Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

Di sini penulis Ibrani mengatakan pada ayat-ayat terakhir, “Saya menasehatkan kamu, baik-baik menyambut nasehat. Saya menasehatkan kamu baik-baik mendengarkan nasehat.” Semua firman Tuhan kalau didengar dengan baik pasti hidupmu berubah, pasti konsepmu berubah, pasti wawasan berubah, pasti sikap hidup berubah, pasti watakmu berubah, pasti pelayananmu berubah. Kadang-kadang sudah mengerti banyak, tetapi jangan sombong karena mungkin ada satu kalimat yang engkau belum mengerti, itu bikin engkau tidak bisa maju.

Waktu saya berada di Pittsburgh, ada seorang berkata, “Saya baru ikut satu ceramah, satu calls, yaitu satu program untuk studi bagaimana mengambil foto. Saya bilang, “Engkau kan sudah ahli foto?” “Iya, saya profesional, sudah ahli foto, sudah 20 tahun lebih. Tapi saya diberikan kesempatan dengar seorang ahli foto yang lebih ahli dari saya, lalu saya bayar.” “Berapa?” “500 dollar, untuk mengikuti seminar bagaimana foto. Akhirnya saya pikir, “gua kan sudah pintar, gua kan profesional,” ya sudahlah saya ikut aja.”” Dia bayar 500 dollar, sesudah itu beberapa hari dia dengar terus. Sesudah selesai saya tanya sama dia, “Engkau sudah dengar seluruh seminar foto ini, engkau dapat apa?” Dia bilang, “Ya begitulah, semua saya tahu, segala teknik yang diceramahkan saya sudah tahu semua.” Lalu saya tanya lagi, “You nyesal nggak bayar 500 dollar untuk ikut semua yang sudah tahu?” Dia mengatakan, “Nggak, saya cuma dapat satu kalimat.” “Jadi kalimat itu 500 dollar?” “Nggak apa, kalimat itu 500 dollar saya tidak menyesal, karena besok dengan kalimat itu saya bisa dapat 700 dollar kok.” Saya tanya, “Apa sih kalimat itu?” Dia bilang ya, “Semua cara foto, diafragma, apa semua saya tahu, dia ceramah terus semua saya tahu, tidak ada yang saya tidak tahu, tapi ada satu kalimat: kalau waktu engkau mau foto kurang tinggi maka caranya balikkan lensanya, lihat dari bawah, lensa di atas, itu bisa lebih tinggi.” Tapi kalau lebih tinggi pegangnya tidak kuat sehingga bisa goyang. Nah dia mengatakan, “Cara terbaik yaitu kalau sudah terbalik maka supaya pegangan tidak goyang, taruh di sini [tempel di kening], sambil lihat sambil nempel di sini.” Itu seluruh badan adalah tempat yang paling tidak getar cuma satu, dahi. Ini tempat yang paling tidak getar, engkau dimana saja terpengaruh napas dan detak jantung, itu ada goyangnya, tetapi ini satu tempat yang tidak ada goyangnya, paling stabil di sini. “Hanya karena kalimat itu saja gua habis 500 dollar.” Tapi bedanya apa? Bedanya, orang lain tidak dengar kalimat itu tapi dia dengar kalimat itu.

Saudara tahu tidak, begitu banyak firman Tuhan, satu kali khotbah itu ada kalimat-kalimat ada yang dengar ada yang tidak dengar. Begitu dengar kalimat itu, seumur hidup beda. Saya dari kecil terus dengar khotbah, sampai setelah saya dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan umur 20 sampai hari ini 64, saya kesempatan mendengar khotbah sudah sedikit. Waktu saya sendiri harus khotbah terus, kemana saja nggak ada orang yang mau kasih saya kesempatan dengar khotbah, dimana saya berada “Lu yang khotbah.” Saya tidak ada kesempatan dengar khotbah, tetapi saya puji Tuhan pada saat kecil di dalam kira-kira umur 12-20, delapan tahun itu saya menangkap semua kalimat yang paling penting waktu mendengarkan firman Tuhan. itu menjadi pondasi saya melayani berpuluh-puluh tahun.

Gereja ini adalah gereja yang mementingkan dengar. Hear ye Israel. Bahagialah orang yang mendengar. Tanpa mendengar tidak beriman, tanpa dengar tidak berpengertian, tanpa dengar tidak bisa memberitakan dengan baik, karena dari sini menjadi sesuatu urutan, sirkulasi, sehingga pelayanan seluruhnya mulai dari dengar. Puji Tuhan jikalau engkau menjadi majelis, jadilah majelis yang dengar; jikalau engkau hamba Tuhan, jadilah hamba Tuhan yang dengar; engkau menjadi pelayan? Pelayan yang dengar. Jikalau engkau tidak suka dengar, cuma suka ngomong, engkau tidak bisa maju terus. Kecuali engkau terpaksa dijadikan pemimpin yang tidak ada kesempatan mendengar, itupun engkau musti meluangkan waktu sendiri dekat kepada Tuhan, terus datang kepada Dia, dengar langsung dari Dia, memikirkan firman Tuhan dengan mati-matian supaya engkau boleh terus mensuplai kepada orang lain. Pendengar-pendengar begitu pintar karena mereka mempunyai kesempatan dengar jauh lebih banyak daripada orang yang berbicara. Orang yang mendengar dengar sini, dengar sana, dengar sini, dengar sana, dia dapat banyak bahan, dengar; yang berkhotbah tidak ada kesempatan mendengar, lambat laun yang dengar lebih pintar daripada yang ngomong lho. Itu sebabnya beberapa kota mengatakan, “Kita ikut kuliah di sini, kita ikut sekolah malam di sana, kita sudah terima banyak, setelah kita belajar banyak baru kita sadar pendeta kita itu sudah lama tidak belajar, yang dikhotbahkan itu-itu saja.” Saudara-saudara sekalian, sayang sekali kalau pendengar maju, pengkhotbah tidak maju, gereja itu mandeg, macet di situ.

Satu kali saya naik bus dari Cirebon ke Kuningan di Jawa Barat, kira-kira 30 tahun yang lalu. Di tengah-tengah bus itu ada seorang yang rambutnya putih, jenggotnya putih, orang India. Lalu di bus kita ngomong-ngomong, dia bilang, “Eh you agama apa?” Saya bilang, “Kristen. You Hindu?” Kita mulai ngobrol tentang agama, waktu itu saya belum umur 30, dia sudah umur 60 lebih. “Lalu you kerja apa?” Saya bilang saya menjadi penginjil. “Oh, jadi you seperti pendetanya Kristen, pendeta muda ya?” Saya bilang, “Iya, iya, saya penginjil belum pendeta.” “OK, jadi you suka memberikan pidato?” Saya bilang iya. “You khotbah?” Saya bilang, “Betul, kalau you?” “Oh saya pedagang, tapi saya mau tanya satu hal sama kamu pendeta muda, coba tanya: yang khotbah sama yang dengar, siapa yang lebih dekat Tuhan?”

Wah saya tidak pernah belajar ini di sekolah teologi. Yang khotbah lebih dekat Tuhan atau yang dengar lebih dekat Tuhan? Saya bilang, “tergantung, ya. Kalau yang khotbah memang orang rohani ya dia dekat Tuhan. Kalau yang dengar nggak rohani ya nggak dekat Tuhan, kalau yang dengar betul-betul rohani ya dia dekat Tuhan. Tergantung.” Dia bilang, “Nggak tentu begitu. Saya pikiran lain.” Ah, saya kira, ini orang tua ya, meskipun bukan agama Kristen, denger dong, ya. Saya kan biasa suka dengar. Saya bilang, “Bagaimana pendapatmu?”“Menurut saya, yang dengar lebih dekat Tuhan. Yang khotbah tidak tentu dekat Tuhan.” Wah, saya terpukul sekali, Jadi saya ini pengkhotbah yang tidak dekat Tuhan, menjauh dari Tuhan. Saya tanya,“Kenapa ya pak? Kenapa Bapak pikir yang dengar lebih dekat Tuhan, yang khotbah tidak dekat Tuhan?” Dia bilang, “Yang khotbah itu mungkin ke sini sana khotbahnya sama, jadi dia cuma hafal thok. Hafal, hafal, hafal, pelan-pelan rutin, jauh dari Tuhan. Tapi yang dengar itu tidak tahu apa yang mau didengar, jadi datang khusus mau dengar, sungguh-sungguh mau dengar, apa lagi luangkan waktu, bayar uang becak, datang duduk di situ, dia mau dengar, maka dia dekat Tuhan.”

Waduh, saya hari itu kaget setengah mati sampai sekarang masih sisa kaget sedikit. Dia bukan orang Kristen, dia bukan pendeta, bukan dosen saya, bukan teolog, tapi dia seorang tua, seorang tua yang mengatakan, menganalisa. When you come trully seeking for something, you are closer to the truth in compared with those who are giving talks, talks, talks, tetapi kalau mereka tidak sungguh-sungguh. Wah setelah sampai di kota di mana saya memimpin kebangunan rohani, saya lutut dulu di hadapan Tuhan,“Tuhan, hari ini saya belajar satu hal. Jangan-jangan yang cari Engkau adalah mereka yang mendengar, tapi saya hanya mengulang-ulangi sesuatu yang saya sudah tahu tapi sudah tidak ada lagi kesegaran, tidak ada lagi perasaan pentingnya kalimat-kalimat yang saya omongkan.”

Pada waktu engkau pertama kali mengenal satu kebenaran, saat itu engkau segar, engkau sadar, engkau senang. Tapi kalau engkau sudah terus menerus mengulangi hal yang sama, engkau menjadi rutin, engkau tidak segar. Itu sebab saya berkata kepada murid saya kalau berkhotbah, semangat kesegaran kalau tidak ada, turun. Kalau saya sekarang di sini hanya putar kaset seperti putar sesuatu di dalam pikiranku lalu rutin memberikan sesuatu kepada engkau, celakalah saya. Saudara-saudara, ayat yang sama nanti kebaktian kedua saya akan khotbah yang sama lagi dan saya akan khotbah hal yang sama kadang-kadang di kota-kota, negara yang lain, tapi mereka sadar, beda sekali. Setiap ayat yang sama engkau khotbahkan kali kedua, lain. Apa sebab? Kesegaran ada, dan bahannya selalu beda, dan ada satu penemuan yang baru yang diuraikan lagi. Seorang pendeta di Hongkong mengatakan, “Saya ikut kebaktian engkau setiap minggu mengenai Ibrani. Tetapi saya juga melihat internet yang disiarkan dari Taiwan, akhirnya saya sadar, kira-kira lebih 30 persen yang kau khotbahkan di Taiwan dibanding dari di Hongkong. Itu sebab saya sekarang tidak puas hanya dengar di Hongkong. Saya harus mendengar di Hongkong, melihat internet di Taiwan dua kali lagi. Untuk membandingkan.” Saudara-saudara sekalian, bolehkah kita menjadi orang yang rutin? Bolehkah kita mempermainkan diri sebagai seorang yang seperti sandiwara? Bolehkah kita melayani Tuhan dengan tidak ada kesegaran, tidak ada kesadaran? Tidak bisa. New anoitment even for the old messages. Di dalam berita-berita yang lama, khotbah-khotbah yang sudah pernah dikhotbahkan, perlu urapan yang baru. Dan urapan yang baru perlu engkau terus senantiasa mendengar ada suara Tuhan dari takhta-Nya. Kiranya Tuhan memberkati kita menjadi orang yang dengar, dengar.

Dan Saudara-saudara, tadi saya katakan saya kagum karena ini satu orang yang begitu besar tapi begitu rendah hati. Karena apa? Dia tambah dengan satu kalimat, “meskipun suratku ini pendek.” Aduh, Saudara-saudara, Ibrani memang tidak banyak lembar bukan? Tapi surat Ibrani yang kita bahas 4 tahun ini tidak sampai 10 lembar. Saudara-saudara, dianggap surat pendek, sekarang siapa sih tulis surat 10 lembar? Sekarang Saudara kalau terima surat, terima faks 10 lembar, tidak ada kan? Dia memberikan nasihat kepada orang Ibrani dan di dalam nasihatnya, dari permulaan dunia diciptakan sampai seluruh rencana Allah ditulis, mencakup  Perjanjian Lama Perjanjian Baru, dia mengatakan, hanya surat yang pendek, atau terjemahan lain, “hanya sedikit saja yang kunasihatkan kepadamu.”

Hanya sedikit saja yang kunasihatkan kepadamu. Orang-orang agung selalu mempunyai pengetahuan diri yang betul-betul mempunyai bijaksana yang luar biasa. Pada waktu Johann Sebastian Bach meninggalkan dunia, sebelum itu dia mengatakan, “Saya hanya tulis begitu sedikit musik-musik.” Padahal 220 kantata, setiap kantata panjangnya seperti satu simfoni dari pada Wolfgang Amadeus Mozart. 220. Handel menulis 26 oratorio, salah satu Mesias hampir 3 jam. Bach Matthew Passion, 3 jam. John Passion, 2 jam lebih. Saudara-saudara, dan mereka menulis begitu banyak. George Phillip Telemann, Opusnya lebih 6.000 karangan-karangan yang besar. Kalau sekarang bikin 1, 2 lagu sudah hebat sekali. Supratman bikin satu lagu Indonesia Raya, itu sudah, yang lain tidak ada apa-apanya, tapi mereka menulis itu buku-buku. Handel pada waktu zaman Beethoven mati, sebelum satu minggu Beethoven meninggal dunia maka dikirim kepada dia tapi sudah lambat. Dia sudah mau mati. Empat puluh jilid semua karya dari pada George Frideric Handel, karena Beethoven pernah berkata Handel is the teacher and the great professor of us all. Dia adalah dosen kita semua di sini. Maka dikirim kepada dia, dia sudah sakit, hampir mati di atas tempat tidur. Empat puluh jilid, semua karyanya.

Orang yang begitu agung, begitu besar, mereka mengatakan apa? “Ah, saya cuma tulis sedikit saja.” Beethoven 9 simfoni, 30 lebih sonata, dan begitu banyak concerto, baik untuk biola 1, untuk piano 5, dan yang lain-lain. Dan Opera Fidelio dan Missa Solemnis, Christ on the Mount of Olive, begitu banyak string quartet, semua. Waktu dia mati, dia berteriak, masakan hanya beberapa nada yang saya tulis, saya sudah musti meninggalkan dunia. Saudara-saudara, orang-orang agung adalah orang yang kerja banyak, tapi rasa sedikit. Orang biasa, orang sedikit rasa banyak. Ah ini bedanya. Orang yang kerja sedikit rasa hebat, ah itu orang heboh, bukan hebat. Orang betul-betul hebat kerja banyak rasa sedikit. Berjasa besar, rasa tidak layak. Bekerja banyak, rasa kurang. Sudah mati-matian, rasa masih kurang.

Mari kita belajar, belajar orang yang agung. Penulis Ibrani mengatakan, “Silahkan, sambut baik-baik, semua nasihat yang sudah kunasihatkan kepadamu. Inilah nasihatku yang terakhir. Aku menasihatkan engkau baik-baik menyambut nasihatku yang sudah kuberikan kepada engkau, meskipun suratku ini pendek saja.” Dia merasa diri sedikit, sedikit, dan dia minta semua perhatikan meskipun yang ditulis itu sedikit. Lalu dia katakan kalimat-kalimat selanjutnya,“Timotius, tidak lama lagi akan dilepaskan.” Nah dari ayat ini kita mengetahui, Timotius kenal sama penulis Ibrani ini. Nah dari buku ini kita tahu, Timotius pernah dipenjarakan. Berarti mereka sama-sama melayani Tuhan, mereka mendukung satu dengan lain. Apalagi orang yang sudah dipenjarakan, dianiaya untuk Tuhan, dia mengatakan, “Kalau dia sudah lepas, saya akan pergi kepadamu membawa dia bersama-sama mengunjungi kamu,” orang-orang yang menerima surat dari Ibrani ini. Lalu dia memberikan salam, sesudah itu baru dia selesaikan dengan “kasih karunia menyertai kamu sekalian.” Di dalam terakhir dari pada surat ini, kita melihat dia tidak lupa ini firman Tuhan yang harus kita lakukan dengan mendengar, dengan menyambut, dengan mengingat dan dengan menjalankan.

Demikian kita sekarang sesudah selesai membahas seluruh kitab dari Ibrani, saya sekali lagi berkata kepada engkau, jangan lupa apa yang sudah kau dengar. Dan saya tanya, siapakah orang Kristen yang sudah dengar dan suka lupa? Waktu mereka dengar, tidak pasang telinga dan tidak menaruh niat. Mengapa tidak memasang telinga? Mengapa tidak menaruh niat? Karena mereka hatinya bukan mau firman. Celakalah jikalau engkau dengar khotbah hatinya bukan mau dengar firman. Engkau bilang, “Kalau saya bukan dengar firman, saya datang untuk apa? Justru saya mau dengar firman.” Tidak tentu. Ada orang dengar khotbah untuk mencari kesalahan pengkhotbah. Ada orang datang dengar khotbah untuk mencari bahan untuk khotbah lagi. Kulakan. Di Surabaya ada seorang pendeta, setiap kali saya SPIK dia datang. Tapi setelah dia datang, ditanya, anggotamu? “Oh, saya tidak kasih tahu mereka.” Lalu kita tanya, “Kenapa tidak kasih tahu sama mereka?” Bukan saya yang tanya, orang lain tanya. Saya lihat setiap kali SPIK engkau datang, tapi engkau anggotanya kok nggak datang? “Oh, anggota tidak boleh datang, karena SPIK ini adalah tempat saya kulak bahan. Kalau saya dengar khotbahnya Stephen Tong 3 hari, saya catat semua, itu boleh jadi bahan khotbah saya setengah tahun. Nggak boleh anggota saya datang, kalau datang tahu khotbah saya dari mana.”

Saya akhirnya sangat sedih mendengar kalimat seperti ini, karena dia memonopoli firman dan dia tidak mau orang lain datang. Dia kelihatan seperti sangat merindukan apa yang saya khotbahkan, tapi justru dia merintangi orang lain jangan datang dengar karena dia mau ambil bahan untuk khotbah. Saudara-saudara, saya tidak tahu sikap kita mendengar khotbah bagaimana, kalau engkau seperti satu spon, spon itu mempunyai daya terima yang luar biasa, di mana dia pergi, air disedot, di mana dia pergi, dia sedot. Dia mempunyai sesuatu sifat yang menerima, menerima. Dengan sifat seperti itu, dia menjadi makin lama makin kaya, menerima yang dari luar menjadi di dalam dia punya. Demikian orang Kristen yang sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, sungguh-sungguh mau mengerti firman Tuhan. Di mana dia pergi, dia dengar, dengar. Kalimat dari musuh, nggak apa-apa didengar, kalimat dari anak-anak didengar, kalimat apalagi dari orang tua, didengar. Jangan jengkel, jangan benci orang tua, karena banyak pengalaman-pengalaman yang engkau tidak tahu keluar dari mulut mereka kalau engkau bersedia dengar saja, sedikit saja, menjadi pertolongan besar bagi kamu.

Mari kita belajar menjadi orang yang mendengar. Menjadi orang Kristen berkata Tuhan, di sini saya, aku dengar. Mendengar. Pasang telinga, menaruh hati pada waktu firman disampaikan kepadaku. Apalagi firman-firman yang sudah digodok, sudah diperas daripada jiwa-jiwa yang bergumul seumur hidup, itu kalimat-kalimat adalah pesanan dari Tuhan sendiri. Meskipun kadang-kadang tidak enak masuk telinga, kadang-kadang tidak enak ditelan, kadang-kadang merasa engkau tersinggung, tapi Saudara-saudara, jikalau engkau dengan rela pasang telinga, menaruh hati, mendengar, maka itu semua akan menjadi faedah bagimu. Alkitab mengatakan, “firman-Mu aku makan. Waktu aku makan, permulaan pahit sekali, lambat laun menjadi manis, menjadi manis.” Di Indonesia tidak ada pohon zaitun. Ada nggak ya? Sepertinya nggak ada ya? Kalau ada manisan zaitun dibeli dari luar negeri. Zaitun itu dari kecil saya makan, saya di Xianmen, paling suka zaitun. Nah pada umur 6 pertama kali saya makan zaitun, sepet sekali, nggak enak, kecut. Tetapi heran sekali, zaitun itu sudah dimakan, sudah makan terus makan, makan, makin lama makin manis. Makin lama, makin manis. Sehingga perasaan sepet pada mulanya itu hilang. Akhirnya menjadi manis luar biasa. Apalagi waktu telan ke sini, itu liurnya enak luar biasa. Itulah firman Tuhan. Firman Tuhan pertama-tama didengar sangat menyentuh, sangat menusuk, sangat menyinggung, sangat bikin perasaan nggak enak. Tapi firman Tuhan yang betul-betul indah akan bikin engkau hidup makin kaya, makin baik, makin dekat Tuhan, dan makin manis. Kiranya Tuhan memberkati kita menjadi seorang Kristen yang suka mendengar firman Tuhan.

Amin

Pdt. Dr. Stephen Tong,  30 Juli 2017

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Sumber : https://www.grii-jogja.org/jadilah-orang-kristen-yang-mendengar-30-juli-2017/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube