Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

BAB II :
PENGLIHATAN ROHANI

Bacaan : Yes.6:1; Mat.5:8; Mat.6:23-24; Yoh.8:56; Yoh.11:40; 2Kor.5:7; 2 Kor.4:18.

Iman berarti pengarahan rohani. Iman berarti pengembalian jiwa seseorang kepada sumber dan sasaran hidupnya. Karena Tuhan adalah Alfa dan Omega, maka kita harus kembali kepada sumber kita yang sekaligus menjadi telos kita. Ini merupakan suatu tema yang tidak habis-habis dalam seluruh kitab suci baik dari PL maupun PB. Melalui nabi dan rasul, Tuhan Allah berseru kepada umat manusia, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan menyembuhkan tanahmu. Aku akan memberikan pengampunan kepadamu, akan mengobati jiwamu, dan Aku akan membawamu kembali menjadi anak-anak-Ku.”

Manusia di dalam kelancaran dan kemudahan selalu menganggap segala anugerah Tuhan itu hanya untuk dipermainkan saja. Manusia dalam kelancaran selalu lupa siapakah Tuhan yang seharusnya menjadi sumber kita, yang kita harus tunduk kepada-Nya. Itu sebab kekayaan, kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan yang sementara selalu mengakibatkan “ketiduran” rohani orang-orang Kristen dan membawa kita jauh keluar dari jalur yang seharusnya tanpa kita sadari.

Kapanklah telinga kita terbuka? Kapankah hati kita tersadar? Kapankah langkah kita berubah dan terarah kepada Tuhan kecuali kadang-kadang Tuhan memberikan kesengsaraan dan penderitaan kepada kita? Mimpi-mimpi kekayaan kosong sudah berlalu. Berapa banyak konglomerat baru sadar bahwa kepandaian, uang, pengalaman, kehebatan berusaha, itu hanya menghasilkan kekecewaan belaka. Inilah zaman Indonesia sekarang. Orang yang paling kaya bukan saja tidak mungkin menolong orang lain, bahkan menolong diri sendiri pun sudah kewalahan. Kapankah engkau mau terus tidur? Bukankah ini zamannya kita bangun dan berkata, “Demi nama-Mu ya Tuhan, Engkau menyegarkan jiwaku dan membawa aku kembali ke jalur yang benar. Bukan karena kebaikanku, tapi karena nama-Mu, demi nama-Mu yang kudus, Tuhan bangunkanlah aku kembali kepada-Mu.”

Hal yang kedua dalam iman kepercayaan, iman bukan saja arah rohani, iman juga penglihatan rohani. Apa yang kau lihat dari kedua mata jasmanimu itu tidak penting, tetapi apa yang kau lihat melalui jiwamu dalam kekekalan, itulah yang penting! Yesus Kristus berkata, “Jika matamu gelap, seluruh hidupmu akan gelap gulita. Bagaimanakah jika matamu yang gelap berada di dalam kegelapan, betapa gelapnya keadaan seluruh hidupmu.” Waktu Yesus mengatakan kalimat ini, Ia berkata kepada orang Farisi yang menganggap diri sudah mempunyai Taurat, yang menganggap diri sudah mengenal kehendak Tuhan, yang menganggap diri lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Yesus berkata, “Jika mata fisikmu gelap, seluruh tubuhmu gelap. Apalagi kalau mata rohanimu itu gelap.” Mata rohani, apakah artinya? Itu berarti iman di dalam diri seseorang di hadapan Tuhan Allah.

Semua agama mempunyai pengertian bahwa apa yang dilihat oleh mata luar tidak penting, tetapi mata di dalam lebih penting. Hinduisme mempunyai suatu pengertian, pada waktu otak manusia, hati manusia, dan mata itu menjadi satu garis, ia akan menembus dan akan mengerti kebenaran alam semesta. Mata di luar itu tidak penting. Itu sebab orang India membuat satu berlian dan menaruhnya di dahi, untuk membuktikan ada satu mata di tengah, mata di dalam jiwa yang mempunyai cahaya lebih penting daripada mata di luar.

Tetapi mata itu di mana? Yesus memberikan janji, barangsiapa yang bersih hatinya ia akan melihat Tuhan. Blessed are those who are pure hearted because they will see God. Apa gunanya kalau kita terus dengar khotbah setiap minggu tetapi hati kita, mata rohani kita, diliputi oleh keinginan uang saja. Engkau ikut kebaktian hanya untuk bertemu orang-orang kaya untuk membicarakan perdagangan dengan mereka. Engkau ikut kebaktian hanya untuk mendapatkan isi khotbah yang baik supaya kalau bersaksi di lain tempat mempunyai bahan. Engkau ikut kebaktian hanya untuk mengecek orang ini suka dengan Stephen Tong atau tidak. Apa gunanya engkau datang kebaktian? Engkau datang berbakti adalah menanti firman Tuhan. Engkau datang berbakti adalah membuka hatimu supaya mendapatkan isi yang boleh memberikan kekuatan baru untuk bersaksi bagi Tuhan di dalam dunia ini.

Apakah di dalam kebaktian engkau berjumpa dengan Tuhan? Setiap kali mendengar khotbah, sudahkah engkau bertemu dengan Allahmu? Setiap kali mendengar firman yang penting-penting, sudahkah engkau melihat nilai rohani yang terkandung di dalamnya? Kita perlu suatu penglihatan, bukan suatu penglihatan di luar, tetapi penglihatan di dalam. The spiritual vision, the spiritual seeing, that is faith.

Di dalam bahasa Inggris pengertian dan lihat itu menjadi satu. Jadi saat kau menjelaskan sesuatu kepada seseorang, ia lalu mengatakan, “I see” engkau tidak perlu bertanya “What do you see now?” karena saat ia mengatakan “I see” tidak berarti aku lihat sesuatu yang baru, melainkan “I see a problem, I understand the matter in my heart.” Di situ “see” dan “understanding” sudah menjadi satu. Ini arti dari Alkitab juga: orang yang melihat Tuhan, ia mengerti apa yang dikerjakan Tuhan. Orang yang hati nuraninya telah melihat, memandang dan mengerti apa yang dikerjakan Tuhan, dia tidak lagi bertanya “mengapa” kepada Tuhan. Seperti Martin Luther mengatakan, “In the heart of believer, there is no ‘why’ to ask to God.” Engkau tidak perlu bertanya ‘mengapa’ karena engkau selalu melihat yang dikerjakan Tuhan itu baik adanya.

Dua hari ini saya melihat situasi di Indonesia, hati saya tidak bisa mengerti. Waktu Soeharto berpidato, bisa berdiri 1 jam 20 menit, mungkin supaya diketahui masyarakat bahwa kesehatannya sudah membaik, diperkirakan dollar akan turun, ternyata tidak. Setelah ia berdiri 1 jam 20 menit, besoknya dollar naik lagi. Lalu kita tunggu IMF datang untuk memberikan bantuan kepada Indonesia. Setelah IMF memberikan bantuan, saya kira dollar akan turun, ternyata tetap naik lagi. Mau apa ini?

Dalam beberapa hari ini saya terus berpikir, sebenarnya kesulitan ini mengajar apa kepada kita? Sebenarnya krisis ini memberi kesadaran apa kepada kita? Di dalam krisis dan kesulitan, Tuhan sebenarnya mau bicara apa? Lalu saya mendapatkan kesimpulan kemarin pagi, bahwa kesulitan-kesulitan melanda Indonesia sekarang ini mengena kepada semua lapisan. Orang-orang kaya kena, orang kelas menengah kena, orang miskin kena. Semua orang kena.

Kesulitan ini mau mengajarkan apa kepada kita? Apa maksud Tuhan? Akhirnya saya mendapat satu kesimpulan, selama 15 tahun terakhir ini terlalu sedikit pemuda-pemudi bermutu yang mau menjadi hamba Tuhan. Selama 15 tahun terakhir, pemuda-pemudi yang berkata dengan tangisan, “Tuhan, saya mau menjadi hamba-Mu,” kembali lagi berdagang. “Tuhan, saya mau menjadi hamba-Mu”, akhirnya pergi ke dunia usaha. Karena apa? Menjadi hamba Tuhan itu miskin, menjadi pengusaha bisa kaya. Kredit gampang untuk mengembangkan karier dengan uang yang banyak. Kalau engkau miskin, bisa mendapat isteri macam apa? Kalau uangmu banyak, bisa mendapat gadis-gadis yang suka sekali kepada orang kaya. Inilah 15 tahun terakhir, secara penilaian nilai, the evaluation of value, axiology kekristenan sudah merosot sekali. Kurang sekali orang berbobot, bermutu, menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Jadi Tuhan mungkin melalui krisis ekonomi ini memberikan suatu kesadaran, “Hai manusia, ketahuilah uang bukan allah. Uang tak bisa disandari. Kembalilah kepada-Ku dan kerjakan apa yang Kutunjuk dan Kutetapkan di dalam kekekalan bagimu bertugas di zaman krisis ini.”

Selain return to God, kita perlu melihat Dia dari sedalam-dalamnya hati kita yang takut kepada Dia, yang berbakti kepada Dia. Begitu gampang menjadi orang Kristen di negara Pancasila. Begitu gampang mengikuti Tuhan di dalam keadaan yang mendukung agama. Begitu gampang menjadi orang yang melupakan Tuhan juga di dalam zaman dan masyarakat yang mementingkan uang. Engkau boleh memikirkan tak usah pergi mengabarkan Injil. Cari uang dan dengan uang mendukung pekerjaan Tuhan sudah cukup. Ketahuilah, Tuhan mau hatimu, lebih daripada uangmu. Tetapi engkau tidak pernah menjalankan itu karena engkau belum melihat kehendak Tuhan. Belum melihat jelas, belum melihat dengan tuntas apa yang sebenarnya Tuhan mau.

Mari sekarang kita memikirkan istilah “lihat” dan paradoks yang terkandung dari istilah ini. Tuhan yang menciptakan hal-hal yang paling penting, toh menciptakan juga hal-hal yang kita anggap paling remeh dan tidak penting seperti debu. Namun, debu yang begitu kecil pun masih bisa dilihat, tapi Tuhan yang maha besar tak bisa dilihat. Bukankah ini ironis? Apa gunanya mata? Mata itu merupakan kemungkinan potensi untuk mengamat, melihat, mengerti, sesudah itu baru bisa bereksperimen, baru bisa memikirkan lebih lanjut segala sesuatu yang diamati, yang dimengerti atau yang dilihat. Tetapi mata ini telah diciptakan sebagai sesuatu yang paling ironis.

Seorang sastrawan dari New England, Amerika di abad 19 bernama Ralph Emerson mengatakan, “The greatest irony to eye is eye can see so many thing, but eye can not see itself.” Mata boleh melihat segala sesuatu tapi mata tak pernah bisa melihat mata itu sendiri. Apa matamu pernah melihat matamu sendiri? Engkau hanya melihat bayang-bayangnya yang terbalik di belakang kaca. Mata tak pernah mungkin melihat mata sendiri. Bahkan mata melihat mata yang lain, mata kanan melihat mata kiri, atau mata kiri melihat mata kanan, itu pun tidak mungkin. Waktu mata kirimu melihat ke kanan, si mata kanan akan bergeser ke kanan lagi. Inilah ironi yang paling besar: mata dapat melihat segala sesuatu tetapi mata tak pernah mungkin melihat diri sendiri.

Bukan saja demikian. Untuk menciptakan kemungkinan mata melihat, Tuhan Allah harus menciptakan sesuatu yang dibutuhkan manusia yang tak mungkin dilihat tetapi ada, yaitu udara. Ini ironi yang kedua. Udara itu ada. Udara itu mutlak dibutuhkan, tapi udara tak bisa dilihat. Justru agar engkau bisa melihat orang lain, maka udara yang memisahkan engkau dengan orang lain di tengah matamu dan mata orang lain itu tak boleh dilihat supaya mata bisa melihat obyek lain. Jikalau udara bisa dilihat, maka kita semua setiap hari hanya melihat udara, kita tak bisa melihat anak-anak kita, orangtua kita, isteri atau suami kita, tak bisa melihat apa-apa yang lain karena udara yang bisa dilihat akan menghalangi pandangan kita.

Banyak ironi-ironi seperti ini. Yang adalah materi tidak bisa dilihat, itu udara. Yang mungkin bukan materi, namun bisa dilihat, namanya cahaya. Cahaya itu materikah? Jika cahaya itu materi, mengapa tidak bisa ditimbang beratnya? Jika cahaya itu bukan materi, mengapa ada kecepatan cahaya yang dapat dihitung beberapa ratus ribu km/detik. Cahaya jika bisa dilihat, mengapa tidak ada beratnya? Kenapa ia tidak ada ukurannya? Kalau cahaya bukan materi, mengapa cahaya bisa dilihat? Materi yang disebut udara tidak bisa dilihat, terang yang supra-material justru bisa dilihat. Ini cara Allah bekerja dengan begitu banyak paradoks di dalamnya sehingga engkau harus memikirkan lebih dalam apa arti “melihat”.

Di dalam sejarah ilmu beberapa abad terakhir ini, vibration theory, emission theory, particle theory, dsbnya telah menjajah pikiran manusia. Baik Isaac Newton, Hygene, Faucolt, Albert Einstein, Heissenberg hingga Stephen Hawking, semuanya berbicara tentang cahaya yang bisa dilihat, tetapi tidak ada jawaban mutlak apa itu cahaya.

Alkitab berkata kepada kita, “God is Light” Allah itu cahaya. Sebagaimanba Allah itu adalah kasih, Allah adalah hidup dan Allah adalah cahaya. Ketiga hal ini kebetulan dalam bahasa Inggris semua dimulai dengan huruf L : God is Light, God is Love, God is Life. Dan yang paling sulit dimengerti adalah Light, cahaya itu. Waktu kita bicara tentang cahaya, selalu kita berbicara tentang cahaya yang bisa dilihat oleh kedua mata kita ini. Tetapi kitab suci selalu membicarakan cahaya Allah yang jauh lebih daripada kemungkinan kita melihat. Itulah sebabnya di dalam Westminster Confession dikatakan, “The nature light is not adequate.” Cahaya natural tidak cukup. Kita membutuhkan cahaya supra-natural, cahaya special revelation, yaitu firman Tuhan, firman yang diwahyukan Tuhan. Dan Kristus adalah cahaya yang besar di dalam dunia ini.

…bersambung

 

SUMBER :
Nama buku : Iman Dalam Masa Krisis
Sub judul : Penglihatan Rohani
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Momentum , 2010
Halaman : 26 – 41
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube