Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Setelah menunggu waktu sekitar 3 (tiga) bulan akhirnya kami tim “Lombok Bersama” berkumpul di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada hari Sabtu, 23 Februari 2013 pukul 07:00 WIB. Kenapa menunggu sampai 3 (tiga) bulan… karena kami membeli saat “Air Asia” mengadakan tiket promo PP Jakarta – Bali :). Berbeda dengan tim terdahulu  Bali Bersama, kali ini saya dan keluarga (Reyhan, Mario, Pramudya dan Istri) ikut terlibat dalam tim “Lombok Bersama”. Maka kali ini penulis  menuangkan kembali tentang perjalanan “Lombok Bersama” semoga dapat menjadi gambaran bagi pembaca yang berencana berkunjung kesana.

Karena berasal dari kantor yang sama (Sebelumnya) maka saling percaya adalah sesuatu yang sangat dipegang dalam tim yang beranggotakan Mr. Boncos alias Kevin (Danru sekaligus pemegang kas), Mr. Silence alias Diego,  Mr. Juragan Es Duren alias Kurnia, dan Mr. Bulok alias Moan serta Mr. Gile loe Ndro, salah satu dari kami (Rido) tidak dapat ikut dengan alasan financial. Seperti biasa sebelum memulai perjalanan agar tidak repot nantinya maka masing-masing kami menyetor Rp. 500.000,- sementara saya  Rp. 1.800.000,- melalui kesepakatan sebelumnya.

Sabtu Pukul 11:30 WIT , Bali

Tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, kami tidak langsung dijemput oleh pemandu seperti sebelumnya dalam “Tim Bali Bersama” setelah celinguk2 akhirnya pemandunya nongol juga, sempat terkaget juga kami… kenapa? Karena Mr. Boncos tidak memberitahu sebelumnya jika pemandunya adalah seorang wanita…. Dengan menyewa 2 unit APV  yang disewa dan diatur oleh Mr. Boncos… kami menikmati kota Bali namun belum jauh dari bandara saya dikejutkan!!!  Ternyata supir APV kami ini rada gila bawa mobilnya… tanpa perhitungan, sangat jelas salah dan nyenggol mobil orang… tapi anehnya orang yang disenggol tidak protes.

Rencana kami adalah berangkat menuju rumah makan Ayam Betutu namun  ternyata  kami  berhenti dirumah makan tepatnya di Jalan Tuban, Kuta yaitu Bebek Tepi Sawah… entah ide siapa makan disini saya tidak tahu… yang pasti keluar dari tempat itu kami masih lapar. Satu pesan saya sama Mr. Boncos adalah kita bukan turis tetapi backpacker, prinsipnya cari tempat bisa makan kenyang dan murah, sambil tidak lupa saya sampaikan untuk selektif dalam memilih supir.

Menuju Pelabuhan Padang Bai

Dalam jadwal, kami berangkat dari pelabuhan padang bai menuju Lombok pukul 23:00 WIB, jadi kami masih memiliki waktu banyak di Bali yang kami manfaatkan mengunjungi Pantai Padang-Padang (Sekilas tentang pantai padang-padang dan Uluwatu dapat di baca di Bali Bersama). Walau sebelumnya saya dan anak tertua dalam “Bali Bersama” sudah pernah kesana namun kehadiran istri, Pramudya serta Mario menambah  semaraknya suasana liburan kali ini. Setelah puas bermain air, ombak, pasir dan berenang maka kamipun bersiap menonton tarian kecak di Uluwatu sambil melihat matahari terbenam (Sunset).

Melihat keinginan yang besar dari mantan pacar untuk menonton tarian kecak, maka saya dan Reyhan pun tak mampu untuk tidak mendampingi dalam menonton tarian kecak tersebut walau harus rela mengeluarkan  Rp. 83.500,- per orang (Rp. Rp. 8.500 masuk daerah uluwatu dan Rp. 75.000 tiket menonton tarian kecak) sementara anggota tim “lombok bersama” lebih memilih menunggu di luar. Mungkin karena sudah pernah menonton bagi saya Tarian Kecak sudah tidak menarik lagi, tidak begitu dengan Istri saya, Pramudya dan Mario. Bagi yang sudah pernah menonton pernah kah terbayang jika, tarian sedang berlangsung anak kita kebelet kencing… wah pasti repot sekali untuk bisa turun…. Pramudya dua kali kebelet kencing… :(.

Setelah rampung acara menonton tim pun berangkat menuju Padang Bai dan berencana ditengah perjalanan untuk sekedar makan malam. Selagi asyiknya melihat pemandangan perjalanan tiba-tiba… Bruaaak… mobil APV yang saya tumpangi pun ditabrak dari samping.  Saya betul-betul mual dengan supir ini… memang kami tidak ada yang terluka, yang saya kesal adalah caranya membawa mobil sangat sembrono. Banyak pertimbangan yang membuat saya diam seribu bahasa terhadap supir ini. Terjadi cekcok mulut antara kedua supir… sampai akhirnya rekan kami di mobil yang lain pun turun. Karena tidak ada titik temu  maka saya berinisiatif meminta  penumpang mobil masing-masing menanggung klaim asuransi mobil yang kami tumpangi karena muka supir kami ini sudah seperti syaiton. Saya heran juga  kenapa rekan saya Mr. Bulok (Moan) yang duduk di depan diam dan tidak memberi arahan bak seorang navigator.

Kembali kami melanjutkan perjalanan, dan setelah setengah perjalanan menuju pelabuhan kami pun tiba dirumah makan yang sangat cocok dengan backpaker… :), kami makan cukup banyak membalas makan siang yang nanggung tadi, diiringi hujan badai yang sangat kencang… hampir saja dahan kelapa jatuh merusak mobil yang diparkir yang jatuh tidak berapa lama setelah supir memindahkannya. Akhirnya tepat pukul 11.00 WIB kami tiba di Pelabuhan Padang Bai.

Menuju Pelabuhan Lembar

Pelabuhan Padangbai terletak disebuah desa di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sisi timur Pulau Bali, Indonesia. Kota ini menjadi pelabuhan feri untuk pelayaran ke Pulau Lombok, Nusa Penida, Kepulauan Gili dan pulau-pulau lainnya di Nusa Tenggara Barat. Nama desa Padangbai sebenarnya diberikan oleh Belanda. Dulunya desa ini bernama desa Padang. Karena terletak di sebuah teluk dangkal berperairan tenang. Belanda, dalam usahanya menjadikan Bali sebagai wilayah jajahannya, membangun tangsi sekaligus pelabuhan di sana. Oleh Belanda, teluk Padang disebut Padang Baai. Baai dalam bahasa Belanda berarti Teluk. Setelah kemerdekaan Indonesia, nama desa Padang diubah menjadi Teluk Padang. Namun, para wisatawan dan penulis-penulis buku traveling asing, menyebutnya sebagai Padang Bai, yang dalam terjemahannya berarti Teluk Padang. Jarak tempuh antara Bandara ngurah rai dengan pelabuhan padangbai berkisar 50 Km yang dapat ditempuh sekitar 1 Jam.

Saat sang Danru Mr. Boncos membeli tiket  Kapal Ferry; (Rp. 36.000 untuk dewasa dan Rp. 23 Ribu untuk anak-anak) saya dikejutkan oleh suara HP dan suara yang familiar kukenal dari sebrang sana (Mataram) yang menanyakan posisi kami. Telepon tersebut mendatangkan kelegaan karena saya tidak terlalu khawatir setelah tiba dipelabuhan Lembar nanti.

Setelah mendapatkan tempat untuk istrirahat di dalam kapal Ferry, maka untuk mengisi waktu menjelang ngantuk  karena lama perjalanan berkisar antara 4 sampai 5 jam perjalanan menuju Pelabuhan Lembar kami pun bermain truff… karena cuaca tidak memungkinkan untuk sekedar melihat-lihat pemandangan di buritan kapal…. tidak sampai satu jam akhirnya kamipun tertidur… hingga kami dikejutkan oleh suara kapten kapal yang menyatakan kami telah tiba di pelabuhan lembar. Dan HP kembali berdering begitu saya angkat dia langsung mengenalkan diri sebagai Mr. Jamal yang ditugaskan untuk menjemput kami.

Minggu, Pulau Lombok

Minggu pagi sekitar pukul 05:00 WIT untuk kali pertama saya dan keluarga serta semua anggota tim “Lombok Bersama” menginjakkan kaki di pulau lombok (Nusa Tenggara Barat), setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit kami tiba disebuah perkantoran yang  4 (empat) kata pertamanya cukup akrab di telinga yaitu KPP Pratama Mataram Barat. Ya.. kami disambut dengan hangat oleh orang nomor satu di kantor tersebut. Ada yang berbeda dengan pejabat yang satu ini, jika banyak pejabat yang berstatus bujang lokal (Bulok) dirantau sana namun pejabat ini lebih memilih tetap bersama keluarga. Yang lebih mengherankan lagi rumah dinas menjadi cukup lega karena hanya diisi barang sekedarnya… tidak perlu diisi hal-hal yang tidak perlu karena 2 atau tiga tahun pun akan mutasi dan tidak akan terlalu repot pindahannya… begitu ujarnya dengan bijaksana. Gambar disamping adalah saat-saat beliau masih menjadi Kasi di KPP Madya Bekasi.

Sementara teman-teman tim yang lain sedang istirahat, saya menemani bapak Ahmad Rivai, SE.,MSi bermain bulutangkis. Setelah itu Saya, pram dan istri berjalan-jalan di kota Mataram sambil mencari sarapan. Rencana kami pukul 09:30 akan berangkat menuju Gili Trawangan. Saya tidak menduga jika pagi itu bapak yang baik ini berkenan mentraktir kami sarapan soto ayam, kalau saya tahu saya tidak akan sarapan sebelumnya… :D. Dan sangat disayangkan beliau tidak dapat terlibat menuju Gili Trawangan karena buah cintanya lebih memilih les renang. Walau tidak turut menuju Gili Trawangan namun beliau dengan senang hati ikut bersama menuju pelabuhan bangsal.

Hal yang luar biasa adalah pemandangan saat kami menuju Pelabuhan bangsal, sungguh indah dan menakjubkan… hampir sepanjang perjalanan kami berhenti sekedar menikmati panorama indah serta berfoto.

Pelabuhan Bangsal Menuju Gili Trawangan

Pada awalnya tim “Lombok Bersama” berencana menelesuri  ketiga gugusan pulau Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan (dikenal dengan istilah Gili Matra yaitu Meno, Air dan TRAwangan) namun sehubungan cuaca kurang begitu kondusif dan saat tiba di pelabuhan bangsal tidak ada satupun boat maka kami pun sepakat hanya menuju Gili Trawangan.

Melihat rona wajah Mr. Boncos saya memahami bahwa dia tidak tahu apa-apa dan tampak bingung…. hal ini terbukti bahwa kami memang benar-benar ketipu… kami digiring untuk menyewa kapal yang hanya menuju Gili Trawangan sebesar Rp. 400.000,- rupiah. (Kenyataannya saat kami pulang hanya membayar Rp. 80.000,- untuk delapan orang (Anak-anak Mario dan Pram tidak perlu bayar). Memang akibat cuaca kurang kondusif maka pelabuhan sementara dipindah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan bangsal.

Perjalanan menuju Gili Trawangan betul-betul mendebarkan, walaupun saya sudah pengalaman naik boat maupun long boat saat dinas di Papua…. namun cuaca ekstrim dan gelombang yang tinggi membuat nyali ciut juga… hal ini mungkin karena ketiga anak dan istri ada di dalamnya. Sempat juga mata ini melirik ban pelampung dan alat keselamatan lainnya untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diharapkan. Bahkan salah satu anggota tim ” Lombok bersama”  Mr. Moan sepanjang perjalanan tidak melepaskan pegangannya dengan ban pelampung :D.

Pulau Gili Trawangan

Pulau Gili Trawangan merupakan gili terbesar dan paling jauh diantara Gili Air dan Gili Meno. Konon katanya merupakan tempat pembuangan para tahanan/pemberontak kerajaan saat itu. Di gili ini juga terdapat markas pasukan jepang yang berupa sebuah terowongan yang dibangun oleh pasukan jepang untuk menerawang musuh. Mungkin dari kata “menerawang” itulah mengapa pulau kecil ini dinamakan gili trawangan. Menurut pak supir dahulu para turis yang berada di pulau Gili Trawangan sering berjemur sambil  telanjang bulat, sampai akhirnya pemerintah setempat memberikan aturan.

Gili Trawangan merupakan satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Meskipun memiliki topografi datar sejajar dengan permukaan laut, namun pada bagian tengah agak berbukit. Gili Trawangan berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. G matili Trawangan memiliki area seluas 320 Ha, yang terdiri dari satu dusun dengan 7 RT, dan dihuni oleh penduduk sekitar 800 orang (350 kepala keluarga), yang sebagian besar berada di bagian timur pula.

Alat transportasi di Gili Trawangan hanya 2 (dua) yaitu sepeda dan cidomo (Sejenis delman) dan dapat disewa.  Kami menginap disebuah homestay dengan harga Rp. 150.000/malamnya. Dan jika kita kehabisan uang tidak perlu khawatir, karena di pulau ini terdapat  ATM (Mandiri, Bersama, BNI). Setelah menaruh barang kami langsung menuju pantai dan menyewa alat snorkeling… menghabiskan waktu dengan bermain di pantai…

Karena kelelahan saya tidak sempat menikmati suasana malam di kafe-kafe yang banyak disekitar pantai… kecuali menikmati makan malam bersama dengan turis-turis mancanegara.

Senin, Pulau Gili Trawangan

Di senin pagi saat anggota tim yang lain masih tertidur saya dan keluarga menyewa cidomo untuk berkeliling sepanjang pantai pulau gili trawangan  dengan tarif Rp. 125.000,- menurut pak kusir jarak yang akan ditempuh adalah 8 Km yang ditempuh sekitar 45 menit. Ditempat-tempat yang indah kami berhenti sejenak untuk sekedar berfoto dan menikmati pemandangan. Jika ada kesempatan berikutnya saya akan lari pagi menyusuri pantai gili trawangan .

Jadwal saya dilombok adalah sampai senin sore karena malam saya harus menuju Pelabuhan Lembar untuk menuju ke Bali. Sementara teman-teman masih akan menginap di lombok sampai hari Selasa.

Kami meninggalkan Pulau Gili Trawangan pukul 11.40 WIT, berbeda dengan keberangkatan, saat pulang cuaca sangat kondusif… sehingga perjalanan kami dengan boat sungguh sangat menyenangkan… sangat jelas kami melihat Pulau Gili Meno dan Gili Air. Lama perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit hingga tiba di pelabuhan bangsal.

Pelabuhan Bangsal Menuju Pelabuhan Lempar

Hal yang sangat luar biasa adalah bapak Rivai masih menyediakan alat transportasi bagi kami lengkap dengan supirnya yang menunggu di pelabuhan bangsal. Sehingga secara total kami tidak repot selama di kota lombok, sebuah catatan untuk suatu kepedulian yang sudah terkikis di jaman ini. Tanpa bermaksud menyinggung sang supir (Pak Jamal) saya mengambil alih menjadi supir… karena saya berniat mengelilingi kota lombok sampai sore dan memudahkan untuk berhenti ditempat mana yang saya suka :D.

Pentai Senggigi

Cuaca sangat baik menambah indahnya  perjalanan sepanjang pelabuhan Bangsal menuju kota Mataram, hampir setiap perjalanan saya memperlambat laju kendaraan karena melihat pantai yang indah…. dan saya memutuskan untuk berhenti menikmati pantai senggigi… dan tidak lupa numpang foto disalah satu hotel . Pantai Senggigi adalah tempat pariwisata yang terkenal di Lombok. Letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok.  Memasuki area pantai Senggigi, kami disapa oleh lembutnya angin semilir yang menenangkan, pesisir pantainya masih asri dan sangat indah. Karena hari sudah siang dan rasa lapar sudah mulai terasa kami mampir di rumah makan Menega  yang persis menghadap laut Senggigi…. sambil menunggu ikan bakar…. istri saya melihat-lihat aneka pernik mutiara yang dijual dipinggir pantai.

Kota Lombok, Toko Cinderamata, dan Pamitan


Dengan dipandu oleh supir kami menuju toko oleh-oleh palem perdana di  daerah ampenan Mataram , dengan berbelanja sekedar oleh-oleh. Kami menelusuri kota dan mampir ke Rumah dinas pejabat Eselon III (disekitar terdapat juga rumah dinas termasuk eselon II) untuk sekedar pamitan dan mengucapkan terima kasih…. Dengan disambut oleh Bapak Ahmad Rivai dan keluarga kami hampir satu jam bercerita, mulai dari kesan tentang kota lombok, perjalanan, dan tak terlepas dari potensi perpajakan yang ada dalam wilayah KPP Pratama Mataram Barat… persis seperti saat kami masih satu kantor dulu. Selamat bertugas pak “Give The Best That You Can For Our Country“….. dan ditunggu kembali di Bekasi… kami pun melanjutkan berangkat ke pelabuhan lembar…

Pelabuhan Lembar Menuju Pelabuhan Padang Bai

Pelabuhan Lembar adalah salah satu pelabuhan penyebrangan yang ada di pulau Lombok dan menjadi satu-satunya pelabuhan yang menghubungkan antara pulau Lombok dan pulau Bali.  Pelabuhan Lembar terletak di Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Jarak pelabuhan Lembar dan kota Mataram sekitar 30 km dan memakan waktu tempuh sekitar 45 menit apabila menggunakan sepeda motor atau mobil. Di pelabuhan ferry ada 3 buah dermaga yang siap di gunakan untuk bongkar muat penumpang yang menggunakan jasa angkutan kapal ferry. Di pelabuhan Lembar sendiri terdapat 2 buah pelabuhan, yaitu pelabuhan ferry (warga Lembar biasa menyebutnya dengan pelabuhan timur) dan pelabuhan muat barang (warga Lembar biasa menyebutnya dengan pelabuhan barat).

Kami tiba di pelabuhan lembar sekitar pukul 17:00 WIT, setelah mengucapkan terima kasih  dan memberikan sekedarnya kepada Pak Jamal, supir yang setia menemani kami. Kali ini sayalah yang mengambil alih kendali karena di saat keberangkatan semua diatur oleh Mr. Boncos. Setelah membeli tiket kami pun naik dan jalan-jalan di atas kapal, suasana di atas kapal cukup bagus, bersih dan rapi. Kami bermain di geladak, buritan dan haluan… Kapal Berangkat tepat pukul 18:00 WIT. Sepanjang perjalanan saya merasakan goncangan yang cukup kuat, hal ini diakibatkan oleh cuaca yang kurang bagus. Diluar angin dan hujan yang cukup kuat… dan kamipun tertidur. Kami terbangun ketika suara Kapten Kapal menyatakan bahwa Kapal Ferry telah tiba di padangbai tepat pukul 24:30 WIT. Dipelabuhan telah menunggu mobil yang telah kami kontak sebelumnya untuk menghantar kami ke kota Bali dan sesuai dengan rencana kami, akan menghabiskan hari terakhir dan tinggal dirumah family.

Selasa, Wisata Bali Di Hari Terakhir

Hari Selasa adalah hari liburan terakhir karena cuti saya hanya sampai hari Rabu, maka kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Dengan menyewa kendaraa APV senilai Rp. 200.000,- di kuitansi pembayaran tertera waktu pinjam dan waktu kembali dan saya berkuasa atas kendaraan dari Pukul 10:00 WIT sampai dengan pukul 22:00 WIT. Kali ini kami akan jalan-jalan beserta dengan family tempat kami menginap.

Pantai Kuta

Siapa yang tak kenal dengan pantai kuta, karena tidak hanya  di Lombok di Bali pun dikenal dengan keindahan pantai ini. Pantai ini dikenal sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari Pantai Sanur. Setelah memarkirkan kendaraan kami turun untuk sekedar jalan-jalan disepanjang pantai. Karena kami berada dipantai kuta tepat siang hari bolong, maka kami hanya menikmati pemandangan dari pepohonan yang ada disekitar pantai, sementara para turis mancanegara asyik berjemur menikmati panasnya sinar matahari.

Monumen Bom Bali

Setelah bosan jalan-jalan disepanjang pantai kuta, kami mengunjungi monumen bali. Bagi yang mengendarai kendaraan  tidak perlu khawatir karena salah satu lokasi ledakan menjadi tempat parkir. Monumen Bom Bali dikenal juga dengan nama Monumen Ground Zero dan terletak di Jalan Legian, Kuta yang merupakan kawasan yang ramai oleh wisatawan terutama mancanegara, di mana sepanjang jalan itu terdapat banyak cafe, club, dan toko-toko, serta tempat-tempat untuk menginap. Di monumen ini terpahat nama-nama korban Bom Bali I sebanyak 202 orang (korban ledakan bom di Sari Club dan Paddy’s Cafe). Monumen lebih dikenal dengan nama monumen peringatan bom Bali. Pada tanggal 12 Oktober tiap tahunnya diadakan peringatan di tempat ini yang dihadiri oleh keluarga korban dan perwakilan negara-negara sahabat.

Oleh-Oleh Di Erlangga 2

Dari monumen bom Bali, awalnya istri saya mengajak belanja oleh-oleh di pasar seni sukawati dikabupaten gianyar dekat daerah ubud, namun banyak yang mengatakan bahwa harga tidak berbeda jauh dengan toko modern seperti Krisna atau Erlangga, apalagi bagi yang tidak bisa menawar. Maka kami memutuskan untuk menuju toko erlangga 2. Itulah bedanya laki-laki dan perempuan, saya hanya mampu kelilling dan liat-liat sekitar 15 menit… namun istri saya hampir menghabiskan 1,5 jam ditempat ini. Selesai belanja kami langsung menuju Rumah Makan Banyumas yang berada tidak jauh dari toko erlangga… enak dan harga cukup terjangkau.

Wisata Tanah Lot

Lama perjalanan dari Erlangga 2 menuju Tanah Lot kurang lebih satu setengah jam, karena kami sempat salah jalan… :D.

Pura Tanah Lot dibangun pada sekitar abad ke-16 oleh Danghyang Nirartha sebagai salah seorang penguat dan penyebar agama Hindu di Pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan wisata sejarah yang terletak di kawasan wisata alam pantai Tanah Lot yang sungguh menawan. Dengan mengunjungi kawasan tersebut, kita bisa menikmati sajian kombinasi objek wisata Bali sekaligus yakni wisata alam dan wisata sejarah. Tanah Lot  terletak di daerah desa Beraban, Tabanan, dengan lama perjalanan sekitar satu jam untuk hitungan perjalanan dari daerah Kuta.

Yang saya heran saat 16 tahun yang lalu saya mengunjungi Tanah Lot, posisi ular suci tidak berubah posisi sepertinya ularnyapun masih yang dulu.. :D. Pemandangan di tanah lot memang sangat indah. Setelah puas menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di daerah ini kami pun kembali ke jalan pemogan, rumah family kami berada. Rencana untuk berenang di pantai sanur pun kami batalkan karena hari sudah menjelang malam.

Rabu, Kembali Ke Jakarta

Walau di dalam tiket jadwal pesawat kami Pukul 12:30 WIT, kami berangkat dari rumah family (Jalan Pemogan) pukul 10:00 WIT karena khawatir macet, karena hari sebelumnya saat hendak jalan-jalan ke Pantai Kuta kami terjebak macet seperti di Jakarta. Sepanjang perjalanan supir taksi bercerita seperti ini : ” Bali sekarang sangat berbeda dengan Bali saat pemerintahan gubernur sebelumnya, kemudahan ijin angkutan menyebabkan jumlah taksi/angkutan sekarang ini sangat banyak ditambah lagi kepemilikan penambahan kendaraan bagi orang-orang kaya serta usaha rental yang banyak menjamur, inilah penyebab bali sekarang sangat macet. Memang sedang ada pembangunan namun pembangunan ini bukanlah penyebab macetnya jalan, saya khawatir kemacetannya akan menyamai Jakarta… begitu ujarnya”. Wah pemikiran secerdas ini cuman menjadi supir taksi.. guman saya dalam hati.  Tak terasa kami sampai di Bandara, dari jalan pemogan menuju Bandara Internasional Ngurah Rai kami hanya membayar Rp. 45.000,- sesuai argo yang tertera. Dibandara kami berkumpul kembali dengan tim “Lombok Bersama” yang sudah tiba sebelum kami. Terdapat perbedaan keberangkatan keluarga saya dengan teman-teman lainnya yang selisih 30 menit, beruntunglah  anggota tim lain yang bernama Kurnia dan Moan solider menunggu di Bandara Internasional Soekarno Hata dan membantu saya membawa barang-barang  titipan (Kevin dan Diego masih tinggal di Bali) menuju mobil yang saya parkir diluar parkir inap (karena parkir inap sebelumnya penuh). Bagi pembaca yang berencana berangkat melalui Bandara Soekarno Hata tidak perlu khawatir untuk membawa mobil dan parkir… selama 4 hari saya hanya membayar parkir Rp. 220 ribuan, lebih murah dibandingkan saya harus naik bus.

Terima Kasih Tuhan atas berkat dan kasih Mu hingga kami tiba kembali di Karawang dengan pengalaman baru yang indah

Sampai jumpa di liburan bersama berikutnya…. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube