Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya…

PENGERTIAN KEADILAN DAN KEBENARAN

Setelah kita selesai berbicara tentang eksistensi dan relasi, kita masuki kepada apa yang disebut keadilan dan kebenaran. Saya menyebutkan dua istilah di dalam bahasa Indonesia ini sekaligus, karena di dalam bahasa Indonesia, kedua istilah ini hanya sanggup mengutarakan sebagian dari istilah aslinya. Istilah aslinya itu meliputi keadilan dan kebenaran.

Istilah keadilan bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah justice. Tetapi untuk istilah kebenaran, terjemahan bahasa Inggrisnya adalah truth. Padahal, istilah yang dipakai di dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama atau di dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru mempunyai arti yang lebih dalam daripada kedua kata Indonesia digabung menjadi satu. Bahasa Inggris pun masih kurang menjelaskan.

Terjemahan bahasa Cina dan Jepang lebih dekat dengan arti sesungguhnya di dalam Alkitab, yaitu istilah Yi. Yi mempunyai arti yang sangat cocok dengan apa yang diartikan baik dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah righteousness.

Akar kata rightousness adalah right – benar. Tetapi waktu kita menyatakan, You are right”, istilah right ini mempunyai arti yang lebih bersangkut-paut dengan tingkah laku daripada esensi tingkah laku itu sendiri. Tingkah laku itu lebih penting daripada apa yang disebut sebagai prinsip untuk mendorong tingkah laku itu sendiri. Dengan demikian rightousness berarti benar di dalam kelakuan. You are right, you have done right, you doing right.(Saudara berbuat benar), itu menjadi arti pokok dari rightousness. Tetapi dalam bahasa aslinya, artinya lebih dari itu.

Istilah benar atau adil di dalam bahasa Ibrani adalah tsadiq, lalu kata bendanya berbentuk tsedeq, yang artinya sama dengan istilah bahasa Yunani dikaios atau dikaiosune. Kata ini mempunyai arti lebih dari sekedar lurus atau benar saja, tetapi merupakan suatu esensi yang mendasari suatu hidup, sehingga dari hidup bisa mengalirkan semacam norma-norma etika yang benar.

Kebenaran yang berada di dalam hidup itu menjadi sumber dan fondasi, sehingga mengalir kelakuan dan perbuatan yang benar. Sikap hidup yang benar itulah yang menjadi pokok. Yang di dalam bahasa Ibrani disebut tsedeq sedangkan di dalam bahasa Yunani disebut dikaios atau dikaiosune.

Di dalam Alkitab, kebenaran Allah atau keadilan Allah ini paling sedikit mempunyai lima segi arti:

  • 1. Yang lurus, yang ikhlas, yang tidak bengkok, dan yang benar. Seorang yang benar adalah seorang yang mengerjakan segala sesuatu dengan lurus, tidak bengkok. Jika Saudara berkawan dengan seseorang, tetapi perkataannya tidak pernah jujur dan terus-menerus bengkok, sehingga Saudara sulit mengerti apa yang dia maksudkan, maka orang sedemikian bukanlah orang yang benar. Orang yang benar itu tegak dan lurus, orang yang benar itu tegas, dan orang yang benar itu berjalan dengan tidak bengkok.
  • 2. Yang menghadapi semua orang dengan prinsip sama rata. Dia tidak akan menghadapi orang kaya dengan senyuman, tetapi menghadapi orang miskin dengan kemarahan. Dia tidak akan takut kepada orang berkuasa tinggi, dan marah atau galak sekali kepada rakyat kecil, karena orang yang demikian tidak mempunyai dikaios atau dikaiosune itu. Jadi, seorang yang benar, selain apa yang dilakukannya itu tegak, jujur. Lurus pada waktu menghadapi pribadi yang lain, ia juga harus memandang setiap lapisan masyarakat secara rata. Perjuangan Buddha Gautama Sakyamuni melawan Hinduisme berdasarkan pengertian yang kedua ini. Jadi Buddhisme melihat bahwa di dalam masyarakat perlu ada suatu unsur standar yang harus bersifat merata, sehingga dia bangkit melawan Hinduisme yang membagi masyarakat menjadi empat lapisan. Lapisan yang tertinggi seolah-olah keturunan dewa, sehingga mereka mempunyai hak istimewa. Kalau mereka kaya, wajar. Kalau mereka dihormati, wajar. Dari nama mereka, latar belakang suku mereka, Saudara harus menghormati mereka, tidak peduli mereka malas atau rajin, jujur atau tidak jujur, karena mereka dilahirkan sebagai keturunan bangsawan yang tinggi. Tetapi mereka yang dilahirkan pada lapisan yang paling rendah, bagaimana pun kerasnya berjuang, tidak ada gunanya, karena nasib mereka sudah ditetapkan. Itu sebabnya, bila seorang bangsawan India, yang menurut Hinduisme ada pada lapisan tertinggi, sedang berjalan, lalu pakaiannya terkena bayangan dari lapisan terakhir yang paling rendah, itu berarti ia sudah mendapat kecelakaan. Mereka sangat menghina lapisan yang paling rendah. Sepatutnya mereka menjadi budak, tidak peduli setinggi apapun IQ mereka. Dengan keadaan pembedaan yang begitu menonjol, begitu tajam, masyarakat India tidak mungkin memiliki kemajuan yang berarti. Buddha melawan hal itu. Setiap orang sama: kita harus memperlakukan setiap makhluk yang disebut manusia itu sama rata. Buddha menganggap setiap orang memiliki sifat Buddha di dalamnya. Asal manusia itu sadar dan insaf akan kebenaran, melakukan segala kebajikan sesuai dengan hukum itu, ia akan terus naik, bukan saja naik ke lapisan tertinggi dan masuk ke dalam dunia dewa, ia bahkan akan masuk ke dalam dunia Nirwana dan ia akan menghilangkan segala nafsu campuran, segala birahi, segala sesuatu yang telah membentuk endapan, yang dapat menurunkan manusia dari wilayah yang tinggi (rohani). Melalui penyulingan reinkarnasi dia tiba pada suatu tempat yang namanya Nirwana. Ini Buddhisme. Saya bukan bermaksud untuk membicarakan Buddhisme, tetapi saya mengatakan kepada Saudara bahwa di dalam Buddhisme ada satu penerobosan, yaitu memikirkan tentang butir ke dua yang sedang kita bahas ini. Di dalam Alkitab, pertama-tama, orang yang disebut memiliki kebenaran Allah atau keadilan Allah harus tegak, lurus, jujur, ikhlas – sincere and doing everything right, not crooked. Kedua, harus menghadapi sesama manusia dengan sama rata; jangan khusus menyenangi anak-anak yang elok, tetapi membenci dan mencaci maki anak yang hidungnya terlalu besar atau mukanya sedikit berparut. Seorang guru harus adil. Apabila seorang guru, seorang ayah, pemerintah atau seseorang di dalam masyarakat bisa memperlakukan orang lain dengan sama rata, orang itu disebut orang adil.
  • 3. Yang menjadikan kebenaran sebagai intisari hidup. Jika di dalam pemikiran dan watak seseorang ada prinsip dan kelimpahan pengertian kebenaran, orang itu disebut orang benar. Seorang yang benar adalah seorang yang mempunyai kebenaran firman Tuhan yang membekali, memberikan prinsip dan patokan sehingga apa yang dijalankan sesuai dengan intisari yang berada di dalam dirinya. The righteous man is a man who is doing everything according to the truth as a content of his personality. Ia mengisi pribadinya dengan kebenaran Tuhan. Maka, dari perbendaharaan kebenaran yang mengisi dirinya dengan kebenaran yang menjadi intisari hidupnya itu, ia tahu bagaimana ia harus memperlakukan dirinya di dalam aplikasi etika dan kelakuannya.
  • 4. Yang hidup dalam kekudusan. Ini merupakan sifat yang mendasari etika yang paling hakiki. Seorang yang benar adalah seorang yang membenci segala macam kenajisan. Seorang yang benar adalah seorang yang membenci segala bentuk motivasi campuran. Seorang yang benar adalah seorang yang berusaha untuk menyingkirkan diri dari segala noda, segala pencemaran, dan segala polusi yang akan merusak dan mengotori jiwanya. Orang yang sedemikian disebut orang yang benar dan adil. Jadi orang yang benar dan adil adalah orang yang lurus dan jujur. Orang yang benar dan adil adalah orang yang tidak memandang bulu. Orang yang adil adalah orang yang mengisi hidupnya dengan kebenaran. Orang yang benar dan adil juga adalah orang yang mencintai kekudusan.
  • 5. Yang senantiasa tegas dan tidak berkompromi dengan dosa. Senantiasa memiliki ketegasan dan tidak mau berkompromi dengan dosa adalah sikap hidup orang yang benar dan adil. Jikalau Saudara melihat ada seorang hakim menjalankan lima prinsip ini, hakim itu pasti membereskan banyak hal di dalam masyarakat. Sekarang ini banyak hakim yang ahli melanggar hukum, tetapi tahu bagaimana supaya tidak bisa dihukum, itu namanya “profesor hukum”. Ahli hukum menjadi ahli mempelajari hukum, khusus belajar untuk melanggar hukum dan supaya tidak perlu dihukum. Jadi, hukum dipermainkan, diputarbalikkan oleh hakim-hakim yang bukan ingin menjalankan hukum dan keadilan, tetapi memakai topeng keadilan untuk mencari uang demi egoisme mereka. Dengan demikian, dunia ini semakin tidak mengenal hukum, semakin hidup di dalam dosa, dan pada akhirnya harus dihukum oleh Tuhan Allah.

Jika di dunia ini Saudara kecewa, itu menunjukkan Saudara perlu iman Kristen, sebab dengan iman Kristen, Saudara melihat bahwa Allah berada di atas semua hakim; Jaksa di atas segala jaksa; Raja di atas segala raja; Pemerintah di atas segala pemerintah; Nama di atas segala nama. Itulah penerobosan yang kita sebut sebagai iman.

Dengan memutar-balikkan kelima hal di atas, kita mengetahui keadaan masyarakat kita sekarang, yang mengaku teknologinya maju. Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang bengkok, pura-pura, bertopeng dan munafik luar biasa. Betul tidak? Mungkin juga Saudara termasuk orang yang demikian.

Dunia sudah mengetahui bagaimana memperlakukan diri dengan hukum-hukum yang dipermainkan, dimanipulasi. Padahal ketika seseorang mempermainkan hukum, ia sebenarnya bukan mempermainkan hukum, tetapi sedang mempermainkan diri.

Pertama, dunia ini adalah dunia yang tidak adil, apalagi pada akhir-akhir ini perbedaan kaya dan miskin sudah begitu menonjol, jurang di antara keduanya sudah begitu besar. Ada yang satu tahun gajinya 1 miliar, ada yang dengan mudah bisa mendapat ratusan miliar, tetapi ada orang yang sampai mati belum cukup makan. Ada orang yang kerja setengah mati, tetapi kekurangan makan. Bukan saja tidak tidak dihormati, tetapi dihina hanya karena ia miskin. Orang yang memperoleh kekayaan dari segala macam cara dan perbuatan yang tidak benar tidak pernah diadili dan dinyatakan kesalahannya, tetapi terus dihormati hanya karena uangnya banyak. Inilah dunia yang tidak adil.

Kedua, kadang-kadang orang menganggap jika di dalam gereja banyak orang Kristen yang kaya, itu menyenangkan. Saya tidak terlalu senang, kecuali mereka sungguh-sungguh bertobat. Kalau tidak, bagi saya, orang yang paling kaya atau orang yang paling miskin, sama saja. Mereka hanyalah jiwa yang memerlukan darah Kristus saja. Malahan orang-orang kaya yang ada di gereja mengakibatkan banyak orang mengira bahwa kita hanya bersandar pada mereka saja, padahal kita harus menjalankan hukum dan keadilan Tuhan Allah.

Ketiga, dari prinsip ini, kita melihat dunia sekarang justru adalah dunia yang bukan saja tidak memiliki kebenaran, tetapi juga penuh dengan penipuan dan kebohongan. Kalimat Hitler yang terkenal adalah: “Berbohonglah seratus kali, maka yang kau katakan itu menjadi kebenaran.” Satu kali berbohong tidak meyakinkan orang, tetapi jika kebohongan itu diulangi seratus kali, ia akan dianggap sebagai kebenaran, demikian katanya. Saya tidak percaya bahwa kebenaran itu memerlukan “proses menjadi”, yang berarti kebenaran adalah suatu proses. Kebenaran tidak memerlukan “proses menjadi”.

Kebenaran dahulu adalah kebenaran, sekarang adalah kebenaran, dan selama-lamanya adalah kebenaran. Yang perlu proses adalah orang yang tidak mengerti kebenaran menjadi mengerti kebenaran. Dari tidak mengerti menjadi mengerti itu proses. Tetapi kebenaran itu sendiri tidak perlu proses. Kalau prinsip ini tidak Saudara mengerti, Saudara rugi.

Karena kebenaran itu tidak memerlukan proses, maka kita tidak percaya istilah “menjadi kebenaran”. Kebenaran tidak memerlukan proses “menjadi”.

Tuhan kita adalah Kebenaran yang tidak berubah. Kita yang harus berubah, yaitu dari tidak mengerti menjadi mengeri, dari kurang mantap menjadi mantap, dari tidak setuju menjadi setuju. Barangsiapa semakin dekat dengan kebenaran Allah, dia semakin tidak sembarangan berubah. Tetapi saya tidak berani membalikkan hal ini: Barangsiapa tidak pernah berubah, berarti dia dekat dengan kebenaran. Tidak demikian! Manusia mempunyai “dua kaki” tetapi tidak boleh Saudara balik, “maka semua yang berkaki dua pasti manusia.” Belum tentu demikian. Manusia memang berkaki dua, tetapi yang berkaki dua mungkin ayam, bebek, angsa, burung bangau atau yang lain. Jangan Saudara balikkan.

Allah itu Kebenaran. Ia tidak berubah. Tetapi untuk mengerti kebenaran memerlukan proses. Karena manusia berada di dalam proses belajar, dalam proses berubah, dan belajar makin mengerti kebenaran, maka akibatnya kita makin dekat dengan Dia.

Keempat, kita melihat masyarakat sekarang adalah masyarakat yang penuh kenajisan. Kenajisan-kenajisan yang sekarang diperindah, bagaikan racun-racun yang disalut gula. Waktu dimakan, Saudara hanya tahu manisnya, Saudara tidak sadar racunnya. Ada peribahasa yang mengatakan, obat yang baik selalu pahit. Memang tidak tentu semua yang pahit itu obat yang baik, tetapi obat yang baik selalu pahit. Setan berusaha membungkus racun dengan gula, sehingga Saudara tidak merasakannya. Yang Saudara rasakan hanyalah kemanisannya. Ini adalah penipuan. Demikianlah yang kita lihat di dalam dunia ini, kesucian sudah tidak ada, kebenaran tidak ada. Yang ada hanyalah dosa yang dibungkus dengan keindahan sehingga orang lain tidak sadar.

Kelima, dunia sekarang ini tidak ada lagi orang yang bersikap berani dan tegas dalam menghadapi dosa. Yang ada hanyalah kompromi, lalu memakai istilah “toleransi”, “sabar”. Istilahnya indah, tetapi semangatnya adalah berkompromi dengan dosa. Itu bukan kebenaran.

Alkitab memakai istilah yang begitu agung dan begitu besar. Istilah ini mengandung arti yang meliputi kelima lapisan yangmemberi kita suatu keadaan yang bersifat menyeluruh, yaitu: Allah kita itu adalah Allah yang adil. Dia adalah Allah yang suci. Dia adalah Allah yang jujur. Dia adalah Allah yang setia dan tidak berubah. Dia adalah Allah Kebenaran. Dia adalah Allah yang tidak berkompriomi dengan dosa. Dia adalah Allah yang memandang semua manusia sama rata, tidak pandang bulu.

Konsep Allah semacam demikian tidak ada pada agama di luar Alkitab, sampai suatu saat ada agama-agama lain yang dipengaruhi oleh Alkitab, baru mengutip ayat seperti ini ke dalam agama mereka. Saya berani mengatakan kalimat ini, karena istilah our God is righteous God tidak dapat Saudara temukan di dalam kitab suci agama apa pun sebelum Allah mewahyukan Alkitab ke dalam dunia. Jika Saudara mencari istilah tersebut di dalam Buddhisme, Hinduisme, Konfisianisme, Taoisme, Shintoisme, dewa-dewa dan mitologi orang-orang Yunani dan Romawi, Saudara tidak akan menemukannya.

Di dalam dewa-dewa itu, mereka ingin memperoleh keadilan. Sayangnya dewa-dewa itu bukanlah “Yang Adil” itu. Mereka bisa berbuat salah, iri, cemburu, membunuh, bahkan bisa merampas menantu untuk dijadikan istri sendiri. Miotologi-mitologi Yunani dan dewa-dewa yang berada di Olympus tidak mempunyai standar etika yang dapat menjadi teladan bagi umat manusia.

Oleh karena itu, orang-orang Yunani yang tidak puas dengan mitologi dan pelaksanaan agama mereka, akhirnya menampung konsep, dan menerima prinsip hanya ada satu Allah yang maha tinggi, yang adil. Perjanjian Baru khusus memberikan satu julukan kepada orang-orang seperti itu, yakni “orang ibadat”. Istilah “orang ibadat” itu jangan sembarangan ditafsirkan. Kalau dalam konteks Alkitab Saudara menafsirkan istilah “orang ibadat” sebagai orang yang takut pada Tuhan, orang yang suci, itu betul. Tetapi istilah ini dalam Perjanjian Baru secara khusus melukiskan suatu golongan orang, yaitu orang Yunani yang tidak puas lagi kepada agama Olympus mereka, sehingga akhirnya mereka berbalik.

Pada waktu mereka berdagang dengan orang Yahudi, mereka mendapat tawaran, “Kami orang Yahudi percaya kepada Allah yang mahatinggi, yang mahakudus, maha adil, mahatahu, kekal, yang adalah satu-satunya Allah yang benar.” Mereka mau percaya kepada Allah sedemikian, tetapi mereka belum mengenal Dia. Maka ketika mereka memberikan persembahan kepada dewa-dewa, mereka membuat lagi sebuah mezbah “Kepada Allah yang Tidak Dikenal”. Mereka takut kalau-kalau karena tidak mengenal-Nya, Allah itu tidak mendapat bagian persembahan, lalu marah kepada mereka. Maka mereka juga memberi persembahan kepada Dia supaya luput dari kemarahan. Dan siapakah Allah itu? Mungkin Allah itu lebih tinggi. Mungkin tidak lebih tinggi. Mungkin Allah orang Yahudi lebih tinggi. Mari kita beribadah kepada-Nya, hidup dalam keadilan. Orang yang mempunyai konsep demikian adalah orang-orang yang baru mengetahui bahwa yang disebut Allah yang tertinggi harus mempunyai sifat keadilan dan kebenaran yang mutlak.

Tetapi sebelum orang Yunani mengenal konsep ini atau sebelum orang Romawi mau menerima konsep ini, yaitu 1.500 tahun sebelum itu, Musa sudah menulis: “Tuhan adalah Allah yang adil. Tuhan adalah Allah yang benar.” Bahkan sebelum Musa pada zaman Abraham, sudah dikeluarkan satu ucapan, “Allah yang mahatinggi berkuasa di seluruh bumi, masakan Ia tidak mengadili dengan keadilan?” Allah yang harus menghakimi seluruh bumi, apakah Ia tidak menghakimi berdasarkan keadilan-Nya? Perkataan ini muncul 3.500 tahun yang lalu, dan ajaran ini muncul sebelum adanya ajaran Upanisad dalam Hinduisme, sebelum ada ajaran Sakyamuni dalam Buddhisme, sebelum ada ajaran Konfusianisme dalam Analect, dan sebelum ada pikiran-pikiran Tao Te Ching yang ditulis oleh Lao Tze, sebelum ada Shintoisme, sebelum ada agama-agama lain, Alkitab sudah menulis hal itu.

Allah adalah Allah yang adil dan Ia akan mengadili seluruh dunia dengan keadilan yang ada pada-Nya. Puji Tuhan! Apakah Saudara percaya kepada Dia, dan di dalam iman kepada Dia, Saudara telah menggabungkan diri dengan keadilan Tuhan Allah? Iman Kristen bukan hanya suatu pengakuan atau acungan tangan atau pembaptisan. Iman Kristen adalah penggabungan diri Saudara yang mengaku diri Kristen melalui Kristus, menjadi satu dengan Allah, dan boleh menikmati perjanjian, boleh memiliki kemiripan dengan sifat-sifat ilahi yang menjadi patokan yang mutlak itu. Itulah iman Kristen. Christian faith means the union of yourself to God, your Creator, to participate in the divine nature of God. Christian faith means the submission of yourselves and your religiosity to the Creator of your religious nature, your reasoning power to the Source of the Truth, your nature opf law to the Source of Righteousness – God Himself which is the Absolute Truth.

Iman orang Kristen berarti penggabungan diri dan penaklukan diri kepada Sumber Kebenaran, Sumber Hukum, Sumber Pengetahuan. Sumber Keadilan, dan Sumber Kekudusan, sehingga diri Saudara yang tidak kudus sekarang dikuduskan, yang tidak adil kini diadilkan, sehingga terjalin relasi yang erat dengan Tuhan. Itulah iman Kristren.

Jangan Saudara menipu diri dengan mengatakan, “Saya sudah dibaptis. Saya sudah mendengarkan khotbah banyak orang.” Mungkin Saudara sudah banyak mendengar lelucon-lelucon, cerita-cerita, dongeng-dongeng, suka melihat entertainment-entertainment yang tidak ada artinya dari dukun-dukun Kristen di gereja Saudara. Kini gabungkanlah diri Saudara dengan iman kepada Allah Pencipta Saudara, dan kenalilah sifat-sifat-Nya, supaya dapat menjalankan, merealisasikan, dan menjadi reperesentatif (wakil) Tuhan kita.

Amin.
(Bersambung)
SUMBER :
Nama Buku : Dosa, Keadilan, dan Penghakiman
Sub Judul : Bab 1 : Keadilan dan Kebenaran (2)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 17 – 29
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube