Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5 : 38 – 42)

Selapis demi selapis Yesus membawa kita mengoreksi konsep yang sulit dilakukan oleh siapapun pada siapapun dalam zaman apapun dan di negara manapun. Ini adalah konsep baru, yang belum pernah ada, dari zaman Adam bahkan sampai Socrates, Kong Hu Cu, sampai zaman Yesus. Melampaui semua pemikiran yang pernah muncul dalam sejarah, melampaui semua yang pernah diajar dalam semua filsuf, kebudayaan, agama, dan aliran manapun. Yesus adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, pernah hidup di dunia, Ia membawa Firman yang kekal sebelum dunia diciptakan, konsep yang merubah semua konsep yang pernah ada sepanjang zaman. Dan orang yang mengerti hal ini adalah Mahatma Gandhi dari India, ia tergugah ketika membaca ayat ini.

Orang India mempunyai kebudayaan yang sangat kuno di antara seluruh filsafat dan kebudayaan dunia. Buku Upanishad ajaran orang India tidak kalah kuno dari Kong Hu Cu, Shintoisme, dan Socrates. Dan ini menjadi agama yang sampai hari ini mempengaruhi sekitar 1,3 miliar orang India. Negara India, Tiongkok, Indocina, Korea, Jepang pernah dipengaruhi oleh ajaran Kong Hu Cu dan Hindu. Jumlah penduduk dunia adalah 7 miliar, dan sekitar 3,3 miliar dipengaruhi oleh kedua ajaran ini. Tetapi Mahatma Gandhi dari India sangat kagum mendengar kalimat Tuhan Yesus yang melampaui semua filsafat timur dan barat, ia menemukan inti pengajaran Tuhan Yesus dalam Matius 5-7, ini adalah pengajaran paling dalam untuk membentuk etika manusia.

Jika orang kristen mengira semua ajaran agama sama, engkau bodoh. Jika engkau kira semua ajaran filsafat sama, engkau bodoh. Jika melihat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama, engkau bodoh sekali. Jika engkau tidak merasa apa yang dikatakan Tuhan Yesus melampaui semua pemikiran seluruh alam semesta, semua agama, kebudayaan, filsuf, tradisi, maka engkau belum mengetahui siapa Tuhan Yesus. Ketika Yesus berkata, “Engkau pernah mendengar orang kuno berkata” Mereka pikir yang dikatakan orang kuno saya sudah tahu, selalu pikir, yang diturunkan pada mereka beribu tahun yang lalu adalah konsep yang tidak perlu dirubah dan pasti benar.

Satu-satunya orang dalam sejarah manusia yang berani mendongkel heriditas kuno, tradisi orang zaman dulu, dan memberikan konotasi baru, hanya satu orang, yaitu Yesus. Dua hukum dari Yesus yang diambil dari sepuluh hukum Musa untuk dibentuk dan dikoreksi konsepnya yang salah, untuk mengerti Tuhan ingin kita mengerti apa, kedua hukum tersebut yaitu jangan membunuh dan jangan berzinah. Ini adalah hubungan antar manusia, yang satu paling intim, yang satu paling keji. Ketika manusia mencintai manusia lain, selalu merasa rindu, setiap hari dirongrong oleh pikiran pada orang tersebut dan ingin menikahinya, cinta antara lelaki dan perempuan yang dicipta menurut peta teladan Allah menjadi keindahan yang paling intim, mendalam, dan bernilai. Sebaliknya dari mencintai dan ingin bersama adalah membenci dan ingin membunuh. Mengapa dapat mencintai manusia sampai ingin menikah? Mengapa dapat membenci sampai ingin membunuh? Dalam kedua hal ini, semua konsep yang salah dikoreksi oleh Allah yang menciptakan manusia menurut peta teladan-Nya.

Allah mengoreksi manusia dengan mengirim Yesus untuk memberikan penjelasan yang asli. Jangan mengerti Firman-Ku melalui tafsiran orang lain, maka Tuhan Yesus berkata “Engkau pernah mendengar orang kuno berkata padamu.” Hukum Musa menyangkut interpersonal relationship, di antara 10 hukum, dua di antaranya mengenai cinta dan bersatu lalu membenci dan membunuh. Hukum ke 6, jangan membunuh. Hukum ke 7, jangan berzinah. Dan Yesus tambah lagi dengan jangan bersumpah.

Peraturan-peraturan ini tidak diambil dari 10 hukum. Ini adalah hubungan antara manusia dengan manusia yang sering dilakukan. Sumpah diharuskan oleh pemerintah dalam upacara pelantikan. Banyak hal dalam pertikaian yang sulit diselesaikan, karena tidak tahu siapa yang jujur atau benar, maka perlu sumpah untuk mengakhiri pertikaian tersebut. Dalam pengadilan, sumpah penting untuk pemerintah, juga dalam pelantikan presiden, sumpah lumrah dalam semua negara.

Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Jangan bersumpah.” Apakah berarti Tuhan Yesus sengaja melawan pemerintah? Tidak, Tuhan Yesus bukan melecehkan, Ia memimpin kita masuk pada sesuatu yang lebih serius. Dan ini yang dilupakan oleh manusia yang berpikir berbicara jujur tidak penting, lebih penting bersumpah, tetapi Yesus melihat terbalik. Semua peraturan pemerintah adalah tambahan, karena sudah lupa yang asli seperti apa. Sama seperti hubungan manusia dengan Tuhan, tidak perlu taurat, hanya perlu sungguh-sungguh setia dan mengasihi Tuhan. Tetapi setelah manusia tidak setia dan tidak mengasihi Tuhan lagi, manusia telah jatuh dalam dosa, maka perlu taurat. Bagi orang Yahudi taurat penting, bagi Paulus taurat adalah tambahan. Tetapi dari permulaan sesungguhnya tidak perlu taurat, yang perlu adalah kejujuran sejati dan setia pada Tuhan. Karena manusia memberontak, merusak janji, maka taurat diperlukan. Mengapa orang Yahudi menganggap taurat mutlak diperlukan? Karena mereka menganggap cara manusia lebih penting dari cara Allah.

Maka Yesus, Allah yang menjadi manusia, turun ke dunia melalui inkarnasi, mengoreksi kebudayaan dunia. Perjanjian Baru sebagai yang asli yang ditetapkan Tuhan, mengembalikan kita pada yang murni dan kekal, membawa kita mengerti hubungan manusia dengan Tuhan setelah manusia jatuh dalam dosa. Dalam cinta, dalam pernikahan, bagaimana kembali pada aslinya? Dalam hubungan dengan orang lain, harus menghormati jiwa orang lain dan jangan membunuh. Jujur dalam berjanji bukan melalui ikatan sumpah tetapi kembali pada yang asli. Iya adalah iya, tidak adalah tidak, jika banyak bicara yang tidak benar dari setan. Kalimat ini sangat menegur, membawa kita kembali pada yang asli, ini yang dituntut oleh Tuhan Yesus.

Dari jangan berzinah, jangan membunuh, jangan bersumpah, janji juga menjadi unsur penting dalam pembentukan masyarakat dan komunitas. Komunitas perlu janji yang adil dan keadilan. Jika tidak ada keadilan, tidak ada masyarakat, tidak ada bangsa, dan tidak ada negara. Maka membentuk persekutuan, membentuk masyarakat, membentuk komunitas, yang terpenting adalah keadilan. Tetapi kita tidak pernah dapat membentuk masyarakat yang adil. Dalam membentuk masyarakat yang adil, harus sama rata dengan saya terhadap engkau. Jika saya menghormati engkau dan engkau melecehkan saya, hubungan ini tidak beres. Saling menghargai adalah unsur pertama komunitas.

Konsep Allah Tritunggal penting dalam komunitas. If there is no understanding of the Trinity, there is no possibility to build up any community. If you don’t understand Trinity, you never able to build up a very fine, perfect, and wonderful community. Tidak mengerti Allah Tritunggal, tidak mungkin membangkitkan komunitas yang baik dan beres. Karena Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, saling menghargai dengan ekualitas, tidak lebih tinggi dari yang lain, tidak lebih mulia dari yang lain. Same glory, same power, same authority, same eternal, same self-sufficiency, same selfimmortality, same self-eternal. Sehingga Allah Bapa memiliki semua sifat ilahi di mana Allah Anak juga memiliki, dan Allah Roh Kudus juga memilikinya. Keindahan dalam tiga pribadi yang masing-masing berbeda tetapi mempunyai persamaan sehingga ada keadilan yang tidak ada bandingnya.

Ketika manusia membentuk komunitas untuk manusia bersatu dalam masyarakat, manusia menemukan ketidakadilan yang mengganggu komunikasi dan merusak relasi. Maka keadilan harus menjadi unsur pertama terbentuknya komunitas. Kalimat keadilan yang paling penting dikatakan oleh Tuhan. Kata adil pertama kali keluar dari mulut manusia tercantum dalam Kitab Kejadian. Ketika Tuhan akan membasmi Sodom dan Gomora. Abraham berkata pada Tuhan, jika ada orang benar dan orang jahat, masakan Engkau membunuh mereka semua? Membunuh orang benar di tengah-tengah orang jahat, itu tidak adil. Ini pertama kali konsep adil keluar. Abraham mengucapkan satu kalimat yang sangat mengagumkan, “Membunuh, membinasakan orang baik dan orang jahat, tidak mungkin dilakukan oleh Allah yang adil.” Kalimat aslinya adalah, “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Mungkinkah Allah yang adil melakukan keadilan yang tidak adil? Ini tidak mungkin terjadi. Jika dunia tidak adil karena manusia berdosa, Allah tidak mungkin tidak adil karena Allah adil, Allah yang benar tidak mungkin melakukan ketidak adilan. Dalam sejarah dunia sebelum ada pengadilan apapun di dunia ini, sebelum ada hakim dan jaksa, ada seorang Abraham yang berkata, “Mungkinkah Allah mengadili dunia dengan tidak adil?” Allah yang mengadili seluruh bumi harus adil adanya.

… Bersambung

Sumber : https://www.rec-singapore.org/wp-content/uploads/2020/07/5Jul2020_STong.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube