Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pak TongPENDAHULUAN

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” (Roma 8:14,16)

Pada zaman ini, begitu banyak orang yang mengatakan dipimpin oleh Roh Kudus, tetapi tidak pernah mengerti artinya memikul salib bagi Tuhan. Rekan saya, Pdt. Stephen Chiu, memberikan satu kesaksian yang indah tentang seorang pendeta yang karena jelas akan pimpinan Roh Kudus, pergi ke pulau Hainan dan memberitakan Injil di sana. Tetapi pemerintah Komunis sangat tidak menyenanginya dan menganiaya dia. Pada saat demikian, ia tidak berhenti melayani, sekalipun banyak orang Kristen yang ketakutan sehingga akhirnya mengalah dan dengan genderang berjalan di jalanan sambil berseru, “Binasalah Kekristenan…jayalah Komunisme, Yesus tidak ada…” Pendeta ini tetap melihat Alkitab tidak pernah memperbolehkan orang Kristen berbuat demikian, maka ia tetap menolak. Akibatnya ia dipenjarakan selama 15 tahun. Ketika ia dipenjarakan, Ia tidak menggerutu kepada Tuhan, mengapa ketika menjalankan kehendak Tuhan ia mengalami hal sedemikian. Ia tetap giat melayani di dalam penjara, sehingga banyak orang yang mengenal Tuhan di dalam penjara itu. Sekeluar dari penjara ia semakin giat melayani Tuhan. Inilah orang yang betul-betul mengerti pimpinan Roh Kudus.

Ketika orang Kristen menjalanklan kehendak Tuhan, di mana pun ia ditempatkan, ada orang di ditu. Di penjara ada orang, di padang belantara pun ada orang. Di mana pun kita berada, kita dapat melayani orang.

Tema ini merupakan tema yang unik dan merupakan lanjutan dari tema-tema sebelumnya. Tetapi dari tema ini, kita akan memberikan perhatian yang lebih kepada hal yang kedua, yaitu “suara hati nurani”.

Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah satu-satunya golongan manusia yang diberi Roh Kudus, untuk mendampingi dan berdiam diri di dalam dirinya selama-lamanya. Maka kemudian Roh Kudus dan roh kita akan bersaksi bersama-sama bahwa kita adalah anak-anak Allah. Betapa indahnya!

Lalu, bagaimana kita membedakan orang yang di dalamnya ada Roh Kudus dengan yang tidak? Mungkinkah orang yang tidak memiliki Roh Kudus menjadi lebih suci dibanding dengan orang yang memiliki Roh Kudus? Seharusnya tentu tidak. Mungkinkah orang yang tidak memiliki Roh Kudus lebih bijaksana dari orang yang memiliki Roh Kudus? Seharusnya tidak. Tetapi justru kita melihat gejala yang aneh, di mana pendeta-pendeta yang seringkali berkhotbah tentang Roh Kudus, justru hidupnya tidak kudus, keuangannya tidak beres, kehidupan seksualnya tidak keruan dan penuh dengan skandal. Berarti ada sesuatu yang salah. Kita melihat ada banyak yang perlu dikoreksi dan dibereskan. Bagaimanakah kita dapat mempertanggung-jawabkan hal-hal seperti itu?

Orang yang bukan Kristen adalah orang yang tidak didampingi oleh Roh Kudus, dan kadang-kadang diganggu oleh roh Setan. Orang Kristen mungkin rohnya diganggu oleh roh Setan, tetapi Roh Kudus akan mendampingi dan memberi kekuatan kepadanya. Maka orang Kristen seharusnya memiliki kesukaan yang penuh dengan kesadaran bahwa Roh Kudus diberikan dan dimeteraikan di dalam hati mereka. Roh ini akan bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, sehingga memberikan kekuatan untuk melawan godaan, kutukan dan tuduhan roh Setan.

Manusia adalah satu-satunya golongan manusia yang diberi Roh Kudus, di mana Roh Kudus berdiam di dalam manusia yang juga memiliki roh. Roh manusia ini memiliki fungsi, yaitu moralitas, sehingga di sini hati nurani merupakan suara dari roh, bukan roh Allah, tetapi suara dari roh yang dicipta oleh Allah. Ini sebabnya, kita perlu menyelesaikan beberapa pengertian yang penting mengenai hati nurani ini.

Untuk itu, kita harus memikirkan, apakah faedah, keuntungan dan apakah saya dapat dianggap sebagai orang yang memiliki Roh Kudus? Di dalam Alkitab ada dua orang, yaitu (1) Yusuf; dan (2) Daniel. Mereka berdua dipenuhi oleh Roh dari Tuhan Allah. Dan oranmg kafir melihat mereka berbeda dari orang lain secara umum. Perbedaannya adalah: (a) mereka memiliki bijhaksana yang luar biasa, juga (b) mereka bekerja dengan sangat setia, teliti, dan (c) kehidupan mereka sangat beres dan suci. Ketiga ciri ini menjadikan orang luar langsung dapat menilai bahwa ada Roh Allah di dalam dia. Demikian pula orang-orang menilai Daniel. Kalau ia pergi ke kantor, maka pekerjaannya, kesetiaannya, ketelitiannya sangat akurat dan teratur. Hal ini membuat orang hormat padanya. Juga cara dia mengerti sesuatu dan menjawab sesuatu. Jawabannya selalu penuh kebijaksanaan. Maka tentulah hal itu dari Tuhan. Ditambah lagi, kehidupannya suci dan tidak berkompromi.

Ketikla isteri Potifar kesepian, dan melihat ada “manager” suaminya yang muda dan ganteng, maka ia mulai merayu Yusuf. Berhati-hatilah para isteri, ketika ditinggal pergi oleh suami janganlah melirik kiri kanan. Demikian juga para pegawai, jangan mau dirayu oleh isteri boss, tetapi usirlah dia seperti mengusir setan! Tidak peduli setelah itu Saudara akan dipecat atau dikucilkan.

Ketika Yusuf dirayu, ia tidak melihat itu sebagai “kesempatan emas” untuk berkolusi dengan istri boss, atau mendapatkan kemungkinan promosi jabatan; tetapi sebagai seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, ia mengatakan: “Bolehkah saya berbuat dosa yang besar ini dan berbuat salah di hadapan Tuhanku?”

Catatan ini merupakan catatan Alkitab yang memiliki standard moral yang paling tinggi di dalam Perjanjian Lama, sebelum Taurat diberikan. Siapakah Yusuf? Di zaman Yusuf belum ada Hukum Taurat, belum pernah ia mengikuti kebaktian setiap minggu, dan ia tidak memiliki kesempatan seperti Saudara, di mana Saudara dapat senantiasa mendengar khotbah dan diajar dengan firman Tuhan. Ia hanya mengetahui takut kepada Allah. Sebelum ada Taurat, sebelum ada aturan-aturan Taurat, sudah ada seorang anak muda yang mengerti bahwa berdosa bukanlah kepada pimpinan atau kepada suami yang isterinya menyeleweng itu, bukan juga berdosa kepada diri sendiri atau keluarga, tetapi berdosa kepada Allah. Konsep ini begitu jelas dalam diri Yusuf. Dengan tegas ia mengatakan: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9).

Ketika Saudara menendang orang, lalu minta maaf kepada dia, sebenarnya Saudara sedang bersalah bukan hanya kepada dia, tetapi kepada Allah, karena orang itu dicipta oleh Allah dan adalah milik Allah. Dan Yusuf juga jelas bahwa tidur dengan perempuan yang bukan isterinya secara sah adalah kejahatan yang besar! Sekarang ini, berapa banyak orang yang sudah pergi mencari pelacur masih berani menjadi majelis; berapa banyak orang yang sambil berzinah berani berkhotbah, bahkan menjadi pendeta. Itu berarti, apa yang mereka katakan sebagai “Roh Kudus” adalah kata yang sia-sia. Di mana sungguh-sungguh ada Roh Kudus, di situ terdapat kekudusan, karena Roh Kudus adalah Roh bijaksana, Roh yang memberikan tanggung jawab, dan Roh yang memberikan kesucian dan mendorong kita untuk hidup kudus.

Ada orang yang mengatakan Stephen Tong tidak mempunyai Roh Kudus karena tidak dapat berglosolalia, tidak dapat membuat orang terjatuh atau tertawa, atau karena doanya tidak gemetar. Itu semua teori buatan manusia. Sekarang sudah waktunya teori-teori demikian harus kita buang, karena doktrin-doktrin semacam itu tidak berdasarkan Alkitab.

Gejala seperti ini dimulai sekitar 30 tahun yang lalu. Mereka mengatakan bahwa gereja jangan terlalu mengajarkan doktrin, tetapi tidak ada pengalaman. Tetapi justru karena doktrinnya tidak beres, semua pengalaman itu harus dibuang. Kita harus kembali kepada doktrin yang benar.

Yusuf dan Daniel adalah orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Allah. Hal itu menyebabkan mereka berul-betul bertanggung jawab. Apa yang dikatakan dilaksanakan. Mereka tidak sembarangan berkata lalu pelaksanaannya kacau luar biasa. Berani berjanji lalu tidak menepati. Orang yang memiliki Roh Kudus tidak demikian. Orang yang memiliki Roh Kudus adalah orang yang hidupnya bertanggung jawab dan hidup kudus, karena Roh Kudus adalah Roh yang memberikan ketertiban dan Roh yang tidak mau di mana ia berada di situ tercemar dengan kenajisan. Itulah alasan tema ini sangat penting.

—————-

BAB 1 :

MANUSIA DAN HATI NURANI (1)

“Roh Manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27)

Banyak orang ingin mengetahui hal-hal apakah yang ingin dibahas di dalam tema ini. Tema ini herndak membicarakan bagaimana kita dapat membedakan suara dari Tuhan, suara diri sendiri, atau suara Setan. Sebenarnya intinya adalah ketika manusia dicipta dengan hati nurani, bagaimana seharusnya ia hidup di dalam dunia ini, sehingga ia dapat memiliki pegangan dan arah yang menuju kepada kekekalan dengan bertanggung jawab.

Roh Kudus, suara hati nurani dan Setan menyangkut tiga nama yang memiliki oknum yang betul-betul hidup. Roh Kudus adalah Oknum Ke-tiga dari Allah Tritunggal. Roh Kudus adalah Roh yang hidup dan yang menghidupkan. Roh Kudus adalah Roh pemberi hidup dan pemberi hidup kembali. Hidup yang pertama berasal dari Roh Kudus dan hidup baru pun berasal dari Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh yang kekal. Maka Ia diletakkan di posisi yang pertama dalam tema ini. Kita tidak boleh dan memang tidak mungkin menyetarakan Roh Kudus dengan hati nurani dan Setan. Di sini Roh Kudus mempunyai peranan yang penting dan yang paling penting, karena Dia adalah satu-satunya yang ber-Oknum dengan sifat ilahi. Oknum ini adalah Pencipta dan tidak dicipta. Hati nurani dan Setan adalah ciptaan.

Hati nurani berada di dalam pribadi manusia, dan Setan juga adalah satu pribadi. Memang hati nurani bukan satu-satunya yang berada di dalam pribadi manusia. Pribadi manusia memiliki banyak aspek yang lain, namun hati nurani merupakan salah satu aspek yang berada di dalam diri manusia. Hati nurani bukan Allah dan tidak bersifat ilahi. Jika Roh Kudus adalah Pribadi, maka hati nurani berada di dalam pribadi. Hati nurani berada di dalam jiwa yang kekal, tetapi ia tidak bersifat dari kekal sampai kekal. Ia berawal ketika dicipta dan tidak pernah berhenti bereksistensi sampai pada kekekalan.

Setan juga adalah pribadi yang dicipta. Ia adalah roh yang jatuh, yang gagal dan roh yang tidak taat kepada Tuhan. Maka terjadilah pencampakan yang dilakukan Allah terhadap Setan. Setan dibuang dari tempat kemuliaan yang terhormat, kepada status kehinaan dan penghukuman yang selama-lamanya tidak pernah dipulihkan oleh Tuhan. Jelas bahwa Setan tidak memiliki sifat ilahi, ia adalah ciptaan. Setan tidak serupa dengan Allah sebagai Pencipta, ia adalah ciptaan. Tetapi Allah bukan dari semula mencipta Setan sebagai Setan. Pada mulanya ia adalah makhluk rohani yang memiliki kekekalan mulai dari saat penciptaannya. Ia bersifat roh, maka tidak mempunyai titik henti atau titik akhir dari keberadaan Setan. Ia dicipta sebagai penghulu malaikat, tetapi yang kemudian tidak taat, sehingga statusnya diturunkan oleh Tuhan. Keadaan ini sangat berbeda dari keadaan manusia, yang pada awalnya dicipta oleh Tuhan, sehingga pada saat kita jatuh, berbeda dari kejatuhan Setan.

Kejatuhan malaikat adalah kejatuhan tanpa adanya penggoda. Kejatuhan manusia ada penggodanya. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang sangat besar. Di dalam pribadi kita sebagai pribadi yang dicipta sebagai peta dan teladan Allah, kita berkaitan dengan dunia rohani. Maka, pertama, itu memungkinkan adanya suara Tuhan yang kita ketahui, karena Allah telah mewahyukan firman-Nya di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua, kita juga mungkin mendengar suarta dari hati nurani kita sendiri, yang membentuk suatu dialog antara diri dengan diri. Ketiga, kita juga mungkin mendengar suara Iblis yang melawan Tuhan, yang menjadi penggoda manusia. Di satu aspek ia menentang Allah dan di aspek yang lain ia mau menjatuhkan manusia.

I. KEUNIKAN MANUSIA

Mengapa kita disebut manusia? Manusia disebut manusia, karena manusia berbeda dari segala makhluk yang lain. Tetapi dalam hal apakah manusia berbeda dari makhluk yang lain? Dari kemampuan mata, kita mungkin kalah dari anjing; dari kekuatan fisik, mungkin kita kalah dari gorila atau gajah. Kemampuan telinga kita kalah dari kucing atau tikus; penciuman kita kalah dibandingkan ikan Salmon.

[Dengan penciuman yang sangat tajam, ikan Salmon mampu membedakan komposisi air laut yang hanya seperjuta persen bedanya. Hal itu yang menyebabkan ia dapat kembali dengan tepat ke danau atau kolam di mana dulu ia dilahirkan. Di tengah lautan Pasifik yang luas, ia dapat menemukan jalan kembali melalui sungai yang tepat di danau di tengah daratan di mana ia dulu dilahirkan.]

Di tengah-tengah zaman Post-modernisme sekarang ini, kehebatan binatang seperti di atas banyak ditonjolkan. Seperti kemampuan anjing yang dapat pulang kembali ke rumah setelah berpisah beratus mil jauhnya, atau pun gejala-gejala binatang lainnya, untuk menghilangkan perbedaan unik antara manusia dengan binatang. Dengan cara itu teori-teori manusia tidak lagi terlihat hebat, karena binatang-binatang pun memiliki pikiran, analisis intelek dan bahasa yang tidak kita ketahui. Dengan demikian, iman Kekristenan akan digeser dari akarnya satu-persatu tanpa disadari. Banyak orang yang tidak mengerti tipuan ini, hanya melihatnya sebagai sesuatu yang lucu; padahal sebenarnya perbedaan antara manusia dan binatang sudah dilunturkan. Kalau perbedaan-perbedaan itu sudah lepas, manusia tidak lagi perlu beriman kepada Tuhan, karena semua sama.

Tetapi manusia berbeda dari binatang! Meskipun secara fisiologis atau semua reaksi-reaksi fisiologikalnya mirip, binatang tetap berbeda dari manusia. Memang kalau binatang dapat sakit perut seperti manusia sakit perut, dan binatang ketika sakit dapat diberi obat manusia (dengan dosis berbeda tentunya) dan menjadi sembuh. Tetapi binatang adalah binatang dan manusia adalah manusia. Manusia bukan binatang, dan binatang bukanlah manusia. Apa yang membedakannya?

Perbedaannya adalah adanya satu unsur yang berada di dalam diri manusia. Unsur ini memiliki banyak aspek, di mana tidak satu pun dari aspek-aspek tersebut yang terdapat di dalam binatang. Keunikan manusia ini harus dipelihara, karena jika kita tidak memelihara keunikan ini, kita sendiri yang menurunkan derajat diri kita seperti binatang, atau menaikkan binatang setara dengan kita, dan pada akhirnya kita telah menolak prinsip Alkitab tentang kehormatan dabn kemuliaan manusia.

Mazmur 8 menegaskan, bahwa Allah telah menciptakan manusia dan memahkotai manusia itu dengan kemuliaan dan hormat. Manusia diberi kemuliaan dan hormat. Mengapa manusia diberi kemuliaan dan hormat? Apakah kemuliaan dan hormat itu? Sebenarnya semua ini menunjuk kepada apa yang dicantumkan di dalam Kejadian 1:26-27: “Manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah.”

Manusia mirip Allah, karena di dalam diri manusia ada unsur yang menjadikan kita mirip dengan Tuhan, sehingga di dalam kemiripan itu terjadilah aspek-aspek yang tidak terdapat pada binatang. Kita memang dicipta seperti Tuhan, namun seringkali dalam hidup kita sehari-hari kita tidak seperti Tuhan, tetapi seperti hantu. Kita seringkali membuat orang lain takut, hidup kita tidak menjadi berkat bagi orang lain. Seringkali kita mengutuk orang lain dan membuat dunia lebih kacau, lebih immoral dan lebih najis, dan lebih jauh dari Tuhan. Kalau hidup kita tidak seperti Tuhan, kita tidak mencapai target yang ditentukan oleh Tuhan.

Inilah dosa (hamartia – bahasa Yunani), yang berarti tidak mencapai sasaran. Ketika manusia tidak mencapai sasaran seperti yang Tuhan tetapkan, maka Tuhan menyebut dia sebagai orang berdosa. Kita berdosa, berarti kita tidak mencapai sasaran, tidak mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Tuhan. Jadi, bagaimana seharusnya manusia hidup?

Manusia harus hidup bukan menurut standar yang ditentukan oleh ayah. Terkadang ayah atau ibu terlalu rendah standarnya. Karena Tuhan Allah lebih tinggi dan lebih mengerti standar manusia dibandingkan dengan ayah atau ibu, maka kita harus menemukan bagaimana kita harus hidup seturut kehendak Tuhan. Kita harus hidup sesuai dengan sasaran yang ditetapkan oleh Tuhan Allah bagi kita.

Peta dan teladan itu membuat kita mirip dengan Tuhan, tetapi kita tidak mungkin mirip dengan Tuhan secara jasmaniah, karena Allah tidak bertubuh jasmani. Alkitab mengajar kita bahwa Allah adalah Roh.

Kemiripan kita dengan Pencipta kita harus dimengerti dari unsur rohaniah. Maka kita secara rohani harus menurut peta dan teladan Allah. Kita harus secara spiritual seperti Allah. Maka, jika manusia tidak memiliki unsur rohani, tidak mungkin manusia dapat mirip Allah yang adalah Roh. Itu sebabnya, manusia dicipta sebagai makhluk yang bersifat rohaniah, yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnnya.

Ada orang yang mengatakan, bahwa bukankah manusia memiliki jiwa, dan jiwa itu bersifat rohani? Benar! Lalu binatang-binatang juga memiliki jiwa dan jiwa mereka juga bersifat rohani. Betul. Tetapi jiwa mereka tidak memiliki unsur peta dan teladan Allah, sehingga jiwa mereka tidak mungkin mirip dengan Tuhan Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemungkinan mirip dengan Tuhan Allah. Jika kita dapat menemukan kunci pengertian ini, kita akan menjadi menusia yang indah, tetapi jika tidak menemukannya, kita dapat menjadi lebih celaka dari binatang.

Seorang sastrawan yang bertemu dengan saya di Amerika Serikat baru-baru ini, mengatakan bahwa jikalau manusia tidak mencapai apa yang harus ia capai, kemudian dihina orang dengan perkataan, “Ih, jahat sekali orang itu, hidup seperti binatang.” Kalimat itu dianggap tidak adil. Lalu saya bertanya kepada dia, mengapa ia menganggap itu tidak adil. Dia memberi penjelasan yang sangat mengejutkan saya. Ia mengatakan: “Janganlah menghina binatang. Binatang tidak buas seperti yang kita pikirkan. Kalau seseorang membantai orang, ia melakukan itu karena membalas dendam dengan alasan yang tidak memadai. Demikian juga sama halnya dengan orang yang suka menyedot uang orang lain tidak habis-habisnya untuk memperkaya diri sendiri. Itu kurang ajar sekali. Binatang tidak demikian. Binatang yang makan kenyang, tidak akan mengganggu lagi dan tidak serakah. Ia hanya mau mengisi sifat jasmaniahnya saja, tidak lebih dari itu. Maka kalau memaki orang dengan mengatakan buasnya seperti binatang, kalimat itu bersifat tidak adil terhadap binatang. Karena binatang tidak sebuas itu.”

Ketika manusia kehilangan sifat kemanusiaannya (manship), ia bukan seperti binatang, tetapi non-manusia. Pada saat manusia menjadi bukan manusia, ia mungkin akan jauh lebih jahat dari binatang, karena bagaimana pun galaknya, binatang tidak memiliki pikiran yang lebih pandai dari manusia. Maka ketika kepiting menggigit, ia tidak memiliki strategi untuk mengorganisir satu serangan, dengan berbagai tipuan yang licik, strategi-strategi yang jahat.

Yang menjadikan manusia memiliki sifat kemanusiaan itu adalah aspek-aspek yang sangat banyak sebagai ekstensi dari unsur rohaniah, yang merupakan peta dan teladan Allah tersebut. Di dalamnya terdapat aspek-aspek seperti kekekalan, kebebasan, rasio, moral, kesadaran eksistensi diri, sifat relatif antara diri dengan diri, dll. Semua ini merupakan tema-tema yang sangat besar. Karena Allah adalah Tuhan, maka manusia juga diberi sifat kebebasan, bagaikan “tuhan kecil” di tengah-tengah ciptaan di dunia ini. Maka manusia memainkan peranan kealahan terhadap binatang dan alam semesta ini.

Kita akan menjadi “allah” bagi anjing atau kucing kita. Kalau kita tidak ada, binatang itu menjadi “ateis”. Dengan kehadiran kita, ia menjadi ”teis”. Tetapi ia tidak dapat membedakan teis yang mana, karena ia tidak dapat melihat Allah yang rohani, yang tidak kelihatan. Ia hanya dapat melihat Allah yang kelihatan, yaitu diri kita. Maka kita menjadi penolong, juruselamat, pemberi hidup, pemelihara, ataupun pembunuh mati bagi anjing-anjing kita. Jadi bagi anjing kita, kita adalah allahnya. Tetapi celaka sekali kalau kalimat “aku tuhan” tidak dikatakan kepada anjing kita, tetapi dikatakan kepada Allah yang asli. Ini tindakan yang sangat kurang ajar. Tuhan yang asli mengatakan bahwa di luar Tuhan tidak ada Tuhan yang lain, dan ini menjadi hukum yang pertama dari Hukum Taurat. Hukum Pertama ini tidak mengizinkan kita membalikkan sifat yang mirip Tuhan ini menjadikan diri kita Tuhan. Mirip berarti bukan. Kalau sama bukan mirip. Manusia bukan Tuhan, hanya memiliki kemiripan dengan Tuhan.

Kita memiliki kekekalan, karena Allah kekal; kita memiliki rasio karena Allah adalah kebenaran itu sendiri, dan kita memiliki moralitas karena Allah adalah kesucian itu sendiri; kita memiliki sifat hukum karena Allah adalah kebenaran-keadilan (righteousness) itu sendiri. Kita juga memiliki sifat relatif diri terhadap diri yang eksistensial, sehingga diri dapat menilai diri, diri dapat menghakimi diri, dan diri dapat mengkritik diri. Sifat seperti ini hanya ada pada manusia, tidak terdapat pada kucing. Bagaimana pun dilatih, tidak mungkin kucing akan memandang cermin, lalu menyisir rambutnya atau mengatur ulang agar kelihatan lebih “pas” menurutnya, karena dia tidak memiliki sifat eksistensi relatif diri terhadap diri ini. Sifat eksistensi relatif hanya dimiliki oleh manusia.

Ketika seorang melihat cermin, sebenarnya ia tidak jujur. Ia bukan ingin melihat cermin, tetapi ingin melihat bayangan dirinya yang dipantulkan oleh cermin itu. Yang benar-benar mau melihat cermin hanyalah penjual cermin, karena ia ingin menjual cermin. Pada saat seseorang melihat cermin, tanpa sadar ia sedang berkaitan dengan satu teologi yang penting, yaitu sifat eksistensi relatif diri terhadap diri yang hanya dimiliki oleh manusia. Sifat ini merupakan dasar dimungkinkannya self-dialog.

Amin.

SUMBER :
Nama Buku : Roh Kudus, Suara Hati Nurani, dan Setan
Sub Judul : Pendahuluan – Bab 1 : Manusia dan Hati Nurani (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2011
Halaman : 1 – 15
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube