Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

… Sebelumnya

Apakah mungkin manusia beriman dan percaya kepada Allah jika Allah tidak memberikan iman kepadanya? Tuhan menuntut setiap orang untuk beriman, tetapi bagaimana kita memiliki iman kepada Tuhan jika Tuhan tidak menaruh bibit iman itu di dalam hati kita? Di sini kita harus membagi iman ke dalam dua kategori, yaitu iman natural dan iman setelah mendengar firman. Pembedaan ini didasarkan pada anugerah umum dan anugerah khusus, wahyu umum dan wahyu yang istimewa.

Allah menciptakan alam semesta di luar manusia. Allah menciptakan hati nurani di dalam manusia. Inilah dua wilayah bagi anugerah umum dan wahyu umum. Pertama, di luar kita, dengan mata kita melihat alam semesta yang begitu ajaib, rumit, dan teratur rotasinya. Tidak perlu ada orang yang mengatur, semua bisa berjalan sendiri. Seluruh galaksi, bintang-bintang, dan planet-planet berjalan dengan teratur karena ciptaan dan pimpinan Tuhan.
Walau mata kita tidak melihat adanya Allah, hati kita mengetahuinya. Menurut Roma 1:18, murka Allah dinyatakan atas orang lalim dan tidak takut Tuhan, yang melakukan ketidakbenaran, karena mereka sudah menekan kebenaran di hati mereka. Walau Allah tidak kelihatan, ciptaan-Nya menyatakan kuasa Ilahi dan sifat kekekalan Allah. Kedua, melalui hati nurani yang bersaksi di dalam hati, tidak ada orang yang dapat berdalih, melawan, menyangkal, menolak, atau mengatakan, “Tidak.” Keberadaan Tuhan tidak membutuhkan bukti dari manusia, karena manusia tidak berhak dan tidak mampu membuktikan keberadaan Allah. Tidak ada cara apa pun yang cukup untuk membuktikan keberadaan Allah, karena Allah lebih besar daripada bukti. Allah lebih transenden dari cara manusia memberikan bukti. Theologi Reformed tidak menganut apologetika evidensialis, tetapi apologetika presuposisional, yaitu bahwa sebelum ada bukti pengalaman atau penglihatan mata, dan sebelum ada cara apa pun yang dipakai manusia secara apriori,
Allah telah menyatakan keberadaan-Nya melampaui semua bukti. Bagai seorang ibu mencintai anaknya, cintanya tidak perlu dibuktikan dengan metodologi ilmiah, fisika, atau kimia. Tetapi karena ia adalah “ibu”, dengan sendirinya dan seharusnya ia mencintai bayi yang dilahirkannya. Ia tidak perlu didorong, diajar, atau dibuktikan akan cintanya kepada anaknya. Ini adalah hal natural yang Tuhan ajarkan. Di dalam Kitab Yesaya dikatakan, “Adakah ibu melupakan bayi yang disusui? Adakah ibu membuang anak yang dilahirkan?” Demikian juga naluri yang diberikan kepada manusia, dengan sendirinya mengetahui jika Tuhan ada.

Mengapa ada atheis, mengapa ada orang yang begitu berani menolak dan berdebat bahwa Allah tidak ada, jika Allah telah memberikan naluri seperti itu kepada manusia? Itu adalah karena orang atheis menindas dan menekan kebenaran. Roma 1:18-20 mengungkapkan bagaimana suara hati nurani ditekan dan tidak mau didengar, dan mereka sengaja mengatakan, “Tidak ada Allah.” Di dalam buku The Brothers Karamazov yang ditulis oleh Dostoevsky, dikatakan, “Jika tidak ada Allah, aku bisa bebas melakukan apa saja.” Di dalam buku itu, ada seorang yang bernama Ivan. Ia mengatakan, “Mengapa harus percaya kepada Allah? Jika tidak ada Allah, saya boleh berdosa, berbuat segala sesuatu sesuai nafsu, menuruti kebebasanku.” Orang atheis mengaku tidak ada Allah karena mereka ingin bebas berdosa dan tidak dihakimi. Maka, motivasi atheisme adalah melepaskan diri dari penghakiman Tuhan. Profesor Edwin Orr di dalam bukunya menuliskan, “Atheis itu tidak ada. Orang atheis sebenarnya adalah orang theis yang terbalik. Mereka sengaja mengatakan tidak percaya Allah ada bukan karena mereka tidak percaya Allah ada, tetapi sengaja tidak mau percaya Allah ada.” Tidak ada Allah artinya Allah yang ada saya anggap tidak ada.

Allah ada dan Allah sudah memberikan iman ke dalam hati manusia. Ketika manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah, Tuhan telah menanam bibit iman mengenai Allah di dalam hati manusia. Tetapi manusia menekan, menolak, dan tidak percaya Allah. Ketika mengalami kesusahan yang paling kritis dan berat, mengalami penderitaan berat, manusia akan mulai berteriak, “Ya Allah, kasihanilah saya.” Di dalam Ibrani 11:6, Tuhan menuntut semua orang harus beriman. Barang siapa tidak beriman, jangan berharap diberkati Tuhan. Jika manusia tidak beriman, tidak mungkin diperkenan di hadapan Tuhan. Jika seseorang datang kepada Tuhan, pertama-tama ia harus beriman bahwa Tuhan itu ada. Lalu kedua, ia harus mengetahui bahwa Dia adalah pemberi berkat kepada orang yang mencari Dia.

Di sini kita melihat konflik ayat-ayat Alkitab. Alkitab di satu pihak mengatakan bahwa engkau harus percaya kepada Allah, atau engkau tidak akan diperkenan Allah. Dan mereka yang percaya harus tahu bahwa Allah ada dan Dia memberi kepada orang yang mencari Dia. Sehingga kita bukan saja mengaku bahwa Allah ada, tetapi Dia juga menuntut kita untuk datang kepada Dia, dan percaya bahwa Dia memberi anugerah kepada orang yang mencari Dia. Tetapi sebaliknya di dalam Roma 3:10-12, Tuhan berkata, “Aku menengok dari sorga ke bawah, ke bumi, adakah orang yang mencari Aku, mencari kebenaran-Ku, melaksanakan kebajikan hidupnya di hadapan-Ku?” Tiga hal penting diungkapkan Tuhan di sini: apa yang orang cari; apa yang orang mengerti; dan apa yang orang perbuat. Di seluruh dunia tidak ada seorang pun yang mencari Tuhan; tidak ada yang mau mengerti Tuhan; dan tidak ada orang yang mau menjalankan kehendak Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada orang yang mencari Tuhan, tetapi di lain pihak juga mengatakan, “Carilah Tuhan dan percayalah kepada Tuhan yang memberi anugerah kepada orang yang mencari-Nya.”

Ketika Tuhan mengatakan bahwa tidak ada orang yang mencari Dia, mengapa Tuhan masih menuntut orang harus mencari-Nya dan percaya Dia memberikan anugerah kepada orang yang mencari-Nya? Ayatayat seperti ini kelihatannya seperti saling berbenturan, tetapi sebenarnya inilah kondisi paradoks, tidak bersifat konflik, sehingga kita tetap harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Mungkinkah manusia mencari Allah? Manusia diciptakan oleh Allah dengan benih iman dasar yang sudah ada, sehingga kita sudah mempunyai konsep Ilahi melalui wahyu umum di alam semesta dan hati nurani di dalam. Konfirmasi luar dan dalam, ketika bisa disinkronkan, akan membuat kita percaya bahwa Allah ada. Namun, karena manusia menindas dan menekan suara hati nurani, serta menekan kesaksian dari alam semesta, akhirnya semua yang diberikan tidak mampu berfungsi memberikan konfirmasi bahwa Allah ada, sehingga akhirnya manusia menjadi atheis. Oleh karena itu, ketika Tuhan mencerahkan dan membangkitkan kita kembali, baru kita menjadi orang Kristen.

Berikutnya, Tuhankah yang terlebih dahulu memberikan pencerahan kebangkitan, atau sayakah yang terlebih dahulu mencari dan meminta pertolongan Tuhan? Mana yang benar, saya berdoa dahulu baru Tuhan memberi anugerah atau Tuhan memberi anugerah dahulu baru saya dapat berdoa kepada Tuhan? Jika Tuhan tidak memberi anugerah, mengapa saya dapat berdoa kepada Tuhan yang sejati? Bukankah saya akan mencari Tuhan yang salah? Bukankah ketika saya mengaku yang bukan Allah itu sebagai Allah, itu merupakan penipuan diri? Jika saya tidak mungkin menemukan Allah, bukankah hal yang mustahil untuk dapat berdoa kepada Allah yang sejati? Ini hanya membuktikan satu hal, yaitu ketika saya dapat menemukan Allah yang sejati, berdoa kepada Allah yang benar, itu semua adalah anugerah Tuhan. Jika bukan karena anugerah Tuhan, yang telah diberikan lebih dahulu oleh Allah, kita tidak mungkin dapat mengerti manakah Tuhan yang sejati. Jadi Tuhan adalah inisiator yang memberi anugerah. 

Bersambung

… 

Sumber : https://www.buletinpillar.org/pdf/fisik/pillar-212-202103.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube