Bpk Stephen Tong

Pdt. Dr. Stephen Tong

Apakah yang Tuhan katakan di sini? ”Jalan-Ku lebih tinggi daripada jalanmu, rancangan-Ku lebih tinggi daripada rancanganmu.” Di dalam sejarah, Kebudayaan pernah mengontrol dan menguasai bagian-bagian terpenting dari sifat manusia. Bagi saya, kebudayaan adalah jiwa masyarakat (the soul of the society).

Jika jiwa telah mengontrol seluruh aktivitas tubuh, maka aktivitas seluruh masyarakat pun akan dikontrol olehnya. Maka baik aktivitas politik, moral, psikologi, ekonomi, seni, sastra, drama, tradisi, maupun etika sosial, semua aktivitas masyarakat dikontrol oleh satu jiwa yang berada di belakangnya. :Jiwa itu adalah kebudayaan.

Tatkala kita mengunjungi suatu masyarakat kita akan mengenali “jiwa” di balik kebudayaannya dari kegiatan masyarakat itu. Satu saat saya berbincang-bincang dengan seorang dari Italia. Kami terlibat dalam diskusi mengenai opera, kesenian Italia, Renaisans, dan kemudian mengenai masyarakat Italia sekarang ini. Ia membuat perbandingan antara masyarakat Italia dan masyarakat Jerman. Ia menggambarkan masyarakat Italia itu hangat namun agak santai (kata lain untuk malas), sedangkan masyarakat Jerman lebih serius (kata lain untuk kejam dan dingin) dan akurat. Lalu ia meminta saya untuk memberi kesan yang lain. “Waktu saya ke Jerman, saya menemukan orang Jerman itu tepat waktu, bersih dan rapi, sedangkan orang Italia agak kotor namun memiliki jiwa seni dan lebih manusiawi.” Teman saya ini menambahkan bahwa orang Italia lahiriyahnya kotor, namun rumah mereka bersih dan rapi. Pembicaraan kami berkembang ke masyarakat Timur, Apakah Anda memperhatikan mengapa kota-kota di Timur begitu banyak debu? Oleh karena masyarakat di Timur menghilangkan debu dengan menyapu. Hari ini saya menyapu ke arah tetangga, mungkin esok giliran tetangga yang menyapu ke arah rumah saya. Mungkin ini disebabkan karena masyarakat Timur suka bergaul dan membalas kebaikan. Atau mungkin kita tidak terlalu peduli akan orang lain, yang penting rumah sendiri bersih. Di Barat, orang-orang membersihkan debu dengan cara menyedotnya, lalu dibuang di pembuangan. Mereka menggunakan penghisap debu (vacuum cleaner) dengan latar belakang pemikiran bahwa kotoran harus dibersihkan dengan tuntas. Dalam hal ini, pemikiran barat dipengaruhi Kekristenan. Mengapa demikian? Oleh karena Tuhan Yesus datang bukan untuk memindahkan dosa dari suatu tempat ke tempat lain. Ia datang untuk menanggung dosa kita dan menyelesaikannya dengan penderitaan dan kematian-Nya.

Bagaimana cara kehidupan luar kita merupakan pantulan “jiwa yang ada di dalam diri kita”? Tuhan berkata, ”JalanKu lebih tinggi daripada jalanmu.” Jalan yang berbeda menghasilkan kehidupan yang berbeda. Orang Tionghoa melahirkan anak dengan kesadaran bahwa ia adalah sumber anak-anaknya. Orang Barat beranggapan bahwa anak-anak ini dilahirkan dalam keluargaku. Ketika seseorang menjabat di pemerintahan, itu berarti ia memiliki kuasa untuk berbuat yang diinginkan. Orang Inggris berpendapat bahwa saat seseorang menjadi pejabat, ia berada dalam kuasa bukan menguasai kekuasaan. Kita tidak boleh mengabaikan konsep ini, oleh karena semua ini memengaruhi cara hidup kita.

Bila kebudayaan menguasai posisi yang sedemikian penting, mandat kebudayaan orang Kristen adalah menerangi kebudayaan dengan Firman Tuhan. Kalau saudara berkecimpung di dunia politik. Saudara harus memakai firman Tuhan untuk mempengaruhi kehidupan politik. Kalau Saudara berkecimpung di dunia pendidikan, Saudara harus memakai kebenaran Allah Pencipta Jiwa manusia untuk menghibur, menerangi, mengoreksi ideologi yang ada di dalam diri manusia. Karena terang alam masih kurang memadai, sebab itu terang Allah dibutuhkan oleh dunia ini.

Itulah sebabnya Yesus kristus berkata. “Kamulah terang dunia.” Terang alam ini masih kurang, maka kamu perlu memakai terang Tuhan untuk menerangi dunia. Jika pemimpin Kristen tidak menyadari bahwa firman Tuhan lebih tinggi daripada kebudayaan manusia; jika pemikir Kristen tidak berdaya menerangi terang rasio dengan terang yang lebih tinggi, maka kita belum pernah bersaksi bagi Tuhan.

Disebuah rumah makan di Surabaya, saya menemukan sebuah patung ukiran Yunani. Sebuah patung seorang yang sedang memegang sebuah lentera sambil mengernyitkan dahinya. Patung itu adalah Diogenes. Dia sedang mencari Summum Bonum tidak menemukannya. Ini mempunyai kemiripan dengan pemikiran Tionghoa. Di dunia ini ada dua orang baik, yang satu baru saja meninggal dunia dan satu lagi belum lahir. Diogenes berusaha mencari orang bijak. Meskipun sinar mata hari begitu terang, ditambah dengan cahaya lenteranya, ia tetap tidak menjumpai orang bijak di seluruh kota Atena. Ketika ditanyakan,” Untuk apa membawa lentera di bawah terik matahari?” Ia menjawab, “Terik matahari belum cukup, itulah sebabnya saya membawa lentera namun saya tetap tidak menemukan Terang.” Tuhan Yesus berkata, “Kamulah terang dunia.” Terang alami masih belum memadai, maka terangilah dunia ini dengan terang yang berasal dari Kristus.

Jika pemimpin Kristen tidak memiliki terang Allah yang besar dari kebudayaan manusia, jika pemikir Kristen tidak mampu menerangi rasio manusia, maka kita belum bersaksi bagi Tuhan. Bersaksi bukanlah sekedar memuji Tuhan oleh karena kita diluputkan dari bahaya. Westminster Confession of Faith menegaskan bahwa terang alami tidak memadai, oleh karenanya dunia ini memerlukan terang wahyu khusus Allah.

Sekarang kita akan melihat apa kekurangan dari kebudayaan.

1. Bagaimanapun majunya suatu kebudayaan, bagaimanapun megahnya kesuksesan suatu kebudayaan, tetap tidak pernah menjelaskan masalah yang sesungguhnya tentang sumber dan arah manusia.

Alvin Toffer, Naisbitt, dan Herman Kahn adalah para futurolog terkenal. Buku tulisan mereka menjadi buku bestseller, di mana pun dijual. Namun, apakah arah dunia yang mereka tunjukkan sama seperti yang diberikan para nabi? Ditinjau dari segi tujuan fungsinya, mereka berharap bisa mencapai hal itu. Tapi ditinjau dari esensi praktis, mereka hanya menduga apa yang akan terjadi dari fenomena-fenomena yang ada. Tidak ada esensi wahyu Allah di dalam sistem mereka, tidak memakai janji Allah di dalam sejarah untuk mengontrol dan mengkonfirmasikan kata-kata mereka. Sebab itu, perkataan mereka yang berfungsi sebagai nabi itu tidak dapat sungguh-sungguh menunjukkan arah bagi kebudayaan dunia.

Apa yang tidak dapat kita jangkau di dalam kebudayaan? Sumber manusia dan masalah arah manusia tidak dapat diselesaikan oleh kebudayaan. Kebudayaan yang berada di dalam limitasi Kejatuhan dalam dosa. Maka kebudayaan sama sekali tidak mungkin mengakui dengan sungguh bahwa ia juga berada di dalam Kejatuhan. Jika fakta Kejatuhan ini menjadi kabur di kalangan kaum injili, maka kuasa kita pun hilang.

Mengapa hari ini banyak orang, pada saat menyampaikan berita Injil tidak berkuasa meyakinkan orang lain? Karena di dalam dirinya sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk menyembuhkan dunia, karena dia telah terlebih dahulu merasa bahwa dunia mungkin tidak tersesat dan tidak membutuhkan pengobatannya, sehingga secara otomatis mereka kehilangan kuasa. Karena Anda tidak mengetahui di mana mereka jatuh. Seseorang yang tidak merasa hilang, kepadanya tidak perlu ditunjukkan arah yang baru. Para penghotbah agung dari zaman ke zaman, para penginjil besar dari zaman ke zaman, para misionaris agung dari zaman ke zaman, mengetahui bahwa umat manusia sudah terhilang. Mereka juga tahu bahwa Allah berjanji menunjukkan arah kepada kita. Berpijak dari kesadaran inilah mereka menemukan jalan dan cara penginjilan, agar manusia bertobat dan kembali kepada Allah.

2. Kebudayaan juga tidak mampu memperlihatkan standar yang mutlak. Bagaimanakah standar yang mutlak dibangun di antara iman kepercayaan dan kehidupan, kebudayaan tidak mampu memberikan jawaban kepada kita.

Bila anda meneliti filsafat Yunani dengan cermat, Anda akan menemukan perdebatan sengit antara dua kutub yang ekstrem yang kemudian berkembang menjadi topik perdebatan yang tidak kunjung habis dari zaman ke zaman. Mereka mengajukan pertanyaan dan selama ribuan tahun tidak mendapatkan jawaban. Masalah relatif dari dua kutub yang ekstrem itu mencakup apakah dunia ini terus menerus berubah atau tetap tidak berubah, apakah dunia ini terus berubah atau abadi. Konsep tentang “berubah” dan “tidak berubah” ini sedang berubah menjadi arah dari dua pemikiran. Selama ribuan tahun keduanya terus diperdebatkan. Semua pemikir yang agak condong ke kiri menekankan hal-hal yang berubah, sedangkan pemikiran yang agak condong ke kanan lebih menekankan hal-hal yang tidak berubah. Baik kita sadar atau tidak sadar, kita selalu hidup di dalam kontradiksi antara kedua kutub ini. Misalnya, Partai Konservatif di Inggris mewakili pemikiran yang tidak berubah, sedangkan Partai pekerja mewakili pemikiran yang terus berubah.

Dua konsep ini telah muncul. Apakah bersifat universal atau pribadi, yang umum atau yang khusus? Is it common or personal, is it general or particular, is it universal or special? Inilah yang menjadi topik perdebatan. Apakah yang diperjuangkan oleh filsuf Socrates dan Plato? Kebenaran adalah bersifat universal, kebenaran itu kekal adanya, kebenaran itu tidak berubah. Maka filsafat yang klasik, tradisional, dan tidak berubah ini percaya akan adanya eksistensi kebenaran yang mutlak, eksistensi kebenaran yang universal.

Tetapi kebudayaan sulit memberikan jawaban terhadap problema ini. Di dalam kebudayaan yang paling tinggi, hal-hal ini yang diakui oleh satu kebudayaan dikutuk oleh kebudayaan lain, hal yang dijunjung tinggi oleh satu kebudayaan dihina oleh kebudayaan lain. Sebab itu, bagaimanapun agungnya satu kebudayaan, tetap tidak mampu menelusuri asal-usul ataupun menunjukkan arah, tidak mampu menemukan standar yang mutlak, tidak mampu membuat kita memberikan tanggapan yang sama.

3. Next…

Sumber : Diambil dari buku Dosa dan Kebudayaan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, DLCE halaman 51 sampai dengan 57.

 

Artikel Terkait :

  1. Arah dan Nilai Kebudayaan
  2. Fakta Kejatuhan Dalam Dosa
  3. Jalan Dan Rancangan Tuhan
  4. Sifat Budaya dan Sifat Agama
  5. Wahyu Umum