Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka diusir dari Firdaus. Mengapa manusia dicipta di tempat yang begitu indah akhirnya harus diusir keluar? Saudara ingin menjadi seorang pemuda menuju kemenangan di masa tua atau menjadi keluarga miskin di pinggir jalan?

Saya lahir di keluarga kaya, tetapi di usia 3 tahun papa saya meninggal, rumah tidak bisa dijual, menjadi sangat miskin. Saat itu saya tidak mengerti apa-apa. Mama saya mengatakan “berjuang, bersandar Tuhan, jangan bersandar pada manusia. Kantong kosong tidak usah takut, hati kosong baru takut.” Dalam perjuangan iman yang bersandar pada Tuhan, saya menjadi orang yang tidak mau berkompromi. Tuhan kita hidup, sejati, dan memelihara. Tuhan mendengar doa ibuku dan membuktikan Dia sanggup membesarkan semua anak piatu dan membela janda, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Hidup saya merupakan bukti dan saksi. Dari tujuh saudara lima menjadi pendeta, karena seorang janda yang setia, jujur, cinta Tuhan, bekerja banting tulang untuk menghidupkan anak-anaknya. Kenapa ada orang sukses akhirnya gagal, punya kekayaan akhirnya habis berjudi, anak piatu berjuang sehingga mampu menolong orang lain? Karena ada atau tidaknya iman.

Adam dan Hawa dicipta dengan kemuliaan Tuhan di dalam diri mereka. Tetapi kesucian itu hilang dari mereka sehingga mereka jadi manusia yang berdosa. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang perlu busana. Ini tidak bisa dimengerti melalui agama mana pun. Manusia berbusana hanya bisa dijawab di Kejadian 3. Sebelum berdosa, kemuliaan Tuhan mengelilingi kita. Setelah berdosa, kemuliaan hilang, menjadi malu terhadap diri sendiri. Tubuh manusia, bentuk seni yang tertinggi, mengapa perlu ditutup, takut dilihat orang lain? Ini rahasia yang tidak bisa dimengerti kebudayaan mana pun, tetapi dicatat di Alkitab.

Ketika Adam di taman Eden, Tuhan memberikan firman: “Jangan engkau makan buah yang di tengah taman. Hari engkau makan engkau akan mati.” Firman Tuhan selalu mendahului kemampuan pemikiran kita. Mereka membiarkan firman Tuhan masuk, tetapi tidak dipikirkan dengan baik. Kejadian 3 adalah sumber untuk menggali dan menemukan semua bibit racun setan yang memengaruhi kebudayaan dan filsafat agama seluruh dunia. Setan bisa memalsukan sesuatu. Kebudayaan palsu bisa memalsukan segala sesuatu. Ada orang kelihatan sopan tapi hatinya jahat. Semua palsu karena setan berkata “tak tentu, tidak perlu takut”. Lalu Hawa jawab, “dengar siapa ya? Dengar firman Tuhan rugi, dengar setan mungkin mata besar.” Jadi dia memetik buah itu dan memakannya. Memang mata mereka melek, tetapi bukan bisa melihat Allah, atau melihat setan, melainkan melihat diri yang telanjang. Setelah engkau berdosa, engkau menjadi berpusat pada diri sendiri, bersandar diri, mementingkan diri. Setan menyuruh engkau mengikuti kalimat dia dan membuang kalimat Tuhan. Di taman Eden ada dua suara, suara setan dan suara Tuhan. Suara Tuhan adalah suara yang pasti, suara setan adalah suara yang ragu. Allah menciptakan manusia memang tidak sempurna sehingga mungkin jatuh.

Kemungkinan berdosa adalah salah satu hal yang penting. Kalau tidak ada, maka sama seperti mencipta batu. Batu tidak bernilai karena tidak mempunyai kebebasan, sehingga tidak ada kemungkinan bermoral. Yang berkemungkinan bermoral berarti mungkin berdosa. Allah tidak mau menjadikan manusia robot. Allah mau manusia mempunyai kebijaksanaan untuk memilih yang benar atau salah. Jika engkau bisa memilih yang benar, maka itu menjadi bernilai. Yang tidak mau percaya Tuhan, akan tersesat, liar, dan ngawur.

Allah membebaskan Adam dan Hawa dalam kondisi netral. Tidak memaksa dan sayang sekali mereka tidak mengerti semua ini. Begitu mendengar kalimat yang menghasut, janji palsu, langsung taat. Celakalah manusia yang terlalu gampang mendengar suara setan. Bukankah Tuhan menanamkan hati nurani? Setan adalah pencemar kebenaran. Ia selalu mulai dengan menjanjikan keuntungan. Tuhan mengatakan “hari engkau makan, hari itu engkau mati.” Ternyata tidak mati, maka kelihatan setan sukses. Kalimat Tuhan kelihatannya tidak jadi. Itu sebabnya orang bisa bosan ke gereja. Kalimat Tuhan tidak jadi, kalimat setan jadi. Adam setelah makan buah masih hidup 930 tahun. Orang Kristen yang tidak mendengar khotbah yang benar, sedang membuka pintu untuk setan. Manusia sering bosan baca Alkitab, karena percaya Tuhan sepertinya tidak menguntungkan, sementara tawaran setan begitu enak. Maka engkau tutup pintu untuk Tuhan dan buka pintu untuk setan. Manusia jatuh karena: 1) penipuan epistemologi; 2) penipuan melalui janji yang palsu: Tuhan melarang kita makan, karena Tuhan tidak mau kita tahu dan kita jadi seperti Tuhan. Dia mau monopoli pengetahuan. Di sini kita dibawa kepada Skeptisisme. Skeptisisme memecahkan 2 orang yang hubungan erat dengan menanamkan benih kecurigaan. Setelah Adam jatuh mereka mulai menyesal dan mereka merasa dingin. Kejatuhan menjadikan manusia melihat dirinya, melihat ketelanjangannya, dan menjadi malu. Manusia malu kecuali dalam pernikahan yang sah. Mereka takut dan melarikan diri dari hadapan Tuhan. Tuhan mulai bertanya: “Adam, di manakah engkau?” Kini Adam ada di tangan setan.

Ketika orang tidak tahu diri, dia akan kehilangan arah; ketika dia tidak tahu firman Tuhan, dia tidak tahu di mana dia. Manusia yang jatuh terhilang dari posisinya, kedudukan yang Tuhan berikan kepada kita melalui anak-Nya. Ada empat status:

  • 1. Status asli (dicipta menurut peta dan teladan Alllah);
  • 2. Status kejatuhan (lebih celaka dari binatang);
  • 3. Status penebusan Tuhan (melalui Yesus berdamai dengan Allah, ditebus, diberikan hidup yang kekal);
  • 4. Status kesempurnaan (ketika kita kembali ke sorga bersama Tuhan).

Melalui Kristus kita mendapatkan apa yang kita hilang di dalam Adam. Tuhan bukan menyelamatkan kita untuk mendapatkan status yang sudah pernah dimiliki. Justru Tuhan menjanjikan kita status yang lebih tinggi dari Adam. Itu sebabnya Tuhan ciptakan Adam dengan kemungkinan berbuat dosa. Manusia punya keharusan yaitu kita diberikan kemungkinan berbuat dosa. Di situlah nilai dan fungsi kebebasan yang membentuk potensi nilai moral. Jika tidak ada, maka manusia bukan makhluk moral. Tetapi jika mungkin menyeleweng, bertobat maka akan mendapatkan yang lebih tinggi.

Bagaimana menjadi manusia yang menang?

Manusia bersandarkan hidup dari firman Tuhan. Manusia selalu berdosa dari materi, karena menginginkan makan enak, kenikmatan seks. Kita jatuh karena kita membeli materi yang fana dengan menjual rohani yang kekal. Sama sepeti Adam, Esau, dll., mereka menukar sesuatu yang sementara dengan mengorbankan yang kekal. Bahagia hidup kekal telah engkau buang demi mendapatkan kenikmatan sementara. Bagi orang yang melecehkan Tuhan menganggap itu tidak penting dan jatuh.

Setelah Kejatuhan, Adam takut mendengar Tuhan datang. Mengapa manusia takut Tuhan? Orang berdosa takut Tuhan, karena engkau tidak beres, tidak hidup intim dengan Tuhan. Dosa dibuktikan karena tidak mau mengaku dosa.

Saya kira dari hari pertama itu hingga sekarang tidak ada perubahan. Ketika engkau melarikan diri dari Tuhan, mengindahkan tipu muslihat setan, engkau mengetahui perasaan hatimu seperti apa. Ini adalah hal yang terjadi setiap hari dan setiap orang. Ajarkan saya menghargai firman, menolak cobaan dari setan dan segala kenikmatan yang tidak beres, hidup suci, dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Sumber  : sekilas-kin-2015b-03.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube