Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pak TongA. TUGAS SETAN

Istilah Setan dan Tugas Setan ada tiga:

1. Penentang Allah

Setan disebut Setan artinya Penentang Allah, pelawan Allah (The Offender of God). Setan disebut Setan karena selalu merintangi pekerjaan Tuhan. Setan selalu menghambat pekerjaan Tuhan dan selalu menentang pekerjaan Tuhan.

2. Penggoda Manusia

Tugas Setan yang ke-dua adalah mencobai dan menggoda manusia. Suara yang membuat kita terasa terbuai dan begitu melayang-layang, tertarik untuk berbuat jahat, lalu mendorong kita untuk berbuat dosa, pasti itu adalah suara Setan, tidak peduli yang merayu adalah perempuan yang paling cantik, atau bahkan isteri sendiri. Itu berarti Setan sedang memakai orang yang paling dekat dengan kita untuk mengubah niat kita agar kita tidak setia kepada Tuhan, dan tidak menyukai kebaikan. Dengan demikian kita menerjunkan diri ke dalam kejahatan. Kalau Setan menyatakan sifat keganasan kesetanannya, pasti kita akan lari. Tetapi justru Setan sedemikian pandai. Ia memakai cara-cara yang lain untuk menjatuhkan manusia.

3. Penuduh Kaum Pilihan

Setan memiliki tugas yang ke-tiga, yaitu terus-menerus menuduh orang pilihan agar kembali terjerat oleh dosa-dosa masa lalu yang telah ditebus oleh Tuhan. Ketika seorang percaya dan orang kudus jatuh ke dalam dosa, maka ia harus bertobat dan mengakui dosanya di hadapan Allah, meminta ampun kepada Tuhan. Pada saat demikian, Allah akan mengampuni dosa tersebut dan tidak mengingatnya lagi.

Tetapi justru Setan pada saat itu berusaha untuk terus-menerus mengungkit kembali dosa-dosa masa lalu orang percaya, sehingga orang tersebut terganggu dan tidak dapat melayani Tuhan dengan baik. Orang-orang seperti ini akan terus-menerus terganggu hati nuraninya. Inilah tugas Setan yang ke-tiga.

Di dalam kitab Kejadian kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana Setan merusak seluruh ordo alam semesta. Kelicikan dan kepandaiannya begitu menakutkan. Manusia dicipta di antara Allah dan alam. Di bawah manusia ada binatang, di bawah binatang ada tumbuh-tumbuhan, dan barulah di bawah tumbuh-tumbuhan ada materi. Di atas manusia ada malaikat, dan di atas malaikat ada Allah Tritunggal. Manusia dicipta di antara Allah dan alam, di antara dunia rohani dan dunia materi. Manusia dicipta laki-laki dan perempuan yang sama-sama memiliki peta dan teladan Allah.

Setan pada mulanya adalah penghulu malaikat, tetapi yang dicampakkan turun karena melawan Allah, maka sebenarnya ia adalah makhluk di angkasa, tetapi memiliki kedudukan yang telah diturunkan oleh Tuhan, menjadi makhluk yang sedang menunggu hukuman yang kekal. Inilah terjadinya perubahan status yang pertama, yaitu kejatuhan dari penghulu malaikat. Penghulu malaikat, sambil melayani Tuhan ternyata memiliki ambisi sendiri; sambil melayani Tuhan sambil ingin merebut kemuliaan Tuhan; sambil melayani Tuhan, berusaha untuk merampas kedudukan seperti Allah. Dalam keadaan demikian, maka Allah yang melihati motivasinya, menggulingkan dia.

Allah adalah satu-satunya Otoritas tertinggi, yang berhak menjadi “Diktator yang Baik”. Semua diktator adalah manusia yang memutlakkan diri, tetapi Allah adalah Kemutlakan yang Mutlak dan Kemutlakan yang Baik, yang memang seharusnya memiliki kuasa tertinggi. Allah sendirilah yang memiliki kuasa tertinggi, sehingga hanya Dia-lah yang memiliki hak untuk menduduki kuasa tertinggi itu. Dia adalah satu-satunya yang benar. Ia adalah Kuasa itu sendiri. Kebenaran itu sendiri. Kebajikan itu sendiri. Kekudusan itu sendiri dan Keadilan itu sendiri.

Maka ketika malaikat itu dijatuhkan, secara kuasa Setan tetap adalah malaikat yang memiliki kekuasaan yang besar sekali, tetapi secara status perubahan, ia tidak lagi menjadi penghulu malaikat, tetapi menjadi Setan. Oleh karena itu, ia akan terus menjalankan tiga tugas di atas, yaitu melawan Allah, menggoda manusia, dan menuduh orang suci terus-menerus.

B. GEJALA SUARA SETAN

Tiga tugas itulah yang memotivasi pekerjaan Setan, sehingga kita dapat dengan segera melihat bagaimana suara Setan. Suara Setan dapat dilihat dari beberapa gejala.

1) Mengacaukan Kebenaran

Jikalau sesuatu hal terlihat berusaha untuk mengacaukan kebenaran, maka di belakang gagasan itu pasti suara Setan yang bekerja untuk mencapai tujuan yang tidak benar. Suara Setan adalah suara yang mengacaukan pengertian akan kebenaran. Inilah yang selalu dikerjakan oleh Setan. Setan berusaha mengacaukan status, mengacaukan emosi, mengacaukan rencana, mengacaukan ordo-ordo yang ditetapkan oleh Tuhan di dalam alam semesta.

Itu sebabnya, Alkitab memberikan satu prinsip penting, yaitu bahwa Allah tidak menyebabkan kekacauan, tetapi membangkitkan damai sejahtera (band.1 Korintus 14:13). Kalimat Alkitab ini pun dapat disalah-tafsirkan. Ada orang yang mengatakan: “Saya sudah damai sejahtera di dalam pengajaran saya, sekarang dikacaukan oleh Stephen Tong. Maka, karena dikacaukan oleh Stephen Tong, maka Stephen Tong adalah suara Setan.” Perhatikan gejala seperti ini. Ada orang-orang yang demikian terbiasa di dalam ajaran yang salah, maka ia dapat merasa sangat tenang dan damai sejahtera di dalam ajaran itu. Tetapi ketika ada yang memberitakan kebenaran, ia menjadi goncang, lalu ia meneguhkan dan membela diri dan menganggap orang-orang yang menyatakan kebenaran itu sebagai suara Setan. Saya sebut hal itu sebagai orang yang tidur di dalam kesalahan tanpa mau dibangunkan oleh kebajikan.

Mengenai hal di atas, Tuhan Yesus mengatakan “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai ke atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang! Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” (Matius 10:34-36). Ketika kita membaca ayat seperti itu, mungkin kita heran, lalu berasumsi Yesus pasti tidak memiliki Roh Kudus. Mana mungkin Yesus memisahkan anggota keluarga? Untuk itu kita perlu mengerti arti yang sesunggguhnya. Kalau kita mengerti ayat ini dengan tepat, pasti kita akan sangat terkesan.

Jika sebelum Saudara bertobat, ayah, ibu dan Saudara beragama lain, maka antara ayah dan ibu dan Saudara akan terjadi “perdamaian” yaitu perdamaian di dalam konsep agama tersebut. Saat itu seluruhnya terlihat damai. Tetapi Yesus mengatakan bahwa Ia datang tidak membawa damai dan itu terjadi ketika Saudara bertobat dan mulai menjadi Kristen. Setelah itu tidak ada lagi perdamaian di dalam keluarga tersebut. Saudara mulai diserang oleh seluruh keluarga. Maka Tuhan Yesus mengatakan, “Jangan kamu sangka Aku datang untuk membawa damai.” Pada saat seperti itu, ayah mungkin bermusuhan dengan ibu, anak dengan orangtua, menantu dengan mertua, dan seterusnya. Saudara mulai heran dan bertanya-tanya, bukankah Yesus datang membawa damai sejahtera? Memang, tetapi yang tertjadi, ketika “peperangan” seperti itu terjadi, orang Kristen tetap mengasihi, tidak membalas dendam, tetapi mereka terus dimusuhi. Di sini orang Kristen terus memberikan damai. Ketika satu-persatu orang mulai terkesan, bertobat dan mulai menjadi Kristen, maka di tengah mereka ini mulai terjadi perdamaian. Perdamaian ini adalah perdamaian di tengah orang Kristen, yaitu perdamaian versi Yesus Kristus.

Maka pengacauan untuk mengeluarkan kita dari kesalahan adalah hal yang sangat penting. Ketenangan di tengah-tengah kesalahan adalah hal yang sangat merugikan.

Dalam hal inilah, banyak gereja tidak merasa ada kekacauan, karena mereka menikmati ketenangan di tengah kesalahnan. Maka, kalau mendengar seminar atau membaca buku seperti ini, mereka merasa celaka, karena nanti gereja dapat kacau. Maka tidak heran, banyak orang yang merasa lebih baik tenang di dalam kesalahan ketimbang terjadi kekacauan oleh karena kebenaran.

Saya memang mengacaukan kita semua untuk mengeluarkan kita dari kesalahan. Maka dalam hal inilah kekacauan sangat diperlukan. Semua yang mengikuti kuliah yang saya ajarkan mengetahui bahwa pada semester pertama banyak yang menjadi kacau. Tetapi setelah mereka lulus, mereka sadar bahwa mereka telah mengalami pembentukan struktur pemikiran yang luar biasa kuatnya dan tidak mudah dikacaukan, karena telah kembali kepada kebenaran.

Sekarang, karena kekacauan yang mengeluarkan kita dari kesalahan itu sangatlah dibutuhkan, maka jangan mempersamakan kekacauan dari Roh Kudus dengan kekacauan dari Setan. Kekacauan dari Setan menyebabkan kita semakin kacau dan semakin tidak jelas melihat di manakah kebenaran itu berada, karena takut diperbandingkan satu dengan yang lainnya. Tetapi kekacauan yang dibawa oleh Roh Kudus akan membuat kita sadar, insyaf, lebih tajam dan lebih peka membedakan, dan pada akhirnya membawa kita kembali kepada kebenaran.

2. Meragukan Firman Allah

Suara Setan dapat diketahui dengan melihat dampak meragukan firman Allah. Rene Descartes, seorang filsuf Perancis, mengatakan bahwa keraguan memiliki dua penyebab. Sebelumnya, orang tidak terlalu mengerti akan “keraguan”. Setelah Descartes, keraguan mulai dimengerti dengan lebih teliti. Keraguan ada yang dimotivasikan oleh keinginan untuk percaya, tetapi mengalami kesulitan, sehingga mengakibatkan keraguan. Sebagian lagi keraguan timbul karena memang mau meragukan.

Keraguan yang timbul dari iman adalah keraguan yang normal dan harus ada. Keraguan yang timbul karena tidak mau beriman adalah keabnormalan rohani. Dalam menjawab setiap pertanyaan, saya selalu melihat dari dua aspek, yaitu keraguan karena ingin mengetahui kebenaran, dan keraguan karena mau menguji atau memang tidak mau percaya. Berbahagialah orang yang ragu dan bertanya kerena memang betul-betul mau tahu kebenaran, dan celakalah orang yang ragu karena memang mau menolak kebenaran.

Setan memberikan keraguan, sehingga kita semakin lama semakin tidak percaya kepada firman Tuhan. Keraguan demikian pasti adalah keraguan dari Setan. Dalam keraguan yang dikerjakan oleh Setan ini, terdapat dua proses yang ia genapi: (1) memutlakkan yang salah, dan (2) merelatifkan yang benar. Hal ini dapat segera jelas terlihat di Kejadian 3. Ketika Allah berkata: “Jangan makan, pada hari engkau makan, engkau pasti mati.” Maka Setan merelatifkan dengan mengatakan bahwa belum tentu akan mati. Sesuatu yang Allah pastikan, kini tidak dikonfirmasikan, malahan diragukan. Bahkan ketika Adam makan dan kelihatan tidak mati, itu seolah menjadi konfirmasi hal yang salah. Akibatnya, manusia meragukan suara Allah dan memutlakkan suara Setan.

Pada saat kita membalikkan kemutlakan menjadi kerelatifan, akibatnya perkataan yang benar dianggap belum tentu benar, dan perkataan yang salah dianggap benar, maka keraguan ini telah mencapai maksud jahatnya untuk menjatuhkan firman Tuhan.

Barangsiapa merangsang kita dan mengajar kita untuk terus meragukan firman Tuhan di dalam Kitab Suci itu adalah suara Setan. Tetapi jika suara itu membuat kita semakin teguh dan semakin kokoh bersandar kepada firman Tuhan, itulah suara Roh Kudus. Tetapi dalam mengerti istilah “firman Tuhan” kita harus hati-hati. Mengerti dan berpegang teguh kepada “firman Tuhan” bukan berarti mencomot dan memilah-milah ayat, lalu hanya memegang beberapa ayat saja tanpa memelihara keharmonisan seluruh Kitab Suci, sehingga kehilangan sinkronisasi dengan seluruh ayat di dalam doktrin tertentu. Misalnya, ada ayat yang mengatakan: “Barangsiapa berseru nama Tuhan pasti diselamatkan”. Maka orang langsung berseru-seru: “Tuhan….Tuhan!” dan menganggap diri sudah diselamatkan asal banyakmenyebut nama Tuhan. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ayat itu hanya satu aspek dari ayat kontra yang lain, yang berbunyi: “Tidak semua orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, kecuali mereka yang sungguh-sungguh menjalankan kehendak Bapa.” (Matius 7:21). Berpegang pada satu ayat tanpa mempedulikan ayat keseimbangan lainnya, adalah suatu ketimpangan dan bukan beriman. Itu suatu ekstrem. Pengajaran Kitab Suci harus dimengerti sebagai satu keseimbangan keseluruhan. Prinsip Alkitrab adalah prinsip totalitas.

Orang Armenian mengajarkan bahwa barangsiapa datang kepada Kristus akan diselamatkan, lalu mereka sepanjang hidup berkhotbah mati-matian agar banyak orang diselamatkan. Sikap ini mengandung kesalahan, karena sinkronisasi terhadap aspek negatifnya tidak pernah dikerjakan. Mereka tidak mempedulikan kalimat sebelumnya yaitu: “Kecuali Bapa yang menarik mereka datang kepada-Ku, maka mereka tidak datang kepada-Ku.” Ini adalah doktrin pilihan. Maka di sini kita melihat hanya doktrin Reformed yang menggabungkan kedua aspek yang kelihatannya seperti konflik ini, tetapi sebenarnya kedua aspek ini bersifat paradoks. Kita melihat begitu banyak teologi yang tidak berani menghadapi kesulitan-kesulitan ayat seperti ini, yang secara fenomenal tampak seperti berkonflik. Teologi Reformed tidak mau menipu dan tidak mau melarikan diri dari fakta. Teologi Reformed berusaha mengumpulkan semua data, semua kesulitan ini, lalu menyinkronisasi-kan dan menemukan keteguhan kepercayaan yang tidak timpang, tetapi sangat stabil karena berimbang. Hal seperti ini berbeda dari suara Setan.

Setan dapat memakai ayat, bersikap seolah-olah begitu Alkitabiah, tetapi tanpa keseimbangan dan sinkronisasi. Misalnya, dia memakai ayat untuk mencobai Tuhan Yesus di padang gurun. Di dalam catatan Matius 4:3. ia mengatakan: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Perkataan “jika” menunjukkan ia meragukan Yesus sebagai Anak Allah. Ia mulai merelatifkan yang mutlak dan memutlakkan yang salah. Seolah-olah, kalau Yesus benar Anak Allah, mengapa harus lapar, bukankah dapat menjadikan batu-batu ini roti? Tetapi justru Yesus belum pernah disepanjang hidup-Nya melakukan mujizat untuk kepentingan atau keuntungan pribadi-Nya. Yesus juga belum pernah memakai kedudukan-Nya sebagai Anak Allah untuk mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri. Inilah keunikan Yesus Kristus yang berbeda total dari semua nabi palsu. Ia hanya menjhalankan kehendak Allah.

Pada saat Setan mencobai seperti itu, Yesus menjawab dengan Alkitab. Alkitab mengatakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Ulangan 8:3). Maka pada percobaan kedua, Iblis juga berkata: “Silahkan loncat dari sini, karena Alkitab berkata: “Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Maka sekarang Iblis pun ber”Alkitabiah”. Maka sekarang kita sadar bahwa bukan hanya Tuhan yang memakai Alkitab, karena Setan pun pakai Alkitab. Itu alasannya mengapa kita perlu berhati-hati dengan orang yang mengajak kita membaca Alkitab. Terkadang suara Setan juga memakai cara seperti itu. Mungkin kita akan menjadi bingung dan merasa sulit menjadi orang Kristen. Memang demikian. Yesus berkata: “Pikul salib dan mengikut Aku.” Bukan mau enak-enak saja masuk sorga.

Maka ketika Tuhan Yesus memakai Perjanjian Lama, Setan juga. Ketika Yesus memakai perkataan Musa (Ulangan 8:3), Setan juga (Mazmur 91:11-12). Tetapi bedanya, ketika Setan memakai Alkitab, selalu meninggalkan sinkronisasi seluruh Alkitab. Di dalam Mazmur dikatakan bahwa malaikat akan menjaga di sepanjang jalanmu, tetapi Setan mengatakan agar Tuhan Yesus meloncat dari atas sotoh rumah. Sangat berbeda. Kalau kita berjalan dengan baik, Tuhan melindungi; tetapi kalau meloncat dari atap rumah, silahkan tanggung resiko sendiri. Sekarang begitu banyak orang yang memakai Alkitab berkhotbah sekehendak hatinya. Ayat-ayat yang penting dibuang atau diubah sedikit sehingga menjadi doktrin yang ekstrem. Setiap mempelajari firman haruslah setia, harus menyeluruh dan utuh, harus adil dan benar, harus sinkron. Saya paling takut pada orang yang begitu berani mencomot ayat Alkitab, berkhotbah, lalu menganggap diri benar.

3. Mencela Tuhan

Suara Setan mengakibatkan kita selalu tidak puas kepada Allah, lalu mengakibatkan kita mengutuk Allah atau bersungut-sungut kepada Allah. Bila suatu desakan muncul di dalam hati kita untuk mencela Tuhan, itu pasti dorongan dari suara Setan.

Setan akan memalsukan puji-pujian, tetapi tidak bersasaran dan tidak bermotivasi. Memalsukan puji-pujian, tetapi tidak mengerti Obyek yang dipuji. Ketiga hal ini menjadi cara-cara Setan untuk memalsukan puji-pujian. Sekarang ini begitu banyak gereja katanya memuji-muji Tuhan, tetapi pada hakekatnya, mereka memuji “suasana pujian” itu. Mereka merasakan kenikmatan di situ, dan ketika mereka sakit, mereka mengatakan itu pasti dari Setan, bukan dari Allah, dan saat seperti itu, kalau mereka tidak sembuh, mereka mulai mencela Tuhan.

Harus diperhatikan bahwa puji-pujian bukan hanya di dalam lagu atau kebaktian saja. Yang disebut pujian dan penyembahan atau ibadah adalah seluruh kehidupan kita, termasuk ketika kita diizinkan oleh Tuhan untuk masuk ke dalam penderitaan, mengalami sakit penyakit, atau mengalami perjalanan hidup yang sulit, tidak makmur dan tidak sehat. Saat itulah kita harus senantiasa memuji dan menyembah Tuhan. Itulah pujian yang sungguh.

Ketika Ayub kehilangan kesepuluh anaknya, hari itu ia memuji Tuhan. Itulah hidup pujian, bukan hanya di dalam konser atau nyanyian saja. Pujian itu harus merembes merata di seluruh kehidupan kita, sehingga hidup kita penuh dengan syukur kepada Tuhan. Banyak orang Kristen yang mudah memuji Tuhan di saat lancar dan sukses, tetapi ketika sakit, mulai meragukan Tuhan, menyalahkan Tuhan dan mengutuk Tuhan.

Ketika kita dalam kesulitan, kegagalan, penderitaan, Setan selalu membisikkan bahwa Tuhan sudah melupakan kita. Dan ketika kita lancar dan sukses, Setan akan membisikkan agar melupakan Tuhan saja, tidak perlu terlalu ingat Tuhan. Kedua bisikan ini adalah bisikan Setan, sehingga kita tidak mempermuliakan Tuhan dan tidak bersandar kepada Tuhan. Dengan demikian kita akan merusak rencana Allah bagi diri kita. Keadaan demikian terjadi ketika kita tidak tahu bilamana kita harus memuji dan bilamana kita harus berdoa. Di dalam penderitaan, seharusnya kita berdoa kepada Allah dan berjanji dalam hati untuk mau terus mempermuliakan Tuhan. Di dalam kesuksesan dan kemakmuran, kita harus bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, ketika kita sukses, Setan mengajarkan kita untuk mengakui kehebatan kita dan ketika susah Setan mengajar untuk meyakini bahwa Tuhan sudah membuang kita.

4. Merayu untuk Berbuat Dosa

Suara Setan juga dapat diketahui dengan suatu rayuan yang membawa kita kepada keberanian untuk berbuat dosa. Rayuan sejenis demikian pasti dari Setan. Ketika kita semakin berani berbuat dosa, dan semakin berani melanggar semua hukum moral yang ditetapkan oleh Kitab Suci, maka semua rayuan dan bisikan itu pasti dari Setan, karena Roh Kudus tidak mungkin berbisik kepada kita bahwa tidak ada masalah jika kita berzinah. Tidak pernah Roh Kudus memberikan kalimat-kalimat yang bersifat sedemikian lemah dan kompromistis. Suara-suara yang mengatakan tidak apa-apa berbuat dosa, silahkan berzinah atau silahkan mencari isteri kedua, adalah suara dari Setan. Suara yang membuat kita tidak setia pada isteri, suara yang menyatakan seolah-olah kita sedang bersosial, kasihan dengan wanita lain, lalu semua ”ditiduri”, itu pasti suara Setan. Setiap kali ada suara yang membujuk kita untuk berani melanggar, lalu menggunakan istilah dan alasan yang bagus untuk membenarkan tindakan dosa, maka itu pastilah suara Setan.

5. Menuduh Dosa Masa Lalu

Maka sesudah Setan merayu kita berbuat dosa, maka kini suara itu berubah menjadi suara yang menuduh kita. Maka kita dibuat sulit, terlebih lagi bila kita adalah seorang Kristen. Dalam aspek ini, orang Kristen akan mengalami keadaan yang lebih sulit dibandingkan dengan orang lain, karena orang belum Kristen kalau selesai berbuat dosa, Setan mungkin menghibur dia atau tinggal diam saja.

Sebelum Hawa berbuat dosa, ia terus berusaha bersama-sama Hawa dan terus membujuk dan mengajak untuk makan buah itu. Tetapi setelah berbuat dosa, maka Setan itu cepat-cepat pergi. Ia merasa tugasnya sudah selesai. Sesudah Setan selesai merayu kita berbuat dosa, maka ia akan pergi meninggalkan kita seorang diri. Begitu banyak orang yang pada saat menyuruh kita berbuat dosa, ia begitu intim, begitu manis dan begitu mendukung. Tetapi setelah kita berbuat dosa, ia kabur.

Bagi kaum wanita, pria yang merayu untuk tidur dengannya, kebanyakan setelah mendapatkan dan setelah wanita itu kehilangan keperawanannya, ia akan segera membuang wanita tersebut, karena ia berpikir bahwa yang mudah didapat pasti murah, dan yang murah boleh dibuang untuk diganti dengan yang lain. Maka yang sulit didapat ia akan pertahankan lebih baik. Bodoh sekali kalau kita mau dirayu dan setelah itu dibuang. Mungkin kita berpikir jikalau kita memberikan tubuh dan menikmati cinta dengan seseorang, maka orang itu akan lebih mencintai kita untuk selama-lamanya. Omong kosong! Barangsiapa yang terlalu mudah mendapatkan tubuh seorang wanita dia pasti akan menghina perempuan itu. Silahkan pelajari sejarah dan lihat catatan Alkitab. Maka tinggal kita yang akan terus menangis karena telah jatuh ke dalam dosa, dan mengalami noda yang tak dapat dibersihkan.

Jangan kita menyangka Setan bodoh, ia sangat pandai. Setelah kita berbuat dosa, maka ia mulai menuduh kita. Tidak ada lagi pengampunan. Ia mulai mengikuti kita dengan perkataan: “Sekarang engkau sudah berdosa, sudah menghujat Roh Kudus dan tidak mungkin diampuni lagi.” Ini juga fungsi ke-tiga dari Setan.

Setelah orang Kristen berbuat dosa, maka Setan akan membuka topengnya dan ia bertindak menghakimi. Di sinilah perbedaan penting antara suara Setan dan suara hati nurani.

Suara hati nurani memberikan peringatan keras sebelum kita berbuat dosa; setelah kita berbuat dosa maka ia akan menghakimi dengan sedih. Berbeda dengan suara Setan, sebelum berbuat dosa ia akan merayu dengan janji-janji palsu, dengan senyuman dan perkataan yang manis; tetapi setelah kita berbuat dosa, ia bukannya sedih, ia akan menggugat kita di hadapan Tuhan Allah. Maka akan ada tuduhan, bahwa orang Kristen masih dapat menipu, berzinah, masih dapat tidur dengan orang lain, masih dapat mengambil uang orang lain. Ia akan menuduh anak-anak Tuhan di hadapan Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Setan menuduh Ayub di hadapan Tuhan. Setan menuduh Ayub setia kepada Tuhan, karena Ayub mendapatkan segala kesuksesan dan kelancaran. Maka Setan menuduh bahwa kalau Ayub mengalami kesengsaraan dan semua kebahagiaan yang ada dicabut, pasti Ayub akan menyangkal Tuhan. Maka Tuhan Allah membiarkan Setan mengganggu Ayub, hanya tidak boleh menyentuh nyawanya. Setan merasa senang sekali, dan ia membuat segala kesulitan yang dianggap paling dapat mengecewakan dan menyulitkan di dalam pengalaman hidup manusia. Maka semua anaknya mati, isterinya mengolok-olok dia, kekayaannya ludes, dan ia diberi penyakit yang sangat menyulitkan. Saat itu iman Ayub sangat digoncangkan. Sesudah itu Setan masih berusaha menjatuhkan imannya. Setan mau memakai mulut Ayub untuk mencela Allah. Inilah cara Setan bekerja. Tetapi Ayub tidak mau!

Suara Roh Kudus dan suara hati nurani sangat berbeda dengan suara Setan. Suara Setan begitu manis sebelum berdosa, tetapi menjadi begitu kejam dan ganas setelah kita jatuh ke dalam dosa. Ia akan menjadi penuduh di hadapan Tuhan.

6. Berusaha Mengeraskan Hati Seseorang

Suara Setan dapat diketahui ketika suara itu mendorong kita untuk berani terus-menerus melakukan kejahatan. Di sini suara itu berusaha untuk mengeraskan hati kita. Setiap kali datang teguran agar jangan berbuat dosa, maka di dalam hati muncul satu suara untuk mempertahankan diri dan menolak semua teguran itu. Kemudian kita menjadi tidak peduli dengan semua teguran, menganggap bahwa itu semua hanyalah gangguan bagi kita, dan kita merasa apa yang kita lakukan itu sangat menyenangkan, dan pada akhirnya kita mengkonfirmasikan untuk terus melakukannya. Semua bisikan yang mengajar kita mengeraskan hati demikian pasti datang dari suara Setan.

Di dalam Alkitab kita melihat berulangkali Tuhan memberikan kesempatan kepada raja Firaun untuk bertobat, tetapi dia terus-menerus mengeraskan hati, sehingga pada akhirnya Allah mengeraskan hatinya juga. Ada satu kalimat dalam Alkitab yang mengejutkan dari Tuhan Yesus. Ia berkata kepada Yudas sambil sama-sama mencelupkan tangan ke dalam pinggan: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Kalimat ini adalah peringatan. Yudas bukannya sadar akan peringatan itu, tetapi ia justru menerima makanan yang Yesus berikan. Itu berarti ia sudah mengeraskan hati untuk melakukannya. Alkitab mencatat, ketika ia makan makanan itu, Setan langsung masuk ke dalam hatinya (Lihat Yohanes 13:21-30).

Jangan kita lupa, ketika terjadi konflik di dalam diri kita, di mana suara Tuhan dan suara Setan silih berganti berbicara dalam hati kita, hati nurani harus memilih. Maka ketika kita memutuskan untuk mengikuti suara Setan, ia langsung akan menguasai kita dan menjadi raja dalam hidup kita. Pada saat itu, kita sudah tidak memiliki lagi kesempatan untuk kembali kepada kebebasan yang semula kita miliki. Keadaan seperti ini sangatlah berbahaya. Biarlah pembahasan-pembahasan seperti ini membukakan kepada kita suatu rahasia untuk bagaimana berperang melawan setan.

7. Mengajar untuk Tidak Mengakui Dosa

Suara Setan membuat kita tidak mau mengakui dosa. Setelah kita berbuat dosa, Setan akan mengajarkan kepada kita bahwa berbuat dosa itu lumrah, tidak ada apa-apa, banyak orang yang juga melakukan bukan hanya kita seorang diri saja.

Ketika kita sedang susah, Setan memberikan perasaan kesepian kepada kita, tetapi ketika berbuat dosa, Setan memberikan perasaan masal kepada kita, Kita seolah-olah disadarkan bahwa kita tidak seorang diri. Inilah ilmu psikologi dari Setan. Ketika kita susah, Setan mengajar jkita sebagai orang yang paling susah di seluruh dunia. Lalu Setan mengajarkan, daripada terlalu susah, lebih baik bunuh diri saja. Tetapi ketika kita sedang berbuat dosa, Setan selalu membisikkan bahwa kita tidak seorang diri. Yang berbuat dosa seperti kita banyak, sehingga kita termasuk mayoritas. Lalu, kita mulai mencari tahu, dan akhirnya banyak informasi diberikan, ada pendeta yang homoseks, ada majelis yang lesbian, dan dapat berteriak: “Puji Tuhan, saya tidak kesepian, banyak memiliki teman!”

Di dalam seminar, saya mendapat pertanyaan yang membuat saya sedemikian marah: “Ketika pendeta kami ketahuan berzinah, maka saya dengan beberapa rekan majelis datang ke rumah pendeta itu untuk menegur dan meminta agar ia bertobat. Tetapi pendeta itu justru membuka Alkitab dan mengatakan bahwa hanya dosa menghujat Roh Kudus saja yang tidak dapat diampuni, semua dosa lain dapat diampuni, jadi tidak apa-apa berzinah.” Ketika saya menjawab, hati saya tidak tahan, dan pada akhirnya saya dengan keras mengatakan: “Demi nama Tuhan, saya perintahkan agar Saudara dan rekan-rekan Kristen lainnya menarik dia, turun dari mimbar, dan tidak memperkenankan dia berkhotbah di mimbar lagi. Karena kita harus menyucikan Bait Allah. Menjaga kesucian mimbar.” Kalau pendeta boleh memakai ayat-ayat untuk membenarkan dosanya, maka tidak ada lagi orang yang perlu mengatakan: saya perlu hidup suci. Kalau pemimpin-pemimpin sendiri boleh menyeleweng sedemikian, lalu mencari dukungan Kitab Suci untuk membela diri dan berbuat dosa, Kekristenan akan menjadi apa? Kiranya Tuhan mengampuni dosa kita.

Suara Setan secara keseluruhan mengakibatkan hidup kita akan semakin mirip dengan dia, yang najis, tidak suci, jauh dari dari Tuhan, menghina firman dan mencela, menghina, mengejek Kristus di kayu salib, serta menghindarkan diri dari kekudusan Roh sambil dengan berani memakai nama Roh Kudus.

Amin.
SUMBER :
Nama Buku : Roh Kudus, Suara Hati Nurani, dan Setan
Sub Judul : Bab 4 : Pemulihan Hati Nurani (2)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2011
Halaman : 97 – 114
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube