Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Pdt. Dr. Stephen TongBAB I :
IMAN SEBAGAI FONDASI (2)

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:16-17)

Apakah maksudnya ketika dikatakan bahwa iman harus didasarkan di atas iman? Di sini Paulus menyatakan satu ungkapan yang sangat agung dan penting, yaitu “dari iman kepada iman.” Ketika bertemu dengan dia di sorga nanti, saya akan menanyakan mengapa ia hanya satu kali menuliskan ungkapan ini. Mungkin dia akan menjawab saya dengan mengatakan bahwa Roh Kudus hanya menggerakkan dia satu kali. Banyak orang ketika membaca ayat ini, melewatkannya begitu saja. Seolah-olah suatu ayat yang begitu sederhana dan mudah dimengerti, atau bahkan dianggap tidak memiliki pengertian yang penting di dalamnya. Mungkin Saudara bisa menjadi penafsir Kitab Suci semaunya. Tetapi walaupun Paulus hanya sekali menulis hal ini di sini, ia ingin menekankan bahwa sangat penting bagi seseorang untuk beriman, dasarnya adalah iman, dan bukan yang lain. Beriman kepada Tuhan, tidak didasarkan pada apa yang kelihatan; kita beriman bukan karena sudah melihat dulu. Beriman kepada Tuhan bukan didasarkan pada pengalaman atau hal-hal yang lain. Di sini kita akan melihat empat kesalahan metode iman yang mungkin timbul di dalam dunia agama, mengenai keallahan dan keimanan kepada Dia.

a. Iman Berdasarkan Penglihatan : “Jika saya melihat, saya akan percaya.”

Kalau saya bisa melihat Allah, maka saya akan percaya kepada Allah. Ini berarti iman itu dibangun di atas penglihatan atau apa yang bisa kita lihat secara kasat mata. Maka apa yang tidak bisa saya lihat, tidak akan bisa saya percayai. Jika saya tidak bisa melihat Allah, maka saya tidak akan percaya kepada Allah itu. Ini adalah butir pertama yang paling sering kita akan hadapi dan dengar pada saat kita mengabarkan Injil. Sebelum kita menjadi orang Kristen, kita sendiri begitu sulit menjadi orang Kristen.Tetapi setelah kita menjadi orang Kristen, kita begitu ingin orang lain cepat-cepat menjadi orang Kristen. Lalu pada saat kita ingin membawa mereka mengenal Kekristenan, kita merasa begitu sulit untuk membawa mereka menjadi Kristen. Kita melihat mereka begitu keras, tidak mau mendengar dan tidak mau percaya kepada apa yang kita katakan. Ia akan mengatakan bahwa apa yang engkau mau percaya silahkan saja, tetapi jangan paksa saya untuk percaya, karena pengalamanmu bukan pengalamanku.

Ketika kita memberitakan Injil, kita akan menghadapi hambatan pertama, yaitu ia minta kita menunjukkan Allah kepadanya, karena ia tidak mau menerima teori kita. Waktu terjadi seperti itu, kita bisa tergoda untuk berdoa kepada Tuhan dan meminta Tuhan menyatakan diri kepadanya.Tetapi Tuhan Yesus berkata kepada Thomas: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29b). Orang-orang yang membangun imannya berdasarkan pengalaman dan penglihatan, tidak akan berani mengkhotbahkan ayat ini. Orang yang telah menegakkan iman di atas penglihatan, tidak berani mengombinasikan dan menyelaraskan seluruh pengertian Alkitab secara lengkap dan teliti, karena mereka minta kalau boleh Kitab Suci diubah supaya Allah menyatakan kuasa yang bisa mereka lihat agar mereka bisa percaya. Dalam konsep mereka, Allah yang harus menyatakan kuasa-Nya, memperlihatkan diri-Nya dan menyatakan wujud-Nya,mendemonstrasikan kemuliaan-Nya, sehingga semua orang melihat. Dan setelah mereka melihat, maka mereka akan percaya. Tetapi Tuhan diam.

Orang Kristen seringkali berpikir sebaiknya Tuhan Allah tidak terlalu kaku, khususnya di dunia yang semakin sulit untuk menginjili, biarlah orang melihat Tuhan, maka pasti mereka akan percaya. Tetapi kalau orang memaksa seperti itu, nanti yang muncul bukanlah Allah yang sejati, tetapi allah yang lain. Celaka! Akhirnya hal itu membuat orang Kristen merasa pergi ke gereja tidak terlalu penting, tetapi ke Lourdes itu lebih penting; atau membaca dan mengerti Alkitab itu tidak terlalu penting, tetapi ke tempat di mana di situ pernah ada pengalaman penglihatan adalah hal yang lebih penting. Akhirnya engkau menyembah tempat itu atau peristiwa itu. Maka iman mereka mulai bergeser dari Allah kepada suatu tempat atau peristiwa tertentu. Ini merupakan suatu bahaya yang luar biasa. Sekalipun mujizat ada, itu hanya untuk memberitahukan kepada kita bahwa Allah masih bekerja dan hal super-natural tidak boleh diabaikan. Sampai tahap ini kita harus berhenti. Jika di suatu tempat pernah terjadi (dan andaikata memang benar terjadi), hal itu mengajar kita bahwa hal-hal super-natural tidak boleh diabaikan, dan berhenti di situ. Namun bukan berarti dengan adanya hal super-natural maka iman kita akan menjadi beres.

Jika Saudara pergi ke Montreal di Kanada, coba Saudara sempatkan untuk pergi ke sebuah gereja yang sangat besar di atas bukit, yang bernama St. Joseph. Di dalam gereja itu ada satu sudut yang didalamnya terdapat lebih dari seratus pasang tongkat yang pernah dipakai untuk menopang orang yang timpang, yang katanya disembuhkan oleh Yusuf, yaitu ayah jasmani dari Tuhan Yesus ketika di dunia. Mereka begitu percaya bahwa Yusuf yang kemudian menikah dengan Maria yang menjadi ibu Tuhan Yesus, mempunyai kuasa yang begitu besar, sehingga jika berdoa di gereja tersebut, dengan lilin-lilin yang dipasang, dan memberikan persembahan di situ, maka orang yang timpang ketika pulang sudah tidak perlu memakai tongkat lagi. Lalu tongkat-tongkat itu digantungkan di sudut gereja itu, sampai saya lihat sendiri ada lebih dari seratus pasang. Ada mujizat, maka mereka percaya kepadaTuhan Allah. Saya percaya Tuihan bisa memakai cara apa pun yang dikehendaki-Nya untuk membawa engkau selangkah demi selangkah mengenal Dia. Namun kita jangan lupa bahwa Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak boleh beriman karena melihat, tetapi karena firman. Jangan beriman karena mujizat, apalagi karena mencari “roti”, tetapi hendaknya kita beriman kepada Roti Hidup, yaitu Kristus sendiri. Iman harus diutujukan kepada Kristus, bukan kepada kekuatan yang pernah dinyatakan oleh Kristus.

Jikalau Saudara beriman karena melihat sesuatu dan itu merupakan landasan iman bagi Saudara, maka itu disebut: “dari penglihatan kepada iman.” Dimulai dari apa yang kita lihat, baru kemudian membawa kita kepada kepercayaan. Tetapi Alkitab mengajarkan “dari iman kepada iman.” Silahkan cari dan bandingkan semua kaset atau buku di Indonesia yang membicarakan ayat ini, dan kita akan melihat betapa banyak orang yang tidak mempedulikan kedalaman ayat ini, sehingga meloloskannya dari penafsiran yang teliti dan mendalam. Kita justru ingin agar Saudara semua bisa lebih mendalam mengerti kekayaan dan keunikan iman Kristen. Metode “dari iman kepada iman” merupakan metode yang tidak pernah dilalaikan oleh Kitab Suci, dan metode yang kokoh ini menggugurkan presuposisi “dari penglihatan kepada iman.” Semua yang pernah engkau lihat biarlah itu menjadi tanda super-natural yang memang mungkin terjadi, tetapi segeralah kembali kepada firman. Jika engkau terus membanggakan apa yang engkau lihat, lalu engkau terus bersaksi tentang apa yang engkau lihat, akhirnya seumur hidupimanmu tidak akan maju. Tetapi jika engkau kembali kepada firman, maka pertumbuhan yang stabil dan menyeluruh di dalam iman Kristen bisa terjadi di dalam hidupmu.

Jika orang mengatakan bahwa ia baru bisa beriman setelah melihat, berapa besarkah ia bisa mempercayai matanya bahwa ia sudah melihat Allah? Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa yang ia lihat itu adalah Allah? Dan seberapa besar iman orang yang telah melihat Allah dan kuasa-Nya? Salah satu contoh yang penting untuk ini bisa kita lihat dalam peristiwa kebangkitan Lazarus. Dalam peristiwa ini, Yesus mendemonstrasikan keilahian dan kuasa kebangkitan yang Ia miliki untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah. Seharusnya, setiap orang yang melihat peristiwa itu tersungkur dan percaya kepada Yesus, yang adalah Allah yang berinkarnasi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Musuh-musuh Yesus berkomplot untuk membunuh Yesus. Di sini kita melihat kegagalan melihat. Mereka sudah melihat, tetapi mereka tidak bisa melihat. Itu sebabnya, Alkitab tidak percaya bahwa jika seseorang sudah melihat ia akan percaya. Itu suatu asumsi yang mustahil. Kalau seseorang bisa percaya, itu karena Tuhan Allah memberikan benih iman ke dalam hatinya. Sehingga setelah melihat, ia dibawa dari melihat kepada firman yang merupakan benih iman, dan membawanya beriman kepada Tuhan Allah.

b. Iman Berdasarkan Pengalaman : “Jika saya mengalami, saya akan percaya.”

Prinsip kedua yang salah akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, adalah iman yang dibangun berdasarkan pengalaman. Mereka yang tidak percaya berdalih, “Saya tidak mengalami apa-apa; jika saya mengalami maka saya akan percaya.” “Saya tidak akan percaya, jika saya tidak mengalami apa-apa.” Kalimat-kalimat ini muncul dari suatu konsep yang salah di dalam beriman. Pemikiran ini seolah-olah tidak terlalu salah, namun jika iman didasarkan pada pengalaman, maka iman Saudara akan disetir dan diarahkan oleh pengalaman. Ketika Saudara berkata, “Jika saya mengalami, saya akan beriman; Jika saya tidak mengalami, saya tidak akan beriman,” itu berarti iman Saudara didasarkan pada fondasi pengalaman. Akibatnya, jika pengalaman Saudara berubah, seluruh sendi iman Saudara pun akan goncang. Mungkin Saudara mengatakan: “Saya mengalami begitu baiknya Tuhan kepadaku, saya sungguh merasakan hal itu, oleh karena itu saya percaya.” Segera setelah percaya kepada Yesus, saya mengalami keuntungan tiga kali lipat. Saya mengalami kuasa menjadi OKB (Orang Kaya Baru). Setelah itu saya terus untung luar biasa,sehingga semakin makmur dan kaya. Namun, beberapa tahun kemudian pengalaman itu tidak terulang lagi. Pengalaman kejayaan masa lampau itu tidak terjadi lagi. Maka Saudara mulai berpikir bahwa apa yang dulu Saudara alami hanyalah suatu kebetulan, sehingga sebenarnya tidak ada kaitannya dengan iman, hanya saja Saudara menganggap itu sebagai anugerah Tuhan. Saudara juga berpikir: “Apalagi dulu, pemerintah begitu mudah memberikan fasilitas keuangan, sehingga saya bisa mendapatkan banyak keuntungan darinya. Tetapi sekarang semua peraturan keuangan begitu ketat dan saya sulit untuk mendapatkan keuntungan seperti dulu.” Maka, Saudara akhirnya berdoa lagi, dan kini konsep iman Saudara berubah. Saudara mulai berpikir bahwa Tuhan ini adalah Tuhan yang angin-anginan, yang tidak konsisten, yang berubah-ubah, terkadang memberi berkat, terkadang mempersulit orang. Maka, mungkin Saudara mulai berpikir, bagaimana kalau pindah ke kelenteng saja. Lalu, setelah Saudara pindah ke kelenteng, Saudara menjadi kaya lagi. Lalu Saudara mulai berpikir, kalau begitu tuhan yang ini lebih baik ketimbang Tuhan yang itu. Beberapa tahun kemudian, Saudara bangkrut lagi, lalu pindah lagi ke agama lain.

Di sini kita melihat, jika agama dan iman Saudara didirikan di atas dasar pengalaman, sebenarnya Saudara bukan sedang berbakti kepada Allah, tetapi sedang bersembah sujud pada pengalaman yang terjadi oleh anugerah. Itu bukan Kekristenan yang Alkitabiah. Kekristenan dari sejak permulaan menyatakan kepada kita bahwa orang yang mengikut Yesus, bisa dibunuh dengan pedang, dipenggal kepalanya, dipenjara, atau dipaku terbalik di kayu salib. Tetapi Alkitab juga menyatakan bahwa semua pengalaman seperti itu sama sekali tidak mempengaruhi iman kepercayaan mereka kepada Tuhan Yesus Kristus.

Mengapa saya harus dengan keras menyatakan hal ini? Karena kita harus menyeimbangkan ketimpangan yang sedang terjadi di zaman ini. Jika kita tidak mengerjakan pembangunan iman seperti ini dengan setia, Kekristenan akan berubah sifat di tengah tantangan dan arus zaman ini. Zaman ini adalah zaman yang sangat membahayakan, zaman di mana konsep Kekristenan sedang mau dicampur-adukkan dengan berbagai filsafat dan pemikiran manusia. Banyak orang mengaku Kristen, tetapi yang dikerjakan adalah kebatinan, mistik, dan paham new age, yang sama sekali bukan Kristen. Bahkan mereka merasa seolah-olah mereka adalah orang Kristen yang baik dan memiliki iman yang lebih unggul.

Benarkah metode “dari pengalaman menuju iman”? Tidak! Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk membangun iman diatas dasar pengalaman. Iman ditegakkan di atas dasar iman. Mengapa iman harus didasarkan atas iman? Karena jika iman yang pertama merupakan dasar, iman berikutnya merupakan pertumbuhan. Lalu dari mana datangnya iman yang pertama itu? Hal ini akan kita bahas di bab-bab berikutnya. Kita perlu secara perlahan-lahan dan teliti mengerti firman Tuhan. Mengapa ketika mempelajari tentang Einstein kita harus membuka banyak kamus dan tafsiran fisika, dan setelah mempelajarinya, akhirnya kita baru sadar bahwa ternyata kita tidak cukup pandai untuk mengerti Einstein. Tetapi ketika kita belajar Alkitab kita mau instan, cepat, dan dalam tiga bulan sudah mau menjadi pendeta? Orang yang ingin menjadi dokter, harus belajar ilmu kedokteran selama bertahun-tahun, baru akhirnya bisa lulus menjadi dokter; tetapi kemudian selama beberapa bulan belajar teologi, ia mengatakan sekarang ia sudah tidak lagi menjadi seorang dokter, melainkan sudah menjadi pendeta. Ini bukan pendeta, tetapi pendusta! Akhir-akhir ini, Kekristenan banyak dirusak oleh pendusta-pendusta demikian, dimana mereka sendiri tidak mempelajari Alkitab dengan baik, namun berani sembarangan menafsirkan Alkitab dengan bertamengkan kepenuhan Roh Kudus. Ini justru adalah ajaran setan, bukan dari Tuhan.

Bukan dari pengalaman kepada iman, tetapi dari iman kepada iman., Kita percaya kepada Tuhan, karena Tuhan memberikan cahaya firman-Nya ke dalam hati kita, sehingga Ia menyatakan segala kuasa dan karya-Nya yang di dalamnya mengandung iman yang pertama, yang membawa kita kepada iman kepada Kristus.

Pada saat ini kita sebenarnya bisa mendengar orang sedang berbicara bahasa Inggris dengan fasih di tempat di mana kita berada. Mungkin Saudara mengatakan, “Mana mungkin?” Nah, silahkan Saudara menyalakan televisi atau radio Saudara dan menyetel gelombang dari BBC maka ada siaran dari Inggris dalam televisi Saudara, yang ditangkap dari gelombang yang berjalan atau berada di dalam ruangan di mana Saudara berada. Tanpa televisi atau radio, kita tidak bisa menangkap suara tersebut, tetapi itu bukan berarti suara tersebut tidak ada. Hanya saja, telinga kita tidak mampu mengambil pengalaman tersebut, karena telinga kita terbatas, mata kita terbatas, dan perasaan kita pun terbatas. Jika kita mengatakan kita baru mau percaya kalau telah melihat, maka kita telah memperilah mata kita. Lalu Saudara berani mengatakan bahwa Saudara hanya mau percaya kepada Allah berdasarkan pengalaman Saudara. Itu bagaikan seorang anak kecil yang membawa sebaskom air laut dan berkata bahwa ia telah membawa samudra ke rumahnya. Kita harus menyadari bahwa bagaimana pun besarnya pengalaman kita, pengalaman itu tetap terlalu kurang untuk bisa menyatakan diri Allah. Saya sudah berkhotbah 35 tahun, tetapi saya tetap mengatakan kepada Saudara bahwa itu masih terlalu kurang. Nanti kalau kita sudah di sorga, kita akan menyadari betapa kayanya kebenaran firman Tuhan dan yang bisa kita gali dari firman Tuhan mungkin beribu-ribu kali lebih kaya dan lebih dalam dari apa yang telah kita lakukan selama ini. Itu sebabnya, kalau orang yang tidak mengerti, lalu berani sembarangan berkhotbah atau sembarangan beriman, itu sungguh sangat disayangkan.

Saya bukan ingin menakut-nakuti Saudara atau membuat Saudara rendah diri. Sekalipun apa yang Saudara ketahui itu sedikit, jika itu benar, silahkan katakan, tidak perlu takut. Tetapi sekalipun Saudara mengetahui banyak, jika tanpa prinsip yang benar, sedikit pun jangan Saudara katakan. Kegiatan-kegiatan yang banyak tidak otomatis membawa orang kepada kebenaran, tetapi hanya akan membuat orang memiliki pengetahuan yang tidak tentu benar.

c. Iman Berdasarkan Bukti : “Jika ada buktinya, saya akan percaya.”

Pemahaman ketiga yang salah adalah mendasarkan iman di atas bukti. Jika Saudara dapat membuktikan adanya Allah, maka saya mau percaya. Jika Saudara meneliti perkembangan abad ke-20 di dalam lingkup Filsafat Linguistik, Saudara akan mengetahui bahwa setiap istilah yang dipakai manusia, selalu mengandung unsur subyektivitas yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Dua orang berkelahi dan berseteru dengan sengit, karena ternyata keduanya menggunakan istilah yang sama, namun dengan pengertian yang berbeda.

Istilah esensi (essence) yang dipakai oleh Immanuel Kant dalam bukunya Critiques of the Pure Reason, sama sekali berbeda dengan istilah yang sama yang dipakai oleh Baruch Spinoza, seorang filsuf di Amsterdam, sekitar 200 tahun yang lalu. Meskipun kedua filsuf besar ini menggunakan istilah yang sama, tetapi istilah esensi dalam buku Kant identik dengan istilah substansi dalam pemikiran Spinoza. Sebaliknya, istilah esensi dalam pemikiran Spinoza adalah substansi dalam pemikiran Kant. Orang yang belajar filsafat lalu merasa mengerti, kemudian mempersamakan istilah esensi dari Kant dengan istilah yang sama dari Spinoza, akan mendapatkan kesimpulan yang salah. Ini menunjukkan orang ini belum cukup belajar mengenal kedua tokoh besar tersebut.

Demikian juga di dalam gereja banyak orang menggunakan istilah yang sama, tetapi pengertian mereka jauh berbeda satu dengan yang lain. Sekalipun sama-sama berkata-kata tentang Roh Kudus, tetapi apa yang sering dikhotbahkan oleh gereja-gereja saat ini tentang Roh Kudus sangat jauh berbeda dari apa yang diajarkan dalam Alkitab. Roh Kudus yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah Roh Kudus yang memimpin manusia masuk ke dalam kebenaran, memberikan kepada manusia hidup baru, menyebabkan timbulnya pertobatan yang sejati, dan menjadi Roh Kebenaran yang tinggal di dalam hati manusia sehingga membuat dia lebih dekat dengan Kristus. Roh Kudus dalam banyak gereja yang lain adalah roh yang mengakibatkan terjadinya tubuh gemetar, ucapan-ucapan yang aneh, menyebabkan orang terjatuh-jatuh, bahkan tertawa-tawa. Mereka mengatakan kalau tidak jatuh berarti tidak ada Roh Kudus; atau kalau tidak tertawa – seperti kerasukan – berarti tidak ada Roh Kudus. Itu sebabnya, setiap terminologi (istilah) yang kita pakai, harus kita mengerti dengan tepat artinya. Kalau tidak, kita hanya menganggap itu sesuatu yang benar tanpa kita mengetahui apa dasarnya bahwa itu benar.

Jika orang mengatakan, “Coba buktikan Allah!” Bagaimana Allah bisa dibuktikan? Jika Allah bisa dibuktikan, berarti bukti itu bisa melingkupi atau menguasai Allah. Jika bukti bisa melingkupi Allah, maka Allah akan menjadi lebih kecil dari bukti, dan bukti menjadi lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya dari Allah. Manusia terlalu sembrono, ketika ia berani mengatakan bahwa kalau tidak bisa membuktikan Allah , maka ia tidak mau percaya.

Suatu pagi Saudara berjalan di tepi pantai, dan Saudara heran, mengapa di pagi buta seperti ini sudah ada telapak kaki yang berada di pantai. Telapak kaki itu cukup besar dan lebar-lebar jarak jarinya.Telapak yang satu berjari lima, yang lain berjari empat. Lalu Saudara mengatakan bahwa jejak telapak kaki di pasir itu membuktikan bahwa tadi ada orang yang berjalan menyusuri pantai, dan kemungkinan satu jari kakinya dipotong atau terpotong. Ketika melihat jarak jari kakinya yang lebar, Saudara menyimpulkan bahwa orang itu jarang memakai sepatu. Saudara mulai membuat argumentasi berdasarkan bukti-bukti (evidensi) yang ada. Saudara menyusun cerita Saudara berdasarkan bukti-bukti dari jejak telapak kaki yang ada. Tetapi jika ini diargumentasikan, sebenarnya semua itu tidak ada artinya sama sekali, karena yang ada hanyalah fenomena belaka, bukan barang bukti itu sendiri. Tanda jejak kaki tidak sama dengan kaki. Maka ini bukanlah bukti. Tanda tidak sama dengan bukti. Tidak ada barang bukti yang ditinggalkan. Kalau pada saat Saudara berjalan menelusuri jejak itu, lalu menemukan sepucuk pistol tergeletak disitu, maka pistol itu adalah barang bukti. Jejak kaki itu hanya menandakan bahwa tadi ada orang yang lewat, tetapi tidak bisa memberikan bukti apa pun. Disini kita melihat bagaimana pengalaman-pengalaman kita terlalu kecil untuk menjadi suatu bukti. Maka sangatlah tidak mungkin kalau kita meminta bukti dulu, baru kita bisa percaya.

d. Iman Berdasarkan Logika : “Jika masuk akal, saya akan percaya.”

Orang-orang ini beralasan bahwa kalau cukup logis barulah mereka mau percaya. Pola ini biasanya dipegang oleh anak-anak muda yang berusia antara 16 hingga 20 tahun. Ini adalah format dari remaja dan pemuda,di mana mereka merasa otak mereka sedang bertumbuh dan bekerja dengan hebat, dan merasa lebih pandai daripada orang lain. Saya sudah SMA, berarti Sekolah Menengah Atas, bukan lagi Taman Kanak-kanak. Apalagi kalau sudah universitas, mereka akan merasa diri mereka begitu pandai, bahkan lebih pandai dari siapa pun. Lalu mereka mulai berdebat dengan setiap orang. Mereka berargumen : kalau logis baru saya bisa percaya. Mana mungkin ada Allah, mari kita diskusikan dan lihat apakah logis kalau kita percaya kepada Allah.

Ketika saya berusia 17 tahun, logika saya tidak kalah dibandingkan dengan teman-teman sebaya saya. Saya sudah membaca banyak buku filsafat; saya mempelajari tentang Karl Marx, Stalin, Kierkegaard; tentang konsep Dialektika-materialisme, Komunisme, Ateisme, dan Eksistensialisme, lalu saya mengajak banyak orang untuk berdebat. Pendeta-pendeta terdiam ketika saya ajak berdebat. Banyak pendeta takut kalau diadakan forum tanya jawab, apalagi harus menjawab pertanyaan saya. Ketika saya bertanya, dia mengatakan, “Ya, nanti Tuhan yang akan menjawab kamu.” Lalu mereka menuduh saya kurang beriman. Dalam hati, saya katakan: “Kamu yang tidak mampu menjawab, mengapa mengatakan saya kurang beriman?” Bahkan ada orang Kristen yang mengatakan: “Setan, keluar dari pikiranmu! Ke gereja adalah untuk berbakti, bukan bertanya-tanya terus.” Saya menengok ke kanan dan ke kiri, dan tidak ada setan di situ, berarti ia sedang mengatakan bahwa sayalah setannya. Maka saya keluar dari gereja. Hampir saja saya tidak kembali lagi ke gereja seumur hidup saya. Saya hampir menjadi orang yang melawan gereja. Mengapa? Karena pendeta tidak mau menjawab pertanyaan saya. Coba buktikan, coba debat, coba lakukan pengujian rasional! Nah, kalian tidak bisa menjawab! Maka saya merasa cukup alasan untuk tidak perlu percaya kepada Allah. Saat ini banyak orang yang sangat menekankan logika berpandangan bahwa Kekristenan tidak mengerti apa-apa.

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang dari RRC datang ke Indonesia. Ketika diajak ke gereja dia menolak, karena dia menganggap agama Kristen sudah terlalu kuno dan tidak cocok lagi bagi pergumulan di abad ke-20. Dalam konsep kebanyakan orang komunis, agama itu tidak ilmiah, tidak logis, dan tidak mampu menghadapi perdebatan. Agama itu tidak mau mernggunakan rasio, agama itu hanya sebuah takhayul dan omong kosong. Namun, saya yang begitu sulit menjadi orang Kristen, akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri untuk melayani perdebatan orang-orang yang memiliki rasio yang kuat dan berintelektualitas tinggi. Satu per satu mereka harus ditundukkan untuk mengenal Injil. Memang, kita meyakini bahwa bukan dengan perdebatan rasional manusia menjadi percaya, melainkan melalui rasio dan argumentasi kita membawa mereka kepada Firman dan memperhadapkan mereka kepada Firman. Saya harap Saudara tidak salah mengerti.Jika Saudara menjadi Kristen karena mengalami kesembuhan, saya tidak menyangkal atau menentang kesembuhan yang Saudara alami dan yang membawa Saudara menjadi Kristen, tetapi yang saya mau tekankan ialah jangan menyandarkan diri dan iman Saudara pada kesembuhan itu, melainkan kepada Firman. Kalau ada orang yang berdebat dengan Saudara dan akhirnya Saudara memenangkan mereka dan membawa mereka percaya kepada Tuhan, saya tidak menyangkal atau menentang langkah itu. Saya tidak menganggap rasio itu tidak penting. Tetapi yang saya tekankan ialah kita harus membawa dia kepada Firman, bukan hanya rasio dan logika saja. Rasio harus tunduk kepada firman Tuhan.

Kita telah melihat kesalahan empat metode yang dipakai dunia untuk menjadi landasan pencarian iman. Keempat metode ini ditolak oleh Alkitab. Begitu banyak orang Kristen yang tidak memahami hal ini, sehingga mereka pun menggunakan metode-metode yang salah ini sebagai landasan iman mereka. Saya akan mengajak Saudara untuk secara serius mendalami Kitab Suci agar Saudara dapat mengerti kebenaran firman Tuhan dan melihat satu per satu perbedaan antara kebenaran firman Tuhan dan apa yang diajarkan oleh dunia. Dan setelah itu, saya hanya bisa berdoa dan memohon anugerah Tuhan agar Saudara bisa sungguh-sungguh percaya dan beriman sesuai dengan firman Tuhan.

Mengetahui tidak sama dengan percaya. Sekalipun kita sudah membaca Kitab Suci dan mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah membangkitkan Lazarus, sangat mungkin Saudara akan tetap mengatakan bahwa Saudara sudah tahu bahwa Lazarus bangkit, dan semua orang juga akan bangkit pada akhir zaman, tetapi itu tidak begitu saja membawa Saudara percaya kepada Kristus. Tahu bukan berarti percaya. Untuk dapat percaya, kita membutuhkan iman yang berasal dari Tuhan Allah sendiri. Yesus menjawab Marta dengan berkata : “Jikalau engkau beriman, engkau akan melihat kemuliaan Allah.” Kalau kita berkata : “Jikalau saya mengerti, saya akan melihat kemuliaan Allah.” Yesus juga akan menjawab,”Bukan demikian!” Yesus mengajar:“Jikalau engkau beriman, engkau akan melihat kemuliaan Allah.”

Pada saat kami memulai Gereja Reformed Injili Indonesia, kami memulai dengan pengertian ini. Secara keuangan, kami tidak memiliki apa-apa; secara kekuatan massa, kami juga tidak mempunyai apa-apa; semua dimulai dari nol. Tetapi kami memulai dengan iman. Kami melihat bahwa jika memang Tuhan yang menghendaki dan memerintahkan kami untuk melakukan hal ini, semua akan kembali menyatakan kemuliaan Allah. Ini adalah prinsip Alkitab “dari iman kepada iman.” Iman tidak boleh didasarkan pada pengalaman, sebaliknya pengalaman harus didasarkan pada iman. Iman seringkali akan membawa kita berjalan di padang belantara, namun karena percaya maka kita melintasinya. Karena percaya kita melihat Laut Kolsom terbuka; karena iman kita melihat Sungai Yordan terbelah. Iman memimpin pengalaman.

Mengapa gereja saat ini menjadi begitu kacau, dan pengajaran begitu simpang siur tidak keruan? Itu terjadi karena begitu banyak orang mau menegakkan iman hanya di atas pengalaman mereka. “Karena saya mengalami hal ini, maka saya percaya,” lalu mengajarkan pengalaman itu kepada orang lain dan mengajak orang lain untuk percaya kepada pengalaman tersebut, lalu beriman kepada pengalaman tersebut. Semua orang diminta untuk mempunyai pengalaman yang sama. Akibatnya, tidak ada tempat bagi firman. Mereka masuk kepada pemahaman “dari pengalaman kepada iman.” Tetapi Alkitab tidak mengajarkan hal demikian, melainkan: “dari iman kepada iman.”

Alkitab juga menolak pandangan yang mengatakan kalau orang sudah mengerti, ia pasti akan percaya (“dari rasio kepada iman”). Tetapi Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya.” (2Timotius 1:12). Itu berarti percaya dulu baru mengetahui/mengerti. Maka, kepercayaan yang berdasarkan pengetahuan akan sangat berbeda dengan pengetahuanyang berdasarkan kepercayaan. Silahkan diskusikan perbedaan kedua hal ini. Bukankah kita mau mengerti dulu, setelah belajar dan mengerti, baru kita percaya? Atau sebenarnya kita percaya dulu baru bisa mengerti? Kaitan antara iman dan pengetahuan/pengertian begitu erat, semakin beriman semakin kita tahu/mengerti lebih baik. Makin banyaktahu/mengerti, makin kuat imannya. Putaran ini akan terus berjalan dalam pertumbuhan kita. Kembali kita melihat kesalahan pemikiran “dari rasio kepada iman”.

Alkitab memberikan prinsip yang sama sekali terbalik, yaitu karena beriman, maka umat Allah memperoleh bukti tentang kebenaran (Ibrani 11:1-3). Iman melahirkan bukti, bukannya bukti melahirkan iman. Di dalam ketiga ayat dalam kitab Ibrani ini kita melihat bahwa : “dari iman kepada bukti”, “dari iman kepada saksi”, dan “dari iman kepada pengertian.” Kalau kita tidak memperhatikan hal ini, mungkin kita akan melewatkan pengertian yang penting dalam ayat-ayat ini. Iman itu sendiri adalah bukti, bukan setelah ada bukti baru beriman. Pendapat yang mengatakan perlu bukti dulu baru bisa beriman adalah salah, karena Alkitab menegaskan bahwa iman itu sendiri adalah bukti. Iman itu sendiri adalah bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan (Ibrani 11:1). Kalau mereka beriman kepada Allah, maka mereka mendapatkan saksi (Ibrani 11:2), yang dalam istilah aslinya adalah bukti. Dan setelah kita beriman, kita baru bisa mengerti (Ibrani 11:3). Jadi pengertian baru ada setelah iman. Iman yang menjadi penyebab adanya pengertian dan pengetahuan, bukan sebaliknya.

3). KRISTUS PEMULA DAN PENYEMPURNA IMAN

Di dalam Ibrani 12:1-2, diungkapkan bahwa seluruh aspek iman berpusat pada Kristus, yang memulai dan yang menyempurnakan iman kita. Ini dimengerti sebagai “dari iman kepada iman.” Pribadi yang membentuk dan yang menciptakan iman awal dalam diri kita, dan yang memimpin iman kita menuju kesempurnaan adalah Yesus Kristus. Dari iman kepada iman dikerjakan oleh Tuhan Allah. Dengan demikian, orang yang beriman kepada Allah harus beriman dengan memandang kepada Kristus. Jika tidak demikian, maka iman Saudara yang tanpa Kristus tidak mungkin disempurnakan, sehingga “dari iman kepada iman” tidak mungkin terjadi di dalam hidup Saudara. Dan pada akhirnya, Saudara tidak mungkin bertemu dengan Dia di dalam kemuliaan. Kristus adalah yang mengadakan iman dalam Saudara dan Kristus juga yang akan menggenapi iman Saudara.

Amin.

 ..
SUMBER :
Nama Buku : FROM FAITH TO FAITH – Dari Iman Kepada Iman
Sub Judul : Bab I : Iman Sebagai Fondasi (2)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2004
Halaman : 16 – 39
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube