Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Beberapa waktu lalu, saya dan istri mencari bengkel untuk memasang plat nomor mobil. Ketika melihat ada bengkel yg kecil, saya meminta istri menanyai kesediaan penjaganya  untuk memasangkan plat nomor. Seorang bapak berusia 60an tahun yang duduk di depan bengkel tampak tidak bisa merespon sedikit pun ketika istri saya menanyainya. Sementara tidak ada orang lain yang menjaga bengkel itu, kecuali beberapa tukang yang sedang mengerjakan bangunan di rumah sebelahnya.

Karena kesal, saya lalu memanggil istri agar segera kembali ke mobil. Di mobil, saya mengatakan, “Kenapa buang waktu percuma untuk menanyai bapak itu? Bukankah bapak itu dari tadi terlihat tidak bisa merespon apa-apa? Percuma, buang waktu saja… Ayo kita cari bengel lain!”

Kami lalu mencari bengkel lain. Sambil menunggu pemasangan plat nomor sekitar satu jam, saya mengajak istri untuk makan di warung steak dekat bengkel itu. Setelah makan, istri saya mau membayar tapi dompetnya tidak ada. Ketika dicari di mobil, dompetnya juga tidak ditemukan. Suasana panik pun terjadi. Saya juga tidak bisa membayar karena di dompet tidak ada uang.

Saya lalu mohon izin pelayan warung untuk membantu istri saya mencarikan dompet. Setelah dicari lagi di mobil, dompet juga tak ditemukan. Saya agak memarahi istri karena sulit memahami mengapa dompet yang dipegangnya bisa hilang. Padahal, hanya ada dua tempat yang sempat kami singgah yaitu di ATM dan di tempat bapak yang tampak pikun tadi. Saya meyakini bahwa dompet istri saya pasti kelupaan di tempat ATM sehingga sulit mengharapkan untuk menemukannya kembali. Sementara istri meyakini bahwa dompetnya kemungkinan jatuh di bengkel sebelumnya.

Tapi, saya tidak meyakiniya karena selama istri berbicara dengan si bapak yang terlihat pikun, saya terus memerhatikannya dari dalam mobil. Waktunya juga sangat singkat. Akhirnya, kami memutuskan kembali ke bengkel sebelumnya dan di tempat ATM untuk mencari dompet. Dalam hati, saya tidak yakin dompet yang berisi banyak surat berharga bakal ditemukan lagi.

Ketika tiba di bengkel pertama, seorang ibu tua menyambut istri saya dengan hangat. Dari dalam mobil (saat itu hujan lebat), saya melihat istri saya telihat tertawa gembira dan berbicara hangat dengan si ibu tua. Sementara bapak tua yang terlihat sudah pikun dengan tertatih-tatih menghampiri istri saya. Beberapa tukang bangunan yang mengerjakan bangunan rumah di sebelahnya juga terlihat datang menemui istri saya. Saya melihat istri menerima kembali dompetnya dari si ibu tua. Ia lalu mengeluarkan uang untuk si tukang. Saya pun sangat lega dan bersyukur atas ditemukan kembali dompet istri saya. Akhirnya, kekhawatiran saya tidak terbukti.

Yang menarik, dari cerita istri saya, ternyata dompetnya terjatuh di depan si bapak tua yang terlihat sudah pikun. Tukang yang melihat dompet itu lalu mengambilnya, tapi si bapak yang ternyata memang sakit karena stroke dan tak bisa bicara, berusaha mencegahnya. Beliau lalu mencari istrinya yang sedang ada di dapur dan dengan bahasa isyarat meminta istrinya untuk segera meminta kembali dompet istri saya yang sudah diambil tukang sebelah rumah. Si Ibu tua dengan dibantu suaminya berhasil meminta kembali dompet istri saya. Yang mengharukan, si Ibu  dan suaminya juga tidak mau menerima uang ketika istri saya mau memberi mereka uang sebagai ucapan terima kasih.

Singkatnya, si bapak tua yang tadinya saya anggap tidak bisa apa-apa dan percuma saja istri saya berbicara dengannya, ternyata menjadi pahlawan yang menyelamatkan dompet istri saya. Dompet berisi sejumah uang dan surat-surat berharga akhirnya bisa ditemukan kembali berkat pertolongan si bapak tua yang terlihat lemah dan tak bisa berbuat apa-apa. Sungguh luar biasa!

Dengan kejadian yang cukup aneh tersebut, saya pun jadi malu pada diri sendiri. Saya pun segera menyadari bahwa Tuhan sedang mengingatkan dan menegur saya. Saya seperti diingatkan Sang Mahakuasa bahwa janganlah sekali-sekali berlaku sombong atau meremehkan orang lain yang terlihat lemah dan tak bisa apa-apa. Jikalau Tuhan mau, Tuhan pun akan segera memampukannya untuk menjadi penolong.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Kepala LPPM Unika Soegijapranata Semarang

Sumber : https://www.andriewongso.com/jangan-remehkan-orang-lemah/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube