Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya

Hal yang pertama yang kita mau bicara yaitu mengapakah Tuhan minta kita memuliakan Dia. Muliakanlah Tuhan, muliakan Tuhan, “muliakanlah Aku.” Ayat-ayat seperti ini, kalimat-kalimat yang sama seperti ini terus muncul dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Sekarang kita mau masuk ke dalam “mengapakah harus memuliakan Tuhan?” Pertama-tama, Tuhan adalah diri-Nya dan Sumbernya kemuliaan itu sendiri. Saya selalu memakai satu istilah yang saya anggap sangat penting untuk menjelaskan semua lingkup yang ada di dalam hal ini, yaitu God as the subjectivity of the truth, God as the subjectivity of the righteousness, God as the subjectivity of holiness.

Orang biasa cuma mengatakan, “Oh harus obyektif dong, harus ada suatu kebenaran obyektif,” maksudnya yang kita terima semua. Nah itu yang diperjuangkan oleh Socrates, oleh Plato, dan Aristotle, yaitu kebenaran bukan bersifat tafsiran individu, kebenaran bukan pengertian secara subyektif dirimu sendiri, kebenaran harus mempunyai obyektifitasnya sehingga semua orang harus mengaku ada kebenaran secara universal, itulah perbedaan Socrates dan Sophists. Sophists adalah orang-orang sezaman Socrates yang menganggap diri pintar, menganggap diri mempunyai kebenaran lebih dari orang lain, menganggap diri mereka memonopoli kebenaran sehingga mereka boleh mengajar orang lain dengan kebenaran lalu pasang tarif untuk yang mau kebenaran yang mereka mengerti harus bayar berapa kepada mereka. Nah Saudara sekalian, maka kebenaran dimengerti seperti ini menjadi sesuatu yang diserang oleh Socrates, tidak ada orang monopoli kebenaran, tidak ada orang yang menganggap diri mempunyai kebenaran lalu dia berhak menarik uang karena dia menjual kebenaran sebagai menjual komoditi. Itu perjuangan Socrates seumur hidup, supaya manusia mengetahui ada kebenaran universal sehingga melawan Sophists, melawan orang-orang yang anggap diri pintar lalu menghina orang lain. Kalau kebenaran itu bersifat universal maka akhirnya menemukan suatu istilah ‘objectivity,’ yaitu ada satu obyektif kebenaran yang semua harus terima.

Tetapi yang saya mengerti dan saya memberikan adalah terbalik, bukan subjective interpretation tetapi subjectivity of the truth Himself, berarti Tuhan Allah itu sendiri bukanlah kebenaran yang dicari, tetapi Dia adalah kebenaran yang mewahyukan diri sehingga diri-Nya Tuhan Allah itu adalah kebenaran itu sendiri, keadilan itu sendiri, kesucian itu sendiri, kasih itu sendiri, dan juga adalah sesuatu kebajikan itu sendiri. Subjectivity of truth, of righteousness, of goodness, of glory, of everything glorious in Person, di dalam Pribadi. Jadi Dia berkata, “I Am Who I Am.” Dia adalah subyektifitas itu sendiri. Nah istilah yang saya pakai ini tidak muncul di buku apapun, baik di Barat maupun di Timur. Ini adalah suatu kesimpulan yang ditarik dari seluruh Kitab Suci sehingga berbeda dengan pikiran-pikiran yang umum dipakai di dalam dunia filsafat. Allah sendiri adalah kebenaran, dan kebenaran di dalam diri Allah ada di dalam diri Pribadi Allah yang beroknum, in Person, sehingga yang dibicarakan oleh Aristotle, yang dibicarakan oleh Konghucu, dibicarakan Lao Tze itu satu pembicaraan tentang kebenaran sebagai refleksi dari imajinasi mereka tapi bukan kebenaran itu sendiri. Tetapi Allah yang menyatakan diri adalah Allah yang sendiri adalah hidup, adalah Pribadi yang berkata memperkenalkan diri, “I Am.” Seperti kita semua bisa bicara tentang Megawati, Megawati begini, begini, Megawati istrinya siapa, Megawati Presiden Indonesia, Megawati adalah Ketua dari partai apa, Megawati tahun berapa naik ke takhta menjadi presiden, Megawati kapan dia akan menjadi apa, dan sebagainya. Kita boleh bicara tentang dia, yang kita bicara adalah bahan pembicaraan tetapi yang kita bicara bukan pribadinya yang bicara sendiri tetapi kita pribadi yang bukan Megawati bicara tentang satu pribadi, tetapi di dalam diri kita itu menjadi pembicaraan. Tetapi pada suatu hari bukan kita bicara tentang Megawati, Megawati sendiri berdiri di sini dan berkata, “aku Megawati.” Watu dia mengatakan, “aku Megawati,” sama engkau membicarakan tentang Megawati lain karena yang bicara itu pribadinya sendiri, ngerti maksudnya? Nah itulah wahyu Tuhan. Pada waktu Allah memperkenalkan diri, Dia lain dengan semua konsep dan semua teori Allah yang dibicarakan oleh semua filsuf, karena semua yang dibicarakan oleh filsuf hanya bahan pembicaraan tentang Allah saja. Itulah sebabnya Cornelius van Till mengatakan Allah di dalam Barat, dari Aristotle sampai sekarang semua filsafat, hanya membicarakan tentang bayang-bayang Allah tetapi mereka belum pernah membicarakan atau mengerti apa itu Allah secara Pribadi. Waktu Allah mewahyukan diri maka Allah secara subyektifitas, Pribadi diri-Nya Allah, berbicara untuk memperkenalkan diri siapakah Dia. Dan di situlah menjadi satu kemungkinan, menjadi landasan, menjadi pondasi manusia membentuk pengertian tentang Allah.

Dan hari ini dengan konsep yang sama saya masuk ke dalam istilah kemuliaan. God is the subjectivity of the glory Himself. Maka Allah adalah kemuliaan itu sendiri, maka Allah yang berhak, yang lain tidak berhak “muliakanlah aku,” kecuali Allah. Saudara-saudara, mengapa sih Allah minta orang memuliakan Dia? Karena Dia adalah subyektifitas kemuliaan itu sendiri maka hanya Dia yang berhak memerintahkan manusia memuliakan Dia. Saudara-saudara, semua yang berusaha menjadi allah atau berusaha memalsukan diri menjadi allah, menjadi diktator. Pada waktu Mao Tze Dong memalsukan diri sebagai allah maka pikiran dari pada Mao Tze Dong itu untuk long life, selama-lamanya, tidak mungkin tidak menang. Dia memalsukan diri sebagai allah seluruh rakyat Tiongkok, lebih dari 1 milyar, harus memperdewa dia. Itu adalah manusia yang memalsukan diri sebagai allah, merebut kemuliaan dari Tuhan Allah yang betul-betul, satu-satunya yang berhak mengatakan, “Glorify Me, worship Me, other than Me there is no god,” itu adalah Allah sendiri. Saudara-saudara, maka manusia tidak megerti Dia adalah Allah, lalu mendengar kalimat ini manusia mulai mengkritik Tuhan Allah. Salah satu kritik yang paling tajam di dalam sejarah filsafat yaitu dari Friedrich Nietzsche. Nietzsche seorang Jerman abad ke-19 yang sezaman dengan Karl Marx, sezaman dengan Ludwig Feuerbach, sezaman dengan Søren Aabye Kierkegaard yang ada di Denmark, sezaman dengan Hagel, sezaman dengan orang-orang yang sangat melawan Tuhan. Maka Friedrich Nietzsche di dalam buku atau syair yang berjudul Thus Spoke Zarathustra, Demikian Berbicara Zoroaster, itu istilah, di dalamnya mengatakan dengan satu antipati terhadap Allah yang berani mengatakan “I Am the only God, beside Me there is no god,” dia memberikan singgungan, ironis, memberikan kritikan yang paling tajam di dalam syairnya dengan kalimat-kalimat seperti berikut.

Nietzsche berkata: “Semua dewa mengadakan musyawarah di sorga. Di atas angkasa, awan-awan yang begitu tinggi, dewa-dewa semua berkumpul lalu mereka mulai berunding. Di tengah-tengah perundingan dari dewa-dewa itu, mereka ngomong, mereka ketawa, mereka diskusi, mendadak di tengah-tengah dewa-dewa yang banyak itu ada satu yang paling GR, paling sombong, mengumumkan, “Aku adalah satu-satunya Allah, diluar Aku tidak ada Allah yang lain.” Sombong, GR, dewanya banyak tapi yang satu ini yang paling sombong. Setelah dia mengatakan kalimat itu lalu yang lain tidak mau setuju, tidak mau terima, mereka kira, “gila loe, menang-menang sendiri, GR loe, hanya kamu yang dewa, yang Allah, yang lain bukan?” Semua mentertawakan dia, hahahaha, ketawa. Lalu karena dewa itu gede, berkuasa, dan dewa-dewa yang banyak semua goyang, semua ketawa, ketawanya sampai ke kanan, ke kiri, sehingga seluruh sorga goncang, bukan gempa bumi, gempa sorga. Tetapi ketawanya mereka karena terlalu jengkel sama dewa yang sombong ini, mereka terus ketawa tidak habis-habis, tidak bisa berhenti karena mereka tidak setuju kalimat itu, terus ketawa sampai akhirnya semua dewa mati, semua dewa ketawa sampai mati.” Kalau kamu ketawa terus tidak berhenti bisa mati lho, kalau tidak percaya, coba. Semua dewa mati. Maka istilah itu muncul, God is death. Istilah Allah itu mati pertama kali dibicarakan bukan oleh Nietzsche, dibicarakan oleh Nyonya Martin Luther, lalu 400 tahun kemudian diulangi oleh seseorang namanya Friedrich Nietzsche, lalu 100 tahun kemudian dilakukan suatu upacara mengkebumikan Allah oleh seorang Perancis yang bernama Jean-Paul Sartre. Nah Saudara-saudara, saya sedikit mengatakan filsafat, sudah lama saya tidak singgung filsafat di atas mimbar ini. Tapi kenapakah saya mengupas Kitab Suci harus menyinggung filsafat? Nah ini metode saya yang berlainan dengan semua pendeta dan teolog yang lain, karena di dalam kita kaitkan berita dari Tuhan dan apa yang menjadi hasil pikiran manusia, kita melihat bagaimana cara berontaknya otak yang dicipta oleh Tuhan Allah kepada Allah yang menciptakan otak. Ini perbandingan kadang-kadang dari kuno, dari modern, dari Timur, dari Barat, dari Kongfucu, dari Socrates, semua metode ini tidak ada di dalam cara tafsir dan cara komentar, cara teologi apologetika di Barat. Saya harus bertanggung jawab akan hal ini, dan ini menjadikan engkau lebih cerdas dan mengerti bedanya Kristus dan Firman Allah dibanding semua pemikiran manusia yang bobrok, yang rusak tetapi menganggap diri akademis dan pintar.

Pada waktu Martin Luther mengadakan sesuatu perjuangan untuk mengembalikan gereja kepada Alkitab, itu namanya Reformasi. Reformasi bukan menciptakan golongan, dengar ya, Reformasi bukan hasil dari perjuangan ambisi pribadi, Reformasi adalah dorongan Roh Kudus untuk menggugah seluruh Gereja kembali kepada seluruh Kitab Suci yang diwahyukan oleh Tuhan. Saudara jangan terjebak. Orang bilang, “Oh Gereja Reformed ya? Begitu banyak gereja, engkau salah satu yang paling sombong,” engkau terjebak, karena Gereja Reformed bukan salah satu diantara sekian banyak gereja, Gereja Reformed adalah sesuatu kehendak Tuhan untuk mengajak seluruh Tubuh Kristus kembali kepada Alkitab, itu keunikan engkau, engkau harus tahu. Gerakan ini engkau harus tahu, kalau tidak engkau akan menghina diri, menganggap diri seperti gereja-gereja yang pokonya berani pasang ‘gereja’ lalu mereka kira mereka sudah gereja. Yang diajarkan berlawanan dengan Alkitab tidak peduli karena mereka maunya mendirikan gereja dapat uang, mendirikan gereja dapat massa, mendirikan gereja dapat kedudukan agama, itu motivasi seperti itu bukan motivasi gereja. Gereja yang sejati adalah mau memelihara ajaran yang diturunkan dari pada para rasul, gereja yang sejati adalah mau mengabarkan Injil supaya seluruh dunia kenal Yesus Kristus. Gereja yang sejati adalah tidak menghiraukan untung-rugi sendiri, berjuang untuk kebenaran, dan dengan api untuk membawa manusia kepada Tuhan sampai berani menyangkal diri, sampai berani mati untuk Tuhan. Itu gereja yang sejati. Begitu banyak gereja, gereja Reformed salah satu denominasi, salah semacam golongan di antara begitu banyak, semua sama? Saya berkata sekali lagi, mengulangi kalimat minggu lagi, tidak sama! Dari Martin Luther, dari Calvin, dari Bucer, Bullinger, dari pada Theodore Beza, dan semua orang tokoh-tokoh reformasi, hanya satu motivasi: back to the bible, be faithful to the revelation of God, and worship Him, give all the glory to Him. Itu yang menjadi sesungguhnya.

Martin Luther pada waktu berjuang untuk reformasi, dia begitu kecewa karena musuhnya terlalu berat. Waktu itu Katolik sudah mempunyai kuasa lebih besar dari pada zaman dulu di dalam Kerajaan Romawi. Katolik mempunyai kuasa mengontrol semua raja-raja, baik di Jerman, baik di Hongaria, baik di Belgia, baik di Eropa, baik di Inggris, baik di Skotlandia, baik di Perancis, di Spanyol. Katolik mempunyai kuasa begitu besar, lalu seorang anak petani, seorang orang Jerman yang namanya Martin Luther mau melawan seluruh kerusakan dari pada gereja. Dari mana kekuatan? Sehingga dia mau ditangkap, dia mau dibunuh, dia mau dipenjarakan, dia mau diculik, dia mau diadili, dia dihina, diejek. Tetapi Martin Luther mempunyai satu moto, kalimat yang sampai sekarang harus dihormati sampai selama-lamanya: Here, here I stand before God. I stand on the bible, the word of God. I will never withdraw what I have written, except it is proven contradictory to the word of God and contradictory to my conscience. Di sini aku berdiri, di atas firman Tuhan. Aku tidak akan menarik kembali apa yang saya tulis kecuali terbukti yang saya tulis melawan Alkitab dan berlawanan dengan hati nuraniku. Berarti aku jujur, sungguh-sungguh, dari hatiku saya setia kepada Alkitab. Kalau engkau melawan, silahkan buktikan yang saya tulis itu salah, yang saya tulis melawan Alkitab. Kalimat itu menjadi tantangan semangat reformasi. Kalimat itu menjadi tantangan kepada semua bidat. Kalimat itu menjadi satu semangat diturunkan kepada semua orang yang mengatakan Reformed. Jikalau pendeta-pendeta di gereja ini mengerti teologi Reformed, tapi tidak mempunyai jiwa pembelaan kebenaran dan tidak ada jiwa mau mati untuk Tuhan, gerakan ini tetap akan menjadi suram. Banyak orang kuatir kalau Stephen Tong mati, gereja Reformed jadi apa. Saudara-saudara, anda-anda bukan datang hanya mau dengarkan khotbah yang enak. Anda bukan datang hanya untuk mencari pergaulan di sini lalu memperalat kekristenan untuk Tuhan menyenangkan dirimu. Anda di sini belajar apa itu firman, belajar apa kehendak Tuhan, bagaimana hidup memuliakan Tuhan, hidup berkenan kepada hati-Nya. Nah ini perjuangan Martin Luther.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Bersambung…

 

Sumber : https://www.grii-jogja.org/memuliakan-tuhan-18-juni-2017/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube