Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pak TongI. KEADAAN HATI NURANI

Di awal bab ini, kita akan mempelajari beberapa bagian ayat Alkitab yang berbicara tentang keadaan hati nurani.

A. Hati Nurani yang Bersih

Pertama, kita akan melihat ayat-ayat yang berbicara tentang hati nurani yang bersih.

1 Timotius 1:6, “ Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.”

1 Timotius 1:19, “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.”

B. Hati Nurani yang Sudah Rusak

Titus 1:16, “Bagi orang suci semuanya suci, tetapi bagi orang najis dan bagi orang yang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.”

Ibrani 10:22, “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dan hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.”

C. Hati Nurani yang Lemah

1 Korintus 8:7, “Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang yang karena masih terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.”

Di zaman Paulus, ketika seseorang di dalam peperangan terkena panah beracun, maka cepat-cepat harus ditolong dengan cara menyentuhkan besi yang membara ke tempat luka tersebut. Ketika daging itu terkena besi yang membara itu, maka akan berbau daging terbakar dan sangat sakit, sehingga orang tersebut berteriak luar biasa, atau bahkan pingsan. Tetapi dengan itu, ia terselamatkan dari kebinasaan. Setelah beberapa saat kemudian, ketika mulai sembuh, maka bagian daging yang bekas terkena sentuhan besi panas tadi tidak lagi memiliki syaraf. Maka daerah tersebut menjadi tidak dapat merasakan apa-apa. Paulus mengatakan bahwa ada sejenis orang yang hati nuraninya sudah sedemikian rusak seperti daging yang sudah tersentuh api itu, tidak mempunyai perasaan lagi.

Hati nurani yang dicipta oleh Allah dengan sedemikian murni, telah mengalami berbagai polusi sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Akibat dari berbagai pengaruh dari polusi ini, setiap orang menganggap diri sendiri benar dan orang lain salah. Oleh sebab itu, di dalam Amsal dikatakan bahwa ada jalan di mana setiap orang menganggap itu jalan yang benar, tetapi jalan itu sebenarnya membawa manusia kepada kebinasaan (band. Amsal 12:15a, 14:12). Maka perlu satu kemungkinan bagi manusia untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Untuk itu Tuhan Allah mengirimkan Tuhan Yesus Kristus menjadi Juruselamat, agar manusia dapat dibawa kembali ke jalan satu-satunya yang benar, dan hidup yang membawa jalan kebenaran kepada kita. Yesus berkata: “Akulah Jalan dan kebenaran dan Hidup.” (band. Yohanes 14:6)

Dibawah ini kita akan melihat bagaimana suara Setan dan suara Roh Kudus saling mempengaruhi hati nurani manusia, dan setelah itu bagaimana kita mendapatkan normalisasi hati nurani oleh Roh Kudus.

II. PENGARUH SUARA SETAN

Di dalam seluruh Alkitab, istilah “Setan” hanya muncul empat kali di seluruh Perjanjian Lama. Saya melihat banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa istilah ini muncul sedemikian sedikit. Tetapi itu bukan berarti karena sedikit disebutkan, maka berarti setan tidak bekerja secara meluas di dunia ini. Misalnya, di dalam Perjanjian Baru, kita baru jelas bahwa yang menggoda Hawa untuk memakan buah terlarang itu adalah Setan, yang menyatakan diri dalam bentuk ular. Sehingga di sini kita melihat bahwa Setan menyisipkan diri ke dalam suatu dialog, di mana sebelumnya suara Allah telah diberikan kepada manusia. Setan telah turut bersuara, membuat bingung dan mengganggu pikiran manusia. Allah tidak memaksa orang dengan cara menaklukkan manusia untuk takluk kepada Dia, karena tidak pernah disebutkan “kerasukan Roh Kudus” di seluruh Alkitab. Sebaliknya, “kerasukan Setan” berulang kali disebutkan oleh Alkitab. Dengan demikian kita dapat membedakan antara pekerjaan Tuhan Allah dengan pekerjaan Setan.

Setan tidak selalu muncul dengan istilah dan Oknum pribadi secara nyata, tetapi ia menyusupkan diri dan memperalat yang lain. Maka, kerap kali kita melihat Setan bertopeng bukan Setan, sehingga manusia dapat tertipu oleh esensi suara Setan. Itu sebabnya, kita perlu sangat berhati-hati, perlu kepekaan dan perlu kemenangan berdasarklan kecermatan kemampuan membedakan antara suara Setan atau bukan. Barangsiapa yang kurang peka untuk membedakan suara Setan atau bukan, ia akan banyak dirugikan di dalam kehidupan kerohaniannya. Orang yang tidak peka membedakan suara Setan, selalu terkait dan tergoda untuk senantiasa mencuri keuntungan diri sendiri, dan pada akhirnya akan menjual diri. Setan tidak pernah berdagang rugi. Ia adalah satu-satunya yang tidak pernah rugi di dalam perdagangan. Sepertinya ia berani menanggung kerugian dan melakukan pengorbanan sedemikian besar, tetapi pada akhirnya ia mendapat keuntungan yang luar biasa besarnya.

Setan berani bertindak, seperti “menyangkal diri” sehingga akhirnya seluruh diri orang lain ditelan olehnya. Suara Setan selalu begitu manis dan kalau mungkin ia berusaha untuk mengimitasikan suara Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan Yesus pun berkata, “…sekiranya mungkin mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” (Matius 24:24). Ia akan menampilkan diri seperti malaikat terang, sehingga banyak orang akan terkecoh, bahwa dibelakang itu adalah Setan. Itu sebab, Alkitab mengatakan bahwa barangsiapa mengatakan sanggup berdiri tegak, hendaklah ia berhati-hati. Jikalau Setan memakai cara Setan yang menakutkan, pasti Saudara akan ketakutan. Setan yang demikian adalah Setan yang bodoh, karena cara itu membuat manusia selalu lari dari Setan dan tidak mau diganggu. Tetapi justru Setan adalah Setan, karena ia begitu licik. Begitu pandai sampai ia memalsukan orang-orang yang baik, corak yang baik, nabi yang baik, rasul-rasul bahkan memalsukan Kristus. Ia bertopeng seperti orang-orang suci. Alkitab mengatakan adanya nabi palsu, rasul palsu, guru palsu dan ada Kristus palsu.

Jika pekerjaan Kristus, murid-murid, nabi yang benar dan setiap pengikut Kristus sejati, bercirikan kejujuran, maka pekerjaan Setan dan pengikutnya justru bercirikan ketidak-jujuran. Itu sebabnya, kita sebenarnya dapat dengan mudah mengujinya, yaitu apa yang sesuai dengan Kitab Suci berarti benar. Tetapi untuk menguji suara Setan, tidak mudah, karena ia juga memakai cara yang sepertinya sesuai dengan Kitab Suci. Dengan demikian, kita seringkali bingung untuk membedakan suara Roh Kudus atau suara Setan. Untuk ini, beberapa hal seperti: penafsiran Alkitab yang tepat atau tidak, motivasi yang benar atau tidak, metodologi yang tepat atau tidak, prinsip-prinsip penafsiran yang kekat atau longgar, akan mengambil peranan yang sangat penting.

Setan mengimitasi pekerjaan Roh Kudus. Ia juga mengimitasi semua karuinia-karunia Roh Kudus, sehingga mengacaukan gereja. Tetapi bagaimanapun juga ada beberapa esensi yang tidak mungkin ditiru oleh Setan. Karunia-karunia yang paling mudah ditiru oleh Setan adalah karunia-karunia berkenaan dengan bahasa. Karunia-karunia bahasa, karena ada bahasa lidah (glosolalia) yang begitu sulit dibedakan benar atau tidaknya, maka Setan langsung memakai suatu bahasa yang tidak kita mengerti. Lalu kita merasa hadirnya suatu kuasa supra-natural, sehingga kita langsung menaatinya. Maka segera kita akan tertipu dan ditawan olehnya. Itu sebabnya, tentang karunia, Alkitab dengan teliti memberikan urutan yang sangat stabil.

Karunia pertama dan ke-dua, disebut sebagai perkataan bijaksana, sehingga kedua hal itu memberikan kemungkinan diuji oleh firman yang tercatat di dalam Kitab Suci. Dua karunia yang terakhir mencatat karunia berbahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah. Dengan demikian di antara ke-sembilan karunia yang dicatat di dalam 1 Korintus 12 dapat kita lihat, bahwa dua karunia yang pertama dan dua karunia yang terakhir bersangkut paut dengan bahasa. Tetapi, kita melihat bahwa yang dapat dimengerti diletakkan di depan, dan yang sulit dimengerti diletakkan di belakang. Ini disebabkan karena kedua karunia yang terakhir itu: (a) paling tidak penting, dan (b) paling sulit dibedakan. Maka yang paling tidak penting, paling sulit dibedakan, dan dapat ditiru oleh Setan dan roh-roh yang lain, diletakkan di paling terakhir. Yang paling penting, yaitu tentang kalimat-kalimat bijaksana dan kalimat-kalimat pengetahuan diletakkan di depan.

[Mengenai hal ini bisa dibaca dalam buku “Baptisan dan Karunia Roh Kudus” Pdt. DR. Stephen Tong.]

Tetapi heran sekali, di akhir abas XX ini, timbul suatu gerakan yang disebut sebagai Vineyard Movement, dan kemudian lebih menyeleweng lagi menjadi gerakan Toronto Blessing. Gerakan Vineyard, yang dipelopori dan diprakarsai oleh John Wimber, telah memberikan penjelasan tentang dua kalimat yang didepan dengan suatu teori yang sangat tidak bertanggungjawab. Menurut dia, perkataan hikmat dan perkataan pengetahuan adalah perkataan-perkataan yang bersifat supra-natural. Misalnya, seorang pendeta di tengah khotbah tiba-tiba mengatakan: “Hai kamu yang berbaju merah, kemarin kamu berzinah.” Kalimat-kalimat seperti ini dianggap sebagai kalimat bijaksana. Dan kalimat seperti “Hai engkau yang di sana, engkau sudah mendapat penyakit rematik selama 15 tahun”, dianggap kalimat pengetahuan. Karena penafsiran kedua kalimat ini sedemikian teledor, akibatnya menjadi kekacauan bagi orang Kristen untuk membedakan mana suara dari Tuhan dan mana yang bukan.

Kita harus kembali mengatakan, bahwa ketika seseorang dapat memberitakan firman dengan limpah dan dalam, dengan kalimat-kalimat yang menjadikan orang lain mengerti dan dapat beriman, itu merupakan kalimat-kalimat bahasa yang berbijaksana dan berpengetahuan. Dengan demikian, kedua karunia kalimat yang pertama ini dapat diuji dengan satu standar, yaitu Alkitab. Tetapi dua karunia yang terakhir sulit diuji dengan kalimat-kalimat yang tercantum di dalam Alkitab.

Itu sebabnya jangan kita menyangka semua yang bersifat supra-natural pasti dari Tuhan. Jangan mengira semua yang hebat pasti dari Roh Kudus. Ada anggapan bahwa pendeta-pendeta yang dapat melakukan hal-hal yang hebat, berkuasaa supra-natural besar, dianggap pasti kuasa Roh Kudus-nya yang besar. Mereka beranggapan kalau ada orang ditumpangi tangan langsung jatuh, pasti dari Roh Kudus. Terlalu cepat dan terlalu teledor bila kita berani mengambil kesimpulan seperti itu, karena di seluruh Kitab Suci belum pernah diajarkan kepada kita bahwa orang yang kepenuhan Roh Kudus jatuh telentang atau tidak sadar diri. Hal-hal seperti itu tidak Kristen dan tidak Alkitabiah. Itu adalah gejala timbul di zaman akhir ini, yang melawan Alkitab, tetapi memakai nama Roh Kudus. Kita harus lebih berhati-hati mengidentifikasikan pekerjaan Roh Kudus atau bukan. Kita tidak boleh mengambil keputusan yang terlalu ceroboh tanpa membandingkannya dengan ajaran Alkitab secara cermat.

Apa gunanya Allah memberikan Alkitab sedemikian lengkap, dengan isi sedemikian banyak dan melimpah, dengan kalimat-kalimat yang sedemikian kaya? Bukankah agar kita mempelajarinya, menggalinya, mengerti prinsip-prinsip total yang terkandung di dalamnya, prinsip-prinsip umum dari seluruh Kitab Suci yang diwahyukan kepada para nabi di Perjanjian Lama dan para rasul di Perjanjian Baru, agar kita dapat memperoleh kunci induk untruk menguji dan mengetahui sesuatu dengan tepat. Roh Kudus yang mewahyukan kepada Yohanes di dalam 1 Yohanes 4:1, agar kita tidak mempercayai segala roh, tetapi harus mengujinya, apakah roh itu dari Allah atau bukan. Karena roh dari dunia ini sudah muncul dan berkelana di seluruh dunia. Sekarang roh itu sedang menipu seluruh dunia.

Maka Tuhan Yesus berkata, kalau ada orang mengatakan di sini Mesias atau di sana Mesias, kita tidak boleh percaya, karena semua itu tipuan Setan. Inilah peringatan langsung dari Tuhan Yesus, Anak Tunggal Bapa sendiri. Roh Kudus yang mewahyukan Alkitab juga memberikan peringatan kepada kita akan adanya roh palsu. Dengan demikian, Oknum Kedua dan Oknum Ketiga Allah Tritunggal telah menyatakan kepada kita adanya nabi palsu, rasul palsu, ada guru palsu, ada mujizat palsu, ada hamba-hamba Tuhan palsu, ada orang-orang yang tidak dapat mewakili Tuhan, tetapi berani memakai kata yang yang paling indah: “Ini pekerjaan Roh Kudus.”

Pada akhir zaman. Karena begitu sulitnya mendapatkan buah, sulitnya mempertobatkan orang menjadi orang Kristen, lalu melihat ada “gereja” yang kelihatannya sedemikian cepat bertambah, begitu cepat berkembang menjadi besar, maka ia mulai goncang imannya. Sesudah itu mereka masuk ke dalam satu takhayul, yaitu tanpa memakai cara seperti mereka itu, gereja tidak dapat bertumbuh. Kalau gereja tidak bertumbuh, maka orang akan memandang dia sebagai hamba Tuhan yang tidak berkuasa, maka ia merasa harus memakai jalan itu. Perlahan-lahan mereka membuka pintu dan menerima pengkhoptbah-pengkhotbah yang tidak bertanggung jawab, yang memiliki tafsiran Alkitab serta cara penyampaian firman menyeleweng. Akibat secara keseluruhan adalah gereja tidak lagi peka akan mana yang benar dan mana yang salah.

Di atas kedua karunia terakhir ada satu karunia yang mendahului, yaitu karunia membedakan roh. Di dalam gereja-gereja Pantekosta dan Kharismatik, seringkali ditekankan begitu banyak pada karunia berbahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah, tetapi pada saat yang sama kurang sekali mendidik dengan baik bagaimana caranya dapat membedakan roh yang benar dan roh yang jahat, karena mereka lebih senang main percaya saja bahwa itu adalah Roh Kudus. Ketakhayulan sedemikian menyebabkan kelonggaran bagi suara Setan untuk mengimitasi suara Roh Kudus untuk menipu gereja.

Saat ini terlalu sedikit orang yang membaca Alkitab sampai tuntas. Sedikit sekali orang Kristen yang sudah membaca dari Kejadian sampai Wahyu berulang kali, bahkan sedikit orang yang membaca satu kali seluruh Alkitab. Inilah keadaan zaman kita. Orang-orang ini begitu mudah percaya kepada perkataan pendeta-pendeta yang tidak bertanggung jawab, dan menganggap benar apa yang mereka katakan, karena memang tidak tahu. Kalau kita tidak pernah membaca Alkitab dengan baik dan cermat, lalu mudah saja percaya bahwa sesuatu kuasa adalah kuasa Roh Kudus, maka kita pasti mudah tetipu. Tetapi apabila kita belajar Alkitab sengan sungguh-sungguh, teratur dan terus berusaha memperbandingkan segala sesuatunya. Maka pasti kita tidak menjadi orang Kristen ikut-ikutan.

Saya tidak minta Saudara ikut saya. Silahkan belajar Kitab Suci dengan cermat. Setelah itu, silahkan periksa lagi apa yang saya ajarkan. Kalau memang tepat sesuai dengan apa yang Alkjitab katakan, baru Saudara terima. Jangan juga mengikuti segala macam pendeta karena di dalam pendeta sendiri seringkali terjadi bias, ada satu penyelewengan yang tidak pernah dikoreksi dengan baik. Apalagi di Indonesia ini terlalu mudah menjadi pendeta. Begitu banyak pendeta yang belum belajar banyak, baru beberapa bulan saja sudah ditahbiskan menjadi pendeta. Akibatnya, menjadi pendeta instan. Setelah saya membaca Alkitab berpuluh kali, dan setelah mengajar di sekolah Alkitab selama lebih dari 18 tahun, baru saya mau ditahbiskan menjadi pendeta. Saat itu saya sudah berkhotbah lebih dari 18 ribu kali, karena jabatan pendeta adalah jabatan yang sedemikian agung, begitu hormat dan begitu serius.

Kita harus bertanggungjaweab, kita harus mampu membedakan mana suara Tuhan atau bukan. Jika tidak, Setan segera akan menipu dan mengatakan, “Hei, saya akan membuat gerejamu penuh dengan anggota, asal engkau tafsir Kitab Suci seperti cara saya.” Bukankah orang tidak mengetahui tafsiran saya salah atau tidak. Yang terpenting gereja penuh, gedungnya kelihatan megah, kolektenya banyak, maka saya pasti dianggap sukses. Untuk itu tidak perlu belajar banyak, jemaat pun tidak perlu belajar Alkitab banyak-banyak semua buku Kristen dianggap bukan dari Roh Kudus. Kalau Roh Kudus datang, maka tidak perlu membaca buku. Akibatnya, gereja itu membabi buta mengikuti semua gejala supra-natural.

Saat seperti itu, orang Kristen sudah tidak kritis lagi, tidak menguji lagi. Lebih celaka lagi, yang katanya, Roh Kudus dapat bekerja lebih dari catatan Kitab Suci. Asumsi bahwa Roh Kudus Maha Kuasa, dan pasti dapat mengerjakan segala hal, termasuk yang tidak diajarkan oleh Kitab Suci. Maka, hal-hal yang tidak diajarkan oleh Kitab Suci dapat saja dilakukan oleh Roh Kudus. Mereka beranggapan, dahulu memang Tuhan tidak menuliskan, tetapi di zaman sekarang ini Tuhan mengerjakan hal-hal yang lebih besar dari yang dicatat oleh Kitab Suci. Dulu orang tersungkur ke depan, menyembah; tetapi sekarang jatuh telentang, pingsan semua. Sepertinya ajaran ini benar, tetapi tidak!

Mengapa? Karena Alkitab mengajarkan bahwa semua hal tentang ibadah dan kerohanian telah selesai dan genap ditulis di dalam Kitab Suci. Perjuangan Kristen yang sejati begitu dahsyat dan begitu dalam. Kita berulang kali mendengar orang mengatakan: “Tuhan berkata kepada saya…” Kita harus berhati-hati dengan orang demikian, karena tanpa sadar orang itu sedang memberikan kesan kepada kita bahwa dia langsung menerima wahyu dari Tuhan. Jika dia menerima wahyu langsung dari Tuhan Allah, dan Saudara harus mendengar dia baru dapat mengerti firman Tuhan berarti dia berada di kelas yang tinggi dan Saudara berada di kelas yang rendah.

Satu kali saya diundang untuk mengajar di sebuah sekolah misi. Ketika saya bertanya akan rekan-rekan yang akan menjadi rekan dosen bersama saya berasal dari pendidikan mana saja, maka rektor itu berkata, bahwa rekan-rekan dosen yang lain tidak perlu belajar di sekolah tinggi, karena mereka langsung belajar dari Tuhan. Maka saya katakan bahwa saya tidak berani mengajar di sekolah seperti itu, karena saya perlu belajar banyak, membaca begitu banyak buku, berdoa sungguh-sungguh untuk minta Tuhan pimpin apa yang saya pelajari dan ajarkan. Ketika mereka terus mendesak, saya tolak mereka juga dengan keras, dan saya katakan bahwa lebih baik mereka memberi tahu saja rahasia belajar mereka kepada murid-muridnya itu, supaya muirid-murid itu juga mendapat “langsung dari Tuhan”.

Saya merasa hal ini tidak beres. Mereka menciptakan standar ganda. Para dosen boleh “langsung dari Tuhan” tetapi mereka menuntut murid-murid untuk belajar dari mereka. Cara seperti ini adalah cara yang tidak beres, karena tidak mementingkan apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius: “Timotius, apa yang kuajarkan kepadamu, peliharakan itu, lalu ajarkan kepada orang-orang yang cakap mengajar agar dibagikan kepada orang-orang lain yang mau belajar.” (band. 2 Timotius 2:2). Bukankah dalam hal ini Paulus menerima langsung dari Tuhan? Benar, tetapi kita berbeda. Paulus adalah orang yang disuruh oleh Tuhan untuk menulis Kitab Suci, sedangkan kita tidak. Paulus dan semua rasul yang disuruh Tuhan dan diwahyukan oleh Tuhan untuk menuliskan Kitab Suci harus langsung menerima inspirasi dari Roh Kudus. Setelah Kitab Suci selesai sempurna diwahyukan, tidak ada lagi orang yang menerima wahyu langsung seperti rasul menerima dari Tuhan. Sesudah itu, semua yang dituliskan di dalam Kitab Suci itu diajarkan kepada murid-murid. Paulus kepada Timotius, Yohanes kepada Ireneaus dan Polikarpus, terus turun temurun. Kita melihat ada tradisi pendidikan teologi, tradisi pengajaran firman yang sesuai dengan semangat yang sama.

Paulus berkata, “Jika ada orang yang mengajarkan kepadamu Injil yang berbeda dari yang aku ajarkan, meskipun dia malaikat, terkutuklah dia.” (band. Galatia 1:8). Apakah Paulus tidak memiliki Roh Kudus? Bukankah seharusnya jangan begitu, yang benar dan yang tidak benar sama saja; kita perlu penuh cinta kasih, jangan menegur dengan keras seperti itu. Tidak demikian! Memang Paulus harus mengatakan itu. Paulus adalah orang yang sangat dipengaruhi Roh Kudus. Tetapi dia harus mengatakan demikian, karena Tuhan tidak pernah berkompromi dengan ajaran yang sesat, karena Tuhan itu kebenaran adanya. Jikalau pada zaman ini tidak ada orang yang mau mengerti kalimat di atas, kalau pada saat sekarang ini kita tidak menangisi keteledoran “pemimpin-pemimpin gereja” yang berkompromi dengan ajaran yang tidak benar, gereja di Indoensia tidak berpengharapan lagi.

Roh Kudus yang mewahyukan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak mungkin mewahyukan wahyu yang baru lagi kepada orang-orang tertentu yang melawan apa yang telah Ia sendiri wahyukan. Roh Kudus akan membawa gereja masuk ke dalam kebenaran, bukan membawa gereja ke luar dari kebenaran.

Bagaimana kita membedakan suara Roh Kudus dan suara Setan? Seringkali suara Setan yang mengganggu gereja tidak kita pedulikan, tetapi suara yang mengganggu keamanan kita selalu memprihatinkan kita. Ini suatu ketidakadilan. Kita jangan terlalu menghiraukan untung rugi pribadi kita, tetapi kita harus lebih mengutamakan gangguan Setan terhadap Kerajaan Tuhan, gereja Tuhan, seluruh jemaat dan kaum pilihan. Itulah yang seharusnya menjadi keprihatinan utama kita.

Kalau saya sakit atau sehat, untung atau rugi, itu adalah persoalan kecil. Tetapi jika Kerajaan Tuhan dirusak, umat pilihan diselewengkan, itu adalah persoalan besar. Kalau Kekristenan dinodai, itu adalah persoalan besar. Saya selalu menangis di dalam hati apabila ada ajaran gereja yang kurang bertanggung jawab, apabila ada pengajaran doktrin yang salah. Keadaan pribadi saya sendiri adalah persoalan kecil. Kita harus memperhatikan Setan dengan segala dayanya merusak pekerjaan Tuhan.

Amin.
SUMBER :
Nama Buku : Roh Kudus, Suara Hati Nurani, dan Setan
Sub Judul : Bab 4 : Pemulihan Hati Nurani (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2011
Halaman : 83 – 99
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube