Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Olav Hylland seharusnya sudah berangkat untuk memenuhi janjinya untuk pertemuan. Tapi istrinya telah lebih dahulu memakai mobil keluarga dan meskipun seorang karyawan menawarinya, Olav tidak mau.

“Saya tidak punya waktu untuk ini,” pikir penduduk Norwegia berumur 54 tahun ini yang selalu sibuk.

Saat itu, 11 Agustus 2015, adalah puncak musim restoran keluarga bergaya Viking di Gudvangen, Western Norwegia. Olav mengharapkan hingga 500 tamu, kebanyakan turis Asia, untuk makan di tempat itu sebelum naik feri.

Ia hampir saja membatalkan keberangkatannya, ketika ia ingat van  besar yang mereka beli. Ternyata tidak ada yang menggunakannya dan Olav pun melompat masuk.

Meninggalkan hotel, ia berbelok ke jalan utama dengan terowongan Gudvanga 300 meter di depannya. Terowongan dengan panjang 11,4 kilometer itu adalah salah satu dari banyak gunung perforasi Norwegia.

Dua tahun sebelumnya, sebuah truk terbakar di dalam terowongan itu. 67 orang dievakuasi, yang luka karena menghisap asap serius. Penutupan terowongan untuk perbaikan itu merupakan pukulan besar bagi bisnis Olav. Jalan menuju hotelnya terblokir dan arus turis pun terhenti.

Hari itu tidak ada bedanya dengan hari lain. Di dalam terowongan semuanya tampak normal. Ketika hampir di ujung terowongan, Olav melihat cahaya yang tidak biasa sekitar 50 meter di depan. Lalu, ia melihat sesuatu yang terbakar.

Karena ngeri, ia terhenyak. Bus wisata terbakar, di bagian belakang tempat mesinnya berada, puluhan turis Asia terhuyung-huyung ke arahnya, menjauh dari api.

Wah, mereka berjalan dengan cara yang salah, pikir Olav, mengetahui terowongan itu hanya 500 meter di depan tikungan di depannya. Ia pun menyadari bahwa bus itu sekarang berkobar dengan kencangnya hingga tidak bisa mengatasinya.

Sebagai seorang mantan relawan pemadam kebakaran, Olav harus waspada. Segera ia meraih ponselnya, memasukkan kode-kode dengan tangan berjejer adrenalin.

“Bus terbakar! Tutup gerbangnya!” Ia tahu mungkin ada banyak kendaraan di dalam terowongan. Ia juga tahu bahwa sistem otomatis akan memberi ventilasi asap untuk memudahkan akses pemadam kebakaran yang ditempatkan di dekat pintu keluar di depan.

Asap tebal pun mengepung terowongan. Hitungannya setiap detik. Tak mungkin para turis itu bisa berlari cepat dari asap yang bikin tersedak dan menyesakkan.

Dengan cepat, Olav memutar van. Di dekat para turis yang putus asa kabur, lajunya sangat lambat. Akhirnya setelah sampai di posisi, Olav melompat keluar dan membuka pintu geser vannya yang kosong.

“Masuklah ke sini!” teriaknya sambil menunjuk dan melambai. Para turis dari Cina itu hanya sedikit yang bisa bahasa Inggris. Akhirnya mereka masuk. Olav berlari mengelilingi van untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia mendorong dua turis terakhir ke kursi penumpang depan.

Sementara sopir bus wisata itu masih berusaha memadamkan api dengan alat pemadam api. Sia-sia.

“Tinggalkan!” teriak Olav, tapi pria itu melambaikan tangannya.

Tidak ada waktu untuk berdebat. Asap itu bisa mematikan terowongan sebentar lagi. Sambil balapan menghadapi asap, Olav menghadapi tantangan baru.

Pengemudi yang menaruh curiga datang mendekatinya. Ia menyalakan lampu, sambil berteriak, “Api di depan! Berbalik!”

Lusinan sopir  yang ditemuinya berbalik, termasuk sebuah bus yang berisi 50 penumpang kapal pesiar. Tapi, beberapa orang tak mengindahkan peringatannya dan tetap melanjutkan.

Seperti ikan sarden, para turis yang berada dalam van Olav itu akhirnya bisa meninggalkan terowongan. Olav berhendi di pompa bensin terdekat.

Di dalam van, para penumpangnya terdiam, tapi saat membuka pintu dan melihat pemandangan Gudvangen yang indah, mereka keluar, tercengan, dengan sedikit tersenyum.

Olav mencari pemandu mereka dan menghitung kelompok tersebut. Untunglah, semuanya selamat. Olav pun menyuruh mereka berjalna ke hotelnya dan menunggu di ruang tunggu karena mereka rupanya ketinggalan kapal mereka untuk ke tempat berikutnya.

Olav kemudian mengatur sebuah kapal charter untuk membawa mereka ke tujuan berikutnya. Petugas medis juga dipanggil untuk memeriksa para turis Cina itu.

Olav pun kembali ke hotelnya, menarik napas. Tapi itu belum selesai. Beberapa jam kemudian ia dipanggil ke desa tujuan wisata turis tadi.

Dengan terowongan tertutup, sebuah helikopter yang disewa oleh sebuah saluran TV membawanya ke atas gunung. Dikelilingi oleh 32 turis Cina, warga Norwegia ini malu dipeluk oleh mereka masing-masing dan disambut bak pahlawan.

Barang bawaan mereka hilang dalam bus yang terbakar habis, termasuk beberapa paspor, tapi mereka bersyukur masih hidup dan tidak terluka. Pemandu wisata para turis itu menyimpulkan bahwa, “Olav memberi kita kesempatan kedua untuk hidup.”

“Ah, saya hanya melakukan apa yang akan dilakukan orang lain,” kata Olav rendah hati.

Torill yakin bahwa yang apa yang terjadi memang selalu ditunjukkan oleh suaminya, yaitu selalu bertekad untuk membantu orang. “Penduduk sini pun mengatakan, untunglah Olav membawa van hari itu, coba kalau mobil lain, ia tidak mungkin membawa 32 orang turis itu!”

Lima orang lainnya  kemudian diselamatkan dari terowongan Gudvanga. Empat, termasuk sopir bus wisata itu, menderita karena menghirup asap yang serius.

Sumber : https://intisari.grid.id/Inspiration/Figure/Luar-Biasa-Mantan-Petugas-Pemadam-Kebakaran-Ini-Selamatkan-32-Turis-Yang-Terjebak-Di-Terowongan?page=all

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube