Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Berawal ketika saya mengantar seorang teman kerumahnya setelah  pertemuan kecil di kota Bekasi. Karena saat itu sudah menjelang malam saya dan istri sepakat menawarkan diri mengantarnya pulang walaupun arah rumah kami berlawanan. Mungkin karena pertemuan kecil tadi seharian bercanda dan bercerita sehingga kami kelelahan dan suasana di mobil cukup hening, ketika  handphone teman saya berdering dan terdengar kata-kata yang menjadi inspirasi dan motivasi buat saya.

Dalam dialog itu teman saya menolak untuk bertemu dalam sesuatu pertemuan yang sepertinya sangat menarik, teman saya itu mengatakan, ya ampun pengen dong aku ikutan tapi aku mungkin datang siang ya, soalnya kan hari Minggu aku harus pergi ke Gereja. Kalau kamu aja bisa 5 kali sholat dalam sehari masak aku yang ke Gereja hanya satu kali seminggu harus absen. Teman saya itu berbicara sangat lepas dengan nada sangat bersahabat.

Saya tidak mengomentari dialog telepon tersebut namun selalu terngiang-ngiang ditelinga, saat itu akhir tahun 2010. Yang pasti dialog itu betul-betul menegur saya.

Saya adalah pribadi yang kritis dalam merespon setiap opini, namun tidak untuk kali ini. Selama ini konsep pergi ke gereja adalah bukan sesuatu yang absolut buat saya karena prinsipnya bersekutu dengan Tuhan tidak hanya di gereja. Tapi dialog itu, bukan dialog seorang filsuf seperti Kierkegaard, Martin Buber, Karl Barth, Emil Brunner, para filsuf dan theolog abad 19 dan 20 tapi dialog seorang teman saya.

Maka sejak dialog di mobil tersebut saya mencoba berkomitmen pada diri saya untuk di tahun 2011 akan selalu menghadiri kegiatan ibadah di gereja setiap minggunya apapun alasannya, hingga sampai dengan saya menulis ini (19 Desember 2011),  saya tidak hadir ke Gereja hari Minggu  dalam tahun 2011 hanya sebanyak 3 (tiga)  kali, ketidakhadiran tersebut buat saya itu adalah prestasi yang paling besar sepanjang hidup saya.

Pertanyaannya adalah, apakah setiap minggu selalu mulus buat saya untuk menghadiri Ibadah Minggu? maka saya jawab tidak, ada suatu waktu saya merasa malas yang luar biasa, cuaca yang buruk, fisik yang lemah, sedang menghadiri acara, menginap di rumah family dan lain-lain. Seharusnya saya tidak memiliki alasan kenapa saya tidak hadir sebanyak 3(tiga) kali. Salah satu ketidakhadiran disebabkan oleh sesuatu hal pada saat berada di Bali.

Ketika saya membaca sebuah renungan tentang Hukum Ke Empat, saya menyadari bahwa Alasan Tuhan adalah kita sudah bekerja enam hari lamanya, maka hari ketujuh adalah Sabat Tuhan. Hari ini adalah hari milik Allah. Dari tujuh hari yang Allah berikan kepada manusia, ada satu hari yang harus dikembalikan kepada Tuhan, itulah Sabat Tuhan. Banyak nilai yang saya peroleh dengan membaca renungan tersebut. Saya bersyukur dengan mengantar teman saya saat itu , saya mendapat suatu inspirasi yang selama ini saya abaikan. Jujur saya katakan bahwa dengan taatnya saya pergi ke gereja bukan berarti saya menjadi orang suci atau bertindak suci setelahnya, terlalu banyak hal yang tidak berkenan yang saya lakukan kepada Dia pemilik hidup dan alam semesta ini. Namun ada suatu sukacita besar buat saya pribadi, yaitu setidaknya Tuhan telah memampukan saya untuk menolak kemalasan yang ada dalam diri saya.

Di tahun 2012 yang sebentar lagi datang, saya berdoa semoga Tuhan memampukan saya untuk lebih baik seperti ditahun 2011. Saya mencoba meningkatkan komitmen dengan memberikan lebih banyak porsi untuk melayani Nya. Untuk itu saya memohon kepada pembaca untuk berkenan mendoakan saya, dan saya berdoa agar setiap pembaca setia nusahati.com diberkati juga.

(Ditulis semoga dapat menjadi inspirasi bagi yang malas ke Gereja sebelumnya seperti saya ini, dan bagi yang rajin untuk semakin rajin dan setia melayaniNya)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube