Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
BAB 2 :
D O S A (3)

Kini kita melihat dosa dalam empat macam relasinya.

EMPAT RELASI UNIVERSAL DOSA

1. Dosa sebagai Kuasa yang Membelenggu

Relasi universal yang pertama adalah relasi antara aku dan diriku. Hubungan ini dirusak oleh dosa karena di dalam dosa aku mendapatkan suatu kekuasaan yang mengikat di mana aku tidak sadar bahwa itu dosa. Maka bagi diri, dosa merupakan suatu kuasa yang membelenggu aku, yang melawan kehendak Allah. Ini adalah relasi pertama yang dirusak. Pada saat sesuatu yang aku kerjakan membelenggu aku, tetapi tidak melawan kehendak Allah, itu bukan dosa.

Yang pertama-tama, dosa dimengerti di sini sebagai sesuatu yang saya sebut sebagai kuasa. Dosa bukan hanya dimengerti sebagai suatu kekuatan atau seuatu kelakuan, melainkan suatu kuasa yang membelenggu dan mengikat kita. Itu disebut dosa. Di dalam Surat Roma, Paulus mengatakan dengan jelas sekali, “Yang kuinginkan tidak bisa kulakukan, yang tidak aku inginkan justru aku lakukan.” Apa artinya? “Aku tidak mempunyai kebebasan.” Karena di dalam diri ini ada sesuatu yang begitu berkuasa sehingga kebebasan diri dipengharuhi oleh kekuatan itu. Itu disebut dosa. Jadi, dosa dimengerti sebagai suatu kuasa yang membelenggu dan menghancurkan kebebasan kita.

Barangsiapa sedang memakai kebebasan untuk berbuat segala sesuatu menganggap bahwa dirinya adalah orang yang bebas, ia salah. Karena begitu kebebasan itu dipakai untuk pertama kali dan hak itu dipakai, langsung hak itu menjadi tuan yang membelenggu Saudara. Misalnya, pada waktu Saudara ingin menjadi seorang perokok, pertama kali Saudara mengatakan, “Saya mau menjadi seorang perokok,” Saudara seolah-olah bebas. Setelah Saudara merokok satu kali, dua kali, tiga kali. Saudara telah menjual kebebasan Saudara kepada kuasa rokok yang sedang membelenggu Saudara. Demikian pula pada waktu Saudara mengatakan, “Saya bebas, saya mau pergi mencari pelacur.” Saudara sedang menggunakan kebebasan Saudara dan kelihatannya netral. Namun begitu Saudara menggunakan kebebasan itu, saat itu juga, Saudara sedang menjual kebebasan Saudara kepada ketidak-bebasan yang sedang membelenggu Saudara. Seperti seorang yang sedang berjalan, lalu berhenti di perempatan. Pada waktu ia memilih ke kanan, ia telah menjual kebebasan ke arah itu, dan tidak bisa lagi membuat keputusan yang lain. Maka, di sini dosa dimengerti sebagai suatu kuasa yang membelenggu setelah Saudara menggunakan kebebasan yang pertama.

2. Dosa sebagai Kelakuan yang Merugikan

Relasi universal ke-dua adalah relasi antara diriku dan orang lain. Di sini dosa dimengerti sebagai suatu kebebasan yang merugikan orang lain, baik sadar ataupun tidak sadar. Selain sebagai kuasa, dosa kini juga harus dimengerti sebagai kelakuan, action, behaviour, conduct, an expressed living style, suatu cara hidup, kelakuan, perbuatan, dan tindakan yang sudah merugikan orang lain. Ini dimengerti sebagai dosa.

Perlu kita perhatikan bahwa baik istilah pertama: kuasa, belenggu, maupun istilah kedua: kelakuan yang merugikan, keduanya merupakan pengertian dari hukum negara.

3. Dosa sebagai Alat Pemersatu dengan Iblis

Relasi universal ke-tiga adalah antara diriku dan Iblis yang tidak kelihatan. Justru karena Iblis tidak kelihatan, itu menunjukkan dia hebat. Kalau Iblis setiap hari membuat dirinya terlihat, dia kurang pandai. Kalau seorang maling berkata, “Berjaga-jagalah, nanti malam jam 2 saya datang,” maka dia maling yang bodoh. Jika seorang tukang copet memasang tulisan besar di bajunya, ”Aku tukang copet, hati-hati denganku,” maka IQ-nya rendah.

Iblis begitu pintar sampai dia mengatakan, “Tidak ada Iblis, maka pasti juga tidak ada Allah.” Maka akhirnya Saudara tidak percaya adanya Iblis, juga tidak percaya adanya Allah. Saudara sudah masuk ke dalam jerat Iblis.

Prof. Kurt Koch dari Stuttgart Univertsity mengatakan, “Orang Jerman segan, malu, tidak mau ke gereja karena mereka merasa modern. Tetapi justru pemimpin-pemimpin Jerman yang tertinggi yang biasanya tidak mau ke gereja, takut dipermalukan oleh orang lain, takut dianggap terlalu ketinggalan, pada waktu menemukan kesulitan-kesulitan paling hebat di dalam menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah, selalu pergi ke rumah dukun-dukun untuk mendapatkan petunjuk dari para dukun.” Ini gejala yang aneh. Manusia yang percaya Tuhan seolah-olah ketinggalan zaman, tetapi jika dalam keadaan krisis pergi mencari dukun justru tidak takut. Demikian juga banyak pendeta yang seolah-olah memimpin orang lain tetapi pada waktu menghadapi kesulitan, mereka tidak bisa mengambil prinsip Alkitab untuk membereskan persoalan. Mereka pergi mencari psikiater-psikiater non-Kristen.

Penipuan-penipuan seperti ini terus-menerus terjadi karena kita tidak percaya bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah Firman Tuhan dan bagaimana mendapatkan jawaban melalui pimpinan Roh Kudus dan Firman dan prinsip yang benar. Hubungan antara aku dan Iblis ditiadakan oleh Iblis dengan tipuan “tidak ada Iblis,” sehingga karena Saudara kira Iblis tidak ada, Saudara tidak berjaga-jaga. Pada saat itu dia sedang mengaitkan diri dengan Saudara. Dosa merupakan suatu alat yang mempersatukan manusia dengan Iblis.

Dosa dimengerti sebagai suatu kuasa, dosa juga dimengerti sebagai kelakuan, dan bisa dimengerti sebagai suatu alat yang mempersatukan kita dengan Iblis. Dosa sedang menjadi suatu alat yang mengaitkan Saudara dengan dia, sehingga tanpa Saudara sadari, Saudara sedang bersatu dengan si Jahat itu. Itulah sebabnya, kalau membaca buku-buku yang baik, Saudara tertidur, tetapi kalau membaca buku porno, mata Saudara menjadi besar sekali. Itu sebab kalau Saudara pergi ke gereja tidak ada waktu, tetapi kalau mencari pelacur banyak waktunya. Mengapa? Karena Saudara sedang dipersatukan melalui suatu alat, yang disebut dosa. Dan Saudara tidak melihatnya karena penipuan ini merupakan suatu alat yang mempersatukan dengan oknum yang menyangkal bahwa dia ada, itu dosa.

4. Dosa sebagai Sikap Melawan Allah

Relasi universal ke-empat adalah relasi antara manusia dan Allah. Dosa merupakan sikap melawan Allah. Relasi ini seharusnya mempunyai poros sesuai dengan status asli yang ditetapkan oleh Tuhan, tetapi sekarang sudah dikacau-balaukan. Diputar-balikkan. Yang utama menjadi tidak utama, yang tidak utama menjadi yang utama; yang mutlak menjadi tidak mutlak, yang tidak mutlak menjadi mutlak.

Sekarang manusia sudah berada dalam kekuasaan, kerusakan di dalam seluruh relasi total seperti ini, sehingga manusia berani melawan Tuhan Allah. Terhadap Tuhan Allah manusia begitu keras, tetapi terhadap Iblis begitu lembut. Pada saat diminta percaya kepada Tuhan Yesus atau diajak pergi ke gereja, manusia selalu berdebat dengan begitu keras; ketika diajak mencari pelacur, ia tidak memakai cara yang sama, ia tidak berdebat keras tentang apa pentingnya mencari pelacur, dan sebagainya. Waktu disuruh pergi ke gereja, menjadi filsuf; waktu disuruh mencari pelacur, langsung terima. Saya tidak pernah menghargai orang semacam demikian. Itu disebut sebagai: dengan status tidak adil berusaha melawan Allah yang adil. Di dalam perlawanan ini pun telah membuktikan secara lebih tegas, bahwa dia sedang melayani dosa. Saya tidak mau melayani perdebatan seperti ini, meskipun saya tahu, saya cukup dan saya bisa menjatuhkan segala argumen yang mungkin dia keluarkan, tetapi saya kira Firman dan kebenaran Allah jangan dilempar ke hadapan babi, mutiara jangan diberikan kepada anjing.

Dibandingkan dengan Saudara, mungkin saya lebih banyak bertemu dengan kaum intelektiual. Saya sudah berkhotbah kepada para doktor, profesor, beratus-ratus orang termasuk yang tua-tua, yang senior di negara atheis. Tidak ada pertanyaan yang terlalu sulit yang tidak bisa dijawab oleh Firman Tuhan. Kalimat-kalimat ini tidak berhenti sebagai kalimat klise seperti banyak orang mengatakan, “Jesus is the answer, but I don’t know what the question is.” (Yesus adalah jawaban, tetapi saya tidak tahu apa pertanyaannya). Tidak! I know the question.

Dalam umur 21 sampai umur 41 tahun, dalam waktu 20 tahun itu, saya sudah menjawab begitu banyak pertanyaan, tiap tahun kira-kira 6.000 sampai 10.000 pertanyaan, sebab dalam tahun itu kadang-kadang saya berkhotbah sampai 600 kali. Saya tahu apa yang sedang terjadi. Saya tahu apa yang ditanyakan. Yang Saudara mau tanya, kira-kira sudah bisa saya tangkap. Dalam waktu 2 detik setelah membaca pertanyaan, saya sudah harus menentukan tiga hal. Pertama, motivasinya; kedua, asal pikirannya; ketiga, jawabannya. Selesai membaca, saya langsung menjawab. Bukan karena kehebatan saya, tetapi karena Tuhan begitu mengasihani saya, memberi kesempatan begitu banyak. Jika Saudara mendapatkan kesempatan seperti saya, mungkin Saudara akan jauh lebih terampil daripada saya. Pertanyaan-pertanyaan dari pemuda-pemudi atau kaum intelektual tidak terlalu jauh berbeda. Banyak yang mau melawan, kenapa begini, kenapa begitu. Manusia mengira, waktu ia bertanya, Tuhan langsung jatuh. Tuhan akan berkata, “Silakan bertanya terus. Nanti setelah selesai, Aku akan bertanya satu kali, maka engkau langsung jatuh.” Tuhan tidak mau berdebat.

Mengapa Saudara tidak memakai cara dan metode yang sama untuk melawan Iblis? Kenapa dengan Iblis, Saudara begitu mudah pergi berjudi, pergi melacur, pergi berbuat dosa, pergi menerima segala ajaran yang salah. Saudara begitu mudah melepaskan diri Saudara untuk itu, tetapi untuk terima Firman Tuhan begitu sulit, Saudara tidak mau. Bukan saja tidak mau, bahkan banyak pemimpin-pemimpin gereja pun tidak bisa menerima dengan baik, mereka hanya mau mempertahankan harga diri saja, supaya jangan dikritik.

Inilah empat relasi universal dari dosa yang kita lihat.

DOSA SEBAGAI KEKURANGAN KEMULIAAN ALLAH

Seperti tertera di dalam Roma 3:23, dosa dikatakan sebagai kekurangan kemuliaan Allah. Dosa telah mengurangi kemuliaan Allah. Bagaikan selembar kertas yang utuh dirobek, akan kekurangan keutuhan itu, karena sebagian dari kesempurnaan tadi terobek. Kertas ini asli, tetapi bentuk dan versinya sudah tidak lagi asli. Selain pergeseran dan distorsi dari relasi, sekarang saya berusaha memberikan penjelasan kepada Saudara tentang: sudah tidak selengkap aslinya (no more perfect as original status).

Kertas ini sudah berbeda dari kertas sejenis yang masih belum robek. Pada kertas yang utuh terdapat kesempurnaan, tapi pada kertas yang sudah dirobek ini terdapat ketidak-sempurnaan. Adanya ketidak-sempurnaan, atau adanya kesempurnaan yang kurang sempurna, dan ini disebut ada kekurangan. “Ada kekurangan” berarti “yang kurang” itu sudah ada. Kekurangan yang ada itu sebenarnya adalah bagian yang tidak ada. Ada kekurangan berarti ada bagian yang tidak eksis. Jadi, lebih baik dikatakan bahwa ada “kekurangan” atau “menjadi kurang sempurna” karena sebagian darinya tidak ada. Jika yang ada kurang sebagian, maka itu menjadi tidak sempurna. Dibandingkan dengan yang sempurna, “kekurangan” adalah ”bagian yang tidak ada”.

Dosa jangan dimengerti sebagai suatu substansi yang kekal. Dosa bukan suatu substansi kekekalan yang sudah ada sebelum sejarah dunia ada. Yang ada adalah yang diciptakan oleh Tuhan, yang ada pada diri Yang Menciptakan. Yang ada pada diri dan yang mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada, ini adalah hubungan antara ciptaan dan Pencipta melalui tindakan mencipta. Karena Allah adalah Pencipta, Ia mencipta. Pencipta mencipta sehingga ada ciptaan yang dicipta. Di antara ciptaan, tidak ada yang mempunyai pra-eksistensi. Maka, ciptaan (yang diciptakan) tidak pernah mungkin mempunyai realitas kekekalan; sedangkan Allah (yang menciptakan) adalah realitas kekekalan, yang adalah kekekalan pada dirinya sendiri. Dengan demikian, kita melihat bahwa yang ada di dalam kekekalan hanya satu. Siapa? Allah itu sendiri. Lalu Allah dari dirinya sendiri menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada. Ketika Dia menciptakan, ada dua hal yang terlibat, yaitu: (1) kemauan Dia yang menyatakan kehendak-Nya; dan (2) kuasa-Nya untuk menggenapi firman-Nya. Firman Allah adalah hukum, dengan sendirinya perkataan (firman) Allah yang keluar mengandung kuasa, karena tidak ada perkataan Allah yang tidak mengandung kuasa. Karena itu, waktu Allah mengatakan, “Jadilah terang,” maka terang jadi. Allah mengatakan, “jadilah matahari”, maka matahari jadi. Allah mengatakan, “ya” maka yang diciptakan jadilah. Allah mengatakan, “tetap,” maka yang diciptakan itu ditetapkan. Ini karena Dia penentu segala eksistensi yang ada di luar Dia.

Tetapi Dia sendiri tidak ditentukan oleh siapa pun di antara eksistensi Dia. Dengan demikian orang Kristen tidak dualisme, yaitu baik dan jahat sama-sama ada dari kekal sampai kekal. Itu bukan ajaran Kristen. Jika Saudara pergi ke Bali, ke Hinduisme, Saudara melihat tari Barong, Kecak. Saudara pergi ke Zoroasterisme, secara tidak sadar Saudara sedang ditawari semacam ajaran yang berlawanan dengan ajaran Kekristenan. Saudara tidak sadar, mereka sedang menawarkan sesuatu kemungkinan bahwa baik itu ada sejak kekal sampai kekal, jahat itu ada dari kekal sampai kekal. Baik dan jahat terus berperang dan Saudara ada di tengah-tengah, diperebutkan dari sana, ke sini. Tetapi Alkitab mengatakan, “Tidak!” Dosa itu tidak bisa dipersamakan dengan Allah yang baik karena Allah yang baik itu merupakan suatu keberadaan yang kekal sebelum dunia diciptakan (eternal existence even before the foundation of the creation).

Sebelum dunia diciptakan, Allah sudah berada pada diri-Nya sendiri dari kekal sampai kekal, self-dependent, self-eternal, self-existent. Allah hanya bersandar pada diri-Nya sendiri, dan tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya. Allah mempunyai keberadaan diri yang kekal dan tidak pernah berubah; Allah memiliki keberadaan yang berdiri sendiri dan tidak diadakan oleh orang lain. Tetapi dosa adalah suatu kekurangan dari yang diciptakan. Yang diciptakan ini sekarang sudah cacat atau sudah memiliki suatu kekurangan. Yang disebut kekurangan ini adalah bagian yang baik, namun sekarang sudah tidak ada karena sudah cacat atau rusak. Jadi, dosa harus dimengerti sebagai suatu kekurangan yang tidak dapat dipersamakan dengan yang sempurna dan yang belum cacat.

Pengertian ini memberi kemungkinan bagi Saudara untuk menyadari bahwa kemenangan di dalam Kristus lebih penting daripada kemungkinan dosa mengancam Saudara. Ada orang Kristen lihat ini takut, lihat itu takut, lalu harus pecahkan ini pecahkan itu. Mengapa? Karena mereka belum sadar bahwa dosa tidak mempunyai persamaan dengan kuasa Allah yang menang dalam segala sesuatu.

Jika Saudara tidak berani mendekati pohon angker, tidak berani melewati kuburan, tidak berani melihat kesulitan, itu berarti Saudara belum menemukan kuasa kemenangan Kristus di dalam kematian-Nya yang kemudian dikalahkan oleh-Nya dengan kebangkitan-Nya. Dia lebih besar daripada segala sesuatu. Dosa bukan sesuatu eksistensi yang kekal. Dosa pada akhirnya disingkirkan oleh Kristus melalui kebangkitan-Nya.

Tetapi hal dan butir terakhir ini tidak saya gunakan untuk meniadakan kepentingan dosa yang harus dihakimi. Maka, konsep yang timbul setelah salah mengerti tadi harus dikoreksi di dalam tema berikutnya, yaitu: Penghakiman, yang membuktikan bahwa Allah menang atas dosa dan Dia mengadili dosa, dan Dia akan berkuasa atas segala kekuatan dosa.

Amin.
SUMBER :
Nama Buku : Dosa, Keadilan, dan Penghakiman
Sub Judul : Bab 2 : Dosa (3)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 70 – 78
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube