Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Saudara-saudara, saya percaya Calvin telah menjadi satu contoh yang baik. Dia menulis buku “The Institutes of Christian Religion” – men-setup semua doktrin berdasarkan Kitab Suci. Dan di dalam buku itu dia mengutip lebih dari 6000 kali Kitab Suci, berarti dia tidak main-main, berarti dia tidak comot-comot, banyak ayat-ayat yang sangat pelosok, yang sangat tidak diperhatikan oleh orang lain, dia memakai semua, sehingga seluruh Kitab Suci tidak ada satu buku yang diabaikan menjadi dasar dia membuat sistem di dalam doktrin. Sesudah doktrin itu selesai, dia mengerti seluruhnya, baru dia tafsir dari buku ke buku. Calvin menulis commentary dari Kitab Kejadian sampai Buku ke-65, dan terakhir belum sempat, dia meninggal dunia. Sampai kepada buku Yudas, dari seluruh Kitab Suci ditafsirkan berdasarkan doktrin sismatis yang sudah dimengerti melalui pengertian seluruh Kitab Suci – 66 jilid.

Sekarang kita melihat akan apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani ini, pada ayat-ayat terakhir, dia menganjurkan supaya engkau dengar baik-baik. Kita, dengar apa? “Dengar nasihat yang kuberikan kepadamu.” Nah, di dalam buku Ibrani ini ada 5 peringatan yang besar, saya tidak mengulangi lagi, dan 5 peringatan ini tersusun di dalam pasal-pasal yang sudah kita bahas semua. dan pada ayat-ayat terakhir, dia mengatakan, “Aku nasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kata-kata nasihat ini kamu sambut atau kamu terima, dengar, dengan rela hati, sekalipun pendek saja suratku ini yang aku berikan kepada kamu.” Saya sangat terharu membaca ayat ini. Inilah seorang yang agung luar biasa tapi orang yang rendah hati luar biasa. Saya mungkin sudah 2 kali dari mimbar ini mengatakan, orang seperti penulis Ibrani diberikan honor sebagai Doktor 100 kali pun tidak cukup menghormati dia, karena dia mempunyai pengertian begitu indah, dan begitu komprehensif, begitu mendalam dan begitu ajaib adanya. Hanya dari ayat pertama sampai ayat ketiga, di dalam 3 ayat, kita sudah memakai lebih daripada 2 bulan untuk mengerti akan ketiga ayat itu.

Saya tidak tahu Saudara masih ingat, tidak? Dari ayat pertama sampai ayat ketiga, pasal pertama, kita pakai 9 kali untuk menjelaskan arti yang tersimpan di dalamnya. Daripada Sang Pencipta sampai Sang Pewaris segala sesuatu, adalah Kristus, Dia memancarkan cahaya daripada Allah di dalam sejarah. Setelah dia tulis selesai, dia mengatakan, “Saya menasihatkan, sambut nasihat ini dengan baik.” Apa artinya? Jangan sembarangan meloloskan diri daripada semua firman yang kamu dengar. Karena kita sudah sering mempunyai kesempatan mendengar firman Tuhan, kita begitu banyak kali, kita menganggap itu gampang, itu terlalu gampang untuk kita mendengarkan firman Tuhan, kesempatan terus ada, terus ada, maka kita lewatkan saja begitu. Pada ayat-ayat terakhir yang mengatakan: Jangan! Aku menasihatkan supaya kamu sambut baik-baik nasihat yang kuberikan kepadamu. Saudara-saudara, berarti mari kita menjadi orang yang mendengar.

‘Mendengar’ – ini merupakan bahagia, yang menjadi fondasi iman orang yang berdiri di hadapan Tuhan. Mendengar – menjadi bahagia yang paling tinggi, menurut ukuran dari Yesus Kristus. Tuhan berkata, “Marta, Marta, engkau sibuk untuk begitu banyak hal, tapi Maria sudah mendapatkan bahagia yang sangat tinggi, tidak ada orang bisa merebutkan, yaitu dia terus mendengar, mendengarkan khotbah Saya.” Yesus Kristus kalau pergi ke rumah daripada Maria, Marta, dan Lazarus, maka Maria mengambil kesempatan duduk di bawah kaki Yesus. Dia mendengar setiap kalimat. Marta sibuk-sibuk melayani. Gereja memerlukan Marta? Memerlukan. Gereja memerlukan Maria? Memerlukan. Kita memerlukan 2 macam pelayanan, pelayanan sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu. Di gereja ini saya bersyukur kepada Tuhan, ada orang yang betul-betul rela sibuk. Mereka berjam-jam sebelum Anda tiba, sudah datang. Dan dari 1 Januari sampai 31 Desember, mereka terus melakukan tugas itu. Dan di gereja ini juga ada orang yang tidak suka kerja, sukanya ngomel sama kritik orang lain. Mari kita belajar, ada orang yang rela sibuk, kerja terus… terus… tidak habis-habis, diam-diam bekerja. Tetapi, kalau mereka mempersiapkan segala sesuatu, mereka sibuk di lapangan, tapi setelah sibuk, mereka tidak dengar khotbah, itu tidak baik. Nah saya memperhatikan beberapa orang, yang mempersiapkan kursi, mempersiapkan segala sesuatu, mempersiapkan segala fasilitas, sudah selesai  – mereka dengar khotbah dengan baik-baik. Nah itu yang bikin saya senang. Jikalau Marta tidak dengar khotbah, dan Maria dengar khotbah, Marta setelah melayani Yesus Kristus, dia cuma lihat: jasa saya besar, tapi rohaninya tidak maju. Mengerti? Di dalam gereja ada semacam orang, banyak melayani tapi rohaninya tidak pernah maju, karena apa? Memang mereka waktunya terlalu banyak dipakai untuk melayani orang lain, sehingga mereka sendiri tidak mempunyai kesempatan mendengarkan khotbah. Mereka tidak mempunyai kesempatan menerima ajaran-ajaran yang baru. Yang diterima yaitu itu-itu saja. Dan saya lihat banyak gereja mempunyai kelemahan di sini. Apalagi kalau penginjilan-penginjilan, mereka terus menginjili orang lain, sendiri tidak terisi.

Lima belas tahun yang lalu, saya mendirikan kebaktian doa Momentum, persekutuan doa Momentum, untuk apa? Justru untuk mengisi orang yang melayani orang lain. Orang yang terus melayani orang lain, sendiri tidak dilayani. Orang yang terus melayani orang lain, sendiri tidak mempunyai kesempatan untuk baik-baik menerima firman, menerima nasihat. Itu sebab, Saudara-saudara, saya percaya semua khotbah daripada kebaktian Momentum, pada tahun-tahun yang sudah lampau, telah menjadi berkat besar bagi mereka yang melayani. Jikalau seseorang melayani tetapi diri tidak mendengarkan khotbah, bagaimana dia sendiri bisa maju terus? Nah, orang seperti saya, bahaya sekali. Orang seperti pendeta-pendeta, bahaya sekali, karena mereka terus melayani, tapi mereka sendiri tidak banyak kesempatan mendengarkan khotbah. Itu sebab, jikalau seorang hamba Tuhan, sendiri tidak terus menerus berhenti, diam di hadapan Tuhan, dia akan menjadi kering, dia akan menjadi sesuatu mesin, seperti tape recorder, puter-puter terus, sesuatu yang sebentar lagi haus, kering, dan habis. Maka keseimbangan ini perlu sekali. Engkau melayani? Engkau tetap mendengar. Engkau melayani, engkau tetap mempasang telinga mendengar. Di sini penulis mengatakan, “Saya menasihatkan kamu, sambut baik-baik nasihat.” Jadi di sini double nasihat. Saya nasihatkan kamu: baik-baik mendengar nasihat. Saya menasihatkan kamu: jangan melalaikan nasihat. Saya menasihatkan kamu: pasang telinga kepada segala nasihat. Orang yang dengar firman adalah orang yang maju terus.

Waktu saya pergi ke kota Xiamen, kota kelahiran saya, mereka mengatakan ini: Di daerah komunisme ini ada 2 macam gereja: ada gereja yang di bawah tanah dan ada gereja yang dikuasai oleh pemerintah. Gereja yang di bawah tanah, mereka sangat tidak senang dengan gereja-gereja yang takluk kepada pemerintah komunis. Tetapi gereja yang mempunyai kesempatan terbuka melayani dan berbakti secara sah, diakui resmi oleh pemerintah, mereka juga kadang-kadang tidak terlalu senang orang yang di bawah tanah. Tetapi dikatakan, yang di bawah tanah, mungkin 8-10 kali lebih banyak daripada yang diakui oleh pemerintah. Dan mereka berkata kepada saya, “Di dalam kota Xiamen ada 2 pengkhotbah yang paling baik, pengkhotbah yang paling disukai.” Siapa mereka? Adalah mereka yang paling banyak dengar khotbah, khususnya khotbah kaset dari Pdt. Stephen Tong. Dan Saudara-saudara, lalu saya tidak ada waktu ketemu dengan mereka, tapi orang-orang mengetahui kalau mereka adalah orang yang bukan saja mengisi, mereka sendiri diisi. Mereka diisi, baru mengisi. Seperti baterai yang terus tidak di-charge, akan kehilangan kekuatan untuk memberikan setrum kepada yang diperlukan. Mereka sendiri musti diisi lagi. Dengan demikian, dengar khotbah menjadi sesuatu berkat bahagia yang besar. Maka Yesus berkata, “Marta, Marta, engkau sibuk untuk banyak hal. Tetapi Maria sudah memiliki bahagia yang sangat besar, yang tidak bisa direbutkan, karena dia mendengarkan firman.” Apakah kita sudah membiasakan diri? Apakah kita sudah pasang telinga,kita sudah betul-betul merindukan, membiasakan diri mendengarkan firman? Saudara-saudara, ada orang datang ke dalam kebaktian, dia mendengarkan khotbah untuk orang lain, “Waduh hari ini khotbahnya bagus, cocok untuk si anu, sayang nggak datang dia. Kalau dia datang, persis untuk dia, cocok untuk dia. ”Mari kita dengar khotbah untuk diri, jangan mendengar khotbah untuk orang lain. “Aku menasihatkkan kamu, sambut baik-baik nasihat yang kuberikan kepadamu.”

Apakah bedanya orang Israel dengan orang-orang yang lain? Seluruh Israel mengetahui ayat yang paling penting di dalam Alkitab adalah Ulangan 6:4. Ulangan 6:4 dianggap adalah ayat emas, diantara semua ayat. Orang Ibrani, orang Yahudi, sampai hari ini mereka masih mengetahui apa yang disebut ayat syema, ayat emas, ayat yang paling penting di seluruh Kitab Suci, yaitu ayat syema. “Syema” berarti dengar. Dengar! Tuhan berkata, “Hei Israel, dengarlah engkau, Israel, dengarlah!” Lalu di belakangnya 2 kalimat, “Allahmu adalah Allah yang Maha Esa. Cintailah Dia dengan seluruh pikiranmu, segenap tenagamu, sebulat hatimu, dan seluruh sifatmu.”  Your God is the only God. Itu sebab, Allah yang Esa mau kita mencintai Dia dengan seluruh jiwa, seluruh raga kepada Dia. Dan sesudah itu, sama: mencintai orang lain seperti dirimu sendiri. Nah ayat ini kenapa disebut ayat emas? Kenapa disebut ayat yang paling dasar di seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama? Karena inilah menjadikan bangsa Ibrani berlainan dengan bangsa yang lain. Saudara-saudara, bangsa Ibrani bangsa yang mendengar, karena ada suara dari sorga, ada firman dari Tuhan, ada perintah dari takhta Tuhan – untuk manusia. Dan yang dengar adalah orang yang diberikan hak. “Ibrani-ibrani, orang Yahudi, orang Israel, dengarlah…” “Hear ye, Israel, your God is the only God.”  “Allahmu adalah Allah yang Maha Esa, dengarlah kepada Dia!”  dan inilah satu kitab yang penuh dengan perkataan… perkataan.. perkataan.. perkataan.. tidak habis-habis. Kitab Suci tidak disenangi oleh banyak orang, karena apa? Terlalu banyak perkataan, terlalu sedikit hal yang lucu. Ini bukan suatu entertainment, ini bukan sesuatu hal yang menjadi sesuatu ilusi manusia, sesuatu halusinasi daripada manusia. Bukan satu imajinasi manusia. Ini adalah perintah, perintah dari Tuhan Allah, yang tersimpan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi, atau langsung gambling menjadi perintah-perintah yang diberikan secara letterlijk kepada manusia.

Hear Ye, Israel… Dengarlah Israel…” orang Israel diperintahkan Tuhan menjadi bangsa yang mendengar. Bedanya bangsa Israel dan bangsa Yunani. Bangsa Israel adalah bangsa yang mendengar, bangsa Yunani adalah bangsa yang melihat. Orang Yunani melihat, “Mengapa begini?” Waktu mereka melihat matahari, mereka melihat bintang, mereka memikirkan bagaimana mengerti, akhirnya Yunani menjadi ‘lihat, pikir, dan mengerti,’ Ibrani ‘dengar, pikir, percaya.’ Nah Saudara, ini beda dari kedua kebudayaan yang paling besar ini, dan kedua kebudayaan ini akhirnya digabungkan, dijadikan bahasa untuk menampung Kitab Suci. Israel ‘dengar,’ waktu dengar mereka bukan saja melihat, kalau melihat [tetapi] tidak dengar, selalu salah interpretasi. Engkau melihat satu lukisan yang bagus dari Affandi, engkau setelah lihat, “Apa ini ya? Warnanya begitu banyak, kacau balau,” lalu engkau pergi; sudah lihat, engkau pikir, tetapi kalau ada Affandi di pinggirmu mengatakan, “Saya gambar ini karena hari itu terjadi sesuatu, coba perhatikan dari sudut ini, dari sudut itu,” “Oh gua mengerti.” Jadi kalau engkau sudah lihat tambah dengar, engkau masuk ke dalam makna asli. Perhatikan ya, Kalau engkau sudah dengar, engkau lihat, engkau mendapatkan interpretasi asli, engkau berbahagia. Bangsa Yunani melihat alam semesta, setelah itu mereka pikir, setelah mereka pikir mereka mengerti, maka rasio menjadi utama di dalam seluruh kebudayaan Yunani, tetapi iman menjadi utama di dalam seluruh kebudayaan Ibrani. Sampai pada Perjanjian Baru muncul kesimpulan “iman datang dari pendengaran, faith comes by hearing and hearing comes from the Word of Jesus Christ,” Saudara-saudara, ini prinsip. Berbahagialah jika pagi ini engkau mengerti prinsip ini seumur hidup engkau tidak akan menyimpang.

Gereja ini didirikan dari hari pertama sampai sekarang tidak lolos dan tidak mengabaikan prinsip ini. Gereja ini adalah gereja dimana kita pentingkan mendengar, mendengar. Dengar apa? Bukan dengar cerita, pengalaman dari pada pendeta, bukan dengarkan mimpi-mimpi dari hamba Tuhan, bukan mendengarkan perasaan dari pada manusia, bukan mendengarkan teori-teori dari pada orang berdosa; mendengar Firman, Firman, Firman. Amin? Siapakah yang betul-betul mendengarkan firman tidak menimbulkan iman? Tidak ada. Siapakah yang betul-betul memberitakan firman tidak diurapi? Tidak ada. Jikalau engkau sungguh-sungguh dari hatimu memberitakan firman supaya orang mendengar, maka yang memberitakan diurapi, yang mendengar juga diurapi. Jika engkau menjunjung tinggi firman supaya firman yang boleh didengar oleh manusia dikabarkan dengan setia, maka Tuhan mengurapi yang memberitakan, Tuhan juga mengurapi mereka yang sungguh-sungguh mau mendengar, karena iman datang dari pendengaran. Jikalau kita tidak dengar, kita jadi apa? Jikalau kita tidak dengar baik-baik kita hanya mengikuti pikiran kita sendiri. Jikalau kita tidak dengar, kita tidak bisa bicara. Jikalau kita tidak dengar, kita tidak bisa mengerti. Segala sesuatu pengertian, iman, pemberitaan berdasarkan dari pada pendengaran. Orang di dalam medis mengatakan kepada kita seorang bisu bukan karena dia tidak bisa ngomong, orang bisu karena dia tidak bisa dengar. Mengapa bisu? Karena tidak dengar. Di dalam dunia dia, dunia yang sepi, dunia tanpa suara, sehingga dia tidak tahu apa itu suara. Kalau dia tidak tahu apa itu suara, meskipun dia bertali suara dia juga tidak tahu bagaimana memakainya, kalau dia memakai diapun tidak dengar. Karena dia tidak dengar maka yang diomong oleh orang lain hanya menjadi goyangan mulut, tidak ada arti apa-apa. Dia melihat orang [peragakan gerakan bibir], dia ikut goyang-goyang tapi tidak ada suara. Karena dia tidak dengar maka dia tidak bisa ngomong. Kenapakah pengkhotbah-pengkhotbah orangnya nggak beres? Karena tidak dengar, terus terang. Saya melihat pendeta-pendeta kita duduk di situ, bagaimana dengar khotbah, saya sudah tahu besok dia jadi pengkhotbah yang baik atau tidak. Kecuali saya khotbah sembarangan, mereka tidak apa, tetapi ternyata ada murid-murid mahasiswa teologia yang dengar khotbah goyang-goyang, lihat sini lihat sana, main kuku, tidak perhatikan; tetapi ada yang betul-betul setiap kalimat dipikirkan, orang itu besok pasti jadi pengkhotbah yang baik. Karena orang bisu bukan tidak bisa ngomong, karena tidak bisa dengar.

Saya umur 8 dengar khotbah terus, dan dimana kebangunan rohani saya pergi sampai malam jam 10 jam 11. Semua pelajaran saya tinggalkan dulu, lalu saya sampai malam jam 12 selesaikan kalau saya sudah pulang dari kebangunan rohani. Waktu saya umur 8 kakak saya umur 10, sama-sama pergi dengarkan kebangunan rohani, sampai tengah-tengah, khotbahnya panjang sekali, kita masih kecil nggak mengerti, yang mengerti kita mengerti, yang nggak mengerti ngantuk, akhirnya bagaimana? Saya masih ingat, dua anak bawa satu gelas, cangkir air kecil, taruh di tengah-tengah, lalu kalau kamu ngantuk ambil air, gosok-gosok mata, kalau saya ngantuk saya ambil air gosok-gosok mata. Menahan, berpaksa supaya boleh mendengar. Itu sebabnya dari kecil terus dengar khotbah, akhirnya saya berani berkata apa yang dijanjikan Tuhan sudah menjadi suatu fakta di dalam hidup saya. Saya sekarang setiap tahun harus khotbah 600 kali, kadang-kadang ada bahan yang sama yang dipakai tetapi saya harus selalu memberikan sesuatu yang segar untuk orang. Karena apa? Dari kecil dengar, dengar, lalu saya analisa, saya mengerti mengapa pengkhotbah ini pakai cara ini, mengapa ada yang begitu menggerakkan, mengapa dia punya cerita begitu hidup, karena mendengar, menganalisa, mengerti. Akhirnya pada waktu Tuhan panggil saya, saya sudah boleh memberikan dengan baik. Dengar dulu, dengar dulu, isi dulu, lalu engkau baru mengalir. Sekarang kalau kita tidak mau isi penuh lalu tidak mau luber keluar, maunya cuma bikin lobang di bawah, itu paling gampang. Ada sedikit, bocor; sedikit, bocor; sebentar habis. Yang benar adalah isi penuh baru mengalir, bukan baru sedikit dibocorin dari bawah. Harus ingat bagaimana mendengar, mengisi penuh itu penting sekali.

Bersambung

Pdt. Dr. Stephen Tong,  30 Juli 2017

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Sumber : https://www.grii-jogja.org/jadilah-orang-kristen-yang-mendengar-30-juli-2017/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube