Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap unrtuk selama-lamanya. Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Mazmur 125:1-2)
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

—————————————————
Mazmur 125:1-2 terjemahan yang lebih baik adalah: “Barangsiapa yang percaya dan bersandar kepada Tuhan, dia akan seperti gunung Sion yang tidak goyah untuk selama-lamanya. Sebagaimana gunung-gunung mengelilingi kota Yerusalem, demikianlah Tuhan mengelilingi orang yang dimiliki-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya.”

Amsal 3:5-6, “Bersandarlah dengan iman dan dengan segenap hatimu kepada Tuhan. Janganlah bersandar kepada kepintaranmu sendiri, melainkan senantiasa berpegang pada Dia dan akuilah Dia di dalam segala perbuatanmu, maka Dia akan meluruskan jalanmu.”

Manusia dicipta oleh Tuhan dengan sifat relativitas, sehingga kita tidak mungkin secara mutlak dapat hidup pada diri sendiri. There is no absolute dependence and absolute independence of human life. There is no absolute existence in ourbeing. Dalam hal bersandar, manusia mempunyai kebutuhan relativitas atau relasi dengan ‘yang tidak terlihat’. Inilah motivasi dan bibit sifat beragama yang terdapat dalam diri manusia. Inilah yang disebut the sense of absolute depence oleh Schleiermacher dan disebut ultimate concern oleh Paul Tillich.

Di kedalaman jiwa manusia terdapat satu unsur di mana kita membutuhkan satu sandaran, satu pegangan, satu jaminan kekuatan dan rasa aman. Tapi sesungguhnya obyek yang kita sandari atau “Engkau yang kekal” itu berada di mana? Martin Buber mengemukakan ada “Eternal Thou” dan adanya I and Thou relationship, yang merupakan titik tolak keberadaan agama. Manusia memerlukan “Engkau” yang bisa disandari, yang bisa dipercaya, yang menjadi sumber pertolongannya. Di dalam masa krisis manusia membutuhkan “Engkau” yang besar.

Waktu kita masih kecil, kita menganggap ibu adalah “Engkau” yang agung itu. Ketika kita dikejar anjing, kita lari ke pangkuan ibu. Kita menganggap dialah “Eternal Thou” “the greatest Thou”. Relativitas kita selalu mencari sesuatu yang bisa kita sandari. Setelah kita makin besar, kita bersekolah, kita mulai menghina ibu, kita menganggap guru dan dosen-dosen kita lebih pintar daripada ibu. Maka kita mulai mengalihkan arah relativitas kita kepada orang-orang yang kita kagumi, mungkin seorang politikus, akademikus, atau idola dalam, bidang disiplin ilmu yang kita tekuni.

Pada waktu saya berusia 17 tahun, idola saya adalah Beethoven, Schumann, Schubert, Tschaikovasky, Palestrina, Johann Sebastian Bach, Bhrams, dll. Setelah saya mempelajari filsafat, idola saya adalah Aristoteles, Plato, Socrates, Confusius, dll. Sepertinya di dalam hidup saya membutuhkan suatu oknum yang bisa saya sembah, saya sandari, saya pelajari dan menggali sesuatu dari padanya. Relasi itulah yang membuat dunia saya jadi bermakna. Tapi ketika saya mendapati Schumann berusaha bunuh diri dengan melompat ke laut; Schubert seorang homoseks; Tschaikovsky tidak pernah bisa mencintai seorang wanita dan membuang semua isterinya yang baru dinikahi 2 minggu, Beethoven pernah menderita penyakit sipilis, akhirnya saya kecewa. Satu persatu idola saya berguguran. Saya terus mencari, siapa yang bisa saya sandari, siapa yang bisa saya percaya, siapa yang bisa saya pegang untuk selamanya.

Alkitab mengajar kita, kembalilah kepada Tuhan Allahmu. Segala sesuatu di dunia ini bukan Allah. Mao Ze Dong bukan Allah. Pada waktu bermilyar manusia mengarahkan relativitas yang seharusnya mereka tujukan kepada Tuhan, sekarang kepada manusia. Yeremia berkata, “Matamu memandang kerajaan yang kau kira bisa menolongmu, tapi ternyata hampa, tidak dapat memberikan pertolongan kepadamu.”

Siapakah yang bisa menjadi penolong? Siapa yang bisa menjadi pangkalan dan sandaran kita? Sebagai hamba Tuhan, sekali lagi saya serukan, kembalilah kepada Tuhanmu! Bukalah telingamu kepada suara kekekalan. Return to God. Kembali kepada Tuhan adalah suatu pengarahan yang terus menerus menjadi seruan para nabi dan rasul. Jika arah rohani kita salah, maka seluruh hidup kita akan menjadi kacau.

Kedua, nabi berkata, pandanglah kepada Dia. Pada waktu raja Uzia wafat, Yesaya berkata, tahun itu aku masuk ke dalam Bait Allah. Aku melihat Tuhan berada di takhta. Aku melihat Dia tidak pernah turun dari takhta yang mulia itu. Hanya satu otoritas yang mutlak, yang tidak perlu diganti kedudukannya, yang tidak mungkin melaksanakan sesuatu yang salah, dan yang tidak mungkin meleset strateginya.

Banyak orang berkuasa di dunia, semakin mereka berkuasa semakin meleset tindakannya. Sehingga saat mereka tersadar, sejarah sudah memvonis mereka: waktumu telah habis, kau harus turun dari pentas sejarah. Sejarah adalah Guru umat manusia. Sejarah mengajarkan hal ini dari zaman ke zaman. Sayangnya selalu kita tidak percaya, selalu tidak mengindahkan firman Tuhan. Kita hanya berpegang kepada diri sendiri.

Sebab itu mari kita renungkan tentang tema “Berpegang Tangan Tuhan”. Faith is the directions of the spirit. Faith is the seeing and the vision of the spirit. Faith is certainly of the spirit.

Orang yang beriman mempunyai pegangan, mempunyai kepastian di dalam jiwanya sedalam-dalamnya, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Seorang anak kecil yang kedua tangannya memegang dan menarik sesuatu sambil berjalan, tapi orang lain tidak melihat apa yang dipegangnya, bertanya, “Hai nak, apakah engkau sudah gila? Apa yang sedang kau pegang ditengah lapangan berangin ini?” Anak itu menyahut, “Saya sedang bermain layang-layang.” Orang itu memandang keatas, tapi tak dapat melihat layang-layangnya. Maka katanya, “Jangan bergurau dengan orang tua. Di manakah layang-layangmu?” “Di situ, di tempat yang tinggi sekali.” “Saya tidak dapat melihatnya.” “Kalau kau tidak lihat, itu bukan problemku, itu problem matamu.” Orangtua itu terheran-heran karena ia tidak melihat apa-apa, tetapi anak itu yakin, tekanan itu masih ia rasakan, berarti layang-layangnya masih terbang di atas sana. Inilah contoh iman Kristen. Orang lain tidak melihat apa yang kita pegang. Orang lain tidak tahu mengapa kita terus beriman kepada Tuhan. Mereka bertanya, “Di mana Tuhan? Kami tidak melihat-Nya. Di mana Tuhan? Kami tidak mengalami. Di mana Tuhan? Kami tidak bisa buktikan.” Mereka tidak bisa membuktikan, itu adalah problem mereka. Mereka tidak pernah mempunyai pengalaman rohani, tidak punya visi rohani, tidak punya konfiden rohani, mereka tidak mungkin punya evindensi rohani. Ini bukan masalah argumentasi, bagaimana berdebat dengan logika atau untuk membuktikan siapa yang lebih kuat secara akademis. Ini merupakan suatu kesungguhan, I and Thou relationship, pengalaman pribadi, I am now walking hand in hand with Him. Inilah yang disebut berpegang pada Tuhan, percaya kepada Tuhan.

Mengapa kita perlu berpegang kepada Tuhan? Karena di dunia ini tidak ada satu pun yang bisa kita pegang teguh untuk selama-lamanya. Politik bisa goncang. Bukankah kita mendengar bahwa setelah tahun 2000 Indonesia akan tinggal landas? Namun apa jadinya sekarang? Bukan tinggal landas, melainkan tinggal kandas. Dulu pendapatan per kapita kita sudah mencapai US $ 1045, dua kali pendapatan per kapita di Tiongkok. Sekarang, hanya sisa US $ 165. Tidak ada orang yang tidak mengalami kemalangan. Liem Sioe Liong dan pengemis sekarang sama-sama kesulitan. Dulu waktu kita memberi Rp.100,- kepada pengemis masih ada nilainya, sekarang tidak lagi. Kesulitan melanda semua orang, tidak pandang bulu. Seluruh Negara menjadi miskin mendadak. Kuasa politik bisa goncang, kuasa militer pun bisa goncang. Jangan kira orang yang berpangkat tinggi di bagian militer mempunyai kesetiaan yang tinggi. Pada saat-saat tertentu dalam sekejap mata arah senapan bisa berbalik 180 derajat. Dalam sekejap mata momen yang sangat menentukan dalam sejarah, arah senapan bisa berbalik kebelakang.

Dalam bahasa Mandarin di sebut dao duo, senjata makan tuan. Siapakah Enrille? Siapakah Ramos? Bukankah dulu mereka adalah orang yang paling setia terhadap Marcos? Bukankah mereka adalah pemimpin militer yang terkuat di Filipina? Di saat-saat terakhir Marcos berseru,“Berjuanglah sampai titik darahmu yang penghabisan untuk membelaku, membelaku!” Waktu saya mendengar ucapan ini di radio, saya anggap orang ini sudah gila. Tuhan, singkirkan dia. Karena orang yang terus berkata, “Belalah aku” itu orang gila. Tak seorang pun berhak menyuruh orang lain mati untuk membela dirinya, kecuali mati bersama untuk membela bangsa dan Negara. Maka dalam sekejap mata kita menyaksikan Ramos dan yang lain telah menjadi musuh Marcos.

Apakah militer bisa disandari? Tidak. Apakah jendral bisa disandari? Tidak. Apakah Pemerintah bisa disandari? Tidak. Jangan kita berpikir, kalau di belakang kita ada jendral yang mem-backing, seumur hidup kita akan aman. Sebaliknya engkau justru berposisi lebih berbahaya daripada yang lain. Engkau akan menjadi sasaran dari musuh yang berbeda ideologi denganmu. Dunia ini tidak bisa disandari. Janganlah bangga dengan kuasa yang ada padamu, jangan bangga akan pengetahuan yang ada padamu, jangan bangga akan uang yang ada padamu. Tiga hal ini muncul berurutan dari nabi Yeremia sebelum Yerusalem dikepung dan dihanguskan api.

Dunia ini adalah dunia yang dapat bergoncang. Hati manusia bisa berubah. Orang yang paling kau percaya dan paling kau harapkan justru mungkin menjadi lawan terbesar. Semua ini hanya tunggu tanggal mainnya saja. Sebab itu saya menghimbau dan memerintahkan semua anak Tuhan, Pencipta langit dan bumi, sang Penguasa dan Pengontrol sejarah, Sang pewahyu Kebenaran kepada umat manusia. Dialah yang memberi kekuatan dan Dialah yang menjamin hidup kita tetap terpelihara. Tuhan tidak menjamin kita selalu mewah, selalu mulia, selalu melewati hari-hari yang lancar. Meskipun awan gelap mengelilingimu, halilintar berada di atasmu, angin topan menerpamu, biarlah jiwamu tetap berdiri tegak di hadapan Tuhan Allah.

Iman berarti berpaling kepada Tuhan. Iman berarti memandang takhta Tuhan. Iman berarti memegang tangan Tuhan. Uang bisa berubah. Alkitab berkata, janganlah matamu menatap kepada uang yang bisa berubah itu. Karena bila saatnya tiba, uang itu akan bersayap dan terbang meninggalkan dirimu. Mengapa kita tidak boleh bersandar kepada dunia ini dan hanya berpegang kepada Tuhan?

1. Dunia ini bergoncang dan berubah

Hanya ada hal-hal tertentu yang tidak berubah, yang harus kita pegang erat-erat. Alkitab mengatakan, firman Tuhan tidak bergoncang dari kekal sampai kekal. Segala teori bohong adanya, segala kalimat dusta akan lenyap. Hanya perkataan yang sejati yang keluar dari mulut Tuhan tidak akan goncang sampai selama-lamanya. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, manusia hidup bukan bersandar kepada roti saja, melainkan bersandar pada setiap kalimat yang keluar dari mulut Tuhan Allah.

Perkataan Tuhan tidak perlu diubah, tidak perlu dikoreksi. Perkataan Tuhan kekal untuk selama-lamanya. Kalau engkau tidak mengerti firman Tuhan, masalahnya bukan terletak pada Alkitab, tetapi pada dirimu sendiri, pada kerohanianmu, dan pada imanmu. Maka jika kita tidak mengerti firman Tuhan, janganlah mengeluh, atau mengejek, menolak, melarikan diri, atau bersungut-sungut. Sebaliknya berlututlah dengan rendah hati di hadapan Tuhan, minta pertolongan Roh Kudus untuk membuka mata kita sehingga kita bisa mengerti dan takluk kepada-Nya.

Seorang professor berkata kepada saya,“Waktu saya masih muda dan studi di seminari di Amerika yang kebanyakan dosennya menganut paham Liberal, iman saya betul-betul dikacaukan. Saya terus menuntut akademis, tapi semakin tinggi pengetahuan saya, semakin berkurang kerohanian saya.” Lalu saya bertanya, bagaimana ia bisa memelihara imannya sebagai orang yang sungguh-sungguh percaya hingga sekarang. Jawabnya, “Setiap kali saya mengikuti kuliah yang liberal, hati saya digoncangkan tapi suara hati saya mengatakan, ‘that’s not right, that theory is not biblical, only God is truth’, Hanya Allahlah kebenaran, hanya firman Tuhan yang tidak pernah bersalah. Maka setiap kali mengalami kesulitan, saya selalu berlutut, berdoa dengan menangis minta Tuhan memberi kekuatan kepada saya. Akhirnya Tuhan memelihara iman saya tetap murni dan Injili sampai studi saya selesai. Setelah itu iman saya menjadi kuat dan saya bisa mengetahui segala kelemahan dari ajaran doktrin yang salah. Saya akhirnya dapat menemukan semua kesalahan dari Liberalisme dan Modernisme. Setelah saya menjadi professor, saya mengajar murid-murid saya untuk bisa berdiri teguh di atas firman Tuhan.”

Sejarah akan membuktikan bahwa semua teori manusia kosong adanya. Semua hasil pemikiran otak manusia yang sudah jatuh didalam dosa tidak sempurna adanya. Semua ideologi, system teori filsafat yang muncul dari pikiran manusia mempunyai celah yang terlalu besar. Hanya firman Tuhan yang kekal, yang tidak pernah bersalah. Alkitab berkata, meski langit dan bumi akan lenyap tapi satu titik pun dari firman Tuhan tidak akan lenyap. Sebab itu Alkitab mengajar orang Kristen untuk berpegang pada prinsip firman Tuhan. Kita mempelajari firman Tuhan bukan untuk membanggakan diri lebih mengerti daripada orang lain. Tetapi semakin mempelajari firman, semakin merendahkan diri. Semakin mau mencari sari, esensi dan pengertian yang sejati, sehingga kita bisa memegang teguh firmanTuhan yang tidak berubah.

2. Sifat Allah yang setiawan itu tidak berubah

Bukan hanya perkataan-Nya tidak berubah, bahkan Dia yang berkata-kata juga tidak berubah. Inilah jaminan bahwa perkataan-Nya bisa dipegang. Jika Dia yang berkata-kata bisa berubah, tak ada guna kita memegang perkataan-Nya. Tetapi kalau kita percaya kepada perkataan Dia yang memang patut dipercaya, barulah perkataan yang kita pegang menjadi berarti.

Beberapa tahun yang lalu sebelum Hong Kong dikembalikan ke RRC, Deng Xiao Ping, memberikan jaminan dari Beijing bahwa HongKong tidak akan mengalami perubahan. Tak usah gelisah. Pada waktu itu banyak orang yang mengalami ketakutan yang luar biasa. Apa sebabnya mereka ketakutan luar biasa? Karena untuk menakuti orang HongKong, RRC memilih sebuah pulau di dekat Hong Kong untuk menjadi tempat reaktor nuklir. Ternyata sekarang harga real estate di Hong Kong turun sampai 42%. Hal yang dulu tak pernah terjadi, sekarang terjadi. Perkataan manusia tidak bisa diandalkan. Sekarang Hong Kong meresahkan kebebasan persnya.

Westminster Confession of Faith mengatakan, Dia yang berkata-kata dan apa yang dikatakannya itu sama adanya. Ini adalah kalimat yang penting sekali. Jika saya mengatakan bahwa usia saya 37 tahun padahal saya sudah 58 tahun, berarti ada perbedaan antara yang berbicara dan apa yang dibicarakan. Kalau di antara revealer dan revelation terdapat perbedaan, maka wahyu yang disampaikan pasti bukanlah kebenaran. Kita berani memegang tangan Tuhan karena apa yang Dia katakan tidak berubah dan Dia yang berkata-kata juga tidak berubah. Jika Allah tidak berubah, maka terlihatlah disini ada suatu substansi yang transenden atas proses perubahan. The substance in itself which transcends the process of changing, itulah yang menjadi jaminan kita berpegang kepada-Nya.

Di dalam filsafat Barat terdapat Heraclean School, the philosophy of becoming, yang selalu berseberangan dengan Eliatic School dari Parmenides dan Xeno, philosophy of being, yang berpendapat: everything is changing or everything is not changing. Changing is phenomena and unchanging is the substance. Dua kelompok ini terus berdebat mencarti mana yang lebih benar.

Demikian pula di Tiongkok, waktu Kong Hu Cu tua, ia berkata, “Jia wo wu shi yi xueyi, su ke mian da guo ye” – give me and grant me another five more years to live, to prolong my life that I will go to study the book of changes in order to escape from many big faults. Waktu orang Tionghoa berpikir tentang ‘changing’, adakah yang tidak berubah? Apa yang berubah? Hanya Kitab Suci yang memberikan jawaban yang tuntas kepada kita, yang melampaui filsafat Grika, filsafat Confusionisme dan filsafat-filasat Timur, baik yang di India, di Tiongkok, di Jepang dan tempat-tempat di Timur Tengah.

Kitab Suci berkata, segala sesuatu yang dicipta berubah adanya, hanya Sang Pencipta yang tidak berubah. Mungkin engkau bertanya, begitu gampangkah iman Kristen? Justru iman Kristen yang begitu gampang melampaui filsafat yang dalam, yang merupakan hasil pemikiran manusia, yaitu otak yang sudah jatuh di dalam dosa.

Allah tidak berubah dan yang diciptakan oleh Allah setelah jatuh di dalam dosa menjadi berubah. Mereka meninggalkan Tuhan, menjauhkan diri dari kebenaran, makin lama makin rusak. Itu sebab orang yang bijaksana yang betul-betul mengerti bagaimana seharusnya bertindak, ia tidak berpegang kepada dunia yang semakin rusak, melainkan berpaling untuk berpegang kepada Allah yang tidak berubah.

Perjanjian itu menjadi konkrit di dalam Perjanjian Baru, karena Kristus datang ke dunia, wujud yang tidak berubah itu menampakkan diri di dalam dunia yang berubah untuk memberi jaminan. Yesus Kristus berkata, “Kamu percaya kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yesus Kristus kemarin, hari ini, sampai selama-lamanya tidak berubah.

Dalam sejarah permobilan, ada satu pabrik yang berani mengatakan untuk tidak akan merubah design produknya. Kelihatannya sombong sekali. Memang designernya adalah designer Porsche, mobil sport yang terbaik mesinnya di seluruh dunia. Mobil yang dimaksud tidak akan berubah designnya adalah mobil beetle dari Volkswagen. Memang mobil itu bentuknya lucu dan bagus sekali, klasik. Mobil ini dibuat atas perintah Hitler yang melarang produksi mobil yang menggunakan radiator. Ini karena Hitler memerlukan mobil yang bisa digunakan di padang gurun Sahara, tempat yang tidak ada air. Sebenarnya ini mustahil. Kalau tidak menggunakan radiator mesinnya akan menjadi panas dan meledak. Namun kemudian mereka berhasil membuat Volkswagen yang tidak menggunakan radiator tapi bisa berjalan terus dan tidak perlu menggunakan air lagi. Perancang mobil itu mengatakan tidak akan merubah desainnya. Memang setelah tiga puluh tahun lebih desain itu tidak berubah, tapi akhirnya tertumpuklah 560.000 buah mobil di Jerman yang tidak laku karena sudah terlalu ketinggalan zaman. Meskipun desainnya klasik, akhirnya mereka menyerah dan menutup pabriknya dan pindah ke Brazil. Di sana akhirnya dibuat 2 versi, yang menggunakan bensin dan satu lagi menggunakan tebu alkohol untuk menghindari polusi. Akhirnya berubah juga, bukan?

Di dunia ini tidak ada yang tidak berubah. Yang tidak pernah berubah hanya satu, yaitu Tuhan. Firman-Nya tidak berubah. Maka mengapa kita memegang tangan Tuhan? Karena Dia telah berjanji akan memimpin orang-orang yang bersandar kepada-Nya. Alkitab memberikan janji, barang siapa bersandar kepada Tuhan, dia akan dipelihara oleh Tuhan dan tidak akan goyah untuk selama-lamanya. Benarkah ada orang yang seperti itu? Goyah bukan berasal dari luar. Goyah selalu berasal dari dalam. Kalau dalamnya sudah goyah, luarnya juga ikut collaps. Tetapi Tuhan menjanjikan ketidak-goncangan dalam kerohanian seseorang sehingga kalau diluar terjadi kegoncangan, hatinya tetap berpegang kepada Tuhan. Sebab itu dikatakan, sebagaimana bukit-bukit mengelilingi Sion, demikianlah Allah mengelilingi mereka yang bersandar kepada-Nya.

Tadi pagi saya bertanya kepada diri sendiri, berdasarkan hak apa saya berkhotbah seperti ini? Dengan keberanian darimana saya menghimbau semua orang untuk bersandar kepada Tuhan? Saya berdoa dan mendapat satu jawaban, karena ini adalah firman Tuhan yang pernah dialami oleh ibu saya sendiri. Ibu saya pernah hidup mewah sekali, akhirnya diuji Tuhan dan melalui hidup yang susah sekali. Setiap pagi ia bangun jam lima, berdoa selama satu jam, lalu jam enam ia membawa kami ke bukit doa di Amoi. Jam tujuh mengantar kami ke sekolah, lalu berkerja terus hingga malam hari. Setiap hari dilalui seperti itu, kecuali hari Jum’at sore, ia berhenti bekerja. Ia pergi membawa beras dan minyak kepada orang miskin dan mengabarkan Injil. Setiap Sabtu pagi ia berpuasa, berdoa untuk lima orang anaknya yang melayani Tuhan. Setiap hari Minggu ia berpuasa untuk hamba Tuhan di seluruh dunia dan selain berbakti, ia memakai sepanjang hari itu untuk membezuk dan mendoakan orang sakit.

Saya masih ingat ketika berusia 11 tahun, sehari sebelum tahun baru, saya masih belum punya baju baru, karena ibu masih menjahit baju orang lain. Meskipun sudah membelikan kain, tapi ibu tak sempat menjahitkan karena ia harus mengerjakan semua pesanan orang. Ia membujuk saya bahwa tak memakai baju baru di tahun baru tidak apa-apa. Tapi saya ingin sekali memakai baju baru. Maka saya memotong kain dan dalam waktu tiga jam, akhirnya saya bisa menyelesaikan baju saya sendiri. Keesokan hari ibu terkejut melihat saya memakai baju baru yang saya buat sendiri. Orang mengatakan mengapa kamu pria, kok menjahit pakaian? Semua tugas laki-laki sudah saya selesaikan, apa salahnya kalau saya bisa mengerjakan pekerjaan perempuan? Semua ini saya katakan tidak ada motivasi lain kecuali membuktikan bahwa Tuhan bisa mengerjakan sesuatu kalau kita bersandar kepada-Nya. Di saat-saat kritis, Ibu saya tidak mau bersandar kepada siapa pun. Ia hanya berkata kepada Tuhan, “Aku seorang janda. Aku bersandar kepada-Mu yang berjanji menjadi Bapa bagi anak piatu dan Pembela bagi janda-janda. Saya akan menyaksikan bagi zaman ini bahwa Engkau adalah Allah yang hidup.” Akhirnya dari 8 anak, 7 pria dan 1 wanita, semuanya dididik dan dibesarkan menjadi orang yang berguna.

Sebelum ini saya bertanya-tanya, adakah hal-hal ini merupakan penghiburan yang kosong? Bukan! Ini adalah kesempatan untuk membuktikan kepada zaman ini, Dia yang kita percaya adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang sejati, Tuhan yang sudah berjanji dan tidak akan meninggalkan janji-Nya. Saya akan memberimu satu contoh sederhana, tapi saya yakin akan berkesan mendalam bagi hidupmu. Saya akan melakukan“mujizat” dengan mengangkat Alkitab, dan dalam 3 detik akan saya lepaskan, tapi Alkitab ini tidak akan terjatuh. Benar, Alkitab ini tidak terjatuh, bukan? Padahal tangan kanan saya sudah melepaskannya. Mungkin kamu katakan, “Itu mudah. Saya pun bisa lakukan, tangan kanan melepas, tapi tangan kiri segera menangkapnya. Mengapa Anda tahu tangan kiri saya menangkapnya? Karena Anda melihat tangan kiri saya melakukannya, bukan? Tapi apa jadinya kalau tangan kiri saya adalah tangan yang tidak terlihat, bukankah yang kau saksikan ini adalah mujizat? The spiritual hand is not material hand. Hand of God are invisible. Orang Kristen adalah orang yang memegang tangan Tuhan, memegang janji Tuhan, memegang firman Tuhan, bersandar kepada-Nya yang tidak berubah. Itulah artinya iman.

Kepada siapa lagi engkau akan bersandar? Sekarang ini siapa yang bisa dipercaya? Tangan siapakah yang kau pegang? Iman adalah tangan saya yang kelihatan sedang memegang tangan Allah yang tidak kelihatan. My visible hand is holding the invisible hand of my Creator, my Redeemer, my Soul-lover, my God. My Lord. Tuhan berkata, Aku tidak pernah meninggalkan engkau. Aku tidak pernah membuang engkau. Sekarang di saat semua berubah, tetaplah berkata, aku bukan memegang tangan presiden, bukan pegang tangan jendral, bukan pegang tangan pembesar, bukan pegang dollar atau yen, tapi memegang tangan Tuhan yang tidak kelihatan.
Amin.

SUMBER :
Nama Buku : Iman Dalam Masa Krisis
Sub Judul : Bab III : Berpegang Tangan Tuhan
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2010
Halaman : 43 – 56

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube