Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya

To do the will of God, you should submit your reasoning under The Word of God and the guidance of the Holy Spirit, and then you praise Him, not praise yourself. Itu menjalankan kehendak Tuhan. Banyak isitilah rohani yang kita sudah biasa pakai, kita begitu hafal, begitu ngerti, sampai akhirnya kita sudah membiasakan diri pakai bahasa-bahasa, istilah-istilah kekristenan yang sama sekali kita tidak lagi sadar, berapa serius kalimat yang kita pakai itu. To do the will of God, that is so dignify, so serious, so important. Tetapi, kita sudah mengkatakan to do the will of God di dalam keadaan yang sembarangan.

Empat puluh tahun yang lalu di Makau, ada seorang anak muda perempuan, yang selalu bantu gereja main piano. Satu hari pendeta bilang, “ Ayo kita sekarang sudah mau kebaktian, you main piano nomor ini.” Dia bilang lain, “Ini hari saya tidak main.””Kenapa?” “Hari ini kehendak Tuhan, saya tidak boleh main.” Kehendak Tuhan, tidak boleh main? Pendetanya jadi kewalahan, kok seperti dia lebih rohani dari pendeta. Rohani tidak ngerti, prinsip apa ini? Kenapa? “Tuhan berkata kepada hati saya, hari ini engkau tidak main piano, ini pimpinan Roh Kudus.” Siapa berani melawan, Roh Kudus kok, yang memimpin. Pendetanya,  yah tidak ada yang main piano, hari itu kebaktian itu sedikit kacau. Sesudah selesai dia mau cari, penasaran, kenapa si anak ini hari ini.

Akhirnya ditemukan kenapa, karena dia biasa main sembarangan, ngawur mainnya dan hari itu dosen pianonya datang. Begitu dia lihat, dosen pianonya masuk,“wah cilaka, nanti kalau saya sembarangan main, akan diapain sama dia. Pimpinan Tuhan, kehendak Tuhan, hari ini saya tidak main.” Maka orang kalau mulutnya sudah biasa kehendak Tuhan, kehendak Tuhan. Besok yang masuk surga cuma bibirnya tok, yang lainnya dibuang ke neraka, bibirnya yang masuk surga. Yesus berkata, “engkau menyebut Aku dengan Tuhan, Tuhan, dengan bibirmu saja, tetapi hatimu jauh daripada-Ku.” Saya minta orang Gereja Reformed, jangan sembarang menyebut kehendak Tuhan, kehendak Tuhan, pimpinan Tuhan, kecuali betul-betul engkau jelas.

Saya baru marah kepada seorang murid yang tadinya mengatakan, saya tidak rasa, saya melayani dimana, saya pernah rasa Tuhan pimpin saya ke satu propinsi. Sudah di situ tidak sampai 2 tahun dia pindah. Lalu saya tanya, “kalau begini, dulu engkau di pimpin Tuhan betul kehendak Tuhan tidak?” Salah seorang Hamba Tuhan, saya tidak usah sebut siapa namanya, juga rasa dia mesti tinggalkan satu kota, pergi lain tempat. Sudah pergi lain, geger sama orang lain, sudah dua bulan lepas dari tempat itu. Karena dia pergi adalah alasan tertentu tapi justru berbentur dengan orang-orang yang menjadi orang yang menjadi kekuatan untuk dia alasan tertentu. Lalu saya membuktikan, “kalau begini kehendak Tuhan, yang kau mengerti dua bulan yang lalu salah toh? Kehendak Tuhan yang salah atau engkau yang salah? Bagaimana engkau bertanggungjawab? Engkau sudah lulus sekolah teologi, engkau begitu sembarangan menjalankan kehendak Tuhan.”

