God and Man“Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal. (1 Yohanes 2:25).

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)

————————–

Kematian Kristus yang mematikan kematian, adalah kehendak Allah. Itulah satu-satunya kematian menurut kehendak dan rencana Allah. Lalu, apakah rencana Allah bagi mereka yang ada di dalam Kristus? Yang berada di dalam Kristus adalah mereka yang dipilih, diinjili dan diperanakkan pula oleh Roh Kudus! Bagi mereka yang dibawa Tuhan ke dalam Kristus, ada kehendak Allah. Keberadaan manusia yang tetap berada di dalam Adam, akan berdosa dan binasa. Mereka yang berada di dalam Kristus, akan mengalami pengampunan dosa dan keselamatan. Dan, dari keadaan di dalam Adam, manusia pilihan dialihkan untuk masuk ke dalam keberadaan di dalam Kristus. Itulah arti penginjilan. Di dalam Kristus ada kehendak Allah bagi orang-orang yang menerima segala berkat di dalam keselamatan-Nya.

KAUM PILIHAN DAN KEKEKALAN

Di dalam pikiran dan rencana Allah yang asli, Dia tidak mau manusia mengalami kematian atau menuju kebinasaan. Kematian adalah satu kegagalan akibat dosa yang Allah izinkan terjadi. Manusia mati karena Adam memilih untuk berbuat dosa dan melawan Allah. Allah tidak merencanakan perbuatan dosa, tetapi Allah memberikan kebebasan kepada manusia. Allah memperbolehkan manusia memakai kebebasannya dengan kehendaknya sendiri. Tetapi pada waktu kehendak manusia melawan kehendak Allah, maka dosa harus dihukum. Allah itu adil!

Manusia yang sudah jatuh di dalam dosa, tidak bisa luput dari hukuman dosa, yaitu kebinasaan. Tetapi Allah tidak rela menusia mati, hidup di dalam dosa dan binasa dalam neraka. Itu sebabnya Allah memberikan janji kepada manusia. Kitab Suci disebut Kitab Perjanjian dan Kitab Suci terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Apakah yang merupakan pengharapan bagi manusia yang terkandung dalam Kitab Suci?

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa melawan dalil kronos, manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa melintas lebih cepat daripada proses waktu. Pada waktu berjalan dengan kecepatan yang ditentukan, manusia justru ingin melewati kecepatan yang ada dalam proses waktu, dan ini yang disebut pengharapan. Manusia mempunyai pengharapan. Manusia bisa berharap untuk menuju kepada hari yang kekal, berharap untuk tiba kepada hari esok, walaupun hari esok itu belum tiba. Itu terjadi karena manusia mempunyai sifat keagamaan.

Immanuel Kant mengajukan empat pertanyaan saja:

  1. Siapakah saya?
  2. Apakah yang bisa saya ketahui?
  3. Apakah yang seharusnya saya perbuat?
  4. Apakah yang menjadi pengharapan saya?

Kalau seseorang tidak tahu siapa dirinya, maka hidupnya menjadi kurang berarti. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang seharusnya ia ketahui, maka ia akan memiliki pengetahuan yang amat terbatas. Jika seseorang tidak mengetahui apa yang seharusnya ia perbuat, maka orang itu akan mempunyai tingkah laku yang tidak berarah. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang bisa diharapkan, maka nilai hidup orang itu akan berhenti pada waktu dia mati.

Seorang filsuf Denmark, Soren Aabye Kierkegaard, mengatakan: “Jika pengharapan Kristen tidak menuju kepada kekekalan, maka orang Kristen adalah orang yang paling kasihan.”

Apakah arti kekekalan? Apakah kekekalan itu sama dengan eksistensi/perluasan dari keberadaan di dalam waktu yang tidak ada habisnya? Apakah kekekalan berarti bahwa setelah manusia mati, ia akan tetap ada? Ya! Itu adalah kekekalan keberadaan, tetapi bukan keberadaan yang mempunyai relasi dengan Keberadaan Yang Asal. Hubungan dengan Keberadaan Yang Asal, dicapai hanya melalui kehendak Allah di dalam Kristus.

Allah memberikan Kristus ke dalam dunia bukan untuk mendirikan satu agama yang baru, bukan memberikan satu sistem moral yang baru dan bukan untuk mengerjakan satu revolusi secara sosial, moral, ekonomi, politik, atau pun hal-hal yang lain. Yesus Kristus datang ke dunia justru untuk menjalankan kehendak dari rencana Allah bagi manusia, yaitu melaksanakan perjanjian Allah. Rasul Yohanes menyimpulkannya dengan satu kalimat: “Karena inilah janji yang sudah dijanjikan Allah kepada kita, yaitu hidup yang kekal.”

Teologi Pengharapan yang dicetuskan oleh Jurgen Moltmann dari Jerman diterima baik oleh kaum intelektual. Moltmann berusaha mengembalikan satu aspek penting yang selama ini sudah menjadi pudar dalam kegagalan-kegagalan dari kebudayaan modern. Tidak semua buah pikiran Moltmann saya setujui, tetapi kepercayaan yang menghasilkan pengharapan kepada kekekalan memang merupakan satu substansi yang penting dalam ajaran Alkitab. Hidup yang kekal atau eternal life adalah eternal value (nilai yang kekal), eternal existence (keberadaan yang kekal), eternal relationship (hubungan yang kekal), dan eternal present of God (kehadiran Allah yang kekal).

Di kuburan, kita akan menemukan orang-orang yang mati dalam berbagai usia. Ada yang baru dua tahun, ada yang delapan puluh tahun dan ada pula yang sampai sembilan puluh tahun. Apakah perbedaan hidup manusia yang satu dengan yang lain, jika semuanya menuju kepada kuburan yang kecil? Apakah arti hidup kita adalah untuk menjadi debu? Hidup kekal yang akan dituju, menjadikan hidup kita yang beberapa puluh tahun dalam dunia lewat begitu saja.

Alkitab menjanjikan bahwa di dalam Kristus, kita mendapatkan hidup yang kekal. Orang Kristen yang memiliki iman yang sejati, akan mempunyai gaya hidup yang luar biasa. Kuburan dipandang bukan sebagai tempat akhir hidupnya, tetapi hanya sebagai satu tempat peristirahatan sementara dari tubuh jasmani, yang menantikan penyempurnaan pada waktu kedatangan Kristus. Jiwa orang percaya sudah memiliki hidup yang kekal.

Puji Tuhan! Alangkah besarnya cinta kasih dan anugerah Allah yang sudah kita terima. Kristus memberikan hidup yang kekal bagi kita. Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Allah memberikan hidup yang kekal dengan memperanakkan manusia berdosa dengan firman-Nya., dengan Injil Kristus, dan dengan Roh Kudus yang diberikan oleh Allah.

KAUM PILIHAN DAN HIDUP KUDUS

Dalam 1 Tesalonika 4:3, istilah “kehendak Allah”, amat jelas dan secara terbuka dinyatakan dan tidak samar-samar. Kita diselamatkan oleh Allah untuk menjalankan satu kehendak-Nya yang khusus, yaitu hidup dalam kesucian. Tidak seharusnya kita mengerti kehendak Allah, hanya pada waktu kita mencari pasangan hidup. Kita harus mengetahui kehendak Allah secara menyeluruh. Orang yang menikah harus menjalankan kehendak Allah. Dan mereka yang belum/tidak menikah, juga harus menjalankan kehendak Allah. Kehendak Alah begitu terbuka, yaitu hidup suci. Apakah hati seorang suami tidak tertegur ketika melihat isterinya yang setia? Apakah hati seorang istri tidak tertegur waktu melihat suaminya yang setia?

Tubuh kita adalah bait Allah (1 Korintus 6:19), bait Allah yang hidup. Agama Budha menganggap tubuh sebagai satu kantung busuk. Filsafat Phytagorean, menganggap tubuh sebagai satu penjara. Agama Hindu menganggap bahwa tubuh memerlukan satu pemurnian dan pemurnian ini hanya bisa dilakukan dengan cara reinkarnasi. Tetapi ajaran Alkitab tidak menerima semua itu. Alkitab tidak menerima reinkarnasi. Alkitab tidak menerima ajaran bahwa tubuh adalah satu tempat di mana manusia boleh mempermainkannya.

Orang gnostisisme terpecah menjadi dua ekstrim. Yang satu mengajarkan bahwa tubuh itu remeh (jahat) dan sebisa mungkin nafsu tubuh harus dilampiaskan. Itulah cara menghina tubuh dengan melampiaskan segala hawa nafsu. Ekstrim yang lain mengajarkan bahwa manusia harus menahan segala nafsunya dengan menekan dan menyiksa tubuh. Itulah asketisme! Alkitab menolak segala ajaran dan teori yang tidak benar seperti ini yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Alkitab menyatakan hal ini dengan kalimat yang paling agung: Tubuh orang percaya adalah bait Allah. Tubuh orang percaya adalah tempat berdiamnya Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa di dalam tubuh kita, kesucian Tuhan harus menempati tempat yang terutama!

Kalau setiap orang Kristen mengenal kehendak dan perintah Allah yang satu ini dengan tuntas dan jelas, maka setiap kali kita memandang tubuh kita, kita mengingat bahwa tubuh adalah bait Allah. Roh Kudus berdiam di dalam tubuh kita, Dengan itu kita akan mencintai tubuh kita, memelihara diri dalam kesucian dan menjauhkan tubuh kita dari segala kenajisan. Kenajisan dari percabulan.

Menjauhkan diri dari segala percabulan atau perzinahan adalah salah satu perintah terpenting dari sepuluh hukum Allah! Saudara yang belum menikah, peliharalah baik-baik tubuh Saudara. Nikmatilah keindahan seks pada waktu malam pertama secara sempurna dan tanpa teguran apa-apa. Orang yang sudah menikah, tutuplah mata dan jangan melepasnya untuk berjalan kesana-kemari. Setialah, dan hanya dipuaskan oleh isteri Saudara. Jikalau kita suci dalam seks dan setia dalam keluarga, maka kita akan mendapatkan kepuasan di dalam jodoh yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dengan hidup demikian, kita akan mendapatkan satu kekuatan batiniah yang amat besar.

Begitu banyak orang yang mau melayani Tuhan, tetapi mereka terhambat oleh kehidupannya yang tidak beres yang dikerjakannya sendiri. Jikalau Saudara hidup suci, maka Saudara akan memiliki kekuatan yang luar biasa, keberanian yang luar biasa dan mendapatkan urapan dari Tuhan. Demikian juga masyarakat yang hidup dalam kesucian tubuh dan kesucian keluarga, tidak mudah dijatuhkan. Bangsa yang memelihara kesucian seks, akan mempunyai kekokohan yang luar biasa.

Bukanlah emosi lahiriah ataupun eksperimen dari segala sensasi manusia yang membuktikan dirinya dipenuhi Roh Kudus. Pada waktu Roh Kudus memenuhi seseorang, maka orang itu akan menyatakan hidup kesucian yang rela menjalankan kehendak Allah. Apakah gunanya mengklaim bahwa diri dipenuhi Roh Kudus, tetapi hidupnya tidak karu-karuan? Hidup suci merupakan kehendak Allah. Allah menyucikan kita dalam tiga tahap.

a. Menjadikan kita Orang Kudus.

Kita disebut sebagai orang kudus sebab kita telah dikuduskan dan disucikan oleh darah Kristus. Secara “status” kita adalah orang-orang suci.

b. Penyucian yang Progresif.

Penyucian secara progresif dimulai pada waktu setelah kita diselamatkan sampai pada saat bertemu dengan Tuhan. Hidup dalam keselamatan adalah waktu yang sulit kita lewati. Sebagaimana orang-orang Israel yang mengembara empat puluh tahun di padang belantara sebelum masuk ke dalam tanah Kanaan, demikian juga kita yang sudah dilepaskan dari kuasa dosa oleh Kristus dan diperanakkan oleh Roh Kudus, belum pergi ke sorga. Kita sudah diselamatkan, tetapi belum mati. Ini adalah satu perjalanan panjang dari hidup Kristen.

c. Penyucian Sempurna.

Begitu banyak pencobaan dari setan, tetapi satu hal yang kita perlu lakukan adalah berpegang pada tangan Tuhan dan memelihara firman-Nya dalam hidup kita. Kita harus terus hidup di dalam kemenangan dan mengalahkan pencobaan. Itulah penyucian yang progresif. Penyucian progresif ini akan menuju pada satu titik akhir yaitu kesucian yang sempurna. Kesucian ini akan disempurnakan dan digenapi pada waktu Yesus Kristus datang kembali.

Di dalam zaman di mana manusia menginginkan berkat materi dan kekayaan dan tidak mau menjalankan kehendak Tuhan, Ia tetap menjalankan kehendak-Nya bagi kita. Hiduplah suci, jalankanlah kehendak Tuhan! Jangan hanya menginginkan anugerah Tuhan tanpa kerelaan menjalankan kehendak-Nya.

KAUM PILIHAN DAN PERINTAH YANG DIBERIKAN.

Waktu perintah dari mulut Kristus keluar, maka berarti kehendak Allah bagi kita dinyatakan! Semua perintah yang diberikan, merupakan satu cetusan kehendak Allah. Apakah yang dikehendaki Tuhan atas diri kita? Apakah yang direncanakan Tuhan bagi gereja-Nya? Apakah perintah Tuhan supaya kita mengetahui isi hati-Nya?

(a) Secara Intern.

Dari Yohanes 13:34-35; 15:12, orang yang beriman sejati harus mempunyai cinta kasih kepada orang lain yang beriman sejati. Masalah ini sangat diselewengkan oleh orang-orang yang tidak mengetahui ajaran-ajaran palsu yang masuk ke dalam gereja. Praktek cinta kasih sering disalah-gunakan sampai akhirnya doktrin menjadi tidak beres. Di dalam iman yang sejati, kita belajar saling mengasihi. Di dalam firman yang murni, kita saling mengasihi. Alkitab mengatakan supaya kita hendaknya membenci akan ajaran-ajaran palsu dan membongkar kesalahan-kesalahan mereka dengan tegas (Wahyu 2:6, 15; 2 Timotius 3:16).

Kadang-kadang pada waktu berbicara tentang kasih, kita menjadi lupa dan mempersamakan kasih dengan sikap berkompromi dengan ajaran yang tidak benar. Prinsip mengasihi harus dikembalikan pada jalurnya. Pada waktu Paulus bertemu dengan orang-orang yang berpaham Gnostisisme, ia sama sekali tidak memberi ampun. Pada waktu ada orang-orang Yahudi yang mengajarkan bahwa orang harus disunat untuk beroleh keselamatan, ia melawan dan membantah pendapat mereka dengan keras (Kisah Para Rasul 15:1-2).

Dalam Galatia 5:12, Paulus berkata: “Biarlah mereka yang menghasut kamu (menekankan sunat) itu mengebirikan saja dirinya!” Kalimat yang begitu keras, yang keluar dari mulut seorang hamba Tuhan, tidak menandakan bahwa Paulus tidak memiliki kasih. Itu karena kasih Paulus akan firman Tuhan yang begitu murni, tidak membuka jalan bagi kompromi. Kekristenan menyeleweng karena kemurnian ajaran tidak dipelihara. Kita memerlukan cinta kasih yang sejajar dengan keadilan. Kita memerlukan kekerasan yang disertai dengan kelembutan.

Pada zaman Reformasi, para reformator mempertahankan firman yang benar, akibatnya terjadi satu ekskomunikasi dari gereja Roma Katolik. Martin Luther dibuang keluar dari lingkungan gereja, karena gereja Katolik menganggap bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan. Calvin menegakkan ajaran-ajaran Alkitab yang murni. Suatu perpecahan harus terjadi. Apa sebab? Karena kemurnian firman Tuhan harus terus ditegakkan dalam sejarah.

Pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19, berkembang satu ajaran yang mengajarkan bahwa doktrin itu tidak penting. Sejak saat itu, etika Kristen dinomor satukan melebihi doktrin, padahal itu tidak mungkin berjalan.

Paulus berkata kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.” (terjemahan NIV: Watch your life and doctrine closely). Jikalau tidak ada ajaran yang ketat dan standar pengajaran iman yang benar, gereja akan menyeleweng dan Kekristenan akan tinggal nama. Kulitnya Kristen, tetapi isinya bukan Kristen lagi. Yesus berkata: “Cintailah satu orang dengan yang lain.” Ini perintah. Kita perlu mengasihi orang lain yang beriman sejati.

 b) Secara Ekstern.

Dalam Matius 28:19-20; Markus 16:15, Injil harus dikabarkan. Paulus pergi mengabarkan Injil kepada orang luar. Petrus mengabarkan Injil kepada orang luar. Injil bukan untuk kalangan sendiri. Jika Injil dikabarkan hanya dalam kalangan sendiri, maka setelah orang-orang di dalam kalangan sendiri itu mati, maka Injil tidak dikabarkan lagi sampai sekarang ini. Karena Injil bukan untuk kalangan sendiri, maka Hudson Taylor pergi ke RRC; Judson pergi ke Birma; David Brainer pergi ke suku Indian; William Carey pergi ke India; Nommensen pergi ke Batak. Orang-orang lain pergi mengabarkan Injil ke Alaska, Ethiopia, Mesir dan sampai ke pedalaman dan tempat-tempat yang paling terpencil di dunia. Dengan demikian kehendak Tuhan dijalankan.

Apakah yang harus kita lakukan jika kita tahu bahwa umur kita semakin pendek? Yang harus kita lakukan adalah lebih giat lagi mengabarkan Injil kepada lebih banyak orang. Kita harus memakai waktu yang Tuhan berikan, semaksimal mungkin.

Amin.

SUMBER :
Nama Buku : Mengetahui Kehendak Allah
Sub Judul : Bab VIII : Kehendak Allah atas Kaum Pilihan
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2010
Halaman : 115 – 123