Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohanes 14:16-17)

PENDAHULUAN

Jika kita ingin menegaskan perbedaan hakiki antara Kekristenan dan iman kepercayaan lainnya, maka kita harus menyebutkan beberapa pokok penting yang dimiliki oleh Kekristenan yang tidak ditemukan di dalam iman kepercayaan lainnya, yaitu :

  • percaya kepada Allah Tritunggal, di mana tidak ada agama lain yang mengerti dan mencapai pengenalan akan Allah Tritunggal yang sedemikian;
  • percaya kepada Yesus Kristus, yang telah diutus oleh Allah Bapa untuk menggenapi rencana penebusan demi menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Penebusan ini melampaui sifat keagamaan yang ada di dalam di dalam semua agama lain, sehingga manusia dapat mengalami secara pribadi dan memperoleh kepastian keselamatan secara pribadi, bahwa anugerah penebusan itu ada padanya dan ia diselamatkan pada saat ia menerima Tuhan Yesus, bahkan sesudah itu ia memiliki keyakinan bahwa ia sudah menjadi milik Tuhan. Agama-agama lain belum sampai memberikan kepastian dan ketegasan keselamatan yang dimiliki pada waktu orang itu masih hidup di dunia. Mereka masih menunggu kemungkinan, mudah-mudahan mendapat tempat yang baik “di situ,” tetapi mereka tidak mendapatkan kepastian tersebut saat ini;
  • memiliki Roh Allah yang berdiam di dalam hati kita untuk selama-lamanya.

Ketiga keunikan ini mempunyai kaitan antara yang satu dan yang lainnya. Yang tidak percaya kepada Allah Tritunggal tidak mungkin mendapatkan keselamatan di dalam Kristus, Pribadi Kedua Allah Tritunggal, yang diutus ke dalam dunia. Yang tidak percaya kepada Allah Tritunggal juga tidak mungkin menerima realitas bahwa Roh Kudus berdiam di dalam diri seseorang sebagai suatu pengalaman pribadi, di mana kita secara pribadi disertai oleh Tuhan dan mendapatkan penyertaan itu untuk selama-lamanya.

Ketiga hal ini sebenarnya merupakan pekerjaan Allah Tritunggal, yang begitu ajaib dan melampaui hikmat manusia. Keselamatan adalah karya Allah Tritunggal. Allah Bapa merencanakan dan mempersiapkan keselamatan di dalam kekekalan. Rencana keselamatan di dalam kekekalan ini kemudian digenapkan oleh Allah Anak di dalam sejarah, dan setelah itu Allah Roh Kudus melaksanakan keselamatan yang telah digenapkan oleh Anak melalui penginjilan dalam setiap zaman. Dan semua ini telah kita miliki. Jadi, di dalam kekekalan ada rencana Allah Bapa. Di dalam sejarah ada momen-momen Kristus menggenapi keselamatan. Melalui inkarnasi, Allah berjumpa dengan manusia dan Ia sendiri menyatakan diri dalam bentuk manusia sehingga melalui kemenangan Kristus atas pencobaan dosa, Ia menyatakan bahwa Ia adalah Juruselamat yang tanpa cacat dan dosa, sehingga Ia berhak menyelamatkan Saudara dan saya. Di dalam momen-momen historis yang penting ini, Yesus lahir, Yesus mengalahkan pencobaan, Yesus dipaku di atas kayu salib. Yesus bangkit dari kematian, dan Yesus naik ke sorga. Peristiwa-peristiwa ini menjadikan Kekristenan suatu penggenapan rencana Allah di dalam waktu. Apa yang direncanakan Allah di dalam kekekalan kini digenapkan di dalam waktu. Allah mempersiapkan rencana, dan pada waktunya mengirim Anak-Nya ke dalam dunia. Setelah Anak menggenapkan keselamatan di kayu salib, Ia kembali ke sebelah kanan takhta Bapa, dan kemudian mengutus Roh Kudus untuk melaksanakan keselamatan itu di dalam penginjilan. Setelah Roh Kudus melaksanakan keselamatan di dalam diri seseorang, Ia tidak meninggalkan orang itu, melainkan mendampingi dia sampai selama-lamanya. Di luar Kristus, tidak mungkin ada pengalaman seperti ini.

Oleh sebab itu, orang Kristen seharusnya memiliki dinamika hidup yang melebihi siapa pun di dalam dunia. Orang Kristen seharusnya mengalami vitalitas yang lebih besar dan hidup dengan lebih aktif dibandingkan orang mana pun di dunia. Tetapi faktanya, kita belum mencapai hal itu. Dapat dikatakan banyak orang Kristen yang berada di dalam gereja, yang mengatakan dipenuhi oleh Roh Kudus, hidupnya tidak melebihi orang lain, sehingga hal ini menjadi hambatan atau ketidak-sempurnaan di dalam dunia Kekristenan. Kita perlu meneliti, mengoreksi, dan kemudian bertobat minta belas kasihan Tuhan.

———————————————————-

BAB 1 : HADIRNYA ROH KUDUS (1)

PENTINGNYA MEMPELAJARI DOKTRIN ROH KUDUS

Pada masa reformasi dan sebelumnya, istilah dan doktrin Roh Kudus tidak terlalu banyak dibicarakan atau diperbincangkan sebagai isu yang penting, baik dalam bentuk tulisan maupun khotbah. Di dalam buku-buku yang ditulis lebih dari 1.000 tahun itu, peran Roh Kudus tidak terlalu dipentingkan. Bahkan dari masa Reformasi hingga masa sekarang ini, peran Roh Kudus, secara umum dapat dikatakan kurang mendapat perhatian penting. Sampai abad ke-20 ini kita melihat gereja-gereja mulai mementingkan, mendiskusikan dan mengkhotbahkan hal-hal yang berkenaan dengan Roh Kudus. Ayat-ayat mengenai Roh Kudus mulai digali, dibahas, didiskusikan, dan ditulis menjadi tema-tema buku Kekristenan. Tetapi kita melihat bahwa abad ke-20 yang paling banyak membicarakan Roh Kudus, sekaligus adalah abad yang paling banyak salah mengerti tentang doktrin Roh Kudus (atau yang disebut dengan pneumatologi).

Orang-orang yang memiliki kewaspadaan terhadap kemungkinan salah mengerti tentang doktrin Roh Kudus menjadi sangat negatif terhadap topik ini dan tidak mau menyinggung atau membicarakan tentang Roh Kudus karena takut terhadap eksesnya. Sebaliknya, orang-orang yang sudah biasa membicarakan tentang doktrin Roh Kudus tetapi tidak mempelajarinya dengan baik, membiasakan diri dan menganggap diri telah menjadi ahli tentang Roh Kudus. Mereka menganggap bahwa merekalah yang memiliki otoritas untuk membicarakan Roh Kudus. Hal ini telah menimbulkan banyak sekali kekacauan di dalam gereja.

Secara lahiriah, seolah-olah kuantitas yang dicapai oleh orang-orang yang begitu berani membicarakan tentang Roh Kudus mendukung anggapan bahwa mereka telah memiliki Roh Kudus dan apa yang mereka ajarkan pasti benar. Padahal semua itu hanya didukung oleh kuantitas yang dicapai. Sedangkan orang-orang yang tidak banyak membicarakan Roh Kudus, seolah-olah tidak mempunyai kekuatan atau keberanian untuk membicarakan tentang Roh Kudus, ditambah lagi dengan hal-hal lain yang telah mengakibatkan mereka seolah-olah menyusut. Hal ini memberikan dampak seolah-olah barangsiapa yang paling banyak dan berani berbicara tentang Roh Kudus berarti Roh Kudus ada di situ. Mereka yang tidak berani membicarakan Roh Kudus, berarti Roh Kudus tidak ada di situ. Apakah dampak yang ditentukan oleh kuantitas sedemikian betul-betul sah dan dapat diandalkan? Jawaban saya adalah: Tidak.

Pada tahun-tahun pertukaran dari milenium ke-dua ke milenium ke-tiga ini, kita mempunyai tanggung jawab yang berat untuk menyeimbangkan seluruh zaman dan membawa orang Kristen kembali kepada pengertian yang bertanggung jawab, stabil, berakar, dan ahli tentang pengajaran Roh Kudus yang sesuai dengan Alkitab.

Pada tahun 1969 saya berada di Swiss bersama beberapa tokoh Kekristenan, seperti pendiri World Vision International Bob Pierce, pendeta terbesar Gereja Presbyterian di seluruh dunia Dr. Watson, dan lainnya. Saat itu ada seorang yang mengatakan bahwa abad ke-20 adalah abad Roh Kudus, yaitu abad di mana Roh Kudus boleh leluasa bekerja di dalam gereja di seluruh dunia. Lalu ia menyambung, seperti abad ke-16 merupakan abad Reformasi di mana doktrin yang sejak sekian lama telah dilupakan di dalam sejarah gereja diberikan iluminasi yang besar sehingga menerangi seluruh dunia Kekristenan, maka Reformasi terkenal dengan doktrin dibenarkan melalui iman. Sedangkan abad ke-20 merupakan masa doktrin Roh Kudus, yang sudah begitu lama dilupakan oleh gereja, sekarang diberi tempat yang leluasa sehingga gereja bisa bertumbuh.

Setelah itu saya mengutarakan pendapat saya. Mari kita tidak terlalu cepat memberikan julukan atau tema kepada abad ke-20. Di dalam filsafat, abad ini disebut sebagai abad analisis. Tetapi saya sendiri menganggap bahwa jika kita ingin abad ke-20 mendapat julukan abad Roh Kudus, biarlah abad-abad selanjutnya yang memberi julukan itu, bukan kita sendiri yang berada di abad ini. Pada waktu kita menengok kembali, kita bisa memberikan evaluasi dan julukan kepada abad-abad yang lalu, tetapi tentang abad ini, biarlah mereka yang di abad ke-21 atau ke-22 yang memberikan evaluasi dan julukan kepada abad ini.

Saat ini, gereja-gereja yang paling banyak berbicara tentang Roh Kudus telah menjadi gereja-gereja yang mencapai pertumbuhan kuantitas yang tercepat, tetapi sekaligus disertai dengan skandal seks dan atau keuangan yang paling buruk. Dari hal ini saya sungguh mempertanyakan, bukankah jika Roh Kudus bekerja, Ia juga akan menguduskan orang dalam kehidupan seksual dan keuangannya? Mengapa gereja yang paling banyak meneriakkan Roh Kudus justru pemimpin-pemimpinnya hidup tidak beres dalam masalah seksual dan keuangan. Maka kita perlu mulai memikirkan pengajaran yang lebih ketat, lebih sempurna, dan lebih stabil mengenai doktrin Roh Kudus ini.

ROH KUDUS DIJANJIKAN KEPADA MANUSIA

Kembali kepada ketiga keunikan yang telah disebutkan di bagian pendahuluan, yaitu Allah Tritunggal, Allah Penyelamat, dan Allah yang berdiam di dalam diri orang percaya, marilah kita menggali dan memperoleh apa yang Allah janjikan sehingga kita tidak menjadi orang Kristen hanya secara nama, tetapi hidup kita juga boleh diubahkan seturut nama itu.

Yohanes 14:16 berkata bahwa Yesus meminta kepada Bapa agar mengirimkan Penolong yang lain, dan Penolong itu akan berdiam di dalam hati manusia untuk selama-lamanya. Ayat yang singkat dan sederhana ini sudah memaparkan mengenai Allah Tritunggal. Anak dan Bapa mempunyai esensi yang sama sehingga Allah Bapa dan Allah Anak itu memiliki persekutuan yang tidak dimengerti oleh yang lain. Bapa dan Anak mengirim Penolong yang lain, yaitu Roh Kudus. Di sini dibukakan tentang Tritunggal. Di dalam kalimat yang terakhir, Kristus dengan jelas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Roh yang kekal. Kalau ia bukan Roh yang kekal, Ia tidak mungkin berada di dalam hati manusia untuk selama-lamanya. Melalui hal ini juga dikonfirmasikan bahwa manusia yang diciptakan juga memiliki kekekalan. Jika kita tidak kekal, bagaimana mungkin Roh yang kekal bisa berdiam di dalam yang tidak kekal unrtuk selama-lamanya. Di sinilah dijaminnya hidup kekal sebagai suatu pemberian melalui keselamatan. Kalimat-kalimat pendek yang diberikan oleh Kristus di dalam bagian ini juga berdampak terhadap seluruh Perjanjian Lama.

Di dalam Perjanjian Lama, Roh Allah juga turun atas diri seseorang. Di dalam Perjanjian Lama juga terdapat kasus turunnya Roh Kudus untuk orang tertentu, tetapi tidak pernah dijanjikan untuk diam selama-lamanya. Di sinilah terdapat perbedaan pemberian yang begitu jelas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus diberikan untuk tugas tertentu, atas orang-orang pilihan tertentu, dengan urapan khusus sampai tugas itu selesai atau sampai Roh Kudus kembali ke sorga, maka orang itu tidak lagi memiliki Roh Kudus sebagaimana dulu ia pernah memiliki. Bukan saja demikian, Roh Kudus mungkin bisa ditarik kembali oleh Tuhan Allah pada saat orang yang diberi Roh Kudus itu berbuat dosa, sehingga kedaulatan Allah akan menarik anugerah penyertaan Roh Kudus yang sementara diberikan kepadanya. Maka, orang itu akan menjadi sendiri lagi dan lepas dari penyerrtaan Roh Kudus.

Hal ini dapat jelas kita ketahui dari kisah ketika Musa membangun Bait Allah. Aholiab dan Bezaleel adalah tenaga ahli yang diurapi oleh Roh Tuhan tetapi tidak berarti mereka memilikinya untuk selama-lamanya (Keluaran 35:30-35). Kita bisa juga melihatnya dari Mazmur pasal 51, Daud berkata, “Janganlah mengambil roh-Mu yang kudus daripada-Ku!” Ia telah berbuat dosa maka ia meminta kepada Tuhan agar jangan karena dosa dan kenajisan yang ada padanya menyebabkan Allah menarik kembali Roh yang telah ia berikan kepadanya.

Dari bebarapa hal ini jelas bahwa Perjanjian Lama tidak menjanjikan penyertaan Roh Kudus untuk selama-lamanya. Tetapi kita jangan lupa bahwa Alkitab mengatakan dalam Perjanjian Baru, “diberikannya Roh yang dijanjikan Allah.” Hari Roh Allah itu datang merupakan penggenapan janji yang sudah dikatakan sebelumnya. Roh Kudus turun kepada orang-orang yang terpilih, yang mendapat anugerah keselamatan, yang menyatakan diri sebagai orang yang berespons kepada Tuhan di dalam iman kepercayaan kepada Kristus. Dan mereka memiliki Roh Kudus untuk selama-lamanya.

Kisah Para Rasul 2:38 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberikan dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu.” Maksud kata “karunia Roh Kudus” sebenarnya adalah “Roh Kudus yang dijanjikan itu.”

Jikalau kita menanyakan berapa banyak orang yang menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta, biasanya dijawab dengan 120 orang yang menerima Roh Kudus. Memang setelah mereka berdoa sepuluh hari, maka 120 orang tersebut menerima Roh Kudus. Tetapi sebelum matahari terbenam, mereka yang telah menerima Roh Kudus itu bangkit dan berubah menjadi dinamis. Jika sebelumnya mereka berada dalam keadaan penuh ketakutan, bersembunyi di dalam ruang dan menutup pintu rapat-rapoat, sekarang mereka bukan saja tidak menutup pintu rapat-rapat, sekarang mereka bukan saja tidak menutup diri, tetapi menampilkan diri dan dengan berani mengabarkan Injil. Perubahan hidup dari lemah menjadi dinamis, dari takut menjadi berani, dari memelihara diri sendiri menjadi berani berkorban dan bersifat ofensif, dari non-aktif menjadi aktif, dari penakut menjadi pemberani, dari orang yang bersembunyi menjadi orang yang giat memberitakan Injil, merupakan suatu perubahan besar.

Di sinilah terletak kunci rahasia kemajuan gereja. Pada waktu gereja tidak berdinamika, gereja itu pasti mundur. Pada waktu orang Kristen mundur, hidup hanya defensif, maka gereja pasti tidak maju. Tetapi ketika dinamika dari Roh Kudus itu turun, maka mereka mulai memperhatikan orang lain dan menantang orang lain agar bertobat. Saat itu Roh Kudus mendorong Petrus untuk mengajak banyak orang juga menerima Roh Kudus dan dibaptiskan. Berarti pada hari itu, bukan hanya 120 orang, tetapi paling sedikit ada 3.120 orang karena setelah Petrus berkhotbah, Alkitab mencatat ada 3.000 orang yang bertobat, masuk ke dalam gereja, dibaptiskan dan menerima Roh Kudus saat itu (ayat 41).

Janji hadirnya Roh Kudus juga pernah diberikan dalam bentuk lambang oleh Kristus dengan kalimat imperatif (perintah) dan memberikan janji dengan kuasa pengutusan setelah Ia bangkit, pada saat Ia meniup murid-murid-Nya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” (Yohanes 20:22). Tindakan perlambang dengan peniupan angin ini hanya dilakukan satu kali saja. Dan setelah beberapa hari kemudian Tuhan Yesus naik ke sorga, maka janji yang dilambangkan dengan tiupan itu betul-betul turun di hari Pentakosta. Sebelum Roh Kudus turun, Yesus melarang mereka pergi meninggalkan Yerusalem dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa. Mereka diminta berdoa di situ sampai Roh Kudus turun ke atas mereka. Mereka akan menjadi orang-orang yang berdinamika, berkuasa menjadi saksi-saksi Kristus di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Janji Kristus yang dilambangkan dengan tiupan kepada mereka tidak pernah diulangi dan tidak pernah boleh diulangi lagi oleh siapa pun. Karena tindakan ini merupakan lambang janji yang dikonkretkan Pribadi Pertama yang mengutus Pribadi Kedua, lalu Pribadi Pertama bersama Pribadi Kedua mengutus Pribadi Ketiga untuk memastikan berdirinya Gereja.

Selain Yesus Kristus yang meniup untuk penerimaan Roh Kudus, di Perjanjian Lama tidak satu pun nabi yang berhak meniup seseorang untuk menerima Roh Kudus. Demikian juga tidak seorang pun rasul dalam Perjanjian Baru yang berhak meniup seseorang untuk menerima Roh Kudus, karena itu adalah janji Pribadi Kedua yang memberikan Pribadi Ketiga kepada Gereja. Tetapi pendeta-pendeta dari Amerika atau Amerika Latin seperti Benny Hinn, begitu berani meniup-niup. Itu menunjukkan mereka tidak mengerti kebenaran Alkitab. Meskipun tiupan mereka bisa menjatuhkan banyak orang, janganlah kita terkejut karena fenomena tersebut. Kita harus menelusuri kembali dan mengetahui bahwa hal itu tidak ada di dalam Kitab Suci. Petrus belum pernah meniup orang untuk menerima Roh Kudus. Hal itu tidak boleh dilakukan. Itu hanya berhak dilakukan oleh Kristus.

Amin.
(Bersambung)
SUMBER :
Nama buku : Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus
Sub Judul : Pendahuluan – Bab 1 : Hadirnya Roh Kudus (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 1 – 8
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube