Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

BAB 5 :

CARA ROH KUDUS MEMIMPIN

PIMPINAN ROH KUDUS DAN FIRMAN ALLAH

Roh Kudus menjadi pendamping, penolong, penghibur, dan pendoa syafaat yang diam di dalam Saudara. Dia memimpin Saudara tetapi bagaimana caranya? Ada orang yang berkata, “Saya mau dipimpin Roh Kudus, nanti saya bermimpi dan Dia memberi tahu kehendak-Nya.” Atau, “Saya mau dipimpin oleh Roh Kudus sampai ada perasaan hati yang begitu jelas.” Banyak orang yang mau dipimpin Roh Kudus kalau Tuhan masuk ke dalam rumahnya, lalu dengan suara keras memberitahu dia.

Di dalam Alkitab memang ada tercantum bahwa Tuhan memimpin seseorang melalui berkata-kata, mujizat, mimpi, nubuat, atau melalui nabi-nabi. Tuhan sampai saat ini memang masih mungkin melakukan hal-hal itu. Tetapi itu bukan prinsip satu-satunya sehingga kita harus menuntutnya. Jangan Saudara meniru-niru Gideon yang meminta tanda dengan bulu domba (Hakim-Hakim 6:36-40). Kalau dulu memakai cara undi, maka Saudara jangan coba-coba untuk menirunya. Jangan Saudara main buka Alkitab dan asal menunjuk untuk mengetahui kehendak Tuhan. Ada orang yang mau cari pimpinan Tuhan lalu main buka Alkitab dan asal tunjuk, ternyata adalah Matius 27:5, “Maka Yudas pergi menggantung diri.” Lalu ia berkata kepada Tuhan, “Wah yang ini tidak cocok bagiku, sekali lagi ya Tuhan.” Tuhan tidak memakai cara demikian untuk memimpin Saudara. Ia memang memimpin seseorang dengan Firman. Tetapi Firman itu harus dibaca, direnungkan, dipelajari, dan dimengerti, diinterpretasikan secara benar.

Saya telah menggarap tahap yang pertama, yaitu menggali Alkitab dengan saksama dan memberikan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab kepada Saudara. Tetapi itu belum cukup. Saudara sendiri juga harus menggali. Selain mendapat prinsip-prinsip itu dari saya, Saudara sendiri juga harus menemukan, menggali dan merenungkan, dan bisa memperbandingkannya dengan pikiran dari penafsir-penafsir besar. Saya menganjurkan agar setiap gereja memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku yang baik dan berbobot. Saya juga menganjurkan setiap persekutuan kampus, kelompok pemahaman Alkitab untuk memiliki buku-buku tafsiran, buku-buku theologi sistematika, buku-buku apologetika, dan buku-buku misi dan penginjilan yang berbobot.

Ketika Saudara mendapatkan kesulitan di dalam penafsiran masing-masing tidak mengatakan bahwa ia mendapat pimpinan Roh Kudus, dan yang lain juga mengklaim hal yang sama, tetapi tafsiran mereka berbeda sehingga akhirnya mulai cekcok. Dengan buku-buku yang baik kita bisa kembali kepada ajaran yang benar. Semua ini karena Roh Kudus memimpin manusia dengan cara mencerahkan Firman. Jika Firman hanya dihafalkan agar bisa mendapat hadiah atau untuk pertandingan cerdas cermat, maka Alkitab tidak memberikan makna yang dalam. Tetapi jika Firman itu dibaca dengan kerendahan hati, mau taat, dan mau mengerti Firman, di bawah pimpinan Roh Kudus, maka Firman itu akan bercahaya.

Menjadi orang benar adalah menjadi orang yang sungguh-sungguh mau menjalankan Firman. Mungkin ada orang yang berkata, “Jika Firman itu jelas pasti akan saya jalankan, tetapi kalau tidak jelas, bagaimana?” Misalnya, jangan membunuh atau jangan mencuri. Ini perintah yang jelas. Tetapi bagaimana jika kita berada di dalam situasi perang? Di dalam Alkitab tidak pernah mengatakan tidak boleh perang, tetapi di dalam peperangan harus membunuh. Jadi bagaimana? Hal ini ada di dalam wilayah etika Kristen yang perlu didukung dengan penyelidikan yang baik. Sebenarnya untuk hal-hal seperti itu sudah ada prinsip-prinsip tertentu yang telah disisipkan di dalam Alkitab yang perlu kita gali dengan baik. Misalnya, di dalam peperangan yang agresif, di mana kita menjajah bangsa lain, membunuh orang lain yang tidak bersalah, itu berdosa.

Martin Luther berkata, “Di dalam peperangan yang sedemikian, sebagai orang Kristen yang tidak mau melawan Tuhan dan hati nurani yang taat kepada Tuhan, silahkan tidak ikut perang.” Meskipun pemerintah memerintahkan Saudara ikut perang, Saudara harus menolak karena Saudara tahu itu hal yang salah, merupakan tindakan agresi, maka lebih baik Saudara dipenjarakan oleh pemerintah Saudara sendiri daripada Saudara pergi dan membunuh orang lain. Tetapi Martin Luther juga berkata, “Sebaliknya, jika negaramu dijajah orang lain, lalu engkau berjuang untuk membasmi kejahatan penjajah, membela negaramu, membela rakyat negaramu yang dijajah dan tidak bersalah, sampai harus mati pun silahkan engkau berperang. Dan jika di dalam peperangan sedemikian harus ada orang yang terbunuh, engkau melakukan itu bukan demi membunuh, tetapi demi membasmi kejahatan, maka Tuhan akan campur tangan dalam hal itu.” Prinsip-prinsip etika seperti ini tidak secara mudah dapat kita katakan Tuhan memimpin saya lalu saya memutuskan. Kita harus mendapatkan prinsip Alkitab tentang bagaimana Tuhan memimpin.

Tuhan memimpin Saudara dengan Firman dan prinsip Firman. Alkitab tidak perlu mengatakan banyak hal karena memang sudah ada prinsip-prinsip Alkitab yang cukup untuk membangun etika Kristen di dalam pimpinan Tuhan. Kita menemukan ada tiga prinsip yang paling mendasar, yaitu: (1) apakah memuliakan Tuhan atau tidak; (2) apakah hal itu menjadi berkat bagi orang lain, atau malah merugikan orang lain; dan (3) apakah hal itu akan mengikat saya di dalam dosa atau tidak. Dengan tiga prinsip dasar ini, kita harus memastikan dulu semua hal yang akan kita kerjakan. Kalau ketiga hal tersebut secara keseluruhan sudah dipenuhi, maka kita bisa mengerjakan hal itu, tetapi jika salah satu darinya tidak terpenuhi, maka kita tidak berhak melakukannya.

PIMPINAN ROH KUDUS DAN RENCANA ALLAH

Roh Kudus memimpin seseorang supaya orang itu masuk kembali kepada rencana kekal Allah. Ada rencana Allah yang sama untuk setiap orang, namun pimpinan Allah untuk setiap orang mungkin berbeda. Misalnya, Allah mau kita mengabarkan Injil, maka tugas ini sama untuk setiap orang Kristen. Setiap orang Kristen di dalam menjalankan kehendak Allah harus mengabarkan Injil. Tetapi pimpinan Tuhan atas setiap pribadi orang Kristen itu berbeda. Maka ada orang-orang Kristen yang dipimpin untuk menjadi pendeta, penginjil. Atau ada orang Kristen yang dipimpin menjadi orang Kristen biasa yang bukan pendeta dan penginjil. Jadi pimpinan Roh Kudus atas pribadi berbeda-beda, tetapi sama di dalam menjalankan rencana Allah.

Pimpinan Roh Kudus adalah kehendak Tuhan terjadi atas setiap pribadi, dan pribadi ini masuk ke dalam kehendak Allah yang tidak berubah. Mereka yang menjadi hamba Tuhan juga dipimpin secara berbeda pula. Ada yang dipimpin ke kota besar untuk berkhotbah kepada ratusan bahkan ribuan orang, ada juga yang dipimpin ke suatu desa kecil untuk menggembalakan jemaat yang kecil dengan setia, sampai mati di tempat itu. Ada yang dipimpin Tuhan sampai ia mengalami hidup yang dapat dikatakan lancar tanpa kesulitan yang berarti. Tetapi ada juga hamba Tuhan yang dipimpin sampai dipenjarakan, dianiaya, dan mengalami berbagai siksaan untuk menyatakan kesetiaannya.

Semua hal itu tidak menunjukkan bahwa orang yang berkhotbah kepada ribuan orang lebih sukses daripada mereka yang masuk ke penjara. Ini disebabkan karena pimpinan Tuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu hamba Tuhan yang lancar, yang kaya dan gajinya besar di kota besar, tidak boleh menganggap hamba Tuhan yang di kota kecil atau di pulau terpencil dengan gaji kecil adalah hamba Tuhan yang kecil. Kita tidak tahu mana yang besar dan mana yang kecil. Tuhan mengetahui semua itu. Menurut ukuran Tuhan, orang yang seharusnya mencapai seratus ribu tetapi hanya mencapai sembilan puluh ribu, dia dianggap kecil. Tetapi menurut ukuran Tuhan, seseorang yang kemampuannya hanya mencapai sepuluh orang tetapi dia bisa mencapai dua belas orang, ia dianggap besar. Jadi di hadapan Tuhan tidak ada seorang pun hamba Tuhan yang bisa membanggakan diri. Berdasarkan hal inilah kita tidak pernah boleh berhenti dan puas diri, melainkan harus terus mengejar sampai menyenangkan hati Tuhan.

Pimpinan Tuhan atas setiap pribadi berbeda, oleh sebab itu janganlah Saudara membenci orang lain, jangan iri hari kepada orang lain atau menghina mereka. Kalau kita menghina orang lain karena bakatnya kecil, itu tidak beralasan, karena bakat yang banyak pada diri kita bukan milik kita tetapi pemberian Tuhan. Bakat besar bukan berarti kita boleh berbangga atau menjadi congkak dan boleh mencuri kemuliaan Tuhan; sebaliknya bakat yang besar diberikan agar kita bekerja lebih besar daripada yang lain, dan kelak akan dihakimi apakah telah mengerjakan porsi yang telah diberikan kepada kita. Itulah sebabnya, Saudara yang memiliki bakat dan karunia yang lebih besar harus lebih gentar, karena Saudara akan menerima hukuman yang lebih berat jika bakat tersebut tidak digunakan sesuai dengan kehendak Allah.

Dengan cara demikianlah kita akan mengerti pimpinan Tuhan, dan hidup kita akan semakin dinamis. Begitu banyak orang yang setelah sukses mulai menjadi kendur dan berhenti. Hal sedemikian mirip dengan kisah yang diceritakan Aesop tentang pertandingan kelinci dan kura-kura. Saudara yang tidak mempunyai bakat besar atau tidak sekolah theologia atau hanya melayani secara awam, jangan menjadi kecil hati. Jika Saudara mengerjakan itu dengan setia, terus bersandar pada pimpinan Roh Kudus, maka di dalam kesetiaan itu Saudara akan dihargai oleh Tuhan. Barangsiapa yang memiliki kesempatan dan bakat yang besar, jangan menjadi sombong, karena menurut ukuran Tuhan mungkin sekali ia belum mencapai apa yangTuhan tuntut kepadanya, sehingga kelak ia akan dihukum oleh Tuhan. Ia harus berhati-hati. Ada orang yang dipimpin untuk menikah dan memiliki anak banyak, ada orang yang mengabarkan Injil seumur hidup dan tidak menikah. Pimpinan Tuhan berbeda-beda untuk setiap orang. Orang yang mempunyai anak banyak bisa tetap bekerja, yang tidak mempunyai anak juga tidak kelebihan waktu. Mereka yang memiliki anak banyak tidak perlu iri hati kepada mereka yang tidak mempunyai anak, dan juga sebaliknya.

Hal ini saya pelajari dari dua tokoh musik besar yaitu Johann Sebastian Bach (1685-1750) dan Georg Friedrich Handel (1685-1759). Bach mempunyai 20 anak dari dua istrinya. Isteri pertamanya seorang yang begitu baik. Bach bisa menggubah begitu banyak musik karena semua hal diurus oleh isterinya. Setelah isterinya meninggal, kemudian Bach menikah lagi, dan dari isteri kedua kembali ia mendapatkan banyak anak. Isteri kedua ini yang kemudian mengumpulkan dan mengatur karya-karya Bach sehingga kita bisa menikmati lebih dari 200 kantata gubahan Bach pada hari ini. Sebaliknya Handel yang tidak menikah seumur hidup menakai seluruh waktunya untuk menggubah musik. Terrnyata, karya Handel dan Bach hampir sama banyaknya. Kita perlu belajar bahwa bagi kita tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita sudah terlalu repot. Jangan kita seringkali mengomel untuk hal-hal yang Tuhan perkenankan kita alami dan miliki. Nikmatilah pimpinan Tuhan.

Pimpinan Tuhan harus selalu kita tanggapi dengan sikap optimisme dan sukacita. Pimpinan Tuhan tidak salah. Ada orang yang sejak lahir sudah sedemikian cantik. Itu adalah kebahagiaan baginya, tetapi sekaligus bahaya. Mereka yang cantik seringkali tidak bisa belajar karena terlalu lama berdiri di depan kaca. Wanita yang wajahnya tidak cantik juga akan lebih aman daripada mereka yang cantik. Jangan kita iri hati. Tuhan memimpin setiap orang secara berbeda-beda. Jika Saudara kaya, pujilah Tuhan; jika miskin pujilah Tuhan. Mereka yang kaya harus selalu bertanya uangnya dari mana dan akan digunakan untuk apa. Jika ia mendapatkan banyak uang secara benar, ia harus meminta pimpinan Tuhan akan digunakan untuk apa uang tersebut. Orang kaya tidak boleh berbuat semaunya sendiri karena ia pun berada di bawah pengawasan Tuhan. Orang miskin juga sedang diuji kesetiaannya oleh Tuhan. Mereka yang tetap setia akan diberkati, tetapi jika mereka menolak pimpinan Tuhan dan memakai kemiskinannya sebagai alasan untuk mencuri, merampok, dan sebagainya, Tuhan akan menghukumnya.

PIMPINAN ROH KUDUS DAN KEHENDAK MANUSIA

Mungkinkah pimpinan Tuhan berlawanan dengan kehendak manusia? Mungkin! Justru seringkali pimpinan Tuhan berbeda dari kehendak kita, dan itu sebabnya disebut “pimpinan” Tuhan. Kalau semuanya sama dengan keinginan Saudara, itu bukanlah “pimpinan Tuhan” tetapi “panutan seorang pembantu.” Begitu banyak orang menyebut nama Tuhan tetapi hatinya menginginkan Tuhan menjadi pembantunya. Orang-orang demikian tidak ingin taat kepada pimpinan Tuhan, tetapi hanya mau meminta Tuhan taat kepadanya. Itu sikap yang kurang ajar. Tuhan tidak akan mau diperintah oleh Saudara. Tuhan tidak akan membiarkan diri-Nya dieksploitasi oeh Saudara. Dia adalah Tuhan, maka semua manusialah yang harus mengikuti-Nya, bukan sebaliknya.

Kalau Saudara mengerti istilah “pimpinan Roh Kudus,” maka Saudara harus mempersiapkan suatu sikap mental yang berkata, “Tuhan, Engkaulah Tuhanku, aku akan selalu menuruti pimpinan-Mu. Kalau pimpinan-Mu berbeda dari kehendakku, itu hal yang wajar karena kehendakku seringkali tidak beres. Pikirankulah yang selalu tidak beres, dan tidak mungkin pikiran-Mu yang tidak beres. Tidak mungkin emosi-Mu dan kehendak-Mu yang tidak beres, pasti kemungkinan ketidak-beresan ada padaku.” Itulah sebabnya, kita harus selalu menaklukkan kehendak kita di bawah kehendak Allah.

Doa Yesus Kristus di Getsemani merupakan titik kritis yang sangat paradoks. Ini merupakan peristiwa besar yang sangat baik menjadi ajang pendidikan bagi setiap manusia. Sebagai Anak yang taat, yang diutus, menghadapi momen yang begitu bahaya, menghadapi kematian di kayu salib, Dia berkata, “Ya Bapa, jikalau mungkin, singkirkan cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Biarlah kehendak Allkah terjadi. Itulah puncak doa.

Saat ini begitu banyak yang berdoa mati-matian meminta agar Tuhan mengikuti kehendaknya. Doa sedemikian akan mengakibatkan Tuhan marah karena Saudara tidak memperlakukan Dia sebagai Tuhan. Dengan berbuat demikian, Saudara telah bersikap kurang ajar dan biadab di hadapan Pencipta Saudara. Jangan berbuat demikian. Tuhan tidak ingin satu orang pun mempermainkan Dia. Kalau doa kita sedang mengeksploitasi dan memperalat Tuhan, maka kita bukan sedang berdoa tetapi sedang berdosa di hadapan Tuhan. Hentikanlah semua doa yang bersifat dosa. Mulailah belajar untuk memiliki sikap yang taat dan mau dipimpin oleh Roh Kudus. Untuk itu kita perlu menyangkal diri (Matius 16:24).

Ajaran tentang penyangkalan diri paling jelas dan paling tuntas diajarkan dalam Kekristenan. Konsep ini sedemikian dalam dan kuat diajarkan oleh Kekristenan dan tidak terdapat di dalam ajaran lain. Namun, apakah penyangkalan diri itu? Apakah ketika kita menyangkal diri sendiri, diri kita masih ada? Kalau masih ada, lalu diri mana yang disangkal?

Penyangkan diri adalah penyarahan diri dan pembuangan diri sehingga kita menolak keinginan diri yang berlawanan dengan kehendak Allah. Penyangkalan diri bukan berarti menghilangkan hal diri sendiri atau menghina atau merendahkan diri kita sendiri. Penyangkalan diri juga bukan berarti kita menjadi orang yang tidak memiliki bakat atau harga diri lagi. Namun, bagaimana kita menghadapi diri atas pekerjaan Tuhan yang telah menggerakkan diri sehingga kita bisa secara tepat memperlakukan diri. Sebenarnya seluruh psikologi sampai hari ini belum ada satu pun yang lebih tuntas dan lebih fokus dan tajam menyatakan kemenangan hidup dibandingkan dengan ayat ini. Ayat ini dengan jelas menekankan bahwa mereka yang mau menjadi murid Kristus harus menyangkal diri, memikul salib, serta mengikut Yesus.

Fakta penyangkalan diri paling jelas terlihat dalam doa Yesus di Getsemani (Matius 26:39-42). Di dalam ayat itu kita melihat bahwa baik kehendak Pribadi Pertama maupun Pribadi Kedua memiliki eksistensi masing-masing. Allah Bapa dan Allah Anak adalah Pribadi yang berbeda. Tetapi pada saat bekerja sama untuk menjadi teladan dan contoh bagi seluruh komunitas hidup di dunia ini. Yesus Kristus menyatakan suatu syarat kooperasi. Syarat kooperasi ini haruslah menjadi teladan bagi segala zaman yaitu penyangkalan diri sehingga kehendak Allah bisa terjadi. Bukan kehendak manusia yang terjadi, tetapi kehendak Allah.

Itulah rahasia kemenangan iman orang Kristen. Inilah tujuan pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus memimpin pikiran kita agar kembali kepada firman Tuhan, memimpin emosi kita agar kembali kepada kasih Allah, dan memimpin kehendak kita agar kembali kepada kehendak Allah.

Amin.
SUMBER :
Nama buku : Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus
Sub Judul : Bab 5 : Cara Roh Kudus Memimpin
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 67 – 76
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube