandar kepada Tuhan. Dengan demikian, kita mulai dari iman dan menuju kepada iman.

Awalnya kita menerima iman dasar yang Kristus berikan kepada kita. Iman dasar ini adalah anugerah umum, datang dari wahyu umum. Kita menyadari Allah ada. K ita mempunyai iman dasar ketika kita dilahirkan. Setelah mendengarkan firman Tuhan, jika kita mau taat dan mendengarkan dengan jelas, menerima dalam hati, firman-Nya akan bertunas di dalam diri kita dan menghasilkan iman. Paulus mengatakan bahwa iman ini adalah iman karena mengenal Tuhan dan bersandar kepada-Nya. Dari iman dasar ke iman yang bersandar kepada Tuhan disebut sebagai “dari iman kepada iman” yang dimulai dari ketaatan Kristus untuk menjadi ketaatan kita.

“Dari iman kepada iman” merupakan proses perjalanan hidup yang dimulai dari iman dan diakhiri dengan iman. Dari iman yang awal karena Kristus menaruh bibit iman di dalam diri kita hingga sampai iman yang terakhir yang disempurnakan juga oleh Kristus, sehingga disebut iman yang dari awal hingga akhir.

Iman dalam bahasa Yunani adalah pistos, di dalam bahasa Latin adalah fide, dan dalam bahasa Inggris adalah faith. Dari kata fide muncul kata fidelity yang artinya setia. Maka orang yang beriman di hadapan Tuhan harus menyatakan kesetiaannya, dan ini merupakan kesejatian. Di dalam kebudayaan Ibrani, di dalam keseluruhan Alkitab, kata yang paling penting adalah sejati. Kata “sejati” dalam kebudayaan Yunani merupakan esensi yang paling dasar. Kita mengharapkan percaya kepada Allah yang sejati, mendengarkan firman yang sejati, berdoa dengan hati yang sejati. Itulah sebabnya di setiap akhir doa, kita menutup dengan kata “amin”. Kata “amin” berarti bahwa “dari kedalaman hati aku menyatakan doaku kepada-Mu”. Kekristenan berbicara tentang Allah yang sejati, wahyu yang sejati, firman yang sejati, iman yang sejati, kasih yang sejati, ibadah yang sejati, dan penyembahan yang sejati.

Bangsa Israel mengetahui kata “sejati” sangat penting, tetapi ketika Yesus datang kedunia, teguran yang paling berat yang diberikan kepada bangsa Yahudi justru adalah “kepalsuan”. Yesus dengan keras menegur mereka, “Kalian adalah orang Farisi munafik.” Bangsa Yahudi yang menuntut kesejatian justru ditegur sebagai palsu, karena mereka mementingkan apa yang kelihatan di luar, tidak mementingkan ketulusan hati. Ketika Kristus datang ke dunia, Ia berkata kepada perempuan Samaria satu kalimat yang penting, “Allah sejati yang kita sembah, biarlah kita menyembah Dia dengan ketulusan hati, segenap hati yang sejati dan dengan sesungguhnya. Dengan rohmu engkau menyembah Tuhan.” Ada terjemahan lain yang mengatakan, “Kita harus menyembah Dia dengan roh dan kebenaran.” Kata “kebenaran” adalah istilah yang sering disebut Yesus di dalam Injil Yohanes pasal 14 dan 16. Jika kita mempunyai kebenaran, kita merupakan orang yang taat kepada Roh Kudus. Dan jika seseorang dipenuhi Roh Kudus, pastilah ia akan berjalan di jalan kebenaran. Oleh karena itu, setiap orang Kristen dengan bantuan Roh Kudus akan masuk ke dalam ibadah yang sejati.

Kita datang ke gereja belum tentu merupakan ibadah yang sejati. Ibadah sejati terjadi ketika iman kita kepada Tuhan merupakan iman yang sejati. Sound system yang baik disebut memiliki kualitas high fidelity (hi-fi), yang berarti sangat setia kepada suara aslinya. Demikian juga tuntutan Allah kepada orang percaya. Ketika orang Kristen memiliki iman yang sejati kepada Allah yang sejati, maka Allah mengatakan, “Inilah anak-Ku.” Jika orang Kristen tidak mempunyai hati yang mau percaya dengan iman yang sejati, Allah akan mengatakan, “Hai orang munafik, kalian bukan anakKu.” Jika kita menjadi anggota gereja hanya untuk menonjolkan nama, kita adalah bajingan. Walaupun kelihatan hatimu tertuju kepada Tuhan, engkau belum tentu orang beriman, karena tidak cukup hanya dengan ketulusan hati, tetapi kalau objek yang kita percaya salah, percuma iman kita.

Objek iman akan menentukan nilai iman kita. Jika saya beriman kepada satu objek, tetapi objek itu tidak patut diimani, lalu saya berkata, “Tidak apa-apa, yang penting saya percaya sungguh-sungguh, saya percaya dengan sepenuh hati yang sejati.” Maka saya memberikan hati dan percaya yang sejati kepada objek yang palsu, bukan objek sejati. Apakah karena saya menganggap objek iman saya itu asli, maka dia menjadi objek iman yang asli? Tidak mungkin. Tuhan juga demikian. Tuhan yang palsu, sekalipun engkau katakan itu adalah allah yang sejati, ia tetap palsu. Tidak mungkin karena kehebatan iman kita, maka objek iman yang palsu bisa menjadi asli. Tuhan yang asli dan sungguh adalah Tuhan yang tidak berubah. Kalau Tuhan Allah itu bisa berubah, jelas Ia bukan Allah. Tidak ada sesuatu yang bisa berubah menjadi Allah. Allah hanya berubah menjadi manusia yang disebut inkarnasi, yaitu Allah menjadi manusia, datang dan mengasihi manusia. Allah sejati ini patut disembah sujud manusia.

Jika saya memiliki iman yang sejati tetapi saya berikan kepada allah yang palsu, saya yang akan rugi. Allah palsu tidak layak menerima iman kepercayaan yang sejati, sehingga kita tidak boleh memberikan iman kita kepada allah yang palsu. Dalam hal ini, Iblis telah melakukan hal yang sangat besar, di mana Iblis telah mengubah kekristenan, mengubah iman dalam Alkitab, dan mengubah konsep theologi. Akibatnya, banyak orang yang terkecoh, yang palsu dianggap sejati, lalu seumur hidup percaya terhadap hal yang kita anggap benar tetapi salah. Engkau beranggapan bahwa gereja tertentu itu benar, padahal salah dan palsu. Engkau beranggapan bahwa pendeta itu sejati, tetapi sebenarnya palsu. Engkau percaya firman yang disampaikan itu sejati, tetapi rupanya juga palsu. Engkau kira iman yang kaudapatkan itu sejati, tetapi sebenarnya iman yang palsu. Sebenarnya, banyak
sekali ilah palsu yang telah meniru dan memalsukan Allah yang sejati. Hari ini banyak sekali iman palsu menggantikan iman yang sejati. Alkitab mengatakan, “Yang mengganti Allah sejati dengan ilah palsu, dosanya akan ditambahkan.”

Banyak wanita dan remaja yang sangat bersih, murni, ketika pacaran begitu penuh ketulusan, mencurahkan cinta mereka kepada orang yang palsu, bukan orang yang sungguh-sungguh mencintai mereka. Mereka pandai mengeluarkan kata-kata yang manis: aku mencintai engkau selamanya, seumur hidup aku tidak akan meninggalkan engkau, dan lain-lain. Tetapi tidak lama kemudian ia mendengar wanita lain berkata kepada dia, “Ada orang yang mengejar aku, dia mengatakan kepadaku engkau wanita yang paling cantik di dunia,” kemudian dia bertanya kepada wanita itu, siapa nama pria itu, ternyata pria itu adalah suaminya. Maka ia menemukan bahwa pria yang setiap hari berkata kepada dia, juga berkata kepada wanita lain kata-kata yang sama, “Aku cinta kamu, engkau wanita tercantik di dunia, aku mau menikah denganmu, aku tidak akan meninggalkan engkau.” Banyak wanita yang telinganya terlalu ringan mendengar pujian, sehingga dengan mudahnya mereka memberikan hatinya.

Bersambung…

Sumber : https://www.buletinpillar.org/pdf/fisik/pillar-209-202012.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube