Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

BAB 2 : SIAPAKAH YANG MENERIMA DAN DIPIMPIN ROH KUDUS

MENERIMA KESAKSIAN INJIL

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.” (Kisah Para Rasul 5:31-32)

Ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa Roh Kudus diberikan kepada mereka yang taat pada kesaksian Injil tentang karya penyelamatan Yesus Kristus yang telah Ia kerjakan dalam sejarah dan karena Roh Kudus telah bekerja di dalam hatinya. Pada saat seseorang bersaksi bagi Injil Kristus, baik oleh seorang hamba Tuhan atau oleh orang Kristen awam, Roh Kudus akan bersaksi bersama-sama dengan dia; tetapi mungkin juga Roh Kudus tidak mau turut bersaksi bersama dengan dia. Mengapa ada perbedaan seperti itu? Kuncinya adalah ketaatan. Roh Kudus diberikan kepada seorang yang taat. Karena itu, jika seseorang yang mengabarkan Injil mempunyai jiwa yang betul-betul taat kepada Tuhan Allah, tidak mungkin Roh Kudus tidak bersaksi bersamanya. Ini karena Roh itu diberikan kepada orang yang taat. Hal ini merupakan jaminan atas pekerjaan yanga kan diberikan oleh Tuhan.

Kita yang melayani Tuhan, akan celaka sekali jika kita hanya bekerja keras, membanting tulang, tetapi Tuhan tidak menyertai. Kalau Tuhan tidak menyertai, pendeta yang paling besar pun akan menjadi kosong. Kalau Tuhan menyertai, anak kecil bisa memiliki kuasa yang besar. Jangan Saudara bangga karena berbagai gelar yang Saudara miliki, atau banyaknya pengalaman yang ada pada Saudara, atau mempunyai banyak karunia yang besar. Kita harus senantiasa mengoreksi diri di hadapan Tuhan, apakah kita jujur dan taat kepada Tuhan. Pada saat saya bersaksi bagi Tuhan, apakah saya bersaksi derngan sungguh-sungguh taat kepada pimpinan Tuhan atau tidak. Jika saya sungguh-sungguh taat kepada pimpinan Roh Kudus, tidak mungkin Roh Kudus membiarkan saya bersaksi sendiri karena tugas bersaksi juga adalah tugas Roh Kudus. (Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab berikut).

Tetapi ayat ini juga mengandung aspek yang lain. Petrus berkata, bahwa ia bersaksi untuk hal-hal tersebut. Apakah itu? Hal ini diutarakan di ayat-ayat sebelumnya, yaitu Kristus mati di kayu salib, mencurahkan darah untuk menebus orang berdosa, dan akhirnya bangkit dari kematian. Itulah yang Petrus dan para rasul saksikan. Pada saat mereka bersaksi tentang Kristus yang mati dam bangkit, ketaatan mereka mengakibatkan Roh Kudus bekerja bersama kesaksian itu, sehingga orang-orang yang mendengar kesaksian itu tidak sekadar melihat hamba Tuhan yang berdiri di situ, tetapi melihat hamba Tuhan itu diberkati, diurapi, disertai oleh Roh Kudus; dan Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan mereka yang merupakan saksi ganda.

Saksi ganda memiliki kekuatan yang besar, karena Allah terlibat di dalamnya. Kita adalah manusia yang lemah, tetapi jika kita yang lemah didampingi oleh kuasa Allah yang kuat, maka tidak ada orang yang bisa melawan. Mereka bisa membenci, iri hati atau menggeser kita, tetapi mereka tidak bisa melawan karena kesaksian itu disertai Roh Kudus. Setelah mendengar, mereka harus berespons kepada Tuhan. Pada waktu anugerah dan firman diberikan kepada seseorang, Tuhan menuntut orang yang menerima anugerah dan Firman itu harus berespons dua hal itu, sehingga bisa memberikan respons yang tepat.

Jika Saudara yang mendengar Firman lalu menganggap sepi, setelah berulang kali, Roh Kudus akan membiarkan Saudara menganggap diri benar, sehingga dengan cara Saudara menghina kebaktian dan Firman, Saudara mengonfirmasikan untuk tersisih dari kemungkinan mendengarkan Firman Tuhan. Harap Saudara tidak main-main dengan hal ini. Jika Saudara mendapat kesempatan mendengarkan firman, apalagi pemberitaan Firman yang disampaikan dengan tulus, jujur, setia, dan betul-betul taat kepada Tuhan, tetapi Saudara meremehkannya, maka bukannya Saudara yang menang, tetapi Tuhan justru membiarkan dan memperbolehkan Saudara meremehkan Dia beberapa kali untuk kemudian mengucilkan Saudara keluar dari anugerah-Nya.

Ini merupakan kecelakaan yang besar. Jika Tuhan ingin melepaskan Saudara dari anugerah-Nya, caranya sangat mudah, cukup dengan membiarkan Saudara menghina Dia. Ini suatu paradoks yang sangat besar dan begitu menakutkan, tetapi banyak orang yang tidak mengerti akan hal ini. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak memerlukan Injil, saya tidak senang ke gereja,” ia sedang membuang dirinya. Tuhan tidak pernah memerlukan manusia, manusia yang memerlukan Tuhan. Tuhan memperbolehkan orang-orang congkak menghina Dia, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan mendengar lagi, karena mereka terus-menerus menghina anugerah Tuhan. Oleh karena itu, ketika Saudara menerima anugerah, hendaklah Saudara berhati-hati di dalam memberikan respons di hadapan Allah, Raja di atas segala raja.

Saya sangat gentar dalam hal ini. Ketika saya melihat ada sesuatu yang mungkin Tuhan pakai untuk menyatakan sesuatu kepada saya, saya selalu berhati-hati di dalam memberikan respons. Saya gentar jika pada saatnya nanti Tuhan akan mempertanyakan respons saya itu di hadapan-Nya. Begitu banyak kasus di dalam Alkitab tentang orang-orang yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menerima Firman tetapi mereka menyepelekan hal itu, dan sampai pada waktu tertentu, Tuhan tidak lagi memberikan kesempatan kepada mereka.

Jika Saudara kembali menelusuri hidup Saudara, Saudara akan segera sadar bahwa ketika Saudarta memberikan respons kepada Tuhan, itulah saat-saat yang menentukan bagi kehidupan Saudara. Cara dan waktu Saudara memberikan respons yang tepat kepada Tuhan, itulah saat yang membentuk kehidupan rohani Saudara. Di dalam hidup Saudara, jika saat-saat penentu sedemikian Saudara lalaikan, Saudara akan menjadi tersesat. Orang yang tidak dibentuk oleh Tuhan akan menjadi sedemikian rusak, tetapi ia merasa seolah-olah ia begitu bebas; ia hidup begitu menakutkan tetapi ia merasa seolah-olah begitu nikmat. Seperti para perampok, pencuri, pezinah yang pada saat tidak berada di bawah pimpinan Tuhan merasa lebih enak daripada orang Kristen, lebih bebas dan nikmat. Tetapi kita mengetahui, bahwa orang yang hidupnya tidak dicampuri oleh Tuhan sedang berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya. Kebebasan yang tidak dikontrol oleh kesucian dan kebenaran; kebebasan yang tidak didorong oleh cinta kasih dan keadilan Tuhan bukanlah kebebasan, melainkan hanya merupakan pelampiasan nafsu yang liar dan merupakan kebebasan yang berdosa.

Kita tidak demikian. Pada saat kita mendengarkan firman Tuhan, menerima anugerah Tuhan, kita berkata, “Ya Tuhan, aku mau taat kepada-Mu.” Pada waktu itu, kita taat pada kesaksian Roh Kudus tentang Injil yang dibawakan oleh hamba-Nya. Ketika hamba Tuhan bersaksi, dan Roh Kudus bersaksi, ada dua macam respons, yaitu: (1) Saudara taat pada kesaksian itu, atau (2) Saudara menolak kesaksian itu.

Pada saat Kristus berada di atas kayu salib, kedua perampok di kanan dan kiri Yesus melambangkan kedua macam manusia itu. Yang pertama, di dalam kesulitannya sendiri, sebelum kesulitannya dibebaskan oleh Tuhan, mau taat kepada Tuhan, sedangkan yang satunya, di dalam kesulitannya, tidak mau taat kepada Tuhan. Ia menuntut Tuhan menolong dia dulu baru ia mau percaya, dan menuntut Tuhan turun dari salib dulu baru ia mau beriman. Tuhan tidak pernah berhutang kepada manusia. Di dalam kesulitannya, orang pertama ini sadar bahwa ia memang sepatutnya dipaku di atas kayu salib, sehingga ia langsung berubah sikap dan merespons kepada Tuhan. Roh Kudus diberikan kepada orang yang taat (Kisah Para Rasul 5:32). Setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan dan kita taat, menundukkan diri kepada Tuhan, di situ Roh Kudus bekerja dan masuk ke dalam hati Saudara.

MENERIMA YESUS KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN JURU-SELAMAT

Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman. Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:11-14)

Mereka yang menerima Roh Kudus adalah orang-orang yang beriman di dalam Yesus Kristus. Ketaatan sebagai langkah pertama harus menuju kepada langkah kedua, yaitu: iman. Iman itu harus diarahkan kepada Kristus yang diberitakan kepadanya. Peristiwa ini akan dimeteraikan oleh Roh Kudus (Efesus 1:13-14). Roh Kudus adalah jaminan, sampai seluruhnya kita peroleh, yaitu pada saat Kristus datang kembali. Sebelum Kristus datang kembali, Roh Kudus diberikan sebagai meterai, tanda kepastian sudah dimiliki oleh Kristus. Dengan demikian orang menjadi beriman dan percaya kepada Yesus Kristus ketika mereka mendengar Injil yang menyelamatkan, yaitu Firman tentang keselamatan. Inilah rencana Tuhan yang demikian terkait. Pada saat Firman diberitakan, Tuhan menuntut orang merespons. Jika orang itu takluk dan taat kepada Kristus, dan menerima Kristus, berarti ia beriman kepada Kristus, maka pada saat itu juga ia menerima meterai Roh Kudus. Roh Kudus diberikan kepada orang beriman, tetapi orang bisa beriman sebenarnya adalah karena karya Roh Kudus juga.

Istilah “jaminan” di dalam ayat dia tas sebenarnya sama dengan istilah dawn payment atau uang muka. Jika uang muka itu sudah diberikan, berarti sudah menjadi tanda jadi, maka hak kepemilikan sudah pindah. Artinya, ketika orang berdosa mendengar Injil dan taat, menerima Yesus Kristus dan beriman kepada-Nya, maka pada saat itu juga Roh Kudus diberikan kepadanya menjadi uang muka atau tanda jadi atau jaminan untuk selama-lamanya. Hal ini berbeda dengan sistem kredit yang berlaku disekitar kita, yaitu mendapat semua barangnya dulu baru bayar sedikit demi sedikit. Tetapi kita telah dijamin dan memperoleh pengharapan untuk menerima semuanya, tetapi kita belum menerima semuanya. Artinya, kini kita menerima keselamatan dari Allah, dalam tiga tahap: (1) jiwa kita sudah diselamatkan; (2) hidup sementara masih di dalam pergumulan untuk kemenangan; dan (3) tubuh ini pasti mendapatkan penggantian tubuh yang tidak dapat rusak kelak. Ketiga hal ini menyangkut hal yang lewat, sekarang, dan yang akan datang.

MENERIMA PEMBARUAN DAN JANJI ALLAH

“Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (Kisah Para Rasul 2:38-39)

Sebenarnya kalimat di dalam ayat 39 di atas lebih tepat diterjemahkan sebagai “menerima Roh yang dikaruniakan menurut janji itu.” Apa yang terjadi di dalam seluruh Perjanjian Lama merupakan bayang-bayang dari apa yang akan terjadi di dalam Perjanjian Baru. Jika bayang-bayang menunjuk kepada sesuatu, maka kita segera sadar yang utama bukan bayang-bayangnya, tetapi realitasnya. Bayang-bayang hanyalah suatu eksistensi yang menunjukkan bentuk yang mirip dengan realitas aslinya. Tetapi realitas menurut induk dari mana bayang-bayang itu berasal. Perjanjian Lama hanyalah bayang-bayang yang akan datang untuk menunjuk kepada realitas yang akan tiba, yaitu Perjanjian Baru. Di dalam kaitan dengan doiktrin Roh Kudus, kita melihat bahwa Perjanjian Lama merupakan tempat perjanjian di mana Tuhan Allah menjanjikan akan menurunkan Roh yang suci kepada manusia. Dan hari penggenapannya adalah hari Pentakosta.

Jangan Saudara dikejutkan dan dibingungkan oleh gereja atau pemimpin-pemimpin gereja yang mengatakan bahwa jika Saudara tidak bisa berdoa sambil gemetar atau berbahasa yang aneh-aneh, Saudara tidak memiliki Roh Kudus. Atau anggapan bahwa hanya melalui penumpangan tangan orang tertentu baru seseorang bisa menerima Roh Kudus. Saudara tidak perlu dibingungkan dengan pandangan-pandangan sedemikian. Jikalau di dalam Kisah Para Rasul 8 seperti yang di bahas di atas, perlu dikirim Rasul Petrus dan Rasul Yohanes untuk menumpang tangan atas mereka sehingga mereka menerima Roh Kudus, dan di dalam pasal 19 setelah Apolos masih diperlukan Rasul Paulus untuk mengonfirmasi mereka menerima Roh Kudus; maka banyak orang kemudian meniru-niru hal itu dan menganggap diri mereka setara dengan Rasul Petrus, Rasul Yohanes, atau Rasul Paulus, padahal mungkin sekali mereka lebih mirip Yudas.

Orang-orang seringkali tanpa dasar Alkitab berani sembarangan menumpang tangan atas orang lain. Telah di bahas di atas, ada gereja-gereja yang bingung karena tidak dikonfirmasi oleh rasul. Apakah saat ini, orang-orang yang menumpangkan tangan itu adalah rasul? Tidak! Mengapa berani? Karena mereka menganggap bahwa air hidup itu adalah kuasa, sehingga jika tidak ada input tidak ada output. Kalau melepaskannya (kuasa tersebut) maka harus mendapatkan tumpangan seseorang baru kuasa itu masuk dan mereka menjadi air hidup. Dan agar orang itu mendapatkan air hidup, ia harus ditumpangi tangan. Tetapi Alkitab tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Saya harus mengembalikan Kekristenan kepada prinsip-prinsip Alkitab yang begitu dalam dan padat. Saya ingin agar generasi ini mengerti mengapa kita harus berbuat seperti ini, yaitu agar gereja dan orang Kristen kembali kepada Alkitab.

Bolehkah kita mernumpangkan tangan? Boleh. Tetapi penumpangan tangan adalah karena Saudara mengetahui bahwa Saudara memerlukan iman yang besar dan di dalam iman itu kita tahu bahwa kita mau dipakai oleh Tuhan. Tetapi jika Saudara menumpangkan tangan seolah-olah Saudara adalah rasul yang mengesahkan orang lain, sehingga kalau tidak ada Saudara orang tidak bisa menerima Roh Kudus, hal itu tidaklah benar. Roh Kudus bukannya diberikan karena ada orang yang menumpangkan tangan. Roh Kudus diberikan karena orang itu taat, karena menerima Kristus, dan karena orang itu bertobat, meninggalkan dosa dan menerima Kristus sebagai Jususelamat.

Apakah ketiga syarat orang yang menerima Roh Kudus ini menunjuk kepada tiga jenis orang? Tidak! Ketiga hal ini merupakan tiga syarat di dalam diri satu orang. Orang-orang yang sama adalah orang yang bertobat dan berpegang kepada janji Tuhan, yang mau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan yang taat kepada firman Tuhan.

Amin.
SUMBER :
Nama buku : Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus
Sub Judul : Bab 2 : Siapakah Yang Menerima dan Dipimpin Roh Kudus (2)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 23 – 30
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube