Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Tanya: Saya sering mendengar orang bersaksi: waktu saya bertobat, ada perasaan khusus ini, itu, tapi waktu saya bertobat, biasa-biasa saja. Apakah pertobatan saya perlu diulangi?

Jawab: Pertobatan bukan ekspresi perasaan sedih karena penyesalan. Memang, saat seorang bertobat juga menyatakan penyesalan. Masalahnya: sifat manusia berbeda-beda, jangan memaksakan pengalaman pribadi pada orang lain: ada orang yang saat menerima Ron Ku­dus serasa tersengat listrik, ada yang menangis, ada yang bersukacita, pengalaman pribadi tak bisa menggantikan iman terhadap kebenaran. Dari mana kita tahu pertobatan kita sungguh atau tidak: adakah kau menyadari, kau berdosa pada Tuhan? Kalau seorang hanya menyadari dirinya bersalah ter­hadap sesama, tak beda dengan apa yang terjadi di pengadilan: saat vonis dijatuhkan, seorang mengaku dirinya bersalah. Itu bukan pertobatan. Per­tobatan selain mengakui dirinya bersalah terhadap sesama, juga berdosa kepada Tuhan, Penciptanya. Jadi, pertobatan yang sejati membuat hubunganmu dengan Allah, Penciptamu kembali nor­mal, karena Kristus telah mati, menjadi korban tebusan bagimu. Kalau kau jelas tahu, dirimu berdosa pada Allah, tapi Allah mengirim Kristus mati bagimu, tentu kau bertekad meninggalkan segala dosa, berpaling pada Tuhan; kembali ke jalan benar. Jadi, pertobatan mengandung tiga perkara: mengerti kebenaran Tuhan dan Kristus yang Bapa utus, menyadari dirimu berdosa padaNya dan menyesali dosamu, mau meninggalkan dosa dan berpaling pada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kalau ketiga-tiganya ada padamu, meski kau tidak menangis, tidak berteriak-teriak histeris juga tidak masalah. Karena mungkin kau tergolong sebagai orang yang bertype Ahisteris.

Tanya: Bagaimana pendapat pak Tong tentang ibadah prophetics?

Jawab:  Arti prophetics: bersifat kenabian: 1. berbicara mewakili Tuhan. 2. berperan sebagai nahkoda yang menetapkan arah dari zamannya. Memang, istilah prophitier bisa diterjemahkan bernubuat. Tapi di bahasa aslinya nubuat bukan hanya mengatakan sesuatu yang akan datang saja, juga menjadi spokeman of God. Fungsi nabiah ini sudah tiada. Sementara orang Karismatik, Pentakosta masih menganggap khotbahnya adalah firman yang langsung dari Tuhan. Kalau memang Tuhan masih berfirman secara langsung, apa gunanya Kitab Suci? Ada yang berpendapat Kitab Suci sudah kuno. Apakah dia pikir firman Tuhan, misalnya, statemen pertama dari Kitab Suci: ” mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” sudah berlalu? Tidak, sampai kiamat; langit bumi yang Tuhan cipta ; statemen itu tak pernah berlalu. Selain itu, firman Tuhan sudah lengkap, tak perlu ada tambahan. Ada seorang berkata, Kitab Suci adalah wahyu Tuhan, saya juga mendapat wahyu dari Tuhan. Kalau yang kau dapat itu adalah wahyu dari Tuhan, beranikah kau menambahkannya di Kitab Suci? Jadi, mengatakan “Tuhan berkata pada saya …. ” adalah aksi mencuri kemuliaan Tuhan. Karena Firman Tuhan yang tertulis sudah lengkap, tak perlu ditambah-tambah, Mereka yang berani berkata begitu adalah menyamar sebagai nabi, menyeret banyak orang Kristen pada konsep yang salah: Alkitab kita belum sempuma. Permisi tanya, mana yang lebih tinggi: statemen yang mereka katakan berasal dari Tuhan atau Alkitab? Kalau Alkitab lebih tinggi, mengapa kita harus mendengar celoteh mereka. Kalau celoteh mereka lebih tinggi, beranikah mereka menambahkannya pada Alkitab? Di buku yang ditulis oleh Jiang Duan Yi (saya balik namanya Jiang Yi Duan, artinya: bidat), terdapat ratusan kesalahan, tapi di Alkitab, tak ada kesalahan barang satupun. Karena Alkitab adalah firman Tuhan. Orang Islam menganggap empat injil adalah palsu, bagi mereka injil yang sejati adalah injil Barnabas. Padahal di abad ke-1, saat Yesus naik ke sorga, injil yang beredar di bumi ini ada tujuh puluh lima jenis, tak satupun yang bernama injil Barnabas. Injil Barnabas baru diketahui oleh orang pada abad ke-15, di mana? Di perpustakaan Vatikan. Mengapa ada di sana? Buku itu harus disimpan, guna membuktikan dia berasal dari Tuhan atau bukan. Seorang pustakawan menemukan buku itu beredar di luaran, bahkan ke tangan orang Islam, kata mereka: inilah injil. Mengapa orang Islam berkata seperti itu? Karena dia rasa kitab itu cocok dengannya. Apa maksudnya? Buku itu mengatakan: Yesus berdoa kepada Tuhan.,.. Tuhan merasa kasihan pada Dia, yang Tuhan utus itu nyaris terbunuh, maka Tuhan meluputkan dari kematian dengan cara: mengubah wajah Yudas menjadi wajah Yesus, dan mengubah wajah Yesus menjadi wajah Yudas, maka orang yang mereka tangkap dan salibkan itu adalah Yudas bukan Yesus. Jika demikian, injil Barnabas betul-betul inovatif. Masalahnya, mungkinkah mulut Yudas mengatakan sta­temen: Bapa ampunilah mereka…. yang begitu indah? Di injil Barnabas terdapat lebih dari seratus kesalahan, salah satu yang paling fatal: Yesus naik kapal ke Nasaret. Nasaret terletak di pegunungan, mana mungkin orang berkapal ke sana. Mengindikasikan: Tuhan bertanggung-jawab atas firmanNya yang asli; yang berasal dariNya, Dia tidak bertanggungjawab untuk firman yang bukan berasal dariNya, amin? Banyak orang Kartimatik juga mengatakan statemen yang bersifat nubuat; prophetics, itu tidak benar.

Tanya: Apa perbedaan antara ajaran John Wesley — pendiri Methodist dan ajaran Calvin?

Jawab:  Pendiri Methodist adalah dua tokoh: John Wesley dan George Whithfield yang sangat genius, sekaligus berkarisma besar sekali. Padahal perawakan John Wesley kecil, tinggi badannya tak sampai 160 cm, tapi sanggup berkhotbah keliling dengan menunggang kuda, per tahun kira-kira seribu kali, tanpa menggunakan pengeras suara Siapa yang lebih besar: John Wesley atau George Whithfield? George Whithfield, bukan besar umurnya tapi karismanya. Dialah orang pertama di Inggris yang berani berkhotbah di lapangan terbuka (jumlah terbanyak mencapai delapan puluh ribu orang), tanpa menggunakan pengeras suara. Itu sebabnya, gereja Methodist bagaimana dianiaya, ditekan oleh gereja An­glican, tak bisa hancur. Karena karisma pendirinya begitu besar. Dia bangun pukul lima pagi, pergi ke pabrik, karena pukul enam pagi sudah banyak pekerja pabrik yang masuk kerja, diapun berkhotbah kepada mereka. Hari pertama, dihadiri dua ratus orang, hari kedua dihadiri seribu orang, hari ketiga dihadiri lima ribu orang, hari keempat dihadiri delapan sampai sepuluh ribu orang, hari kelima dihadiri dua puluh ribu orang, sebelum pukul enam tiga puluh menit dia sudah mengakhiri KKR, merekapun masuk kerja. Setelah mendengar khotbahnya, banyak buruh pabrik yang tadinya berjudi, mencuri, menangis, bertobat di hadapan Tuhan. Diapun menulis surat kepada John Wesley: semua gereja tidak mengizinkan kita berkhotbah di mimbar mereka, bukan? Karena mereka memandang kita sebagai ancaman, banyak jemaat gereja Anglican yang tertarik pada kita. Lalu mereka semua bersehati, menutup pintu bagi kita. Padahal untuk berkhotbah, kita tidak membutuhkan atap, John, please come, we can work out door to evangelized the English people. John membalas suratnya: aku ditahbiskan oleh gereja Anglican, aku tak bisa berkhotbah tanpa mengenakan toga, apalagi bukan di gereja. Balas George: coba datang, lihat apa yang aku kerja kan. John Wesley pun datang, waktu dia menyaksikan pelayanan George Whithfield, Roh Kudus bekerja di dalam hatinya: apa yang dia katakan betul, mengapa harus mengenakan toga, berdiri di mimbar gereja baru bisa berkhotbah? Yohanes pembaptis, Elia tidak ber­khotbah di mimbar, melainkan di gunung Karmel, di padang belantara, Yesuspun berkhotbah di tepi ladang…, dia sadar, firman Tuhan lebih penting dari gedung gereja dan lain-lain, diapun mulai berkuda ke sana ke mari, berkhotbah. Selama empat puluh lima tahun, setiap tahun dia berkhotbah kira-kira seribu kali, memecah kan rekor. Tapi mereka berdua berbeda. Berbeda di dalam hal apa? John Wesley tidak percaya predestinasi, George Whithfield percaya predestinasi, merekapun berdebat dengan gaya English gentleman: very gentle, berkirim kiriman surat selama dua puluh detapan tahun. Akhimya John Wesley mengatakan, aku tetap tidak bisa menerima doktrin Predestinasi. Sebagai seorang penginjil, mana mungkin saya buka mulut mengatakan: kau dipilih, kau tidak dipiiih? Saya hanya bisa mengata­kan, barangsiapa mau menerima Yesus, dialah orang pilihan. Jadi, kebebasan manusialah yang menentukan dirinya diselamatkan atau tidak, bukan kedaulatan Allah. Tapi George Whithfield tetap memegang teologi Reformed. Maka saat saya membahas topik Predestinasi di Kuching, dari antara seribu dua ratus or­ang yang hadir, enam ratus orang berasal dari gereja Methodist. Saya katakan, pendirimu tak pernah bisa mengajarkan Predestinasi dengan baik. Karena dia sendiri tidak mengerti hal itu. Tapi saya tidak mencela Methodist, karena pendiri Methodist yang lain, betul-betul mengerti Predestinasi. Itu sebabnya, kau bisa mengikuti jejak George Whithfield, orang Methodist yang percaya akan Predes­tinasi. Jadi, kami tidak bermaksud menyuruh semua orang bergabung ke gereja Reformed, karena setelah kau betul-betul mengerti Alkitab, mau berjemaat dimanapun tidak masalah. Apa bedanya John Wesley dan John Calvin? Pengajaran John Wesley punya begitu banyak lobang, tapi pengajaran John Calvin, nyaris tak berlobang, pengertian Alkitabnya begitu konsisten, Buku Institute of Christian religion yang dia tulis, mengutip enam ribu sekian ayat P.L. dan P.B., bukan ayat-ayat yang enak didengar, melainkan ayat-ayat yang kait mengait dengan erat, yang konsisten dengan semua kebenaran firman Tuhan. Sampai hari ini, sudah kira-kira empat ratus lima puluh tahun, tak seorangpun menemukan ketidak konsistenannya. Di ajaran John Wesley, terdapat dua pe­ngajaran yang agak ganjil: 1). Perfection­ism, di dunia ini, kita harus menuntut mutlak suci; sempurna; tak berdosa lagi. Bagi orang Reformed: sempurna di dunia tidaklah mungkin. Bahkan pada waktu kau berkata, aku sudah suci; tidak berdosa lagi, kau sedang melakukan dosa yang tidak kau sadari. Maka bagi teologi Reformed, perfection adalah motivasi, sasaran, dorongan yang bersifat progres­sive, bukan achivement of the world seperti yang diajarkan di Methodist. 2). Hanya diselamatkan masih belum cukup, perlu pengalaman baru: second bless­ing. Teori inilah yang mengakibatkan orang lambat laun berpikir, perlu di tambah dengan karunia lidah, guna membuktikan kau punya Roh Kudus — side effect yang mengarah pada munculnya aliran Karismatik. Dengan kata lain, John Wesley bisa saja disebut sebagai bapak leluhur dari Karismatik.

Tanya : Kaum pria sering jatuh di dalam dosa seksual, bagaimana pergumulan pak Tong memenangkan pertempuran itu. Gereja sering kali menganggap sex education adalah tabu, bagaimana de­ngan GRII?

Jawab: Tidak ada tema yang tabu untuk dibahas di mimbar, termasuk sex. Tidak ada tema yang tidak dibahas di Alkitab, termasuk percabulan. Alkitab itu suci, mengapa Alkitab juga mencatat hal-hal yang tidak bagus? Banyak perkara yang orang Kristen anggap tabu: tidak boleh mengatakan hal ini, tak boleh membaca buku ini, akibatnya: semakin banyak hal yang seorang anggap tabu semakin mudah dia tergelincir ke dalam dosa. Di Singapura, ada seorang majelis, dia mendidik anak perempuannya: tidak boleh ini, itu dipelihara begitu suci — taman Eden yang tak berular, agaknya lebih indah dari taman Eden yang asli, dia bertumbuh menjadi seorang gadis yang baik, studinya juga bagus, selalu mendapat juara. Setelah dia lulus SMA, orang tua mengirimnya studi di Amerika. Di sana, dia tergoda untuk mencoba-coba perkara-perkara yang selama ini ditabukan oleh orang tuanya. akhimya dia memberanikan diri, memecahkan rekor: dalam 3 hari melaku­kan hubungan sex dengan dua ratus delapan belas orang pria. Berita itu dimuat di surat kabar. Orang tuanya yang sejak kecil mendidiknya begitu suci, malu bukan kepalang, semua orang mengolok-olok mereka. Kadang, kita pikir, anak kita akan jadi lebih suci, kalau dia tidak tahu ini dan itu. Sebenarnya, beritahu merekapun tidak masalah, asal kita lebih mengutamakan sikap saat membicarakan seks misalnya ketimbang pembicaraannya sendiri. Di dalam hidup kita ini, pasti ada pergumulan, karena kita adalah manusla, bukan malaikat yang berkasih tapi tidak berseks, juga bukan binatang yang berseks tapi tidak punya kasih yang sejati. Kita punya seks, juga punya kasih. Kalau kau menang atas pergumulan itu, kau akan menjadi seorang hamba Tuhan yang lebih suci, lebih berkuasa, lebih berani. Untuk itu, kita perlu betul-betul berpegang pada firman Tuhan, takut pada Allah, menguasai birahi. Pergumulan ini ada pada semua orang. Tapi jangan terlalu imajinatif, sampai berpikir bahwa Yesus pun pernah jatuh cinta pada Magdalena, tapi tidak berani terang-terangan. Atau Yesus ~~pernah menikah dengan Magdalena hanya saja tidak diumumkan — pikiran penuilis buku Davinci Code yang terlaris masa kini. Padahal buku itu tidak ada nilainya, karena motivasinya tidak beres: kalau Yesus pernah menikah, masakan tak seorangpun tahu, sampai sesudah lewat dua ribu sekian tahun barulah Dia mewahyukannya: Aku pernah menikah, tulislah di bukumu! Dia adalah nabi palsu yang paling palsu; Barangsiapa membeli buku itu dia tidak waras. Barangsiapa mem­beli dan membacanya, dia double tidak waras, sementara yang sudah membeli, membaca dan mempercayainya triple tidak waras.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah —EL)

 

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2005_09_25_archive.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube