Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Jadilah TeladanKarakter yang baik nilainya tidak terhingga, karakter tidak baik merusak tidak terhingga. Bagaimana manusia bisa bertumbuh dan berubah dalam pembentukan karakter? Anakmu yang sekarang seperti malaikat, mungkin 20 tahun kemudian mirip setan. Kenapa? Karena kita tidak memperhatikan pembentukan karakter. Tadi pagi saya menjelaskan 4 faktor yang memengaruhi pembentukan karakter: sifat kekekalan, sifat penerimaan, sifat kreativitas, dan sifat pengaruh. Jangan main-main dalam mendidik anak karena ada dua jenis pendidikan: sadar (yang kau ingin ajarkan) dan tidak sadar (kau tidak ingin ajarkan tetapi kau alankan dan anak-anak belajar dari sana). Didikan secara tidak direncanakan selalu terjadi. Secara bawah sadar, pengaruhmu yang jelek sudah ditiru mereka. Indonesia termasuk negara yang paling banyak koruptor. Tanpa membasmi koruptor, negara ini tidak ada harapan. Di manakah hari depan Indonesia? Kita harus belajar Firman dengan ketat.

Seluruh dunia sekarang mengalami krisis kekurangan pemimpin yang jadi teladan. Demi nama Tuhan, izinkan saya menjadi wakil Tuhan berkata, “Jadilah pimpinan yang menjadi teladan!” Bersungguhlah mengabdi, berkorban, jujur, dan menjadi contoh bagi murid-muridmu. Paulus sangat berbahagia karena sudah meneladani Kristus dan berhak berkata, “Teladanilah aku seperti aku meneladani Kristus.” Yesus adalah teladan terbaik dalam sejarah, paling sejati, dan tidak ada yang lebih baik. Di antara para pemimpin agama, satu-satunya orang suci yang tidak berdosa hanya Yesus Kristus. Yesus berkata, “Siapa di antara kamu yang bisa menunjukkan dosaku?” Kalimat ini tidak pernah keluar dari mulut Sokrates, Konfusius, Muhammad, dan lain-lain. Hanya satu kali keluar dari mulut dari satu orang, yaitu Yesus Kristus. Yesus satu-satunya yang disebut sebagai Sang Kudus dari Allah. Bandingkan Yesaya, Musa, Petrus dengan Yesus. Engkau akan menemukan tidak ada orang suci seperti Yesus Kristus. Kita memiliki Yesus Kristus yang tidak berdosa, mati menanggung dosa, dan bangkit dari kematian mengalahkan penguasa kematian. Inilah wibawa Kekristenan. Jangan minder dengan agama lain karena mereka tidak memiliki pemimpin yang suci dan engkau memiliki Juruselamat. Tidak usah takut jadi minoritas karena justru dalam kondisi ini kita akan sungguh-sungguh berdoa dan bergiat dalam Tuhan. Saya tidak takut Kristen minoritas dan dianiaya, tetapi saya takut Kristen tidak sadar bahwa dirinya Kristen. Orang Kristen zaman dulu dianiaya tetapi mereka bersyukur karena menderita bagi Injil dan bagi Tuhan Yesus. Ketika Paulus dan Silas dipenjara, seluruh penjara goncang dan justru penjaga ketakutan. Paulus berkata, “Percayalah Yesus, maka engkau dan seisi rumahmu akan diselamatkan.” Orang Kristen yang dianiaya tidak menjadi minder karena Tuhan beserta kita. Ketika pulang, mungkin gereja kita kecil, murid Sekolah Minggu kita tidak banyak, tetapi ingat saya adalah budak Yesus Kristus. Tuhanku adalah pemimpin yang paling tinggi.

Pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh :

  • lingkungan. Lingkungan keluarga: pembentukan anak dalam tiap keluarga tidak sama. Keluarga dengan satu anak dengan keluarga banyak anak, pasti berbeda pembentukannya. Lingkungan alam: orang yang lahir di pegunungan dan di pesisir laut berbeda. Orang yang di pegunungan biasanya memiliki karakter yang lebih keras dan lurus sedangkan orang laut cenderung suka bertualang. Toraja, Toba, Jawa pasti lain. Jangan paksakan orang lain mengikuti engkau. Lingkungan sejarah: anak yang dilahirkan dalam ikatan suku akan sulit keluar. Ada keluarga yang hidup tanpa adat apa-apa, ada keluarga Tionghoa yang punya ikatan sejarah ribuan tahun, berakar dalam sejarah, dan orang tua suka bercerita tentang kaisar. Lingkungan kebudayaan: ada kebudayaan yang menganggap perceraian dan selingkuh itu tidak apa-apa, tetapi ada kebudayaan lain yang merajam hal ini sampai mati. Orang yang dilahirkan dalam keluarga Syiah dan Sunni berbeda. Ada pengaruh agama dan kebudayaan yang memengaruhi. Yang menikah antar ras harus berani mengambil resiko karena mungkin keluarga satu pihak tidak dapat menerima pihak lain. Kita harus belajar mengerti perbedaan lingkungan dan punya konsep internasional dan universal untuk menerima orang dengan baik. Kita belajar saling mengasihi yang warna kulit dan adat lain meskipun sulit. Belajar minta Tuhan memberi kekuatan untuk saling mengasihi.
  • Pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh pengalaman. Contoh: yang sering patah hati akan menjadi minder, menyendiri, pesimis, merasa tidak berharga. Kesedihan dan kegagalan kalau terus terjadi mungkin membuat kita tidak percaya diri. Tetapi kesedihan dan kegagalan juga membuat kita semakin berjuang. Yang menjadi faktor utama adalah perkataanmu kepada dirimu sendiri. Kalau engkau berkata, “saya memang orang kecil dan nasib buruk”, maka engkau gagal tetapi kalau engkau tahu bagaimana bicara kepada diri sendiri, menerima diri, menilai diri, maka engkau dapat mengatasi pengalaman. Jika engkau dapat tenang dalam kegagalan dan mengatakan firman kepada diri, engkau akan berhasil. Engkau sadar Tuhan itu ada dan melihat engkau. Jadi, engkau memiliki hubungan diri dengan diri dan diri dengan Allah. Jangan hanyut ikutikutan orang lain berdosa dan berbohong, karena engkau berdiri di hadapan Allah. Belajarlah dari Yusuf.
  • Pembentukan karakter juga melalui agama. Agama membentuk hati nurani yang tercemar tetapi agama juga dapat menjadi pencemar hati nurani. Hanya agama yang berdasarkan firman yang benar yang membuat hati nurani berfungsi secara normal.
  • Pembentukan karakter yang paling penting adalah dipimpin Roh Kudus. Roh Kudus bukan memaksa, bukan menantang, bukan membunuh, tetapi Roh Kudus memimpin. Tidak pernah ada istilah kerasukan Roh Kudus di Alkitab. Dirasuki dan dipimpin/dipenuhi oleh Roh Kudus itu berbeda. Roh Kudus itu menyinari, memenuhi, memberikan urapan, dan memimpin. Setan mau memaksa, memengaruhi, dan memiliki engkau tetapi Roh Kudus lain. Karakter yang indah adalah karakter yg dipimpin Roh Kudus. Roh Kudus mengerti semua diri kita karena Dia yang paling bijaksana yaitu Roh Allah. Barang siapa dipimpin Roh Kudus, ia adalah anak-anak Allah. Kiranya Roh Kudus memberikan sentuhan terakhir pada kita yang dipengaruhi berbagai faktor untuk menyucikan kita dalam pimpinan-Nya. Amin.

Sumber : file:///C:/Users/Kris%20jon/Downloads/sekilas-kin-2014-04.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube