Frances Jane Crosby ialah nama lengkapnya. Ia lahir di daerah Southeast, Putnam County, New York, Amerika Serikat (AS), pada tanggal 24 Maret 1820. Fanny lahir dalam keluarga miskin dari pasangan orang tua John dan Mercy Crosby. Ketika usianya baru enam minggu, tiba-tiba ia terserang sakit demam. Ketika dibawa ke dokter, dokter itu malah salah menanganinya dan mengakibatkan kedua matanya buta. Beberapa bulan kemudian ayah Fanny sakit dan akhirnya meninggal dunia. Mercy Crosby menjadi janda pada usia 21 tahun, yang harus mencari nafkah sendiri sehingga Fanny diasuh oleh neneknya, Eunice Crosby.
Pada saat Fanny berusia 5 tahun, melalui pemeriksaan dokter diketahui bahwa matanya tidak bisa dioperasi. Fanny pun dinyatakan buta permanen. Pada usia 8 tahun, Fanny ikut ibu dan neneknya pindah ke Connecticut. Setiap hari Minggu mereka mengikuti kebaktian di sebuah gereja Presbiterian. Neneknya banyak memberikan pengajaran dan bimbingan kepada Fanny, sekaligus menjadi mata bagi gadis kecil itu. Sang nenek dengan bersemangat menjelaskan tentang kondisi fisik dunia kepada Fanny. Ia juga dengan cermat membacakan dan menanamkan pengajaran Firman Tuhan kepada Fanny sambil selalu menekankan pentingnya berdoa. Ia juga membantu Fanny menghafal ayat-ayat Firman Tuhan. Dari sisi Fanny sendiri, kebutaan telah memaksa dirinya untuk lebih membangun daya ingat dan konsentrasi. Fanny tidak pernah mengasihani dirinya sendiri karena matanya buta, dan ia pun tidak memandang kebutaannya sebagai sesuatu yang mengerikan. Salah satu pernyataannya yang kemudian terkenal tegas menunjukkan pandangannya ini, “Jika aku punya sebuah pilihan, aku akan tetap memilih untuk tetap buta… karena ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juru Selamatku.”
Pada tahun 1832, seorang guru musik datang dua kali seminggu ke desa mereka dan mengajarkan pelajaran bernyanyi kepada Fanny serta teman-teman sebayanya. Masa belajar bernyanyi ini, ditambah dengan kesukaannya terhadap lagu-lagu pujian, makin mengasah talenta Fanny remaja. Pada usia 15 tahun, ia terdaftar di New York Institute for the Blind (NYIB – kini menjadi New York Institute for Special Education, NYISE). Di sana ia tinggal dan menempuh pendidikan selama tujuh tahun sekaligus belajar bermain piano, gitar, dan harpa. Ia juga penyanyi sopran yang bagus dan amat produktif dalam menulis puisi. Atas desakan NYIB, buku puisi pertamanya yang berjudul “The Blind Girl and Other Poems” diterbitkan pada tahun 1844. Buku ini memuat “An Evening Hymn”, himne pertamanya yang diterbitkan, yang diambil dari Mazmur 4:8. Selain itu, Fanny menerbitkan dua buku puisi lain, “A Blind Orphan Girl” dan “A Wreath of Columbia’s Flowers”, berisi empat cerita pendek.
Selain karena talentanya di bidang penulisan puisi dan seni suara serta musik, Fanny dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan pendidikan bagi orang buta. Pada tahun 1843, ia bergabung dengan kelompok pelobi di Washington DC, yang berdebat demi memperjuangkan hak serta akses pendidikan bagi orang buta. Fanny menjadi wanita pertama yang tampil di gedung Kongres AS. Kala itu, ia tampil di panggung Dewan Senator AS dan membacakan puisi. Pada tahun 1844, Fanny bersama siswa-siswa NYIB mengadakan konser di Kongres AS sambil menyerukan pembentukan lembaga pendidikan bagi orang buta di negara-negara bagian AS. Selanjutnya pada tahun 1846, Fanny tampil di Kongres bersama delegasi Philadelphia Institute for the Blind dan menyuarakan dukungan terhadap pendidikan bagi orang buta di New York, Philadelphia, dan Boston.
Pada tahun 1846 pula, Fanny menjadi guru di NYIB. Ia mengajar tata bahasa, ilmu retorika, dan sejarah. Pada masa itulah ia pertama kali mengenal Grover Cleveland, yang kemudian menjadi Presiden AS. Grover saat itu berusia 17 tahun; ia mentranskrip puisi-puisi Fanny dan merekomendasikan penerbitan buku autobiografi Fanny, yang akhirnya berhasil diterbitkan pada tahun 1906. Tentang alasan di balik gairah dan produktivitasnya dalam penulisan puisi dan lirik, Fanny menyatakan, “Tujuanku menulis lirik adalah untuk memenangkan jiwa orang-orang bagi Sang Juru Selamat.” Rupanya, meski sepanjang hidupnya ia buta dan tidak memiliki rumah, hatinya hanya menggebu-gebu untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan! Sebagian himne ciptaannya memang terinspirasi dari berbagai hal yang terjadi secara nyata, yang menggugah hatinya dalam hal kebutuhan sesama manusia untuk mengenal Tuhan. Lagu “Pass Me Not, O Gentle Savior” (“Jangan Engkau Lalu”), misalnya, ditulis saat ia mendengar tentang nasib para tahanan di penjara Manhattan. Fanny berdoa agar Tuhan tidak meninggalkan mereka dan menuliskan puisi tentang seruan hati mereka. Pada masa itu, tim misionaris DL Moody dan Ira D. Sankey yang menjangkau banyak orang di berbagai lokasi melalui khotbah juga secara efektif memperkenalkan himne karya Fanny kepada khalayak yang lebih luas. Fanny sendiri juga aktif membahas pekerjaan dan pelayanan misi kepada para penduduk miskin di AS. Ia selalu mencoba membawa orang-orang kepada-Nya; bukan hanya melalui himnenya, tetapi juga melalui kehidupan pribadinya yang patut dijadikan teladan. Melalui seluruh hidupnya, Fanny terus berhasrat agar makin banyak orang mengenal Juru Selamat. Pada tahun 1856, Fanny bertemu seorang pemusik tunanetra yang kemudian menjadi suaminya, Alexander Van Alstynem. Mereka sempat dianugerahi satu putri, Francis, tetapi putri kecil itu meninggal saat masih bayi. Kematian putrinya lagi-lagi menjadi inspirasi Fanny untuk menulis lagu yang kita kenal dalam versi bahasa Indonesia sebagai “Selamat di Tangan Yesus”. Liriknya berisi tentang kelegaan karena jiwa putrinya sudah selamat di tangan Yesus. Hidupnya selalu dipenuhi dengan ucapan syukur kepada Tuhan atas segala hal yang terjadi. Bahkan kebutaannya pun senantiasa disyukurinya, “Tampaknya adalah suatu anugerah Tuhan bahwa aku harus buta seumur hidup, dan aku berterima kasih untuk hal ini. Jika kesempurnaan penglihatan duniawi ini ditawarkan kepadaku besok, aku tidak akan menerimanya. Aku mungkin tidak akan bisa menyanyikan himne untuk memuji Tuhan, jika aku telah tertarik pada hal-hal yang indah dan menarik di sekitarku.”
Fanny Crosby meninggal di Bridgeport, Connecticut, AS, pada tanggal 12 Februari 1915, dalam usia 94 tahun. Karya-karya besar dalam masa hidupnya telah memberkati dan menjadi inspirasi banyak orang, yang tetap populer dan abadi hingga kini. Sesuai kerinduannya yang terdalam, tidak sedikit pula orang yang mengenal Sang Juru Selamat melalui lirik-lirik tulisannya. Kegelapan akibat penglihatan yang cacat tidak menghalanginya untuk menciptakan keindahan yang bercahaya terang, karena hatinya selalu penuh dengan ucapan syukur serta gairah untuk jiwa-jiwa. Di batu nisannya, tertulis kalimat singkat yang sungguh meneguhkan persembahan hidupnya yang tak mengenal lelah, “Bibi Fanny, yang telah melakukan apa yang ia mampu lakukan.”
Blessed assurance, Jesus is mine
Oh, what a foretaste of glory divine
Heir of salvation, purchase of God,
Born of His Spirit, washed in His bloodThis is my story, this is my song,
Praising my Savior all the day long;
This is my story, this is my song,
Praising my Savior all the day longPerfect submission, perfect delight,
Visions of rapture now burst on my sight;
Angels, descending,bring from above
Echoes of mercy, whispers of lovePerfect submission, all is at rest,
I in my Savior am happy and blest,
Watching and waiting, looking above,
Filled with His goodness, lost in His loveSumber : https://www.abbaloveministries.org/