Seumur hidup ini saya tidak sembarangan angkat kaki untuk masuk ke dalam satu ladang atau angkat kaki keluar dari satu ladang. Selama enam puluh empat [tahun] saya melayani di SAAT, melayani di Gloria di Surabaya, akhirnya tahun 89 saya mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia. Saya jelas tahu pergi atau tidak. Orang berkata “Stephen Tong, engkau sudah disambut begitu meriah di seluruh dunia, di Eropa di New York, di Los Angeles, di Cichago, engkau memimpin kebaktian yang paling besar yang berada di dalam sejarah gereja-gereja Tionghoa selama sejarah. Kenapa engkau mau pulang ke Indonesia? Nongkrong di Malang, kota yang kecil, di sekolah teologia yang tidak terkenal. Engkau diundang untuk menjadi bishop, engkau diundang meneruskan Zao She Kwang(?) menjadi pengganti Dr. Andrew Gih di Los Angeles dengan kantor semua sudah tersedia. Bahkan ada orang mengatakan kalau engkau mau pindah ke kota ini, saya mendukung engkau satu tahun seratus ribu dolar untuk bagian office saja untuk seluruh pekerjaan satu juta dolar.” Waktu itu uang besar sekali, saya bilang tidak, kenapa tidak? Tidak ada pimpinan Tuhan, saya tidak boleh sembarangan satu langkah. Saudara-saudara saya sebelum mendirikan GRII sudah keliling seribu lima ratus gereja. Saya sudah berkhotbah kepada, paling sedikit lebih sepuluh juta manusia, baru dirikan GRII, saya disambut disini disana. Kalau rekan-rekan saya kira, wah Pak Tong perlu saya bantu dia, karena dia perlu saya bantu. No one come to help, no one come to contribute, everyone come to serve together and come to learn, come to obey God. Ini sikap saya di dalam gereja ini.

Menjalankan kehendak Tuhan, betulkah pimpinan Tuhan? Betulkah langkah-langkahmu itu betul-betul langkah dari Tuhan? Terlalu banyak murid begitu bilang sama saya, pimpinan Tuhan saya kesini, kok tau? Pimpinan saya, saya ke kota itu, kok tau? Ada seorang berkata kepada saya, “Pak Tong, saya tidak mau di Kalimantan.” “Karena apa?” “Saya tidak bisa maju disitu.” “Jadi dimana bisa maju?” “Kalau kota besar saya mau.” Kemana saja asal di Jakarta, begitu? Lalu saya bilang sama dia, “Oh jadi engkau tidak mau di Kalimantan, eh mau di kota besar?” Bagi saya Malang itu Kalimantan, kota kecil. Kalau saya mau di New York diterima, kalau mau saya di San Fransisco diterima, kalau mau saya di Toronto diterima. Seluruh dunia begitu banyak gereja mengharapkan saya menjadi pendeta mereka. Tetapi saya tidak boleh sembarangan, apalagi pemuda-pemudi, dengar ini ada beban, dengar itu ada beban, kesini menginjili rasa perlu disitu, seluruh gereja digabungkan kesitu, supaya disitu yang menjadi pelayanan. Tidak begitu, musti jelas kehendak Tuhan. Bagaimana jelas, menjadi jelas kehendak Tuhan, prinsip pertama menyangkal diri. Ini rahasianya. The secret of doing the will of God, the first principle: deny yourself. Saudara-saudara jangan bilang, “Oh ada kebutuhan itu kehendak Tuhan, ada gerakan itu kehendak Tuhan.”Deny yourself. Kalau engkau menyangkal diri tidak mengikuti diri,you crucify your will on the cross, then the will of God will be manifested to you clearly. Ini prinsipnya. Setelah Tuhan memperlengkapi engkau di dalam menjalankan segala kebajikan, baru engkau bisa menjalankan kehendak Tuhan, lalu setelah ini langkah terakhir melalui Yesus Kristus melengkapi engkau dan memberikan engkau kekuatan mengerjakan segala sesuatu yang diperkenan oleh Dia, bukan diperkenan oleh kamu. Jadi sekali lagi, deny yourserlf is the secret and the first step to know the will of God.

Waktu saya lulus daripada SAAT, lalu dosen Rektor tanya kepada saya, maukah engkau pergi ke Surabaya? Saya bilang tidak. Karena apa? Surabaya kota saya sendiri, jadi orang-orang di situ kenal saya dari kecil, saya kalau di situ kurang leluasa, tapi kota Semarang kota, beberapa kota mengundang saya menjadi pendeta disitu dan saya bikin kebangunan rohani penuh sampai di luar orang berdiri, saya paling senang kalau pergi tempat dimana orang menghormati saya. Lalu dia bilang, “saya minta you pergi ke Surabaya sekaligus ada di Malang, langsung lulus langsung menjadi dosen di SAAT.” Saya menjawab, “saya doa lagi lah, doa lagi.” Nah ini cara terbaik untuk menunda kan? Doa lagi, saya musti berdoa. Lalu Rektor bilang, “you perlu doa berapa lama?” Dua bulan, dua bulan. Sesudah dua bulan, tetap tidak mau pergi, orang doa itu kan alasan ya. Yang mau itu kan will, maunya kemana sudah tetap lalu doa. Banyak orang cari jodoh dulu baru doa, bukan doa dulu baru cari, ya, kadang will-nya yang mendorong. 2 bulan kemudia saya dipanggil, “You  sudah doa 2 bulan?”, “Ya.” , “jadi, sekarang mau tidak ke Surabaya?” , “Tidak.” , “Jadi, bagaimana?” , “mau doa lagi.” Tunda lagi, bukan doa lagi. Saudara-saudara, dia mengatakan apa? “Sudahlah, tidak usah doa, ke Surabaya saja!” Akhirnya saya dengan tidak rela sekali saya pergi Surabaya sambil ke Malang, setiap minggu itu 3 hari Surabaya, 4 hari Malang, 3 hari Surabaya, 4 hari Malang, luar biasa.Dan saya paling tidak senang naik bus, setiap kali naik bus sampai tengah jalan itu sudah muntah-muntah, sabankali begitu.

Saya bukan orang yang suka jalan-jalan, akhirnya Tuhan jadikan saya seorang yang keliling dunia 1 tahun 300 kali naik kapal terbang, itu semua bukan kemauan saya. Siapa yang suka begini? Siapa yang tahan? 450.00 km 1 tahun, lebih dari pada 10 kali keliling dunia, lebih 2 kali daripada pilot  yang terbang, saban hari bawa koper, saben hari naikkan sini, sini, sini pinggangnya masih kuat, heran. Saban hari waktu makan itu separuh waktunya di kapal terbang, makanannya itu bosan luar biasa. Dia mengatakan pokoknya Surabaya-Malang. Okee… kalau Saudara tanya saya, “Pak Tong, waktu engkau 24 mulai melayani Tuhan, waktu engkau tahu, kehendak Tuhan tidak?” saya akan jujur ya, saya waktu itu tidak tahu kehendak Tuhan. Kalau begitu, bukan kehendak Tuhan dong?  Saya bilang, tidak tentu bukan kehendak Tuhan. Lalu, engkau tanya lagi, kehendak siapa? Kehendak siapa saya tidak tahu waktu itu, tapi saya tahu pasti bukan kehendakku.

Nah, disini titik permulaan. Yang mengatakan ‘kehendak Tuhan, kehendak Tuhan’ banyak omong kosongnya, banyak kurang jujurnya, banyak alasan doa lagi ‘saya mau kehendak Tuhan’,  tidak sungguh-sungguh, tetapi saya  berani katakan ‘saat itu bukan kehendakku, maka kemungkinan besar kehendak Tuhan’. Di situ, saya tarik satu kesimpulan “orang yang menyangkal diri baru mungkin mengerti kehendak Tuhan”, lalu engkau tanya, “waktu itu engkau tidak tahu kehendak Tuhan?”, “kurang tahu”, “sekarang?” , “saya sekarang tahu, semua yang lewati itu semua kehendak Tuhan.” Waktu itu saya tidak mengikuti diri, ikuti rektor saya, saya nda rela sekali, karena menyangkal diri maka waktu itu saya pergi ke sini-sana, diatur oleh dia, saya tidak senang, itu kehendak Tuhan. Karena melalui itu menjadikan saya seorang yang tidak barambisi untuk diri, tidak berambisi untuk kekuatan, kuasa, kedudukan, tidak. Saya tidak suka kalau akhirnya saya kenapakah tunda pelayanan sampai tahun 89, baru dirikan GRII dan dirikan GRII pun tunda 10 tahun. Tahun 79 saya sudah bicara sama hanya satu orang, nyonya saya, “perlu satu gereja yang Reformed, kalau tidak, kekacauan ini seperti ini.” 2 hari yang lalu, Pdt. Tjipto bicara sama saya, “wah, cilaka, Protestan di Surabaya kacau balau dan Bethani kacau balau. Dua-dua kacau, mereka seperti dua kubu dan mereka semua lagi tanya pendirian Reformed bagaimana?” Saya bilang sama dia, “20 tahun yang lalu saya sudah lihat apa yang akan terjadi gereja pada hari ini.” Kenapa saya lihat? Karena saya mengetahui dua-dua, yang liberal tidak bisa mewakili kekristenan, yang emotional kharismatik radikal juga tidak bisa mewakili kekristenan. Both are rival and also charismatic cannot represent the true teaching of the Bible, dan we should return to the word of God, return to the spirit of reformation, be faithful only to the revelation of God, no other way.

Lalu orang kira dirikan gereja Reformed bukan sama saja, juga satu denominasi, “No, Reformed faith is not a production in denomination, reformed faith is a complete faithfulness to the word of God and the true invitation to the whole world to return to the whole Bible.” Inilah satu ajakan yang mulia. Calvin dan Martin Luther, dua-dua tidak pernah mempunyai ambisi mendirikan gereja untuk sendiri, tidak. Mereka hanya mau membawakan seluruh Tubuh Kristus kembali kepada firman Tuhan, itu ajakan. Lalu, orang sekarang dirikan gereja sembarangan, pasang plang gereja, asal berplang, asal membaptiskan orang, asal berani memberikan Perjamuan Suci itu namanya gereja, ajarannya simpang siur, yang dikhotbahkan bukan firman, yang dikhotbahkan manusia, program gereja dan permintaan keuangan, itu saja. Akibatnya adalah gereja tidak mengerti firman Tuhan. Saudara, lalu mereka mengatakan kita gereja, kamu gereja, kamu hanya salah satu diantara begitu banyak denominasi, jangan sombong anggap dirimu benar. Saudara-saudara, cilaka, sekali lagi gereja Reformed, gerakan Reformed adalah kesetiaan mutlak kepada firman Tuhan yang sekaligus mengajak ‘mari semua orang Kristen dengan segenap hati, seluruh jiwa, seluruh Tubuh Kristus, kembali seluruh hati setia kepada seluruh firman Tuhan,” itu ajakan. Saudara-saudara, sekali lagi Reformed movement is not a production of a denomination, is not based on denominationallism, but a white invitation and glorious challenge to the whole church with whole heart, to return to be faithful to the whole bible, itu yang kita inginkan.

Kiranya Tuhan memberkati kita, memberikan kepada kita kesadaran berapa penting adanya kita. Saudara-saudara, kita mengerjakan yang diperkenan oleh Dia, bukan diperkenan oleh kita karena bukan dari kehendak kita, bukan daripada self-centered, bukan daripada antroposentrik, bukan daripada egoisme, daripada how to do the will of God. Itu sebab kita mengatakan kalimat-kalimat tajam. Sekali lagi saya berkata, “Doa Yabes, doa antroposentrik. Doa Yesus Kristus, doa teosentrik.” The Lords prayer by Jesus Christ, who taught us ‘our Father in heaven, Thy name, Thy Kingdom, Thy will. Doa Yabes, the prayer of Jabes, ‘my teritory, my, my, my,berbeda. Kalau engkau tidak mempunyai mata yang tajam, engkau tidak tahu mengapa harus membedakan harus keluar daripada yang jahat. Nah, itu tidak salah, engkau boleh berdoa, engkau berhak, tetapi jangan menganggap itu lebih penting daripada doa Yesus Kristus.Amin? Biar kehendak Tuhan yang jadi. To delight Him, in His will, not your will.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Sumber : https://www.grii-jogja.org/melakukan-kehendak-tuhan-30-april-2017/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube