Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Hari ini ada hari ke 10 di tahun 2013, saya tidak tahu hal apa atau strategi apa yang pembaca telah lakukan dalam sepuluh hari ditahun 2013 ini dan langkah selanjutnya dalam menggapai asa yang yang sudah dicanangkan ditahun ini. Namun yang pasti saya sudah menahan tidak merokok dalam sepuluh hari ini dan pengharapan saya, saya dimampukan untuk mengatakan “tidak” pada rokok itu lagi. Ijinkan saya menuliskan apa yang menyebabkan saya berhenti dan bagaimana awal saya merokok, dapat dikatakan ini suatu kesaksian dari saya manusia ciptaan yang hina dan berdosa ini, semoga dapat menjadi inspirasi bagi insan perokok.

Awal Merokok

Sejujurnya dimasa-masa sekolah dulu, saya bisa dikatakan anti rokok karena saat mencium asap rokok saya sudah ‘nek’ apalagi kalau ada yang merokok di angkot stress aja bawaannya. Memang bapak saya adalah penghisap setia salah satu rokok dengan merek “Gu***g G*r*m Me**h” sampai sekarang ini. Namun bukan berarti saya suka dan ingin merokok.

Diawal perkuliahan pun saya tidak merokok bahkan di tingkat II (tahun 1994-1995) saya menjadi Kakak KTB (Salah satu kegiatan Persekutuan Mahasiswa Kristen) dimana  sama-sama belajar tentang Firman Tuhan dengan adik kelas. Masih segar dalam ingatan saya, ketika saya memberikan ilustrasi tentang rokok ditinjau dari sudut etika Kristen dan beberapa adik  rohani saya berkomitmen untuk berhenti merokok sambil meremas rokok yang mereka miliki. Sungguh saya bangga dan terharu dengan komitmen adik-adik rohani saat itu.

Sebenarnya saat ditingkat II, saya dan 7 (tujuh) teman menyewa rumah dengan 5 (lima) kamar, 3 diantara kami tidak merokok. Jadi, saat santai setelah belajar kami berkumpul diruang TV yang penuh asap rokok dan di meja terletak berbagai merek rokok yang dihisap teman-teman kuliah. Namun sedikit pun saya tidak mencobanya sampai menjelang akhir tingkat II, mungkin sekedar iseng saya coba-coba menghisap rokok yang selalu tersedia dan berserak diruang TV rumah kontrakan. Dan entah lagi sial atau apalah namanya, beberapa adik rohani  saya yang sebelumnya berkomitmen untuk tidak merokok  berkunjung dan melihat saya sedang merokok.. :(. Maka dengan cepatlah isu beredar yang mengatakan saya kakak KTB sesat (Mungkin karena menyuruh orang lain berhenti merokok namun diri sendiri merokok), saya sedih juga hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengikuti kegiatan KTB karena tidak ingin menjadi batu sandungan.  Dan sepertinya itulah awal saya merokok, mencoba rokok teman-teman, lalu tidak enak, maka mulai membeli dan tidak pernah berhenti lagi sampai dipenghujung tahun 2012.

Proses Dan Gambaran

Kurang lebih sudah hampir 19 (sembilan belas) tahun saya merokok, saya tidak pernah mengecek kesehatan saya atau paru-paru saya karena Puji Tuhan sampai saat ini saya masih sehat. Saya sendiri tidak tahu berapa kilometer rokok yang saya habiskan jika diurutkan memanjang rokok yang saya hisap :D.

Dalam masa-masa merokok tidak ada yang mampu menasehati saya untuk berhenti merokok (sombong banget ya..). Perokok yang bertobat aja tidak mampu menasehati saya, apalagi yang bukan perokok,  bahkan saya selalu menyusun kekuatan dan hasutan dengan mengatakan… bahwa negara ini tidak adil, saya tahu persis berapa kontribusi perokok terhadap biaya pembangunan negara ini karena dalam setahun saja bisa mencapai 50 Triliun penerimaan negara dari cukai rokok, belum termasuk PPh dan PPN pabrikannya serta Ribuan karyawan yang diberi gaji (Maklum ane kan orang pajak jadi ngertilah dikit  :D), berapa triliun kontribusi yang diberikan perokok pada negara ini  TAPI  perokok tidak diperlakukan secara manusiawi… bayangkan!! saat bekerja, kalau merokok pasti di tangga darurat atau di Pentry (dapur) atau sekalian dilapangan luar, karena tidak ada tempat (smoking area) diberikan untuk perokok, bahkan dengan tengilnya para wanita atau non perokok menutup hidung saat melewati kami yang perokok ini :D. Intinya nista sekalilah perlakuan kepada para perokok itu.

Sering dalam obrolan, saya selalu bertanya kepada beberapa teman saya yang dahulu adalah perokok namun berhenti merokok, dan selalu sama jawabannya adalah berhenti karena sakit, mereka sakit dan harus berhenti. Saya kaget juga dan sempat bertanya dalam diri… apakah saya berhenti jika saya sudah sakit…??? tapi cepat sekali saya lupa akan hal itu dan terus merokok.

Masih seputar merokok saya selalu mengatakan, pada prinsipnya merokok itu tidak masalah dalam kehidupan rohani, sepanjang perokok tersebut jangan diperhamba oleh rokok… contohnya kalau kamu perokok habis makan punya kebiasaan merokok…. hentikan jangan merokok saat selesai makan jika mampu berarti kamu tidak diperhamba oleh rokok jadi secara kerohanian kamu tidak bermasalah begitulah jawaban saya kepada orang-orang rohani, keluarga bahkan istri dan anak-anak saya… 🙁 .

Kadang saat melihat album foto, pose yang tidak merokok adalah pose saat berenang dan selebihnya banyak sekali foto dalam keadaan memegang rokok. Saya sadar dan mendengar saat istri saya selalu dengan lemah lembut mengatakan pada saya, pah… dulu, saat kelahiran anak pertama kita kamu pernah berjanji untuk berhenti merokok, dan kini anak yang ketiga  kamu pun masih merokok… dan dengan lembut saya jawab, ‘kan saat bicara ini saya sedang tidak merokok mah…. :P. Artinya saya merasa paling bisa menjawab nya, padahal saya tahu semua itu disampaikan dengan tulus karena ingin hemat… (maksud saya karena cinta, sayang).

Saat Teduh Keluarga Besar

Tanpa direncanakan, dipenghujung tahun 2012 kemarin, keluarga besar kami kumpul dan kebaktian keluarga yang dimulai tepat pukul 00.01 tanggal 1 Januari 2013. Dan ini adalah kebaktian pertama ditahun baru sejak sepeninggalan mama kami 17 Tahun yang lalu… selesai kebaktian kami teruskan dengan komitmen, janji iman, harapan ditahun 2013 ini sampai tiba giliran saya…. saya katakan 1 jam yang lalu saya masih merokok dan itu adalah rokok terakhir yang saya hisap, bantu saya dalam doa… itulah beberapa kata yang saya ucapkan. Setelah semua tuntas berbicara yang diakhiri dengan doa… kakak saya memberi pernyataan (dia perokok), hati-hati dengan ucapanmu tadi dek…., yang saya jawab iya kak, aku pernah berkomitmen juga dengan penyertaan Tuhan pasti akan dimampukan, seperti pernah saya tulis dalam “Teman Inspirasiku” yang pernah saya saksikan”, saya melihat rona istri saya yang sedikit kaget. 🙂 (ini kok rada lain ya…:D, ‘ngkalii….).

Memang berat setelah 19 tahun tangan ini, mulut ini, raga ini bersentuhan dengan rokok, semua pun tahu bahwa saya perokok, apalagi suasana di kantor saat lelah bekerja butuh istirahat yang biasanya sambil merokok…. kini dengan pimpinan Tuhan saya menguburkan masa lalu rokok itu dan meninggalkannya di akhir tahun 2012 kemarin. Saya akui, memang masih terlalu dini mengatakannya, namun dengan menulis ini, saya mengharapkan para pembaca membantu saya (admin nusahati) dan perokok lainnya.. dalam doa  untuk taat dan setia dengan komitmen ini.

Beberapa hal yang ingin  saya sampaikan, selama ini sebagai perokok saya mencoba tidak peka terhadap suara cemohan orang, cibiran, bahkan umpatan saat kita merokok walaupun itu anak kita sendiri. Dan tidak ada yang mampu memberhentikan kita dalam merokok kecuali mungkin penyakit yang mengancam kehidupan kita. Namun sesuatu yang pasti adalah kita (perokok) mari membuka diri untuk berhenti dan belajarlah peka terhadap suara-suara tadi, karena bukan tidak mungkin cara Dia bekerja adalah melalui mulut mereka yang keras dan pedas, bukan malah membuat kita tersinggung dan kesal. Tuhan memberkati kita.

(Sukacita besar dimulai dari menghilangkan kerikil kepahitan kecil satu persatu)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube