Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

PendetaPRAKATA

Suara apakah yang mungkin terdengar dari mulut orang-orang yang tersiksa sampai mati di atas bukit Golgota? Bukankah caci-maki, balas dendam, suara kutukan yang keras, suara tangisan yang mengerikan, atau jeritan yang mengakibatkan meremangnya bulu kuduk? Ini sangat biasa bagi prajurit-prejurit yang memaku manusia di atas salib dan bagi penonton di sekitarnya.

Namun sejarah mencatat satu-satunya kasus yang terkecuali, yaitu pada waktu Yesus Kristus disalib. Tidak lebih dan tidak kurang, Ia mengucapkan tujuh kalimat. Ke-tujuh kalimat ini menenun satu gambaran drama kosmos, yang menyatakan keagungan jiwa Sang Penebus, mengungkapkan kebesaran rencana penebusan Allah bagi manusia, mengejutkan sang raja kerajaan gelap, yang menerangi jiwa-jiwa yang tersesat untuk selamanya. Renungkanlah semuanya melalui buku ini, yang pernah kami khotbahkan pada tahun 1982 di Gereja Kristus Ketapang, Jakarta. Kami masih ingat tujuh hari itu kami berdiam di rumah Pdt. H.F. Tan alm., dengan sangat serius, merenungkan dan mempersiapkan firman Allah selama kebaktian sepekan. Seri khotbah ini merupakan usulan Pdt. H.F. Tan, yang baru kami layani 15 tahun kemudian. Tahun ini kami bukukan seri khotbah tersebut supaya menjadi berkat terus-menerus.

Kami mengasihi karena Tuhan mengasihi lebih dulu dan mengirim Anak-Nya (1 Yohanes 4:8-11). Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia (1 Korintus 16:22).

Juli, 1992
Pdt. DR. Stephen Tong

PERKATAAN 1 :
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
—————————————–

Bacaan : Lukas 23:26-34

Yesus Kristus adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia. Rahasia inkarnasi adalah rahasia ibadat. Bagi mereka yang takut kepada Allah dan sungguh-sungguh menaklukkan diri dan rasio di bawah kuasa Allah, maka Roh Kudus bekerja. Roh yang menaungi Maria untuk melahirkan Kristus juga adalah Roh yang menghembuskan nafas Ilahi ke dalam rasio orang percaya. Sehingga orang percaya boleh mengerti bahwa Firman menjadi manusia merupakan satu doktrin dan satu fakta yang terbesar di dalam sejarah.

Melalui datangnya Kristus ke dalam dunia ini, manusia boleh mendengar langsung perkataan-perkataan Allah yang diucapkan dengan mulut inkarnasi, di dalam bahasa manusia. Kristus adalah Firman yang menjadi daging. Maka dengan mulut manusia dan bahasa manusia, Ia mulai mencetuskan kepada manusia akan perkataan-perkataan yang kekal. Firman itu berfirman di dalam dunia dengan bahasa manusia.

Tetapi heran, pada waktu Yesus Kristus diadili, Dia tidak berfirman, tidak berkata-kata. Firman menjadi tenang. Firman yang mengajar di jalan, Firman yang berteriak di dalam Bait Allah, Firman yang mengajar di atas kapal, Firman yang berkata-kata di persimpangan jalan untuk memanggil orang bertobat kepada Dia, sekarang tenang dan diam. Ini karena Allah mempunyai satu sifat: Jika manusia berusaha melampaui Dia, maka Allah tinggal diam dan tidak menjawab apa-apa! Pilatus, Herodes dan betapa banyaknya orang yang mempunyai kuat kuasa di dalam agama, mereka tidak lagi layak mendengarkan perkataan Yesus Kristus. Jikalau Tuhan masih mau berkata kata, biarlah kita menyediakan hati yang lunak, rela dan taat untuk menerima perkataan-Nya, meskipun perkataan-Nya tidak selalu menyenangkan kita. Karena Firman itu yang menghidupkan kita! “Manusia hidup bukan hanya dari roti, melainkan dari Firman yang diucapkan dari mulut Allah.” (Matius 4:4).

Pada waktu Kristus diadili, baik di hadapan Kayafas dan Hanas, Ia tidak berkata apa-apa. Demikian pula pada waktu di hadapan orang Yahudi. Pada waktu di hadapan Pilatus. Ia tidak banyak berkata apa-apa. Di hadapan politikus, pemimpin agama dan massa yang begitu banyak, Dia diam, tenang dan tidak berkata apa-apa. Tuhan yang tidak berkata apa-apa dipukul, dicambuk, diadili dan ditimpakan dengan salib, kayu yang berat dan kasar, kejam dan ganas.

Waktu Dia memikul salib, Alkitab tidak mengatakan Dia berteriak, bersungut-sungut, atau mengatakan perkataan apapun juga. Alkitab mengatakan tentang Dia dalam kitab Yesaya: “Lihatlah Hamba-Ku yang tidak berteriak di tengah jalan, lihatlah Hamba-Ku yang tidak kecewa dan tidak putus asa. Dia tidak memasyhurkan nama-Nya di hadapan orang banyak. Dia tidak membesar-besarkan diri di hadapan umum. Dia begitu tenang, seperti domba yang dibawa pergi ke tempat penyembelihan.” (band. Yesaya 52:13 – 53:12).

Menuju puncak Golgota, Yesus memikul salib yang berat, yang melelahkan dan menjadi satu beban bagi fisik-Nya. Namun Dia tetap tenang dan memikulnya sengan saegala kerelaan, karena cinta Allah dinyatakan secara nyata bagi Anda dan saya, di dalam diri-Nya. Pada waktu Yesus Kristus sudah dipaku, Alkitab juga tidak mengatakan bahwa paku itu mengakibatkan teriakan-Nya. Waktu Dia dipaku, Ia mengalami kesakitan yang begitu hebat dan dahsyat. Tapi Alkitab mengatakan bahwa Dia tidak berkata apa-apa. Salib diangkat dan ditancapkan seperti orang yang mendirikan sebatang pohon atau bendera. Maka seluruh berat badan-Nya hanya ditahan oleh beberapa paku yang melubangi tangan serta kaki-Nya. Bertambahlah sakit yuang dialami-Nya. Darah setetes demi setetes keluar dari tubuh-Nya yang pecah bagi Anda dan saya. Darah yang mahal, darah yang demikian suci, darah dari Domba yang tidak bercacat cela, sekarang mulai mengalir! Inilah merupakan satu Batu Karang kekal yang sudah pecah. Tubuh yang diremukkan untuk membuka satu jalan yang baru bagi Anda dan saya menuju kepada Bapa.

Sebelum Yesus dipaku, secara tradisi orang-orang yang menyalibkan Dia memberikan semacam minuman kepada-Nya untuk membius Dia. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak minum. Apakah sebabnya? Apakah Tuhan tidak mempunyai kesopanan untuk menerima kebaikan hati orang lain? Karena Dia tahu bahwa kedatangan-Nya ke atas kayu salib bukanlah untuk melarikan diri, melainkan untuk menjalankan kehendak Allah, yaitu rencana penebusan Allah yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Hanya Kristus saja, Allah yang menjadi manusia yang menjadi satu-satunya Oknum yang boleh menanggung tugas yang begitu berat. Tugas untuk substitusi, mengganti orang berdosa. Di dalam keadaan bagaimanakah Dia rela menanggung dosa Anda dan saya? Bukan dalam keadaan dibius sehingga Ia bisa melarikan diri dari sakit dan kekejaman itu. Bukan! Melainkan di dalam kesadaran yang begitu kuat, kesadaran yang total. Dia rela sadar dan menerima siksaan dan penderitaan. Dia tidak mau menerima penderitaan dalam keadaan dibius.

Waktu Anda dioperasi oleh dokter, Anda perlu obat bius. Waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, Dia menolak pembiusan sebab cinta-Nya begitu besar. Dia mau menerima sengsara itu dengan seratus persen kesadaran sebagai manusia yang mengganti manusia. Puji Tuhan! Jikalau Tuhan Yesus tidak mempunyai sifat manusia yang penuh, manusia yang sejati, maka Dia tidak layak berdiri di tempat di mana Anda dan saya harus dihukum oleh Tuhan Allah. Dia berdiri sebagai manusia yang utuh. Dia Oknum yang mengganti Anda dan saya dengan penderitaan yang diterima dengan segala kesadaran. Setalah Dia merasakan kesakitan yang begitu dahsyat, saat itu Alkitab mengatakan bahwa Dia membuka mulut-Nya.

The more you speak, the less you influence
The less you speak, the more you influence

Orang yang selalu buka mulut, mempunyai perkataan yang nilainya tidak terlalu besar. Sepanjang diadili, Kristus tidak berkata-kata. Tetapi sekarang Ia membuka mulut-Nya dengan mata yang menengadah ke atas sehingga orang-orang yang berada di bawah salib boleh memperhatikan perkataan-Nya.

Apakah perkataan yang diucapkan oleh orang biasa apabila ia dipaku di atas kayu salib? Karena terlalu kejam dan ganasnya hukuman yang dijatuhkan kepada mereka, maka mereka tidak bisa tahan dan mengutuk orang di bawah yang memaku mereka. Orang yang membawa para hukuman ke Golgota adalah orang-orang yang dikutuk dan dicaci maki oleh para terhukum. Sekarang Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib, dan orang-orang di bawah yang mendengarkan perkataan-Nya, maka terdengarlah perkataan yang pertama: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Di dalam seluruh sejarah manusia, adakah perkataan yang lebih agung, lebih manis dan lebih baik dari perkataan Kristus di atas kayu salib yang pertama ini? Jikalau ada, tunjukkanlah kepada saya. Di dalam filsafat mana, di dalam pikiran manusia agung yang mana ada perkataan seperti ini? Inilah kalimat Tuhan Yesus yang pertama di atas kayu salib. Hal ini membuktikan bahwa Dia bukanlah manusia biasa. Ada ajaran yang menganggap bahwa yang dipaku di atas kayu salib bukanlah Yesus. Padahal jikalau bukan Yesus yang dipaku di atas kayu salib, tidak mungkin ada oknum lain yang bisa mengatakan perkataan seagung, semanis dan sebaik ini! Dari mulut-Nya mengalirkan madu dan air hidup yang berasal dari Tuhan. Dari bibir mulut Yesus Kristus mengalir karunia, kasih, pengampunan dan doa syafaat. Doa syafaat Kristus ini disertai dengan pengorbanan diri-Nya. Sambil berdoa bagi orang lain, sambil diri-Nya sendiri berkorban bagi orang yang didoakan. Tanpa pengorbanan diri, doa syafaat menjadi kosong. Yang keluar dari mulut Kristus pada waktu mengalami siksaan dan penderitaan, bukan perkataan kebencian, bukan bersungut-sungut, bukan caci maki, melainkan suatu doa yang manis: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebeb mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Di dalam terjemahan bahasa Indonesia ada satu kalimat pembukaan yang tidak diterjemahkan dalam ayat tersebut, yaitu kalimat: “Pada saat itu Yesus berkata….” Saat itu, saat yang bagaimana? Apa artinya saat itu? Apakah artinya “Yesus berkata pada saat itu?” Saat tambah saat tambah saat menjadi rentetan dari waktu. Waktu dibentuk oleh saat, tetapi betapa banyaknya waktu yang kita jalani berlalu tanpa arti-arti tertentu. Saat saat kita lewat tanpa arti. Waktu kita sadar, maka waktu kita sudah hilang. Kita sudah menghamburkan saat-saat yang penting. Hal ini belum pernah terjadi di dalam hidup Yesus Kristus. Setiap saat dalam hidup Yesus Kristus mempunyai arti tertentu. Setiap detik dalam hidup Yesus Kristus mempunyai arti tertentu. Arti yang unik, arti yang mutlak, arti yang berkualitatif dan memiliki perbedaan dengan waktu-waktu yang kita hamburkan dalam hidup kita masing-masing. Dua hal yang kita perlu gabungkan adalah: Pertama, rencana Allah yang kekal. Kedua, nilai saat saat yang sesuai dengan rencana Allah. Bila kita mempertemukan kedua hal ini, maka inilah satu nilai yang sungguh-sungguh berarti bagi hidup kita yang diciptakan oleh Allah.

Kristus tidak diciptakan oleh Allah, tetapi Kristus adalah Pencipta. Dia adalah Pencipta yang turun masuk ke dalam dunia ciptaan. Dia adalah Allah yang datang ke dalam dunia manusia dan mengunjungi manusia yang dicipta-Nya. Yang kekal menampilkan diri dalam kesementaraan dan dalam saat-saat, yang ditentukan-Nya, saat-saat yang Dia ciptakan sendiri. Dia Pencipta saat, masuk ke dalam saat. Dalam Injil Yohanes ada satu ayat yang amat jelas menyatakan satu existential moment dari Yesus Kristus yang sangat mengerikan. Dia berkata kepada Bapa: “Bapa lepaskanlah Aku dari saat ini” (Yohanes 12:27). Itulah satu doa yang berlainan dari semua doa manusia. Manusia selalu berdoa: “Lepaskanlah aku dari pencobaan, dari kepicikian, kesulitan dan segala penganiayaan.” Tetapi Yesus Kristus tidak berdoa demikian, melainkan: “Lepaskanlah Aku dari saat ini.” Di atas kayu salib, Yesus Kristus berada dalam saat yang klimaks, saat itu adalah saat di mana Dia berdoa, saat Dia berkata-kata kepada Tuhan Bapa-Nya dan juga Bapa kita masing-masing. Saat Kristus mengatakan kalimat pertama dapat kita uraikan sebagai berikut :

a. Saat Paling Lelah Secara Fisik

Sepanjang Yesus berdoa di Getsemani, maka Petrus, Yakobus dan Yohanes tertidur karena kelelahan. Siapakah Yesus Kristus? Yesus sudah menjadi manusia yang utuh seperti Anda dan saya, Dia juga perlu tidur. Jika ketiga murid-Nya sudah tertidur kelelahan pada waktu Yesus berdoa, maka sebenarnya itu adalah waktunya Yesus juga mengalami kelelahan. Tetapi kelelahan di Getsemani itu barulah permulaan dari kecapaian dan keletih-lesuan yang ditanggung-Nya sebelum Dia naik ke atas Golgota. Sepanjang malam itu Tuhan Yesus tidak memejamkan mata-Nya. Sepanjang malam itu Dia dibawa ke sana-sini. Dari Getsemani ke tempat Mahkamah agama orang Yahudi, lalu ke Pilatus, ke tempat Herodes. Sepanjang malam itu Yesus dibawa berjalan di tengah-tengah jalan Yerusalem. Hanya ada sinar bulan dan bintang yang kecil di tengah-tengah malam yang gelap. Di malam yang tidak adil, Ia mengalami enam kali pengadilan. Diadili, diadili, diadili, diadili, diadili dan diadili lagi! Hakim Alam Semesta diadili oleh hakim yang berdosa. Hakim, yang akan menyelesaikan segala sesuatu yang tidak beres di dalam alam semesta, sekarang dengan sengaja dan rela dihakimi oleh manusia yang berbuat segala kejahatan.

b. Saat Paling Sengsara

Paku sudah menembus kulit dan daging, tangan serta kaki-Nya. Kedua tangan dipaku, kedua kaki dipaku, darah menetes keluar dari tubuh-Nya. Makin berkurangnya darah berarti tekanan darah semakin rendah. Dengan berkurangnya darah, maka beredarnya oksigen dalam tubuh menjadi semakin berkurang, getaran urat nadi semakin cepat dan pernapasan terpicu menjadi lebih cepat dan dalam. Kesengsaraan yang diterima Tuhan tidak bisa kita mengerti. Di dalam kelelahan paling lelah, Ia mengingat manusia yang lelah. Di dalam keadaan paling sakit, Ia mengingat bahwa orang lain memerlukan Tuhan dan pengampunan-Nya. Di dalam keadaan paling sengsara, Ia menghentikan kemarahan Allah terhadap kita.

c. Saat Paling Tersendiri

Saat itu adalah saat yang paling tersendirti, saat yang paling kejam, saat yang paling tidak adil, saat di mana awan gelap harus menudungi matahari. Kita melihat bahwa Kristus telah mengalami ketidak-adilan yang memuncak dalam sejarah manusia. Saat itu adalah saat yang paling gelap. Moral menjadi gelap, agama menjadi gelap, politik menjadi gelap. Kalau Anda melihat orang yang moralnya gelap, agama yang menyeleweng dan politik yang gelap, janganlah heran karena sejak dahulu banyak kegelapan yang sudah terjadi.

Justru di dalam keadaan demikian Yesus Kristus berfirman. Perkataan yang keluar pada waktu orang mengalami kepicikan, kesulitan, kesengsaraan dan kesedihan, barulah menyatakan sampai di mana nilai watak orang itu. Yesus mengatakan: “Bapa…” Apakah artinya? Ketujuh kalimat di atas kayu salib, mulai dengan sebuah doa, diakhiri dengan doa, dan ditengah-tengahnya juga berisi doa. Kalimat pertama, kalimat keempat dan kalimat ke tujuh, ketiganya adalah doa. Pada kalimat pertama Ia mengucapkan “Bapa”, pada kalimat ke tujuh Ia mengucapkan “Bapa”, tetapi pada kalimat yang keempat, Ia mengucapkan “Allah-Ku, Allah-Ku…”

Jika anak Anda akhirnya dibunuh di hadapan regu tembak, bukankah Anda akan malu? Bagaimana jika di tengah tengah tembakan, ia masih bisa berteriak memanggil-manggil nama Anda: “Bapak, bapak!?” Bukankah teriakan Kristus ini merupakan suatu hal yang mempermalukan Allah bapa, bukankah ini bukti dari satu kegagalan yang besar? Bukankah semenjak manusia mengetahui istilah Allah, manusia suka menggabungkan istilah Allah dengan kuasa Allah, supaya boleh mengerjakan sesuatu bagi manusia? “Jikalau Engkau Allah, coba sembuhkan. Jikalau Engkau Allah yang berkuasa, coba kerjakan ini. Jikalau Engkau Allah, coba sekarang bukakan jalan bagiku. Oh, Allah, di manakah Engkau? Saya tidak akan percaya kepada Engkau kecuali aku melihat kuasa-Mu, ya Allah.”

Allah dikenal manusia melalui kuasa-Nya, Allah dikenal oleh manusia melalui kemuliaan-Nya. Bukankah ini juga merupakan satu konsep yang sudah disarikan di dalam konsep Mesianis Perjanjian Lama? Orang-orang Yahudi mengenal Allah dan Mesias-Nya hanya melalui kemuliaan kekuasaan militer. Bagi mereka, Mesias yang sengsara dan tersalib adalah satu hal yang tidak mungkin dan mempermalukan umat-Nya. Siapakah yang dipanggil oleh Yesus? Masakan Bapa mempunyai Anak yang begitu memalukan, gagal, remeh dan begitu susah sehingga dibunuh di atas kayu salib?

Tetapi Kristus tidak terhinakan oleh keadaan yang horisontal. Dia tidak dipengaruhi oleh relasi horisontal dari manusia terhadap diri-Nya. Dia tetap berpegang pada satu relasi vertikal. Banyak gereja yang hanya mempunyai hubungan vertikal, tidak mempunyai hubungan horisontal. Gereja yang terlalu egois. Gereja tidak seharusnya memiliki hubungan vertikal; semata-mata tanpa memiliki hubungan yang horisontal. Tetapi mau tidak mau saya harus mengatakan bahwa gereja sosial gospel yang hanya mementingkan hubungan horisontal dan mengabaikan hubungan vertikal, akan menjadi gagal, mundur, dingin, murtad dan menjual Tuhan pada waktu penganiayaan datang. Ini bukan perkataan pura-pura atau di luar fakta. Kita mau taat dan kembali kepada Kristus.

Kristus adalah seorang yang amat memperhatikan orang miskin. Ia adalah seorang yang begitu prihatin dan melayani umat manusia. Tetapi semua kekuatan pelayanan-Nya bagi orang miskin dan sesama-Nya di dunia adalah berdasarkan satu rahasia, yaitu hubungan antara Dia dengan Bapa yang begitu erat. Waktu orang mencaci maki, mengutuk, memaku dan membunuh Dia, Dia tetap memanggil Bapa. Di dalam penggilan-Nya, kita mengerti bahwa hubungan antara Yesus Kristus dengan Allah Bapa tidak mungkin digoncangkan oleh siapa pun. Di sinilah rahasia kemenangan, di sinilah contoh dan teladan yang baik bagi Anda dan saya yang menamakan diri orang Kristen.

Yesus Kristus memanggil Bapa. Ini adalah satu hubungan unik yang tidak ada bandingnya dan tidak bisa digantikan orang lain. Hanya Kristus yang boleh menyebut Bapa kepada Allah. Siapakah yang lebih dekat kepada Allah selain Yesus Kristus? Tidak ada. Siapakah yang mempunyai hubungan yang lebih baik dengan Allah selain dari Anak-Nya yang kudus dan suci yang diutus-Nya? Tidak ada. Yesus yang paling mengetahui sifat Allah yang penuh dengan kasih sayang. Allah juga adalah Allah yang adil. Kedua sifat ini harus kita mengerti secara pararel.

Jikalau Anda mengabarkan Injil bersaksi bagi Kristus, maka demi nama Yesus Kristus saya berkata: “Beritakanlah kasih Allah melalui keadilan Allah. Dan berkhotbahlah akan keadilan Allah melalui kasih-Nya.” Banyak orang yang salah mengerti akan kasih Allah, lalu mempermainkan anugerah Allah. Sebaliknya, orang yang salah mengerti akan keadilan Allah menjadi takut dan gentar, sehingga tidak ada damai sejahtera di dalam hatinya. Mari kita mengenal Allah yang kasih dan adil; Allah yang rahmani dan rahimi. Allah kita adalah Allah yang suci dan keras, Allah yang tidak berkompromi dengan dosa.

Doa Tuhan Yesus satu-satunya yang lengkap dicatat dalam Yohanes 17, mengatakan: “Bapa yang adil….” Apakah hubungan antara Bapa yang adil, dengan salib dan pengampunan dosa? Bukankah jika Bapa yang adil dan tidak berkompromi dengan dosa maka seharusnya tidak ada pengampunan atas dosa manusia? Bukankah tidak logis jika Allah yang kasih itu mengadili dan menghukum dosa? Ini tidak mungkinkah? Ini tidak adilkah? Bukankah hal ini yang menjadi batu sandungan bagi kaum liberal dan modernis? Bukankah mereka itu mengatakan: “Jikalau Allah itu kasih adanya, maka tidak ada hukuman dan neraka. Masakan Allah yang begitu kasih menyediakan neraka yang begitu kejam bagi manusia yang telah dicipta menurut peta dan teladan-Nya?” Akhirnya kaum liberal menemukan gang buntu dan harus membuat jalan yang dibuat sendiri yang disebut universalisme. Universalisme mengatakan bahwa semua orang bisa diselamatkan, tapi universalisme tidak mempunyai dasar Alkitab. Berbeda dengan rasul Yohanes yang mengerti akan Allah dengan pengertian yang pararel, yaitu Alah yang adil adalah Allah yang kasih. Maka dia menuliskan dalam surat 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalajh setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Pada awal permulaan pekerjaan Mesias, Ia dicobai oleh iblis. Yang dikatakan oleh iblis adalah, “Jikalau Engkau Anak Allah….” (Matius 4:3). Kristus adalah Anak Allah, tidak perlu ditambah-tambah dengan perkataan jikalau. Kristus adalah Anak Allah, ini satu kepastian yang tidak perlu diberikan tambahan. Allah tidak mencobai dan Allah tidak dicobai oleh siapapun (Yakobus 1:13). Iblis dapat mencobai Dia karena Yesus mempunyai natur manusia sejati.

Pada waktu Yesus berkata, “Bapa, ampunilah mereka”, maka di sini kita mengaitkan pengertian-Nya tentang sifat Ilahi yang tidak ada bandingnya. Di atas salib-Nya kedua tangan Allah terbuka. Tangan yang satu memberikan hukuman dan menyatakan keadilan-Nya. Tangan yang lain memberikan pengampunan dan anugerah-Nya bagi manusia. Maka saat itu juga Yesus Kristus berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka…..” Ia tidak mengatakan, “Bapa ampunilah Aku.” Ia tidak perlu minta maaf, tidak perlu minta ampun.

Hidup, perkataan, pikiran, tingkah laku dan segala yang dikerjakan oleh Kristus berdasarkan pada kebenaran yang berada pada diri Nya sendiri. Kristus tidak perlu minta maaf karena Dia adalah satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Betapa banyaknya orang yang pada waktu sakit keras mulai memikirkan betapa banyaknya dosa yang telah diperbuat. Betapa banyaknya orang yang pada waktu menghadapi kematian barulah meminta pengampunan dari Tuhan. Tapi hal demikian tidak ada di dalam diri Yesus Kristus, bahkan Ia berdoa: “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Inilah kalimat yang mencetuskan kasih di tengah-tengah kasih, kalimat yang mencetuskan keheranan di tengah tengah keheranan. Dalam kepicikan dan kesulitan yang begitu besar, Yesus berkata: “Ampunilah mereka.” Jikalau Stefanus bisa meneladani Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 8:59-60), juga orang-orang yang agung dalam sejarah kekristenan memakai kalimat ini, adalah karena Kristus Sumber dari Cinta kasih yang paling murni, mutlak dan tidak berubah. Kristus memohonkan ampun bagi mereka yang memaku diri-Nya, yang mengejek, mencambuk dan yang murtad. Ia memohonkan pengampunan bagi mereka yang penyakitnya pernah disembuhkan, yang pernah ditolong-Nya dari kerasukan setan, tetapi yang tidak hadir pada saat Ia disalibkan. “Ya Bapa, ampunilah mereka…” Inilah Cinta di atas segala cinta. Inilah keajaiban di atas segala keajaiban. Inilah keagungan dan kehormatan, kesucian dan kemurnian di atas segala kebajikan yang pernah dinyatakan di dalam dunia ini.

Bandingkanlah perkataan para filsuf dan para pendiri agama yang lain serta orang-orang yang paling agung di dalam dunia dengan perkataan Kristus ini, maka kita akan melihat bahwa Yesus Kristus jauh lebih tinggi dari siapapun. Jauh lebih tinggi dari segala manusia ataupun malaikat, Dia adalah Allah. Pada waktu diikat, tubuh-Nya bisa diikat. Waktu Ia dipaku, tubuh-Nya bisa dipaku; waktu Ia disalibkan, tubuh-Nya tersalib. Tetapi Cinta kasih yang begitu agung tidak bisa dibatasi oleh paku, cinta kasih Kristus terus keluar. Cinta yang keluar dari Sumber Cinta itu sendiri adalah cinta yang keluar dari motivasi yang paling murni. Cinta itu sendiri menyatakan cinta! Meskipun manusia membunuh Dia, Kristus tetap mencintai manusia. Meskipun manusia sangat membenci Kristus, Dia tetap mencintai manusia. Meskipun manusia mengutuk Dia, Kristus tetap mencintai manusia.

Pada waktu paku pertama masuk ke dalam daging Yesus Kristus, maka pada saat yang sama darah pengampunan dosa keluar. Cinta kasih yang menembus segala batasan adalah Cinta kasih dari Allah. Cinta kasih ini adalah cinta yang mempunyai kemampuan untuk membalikkan dan menghentikan kemarahan Tuhan Allah atas orang berdosa. Siapakah yang cukup berkuasa untuk berkata: “Allah ampunilah mereka”? Hanya Yesus Kristus! Sebelum naik ke atas kayu salib, Dia pernah mengatakan: “Dosamu sudah diampuni.” (Markus 5:2). Orang Yahudi mempunyai satu pra-anggapan bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa. Mereka tidak percaya Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah. Maka orang Yahudi tidak dapat menerima hal itu dan mengatakan bahwa Yesus menghujat Allah.

Maka sekarang Yesus tergantung di atas kayu salib, tergantung di antara manusia dan Allah. Perkataan-Nya: “Bapa ampunilah mereka” seolah-olah mengatakan satu kalimat yang tersembunyi: “Hukumlah Aku saja.” Kristus tahu akan sifat Allah yang pararel, yang kasih dan adil. Sekarang Allah yang suci menyatakan keadilan-Nya kepada Kristus. Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Kristus, menyatakan kemarahan-Nya atas dosa kepada Kristus, bukan kepada mereka. Manusia perlu diselamatkan.

Kasih yang bisa memulihkan keadaan manusia dan menghentikan murka Allah adalah kasih dari kayu salib. Kasih dari kayu salib adalah kasih yang bisa menggabungkan langit dan bumi. Semenjak Adam jatuh dalam dosa, maka penghulu-penghulu malaikat dengan pedang yang mewakili keadilan Allah, telah memutuskan hubungan antara Tuhan Allah dengan manusia. Dan kasih di atas kayu salib telah menggabungkan manusia kembali kepada Tuhan Allah. Dengan kasih ini juga, manusia digerakkan untuk kembali kepada Tuhan.

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Betulkah orang yang menyalibkan Dia tidak tahu apa yang mereka perbuat? Apakah orang yang membawa Dia ke Pilatus tidak mengetahui apa yang diperbuatnya? Apakah Pilatus yang menghakimi Yesus tidak mengetahui apa yang diperbuatnya? Mereka pasti mengetahui apa yang mereka perbuat! Kita tidak bisa mengatakan bahwa karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat, maka Tuhan Yesus mengampuni orang itu.

Tidak ada dosa yang sama sekali tidak disadari oleh orang yang melakukannya. Kalau tidak sadar seratus persen, maka paling tidak orang yang melakukan dosa sadar lima puluh persen, mungkin orang itu sadar tiga puluh persen. Apakah arti kesadaran manusia dengan rasionya yang sudah jatuh ke dalam dosa itu, jika dibandingkan dengan pengertian yang Allah wahyukan? Apakah perbuatan manusia menjadi tidak baik karena pengetahuan manusia kurang? Apakah jika pengetahuan bertambah, maka perbuatan manusia menjadi lebih baik? Apakah jika perbuatan manusia tidak baik, maka pasti manusia yang melakukannya kurang berpengetahuan? Apakah jika pengetahuan sudah sungguh-sungguh baik maka manusia pasti berbuat baik? Apakah pendidikan dan pengetahuan tentang moral akan meningkatkan moralitas manusia? “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Di sini ada hal yang harus kita pikirkan, yaitu antara perbuatan dan pengetahuan. Hal ini diperbincangkan oleh para filsuf Yunani lebih kurang lima ratus tahun sebelum Kristus mengatakan kalimat pertama di atas kayu salib. Orang-orang Sofis tidak mempercayai adanya sifat universal dari kebenaran, tapi Sokrates percaya. Sokrates percaya bahwa true knowledge is also equal to tyrue virtue, and true virtue is also equal to true happiness. Artinya: Pengetahuan yang sejati akan selalu seiring dengan kebajikan yang sejati, dan kebajikan yang sejati sama dengan kebahagiaan yang sejati. Orang yang sungguh mempunyai pengetahuan adalah orang yang sungguh baik, dan orang yang sungguh baik adalah orang yang sungguh bahagia. Bukan saja Sokrates, juga Plato dan sebagian ajaran Aristoteles serta orang-orang Stoa mulai memikirkan hal ini. Betulkah pengetahuan yang sejati mendatangkan perbuatan yang sejati? Betulkah pengetahuan tentang kebaikan mendatangkan perbuatan yang baik?

Perkataan Yesus Kristus ini seolah-olah memiliki persamaan dengan teori di atas karena Dia mengatakan: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tetapi kalau kita mengutip lagi Yakobus 4:17, maka kita akan mengetahui bahwa pengetahuan akan yang bajik tidak merupakan jaminan aka perbuatan yang bajik. Orang yang tahu akan perbuatan yang baik tapi tidak menjalankannya, itulah dosa. Manusia tahu, bahwa Allah itu ada, tetapi ia tidak mau menjadikan Allah sebagai Allah. Manusia memperilahkan diri dan tidak menjadikan Allah sebagai Allahnya (Roma 1:32). Alkitab mengajarkan bahwa pengetahuan akan yang baik, tidak sama dengan kebajikan. Orang yang mengetahui hal yang baik, tidak pasti berbuat baik.

Mereka tahu apa yang mereka perbuat, tetapi apa sebab perbuatan mereka, itulah yang tidak diketahuinya. Mereka tahu apa yang mereka perbuat, tetapi di dalam kesadaran rasio manusia yang sudah jatuh, tidak mungkin mempunyai satu penglihatan yang jelas untuk mengetahui seluruh konsekuensi dari perbuatan mereka. Semenjak Adam berbuat dosa, bukankah soal-soal tentang sudut pandang, pengetahuan dan epistemology menjadi kacau balau? Iblis berkata kepada Hawa: “….pada waktu memakannya, maka matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:5). Setelah matanya terbuka dan tahu, maka manusia tahu bahwa ia tidak memakai pakaian. Sejak hari itulah pengetahuan manusia mulai kabur dan rusak. Dan di dalam kerusakan rasio ini manusia tidak mengetahui dengan sesungguhnya konsekuensi dari dosa secara menyeluruh.

Yesus Kristus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini jangan disalah-tafsirkan dengan anggapan bahwa dosa yang dilakukan dengan kesadaran yang tidak penuh, akan mendapatkan pengampunan. Ayat ini juga tidak dapat diartikan bahwa pengampunan dosa dapat terlaksana tanpa adanya pengorbanan. Juga tidak berarti bahwa pengampunan dosa dapat terlaksana tanpa pertobatan. Apa yang dikatakan Kristus di atas kayu salib melawan universalisme dan semua ajaran yang menjanjikan keselamatan melalui jasa manusia.

Sokrates berkata: “Kalau seseorang tahu, dia tidak akan berbuat jahat. Kalau seseorang berbuat jahat adalah karena dia tidak memiliki pengetahuan yang sungguh-sungguh.” Kristus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Apakah perbedaan antara Kristus dengan Sokrates? Kristus mengatakan hal ini ketika Ia sedang dipaku di atas kayu salib mengalirkan darah bagi orang yang didoakan-Nya. Sedangkan Sokrates mungkin sedang duduk dengan santai di kursi kerjanya. Kematian Kristus bukanlah titik terakhir. Dia yang mati dengan begitu sulitnya, akan bangkit dan naik ke sorga dan kemudian turunlah Roh Kudus. Yesus melihat akan orang-orang yang sekarang memaku Dia adalah orang-orang yang sebagian akan disadarkan oleh Roh Kudus kembali kepada Dia. Pada hari Pentakosta, Petrus yang penuh Roh Kudus, akan berkhotbah dan berkata-kata kepada orang-orang di Yerusalem termasuk mereka yang memaku Kristus. “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kisah Para Rasul 2:36).

Yesus bukan memohonkan pengampunan yang tanpa pengorbanan, bukan pengampunan yang sifatnya otomatis, juga bukan pengampunan yang sifatnya universal. Pengampunan hanya melalui Dia, yang mengalirkan darah, berkorban mati bagi Anda dan saya. Pengampunan dosa itu akan dikerjakan Roh Kudus yang akan dikirim, sehingga melalui pemberitaan Injil menginsyafkan mata kita yang sudah buta sehingga dicelikkan kembali. Melihat akan seluruh konsekuensi akibat dosa, Kristus berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Selain konsekuensi akibat kejatuhan dosa, alasan berbuat dosa dan kerusakan total diri manusia, apakah lagi yang manusia tidak ketahui? Ada. Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Kristus yang sedang disalibkan adalah satu-satunya Oknum yang bisa membuang dosa mereka. Orang yang memaku Dia hanya tahu menjalankan tugasnya. Orang yang memaki-maki Yesus hanya tahu bagaimana cara melampiaskan kemarahan, kebencian dan iri hati. Orang yang menuding-nuding dan meludahi Dia, hanya mengetahui kegagalan Yesus Kristus dan mereka tidak mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Oknum yang bisa membereskan dosa dan memperdamaikan manusia berdosa dengan Tuhan Allah Pencipta.

Tahukah apa yang Anda sudah perbuat dalam hidup Anda? Pengampunan dosa berlaku bagi diri Anda karena Yesus Kristus sudah pernah berdoa bagi diri Anda di atas kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Maukah Anda merendahkan diri dan berkata: “Tuhan, ampuni saya yang berdosa ini”?

Amin.

SUMBER :
Nama buku : 7 Perkataan Salib
Sub Judul : Bapa, ampunilah mereka
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1992
Halaman : 1 – 16
Dicopy dari : https://www.facebook.com/notes/sola-scriptura/tujuh-perkataan-salib-bagian-1-artikel-pdt-dr-stephen-tong/1015899771791809
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube