Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Stephen TongDi Indonesia banyak gereja mulai merosot. Mengapa kita mengikuti ajaran Reformed? Ajaran Reformed merupakan ajaran yang diturunkan oleh para rasul. Kebaktian bukan pusat untuk hiburan, tapi datang bersembah sujud pada Tuhan. Bukan karena misionaris dari dunia barat, atau dana dari luar negri. Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) ini satu-satunya gereja yang tak pernah terima dana dari luar negeri. ini merupakan gereja yang bersandar pada anugrah Tuhan. Saya bukan sombong, saya percaya Allahku sejati dan hidup. Sebagaimana Allah memberkati gereja di luar, Allah juga akan memberkati gereja di Indonesia. Gereja ini bukan dihasilkan dari tradisi gereja reformed Belanda. Gereja ini berdikari berjalan di atas teologi reformed.

Di Indonesia ada beberapa kubu: Katolik, Liberal, Injili, Karismatik. Apakah mereka sungguh-sungguh merepresentasikan kekristenan? Tuntutan mereka terhadap iman kepercayaan ini tidaklah ketat. Ketika gereja mempertahankan kualitas, sulit mempertahankan kuantitas, demikian sebaliknya. Gereja yang menjalankan iman kepercayaan yang murni, sulit mempertahankan kuantitas. Apakah mungkin ada gereja yang mempertahankan iman kepercayaan yang murni? Saya berdoa jika Tuhan memakai saya, saya akan berjalan di jalan dan pintu yang sempit, mohon beri keberanian memberitakan Injil, mohon beri saya kekuatan untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas. Saya tak minta orang kaya dukung dana, nyatakanlah Engkaulah Allah yang sejati dan hidup. Saya tahu kesulitan saya besar. Saya tidak kompromi dan berlutut mohon Tuhan. Tahun 1984 saya pertama mengadakan seminar membandingkan Allah orang Kristen dan Allah lain. Tahun 1989 saya membangun GRII. Pada 3 September 1986, saya mengadakan kebaktian pertama.

Dimanakah beda GRII dan gereja reformed lain? Gereja lain menurunkan tradisi protestan dari luar, mereka dipengaruhi Tubingen School, social gospel roschenbush. Dan kita sama sekali tidak mengikuti mereka. Reformed saja tak cukup, tapi harus gigih dalam memberitakan Injil. Bolehkah kita memakai semangat injili yang diisi keketatan ajaran reformed? Demikianlah kita memberitakan Injil. Maka dalam 20 tahun kita telah membangun gereja terbesar yang mendapat tempat ijin mendirikan di Indonesia.

Dimanakah hamba Tuhan dari gereja ini? Kita membangun sekolah teologia. Membangun sekolah teologia adalah hal yg mengerikan dan penuh tanggung jawab. Ketika kita membangun gereja ini, saya ditertawakan, saya dikritik karena menghina gereja lain, dan mungkin gereja yang saya dirikan akan lebih hancur dari gereja lain. Saya hanya mohon agar nama-Mu saja yg ditinggikan.

Saat itu saya sudah 25 tahun mengajar di SAAT. Ketika saya berangkat ke Jakarta, tak ada honor, dengan satu istri, empat anak dan satu mertua. Kami berdoa pada Tuhan, memakai tabungan sendiri. Karena bersandar Tuhan, hari ini kita bisa melihat gereja ini. Kita bersyukur pada Tuhan. Meski kita tak secara aktif memohon kerjasama ini, kita menyambut mereka datang kesini. Biar segala kemuliaan kembali pada Tuhan.

***

Tema kotbah kita hari ini adalah: bersatu

Nats:Yohanes 17:11, 21-23

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

….

supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Doa Yesus pada Bapa, supaya umat Tuhan dalam dunia ini bersatu. Dalam gerakan Oikumene di dunia, persatuan yang diadakan diharapkan menyatukan semua gereja dan orang Kristen, asal memiliki nama Kristen. Tapi pada saat usia saya 25 tahun, ada pertanyaan dalam diri saya “apakah persatuan dalam gerakan oikumene sesuai dengan persatuan yang dinyatakan dalam Alkitab?” Saya terkejut dalam konferensi oikumene dunia, mereka memutuskan menghindari pembahasan tentang salib. Saya tahu ini merupakan pembohongan. Persatuan manusia dan Allah hanya dimungkinkan karena salib. Salib merupakan syarat mutlak yang mendamaikan manusia dan Tuhan, sehingga memunculkan persatuan yang sejati.

Tahun ini saya mengelilingi 12 kota untuk mengadakan KKR Natal. Saya menyampaikan berita yang belum pernah saya sampaikan sebelumnya. Saya memakai nats dari Yesaya 9:5 :

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. “.

Melalui nats ini, saya khusus menyampaikan satu bagian: Yesus dilahirkan sebagai raja damai, tapi Alkitab juga berkata “jangan mengira Yesus datang membawa damai tapi pedang”. Siapakah yang mengkotbahkan berita natal tetapi membawa pesan peperangan? Saya tahu pesan ini sulit diterima. Namun perdamaian sejati bukan diperoleh melalui kompromi. Kebenaran sejati adalah menghapuskan dosa, melawan iblis.

Ketika Yesus berkata “jadikanlah mereka satu”,  dasar sejati kesatuan adalah Allah Tritunggal. Allah yang esa bukan berarti Allah yang sendirian. Allah yang ada dan satu-satunya adalah Allah Tritunggal.

Seorang teolog gereja baptis berkata dari atas mimbarnya: “kita tak perlu menjelaskan Allah Tritunggal” . Ketika saya mendengar perkataan ini, saya berdiri dan menanyakan “mengapa?” Dia terkejut karena usia dia lebih tua dari saya dan ada seorang anak muda dengan berani mempertanyakan dia. Dengan sopan ia menjawab : “karena pembahasan tentang  Allah Tritunggal akan menimbulkan kebingungan dan kekacauan, dan tak ada nilai praktis membicarakan Allah Tritunggal pada jemaat”. Mendengar itu, di hadapan orang banyak saya berdoa: “Bapa ampuni dia karena ia tak tahu apa yang ia katakan”. Selesai hari itu, saya kembali ke Indonesia dan mengadakan seminar Allah Tritunggal.

Pada jaman Yunus orang-orang Niniwe kembali pada Tuhan setelah Yunus menyerukan pertobatan pada mereka. Namun penginjilan satu kali itu tidak cukup. Injil juga harus diberitakan untuk generasi berikutnya. 150 tahun setelah jaman Yunus ada satu kitab lagi yang berbicara tentang Niniwe yakni kitab Nahum. Nahum berkata Niniwe akan ditutup dibawah pasir. Pada abad ke-20, sungguh-sungguh terjadi dimana dua arkeolog Inggris, menemukan kota Niniwe terkubur di bawah pasir. Hal ini membuktikan Firman Tuhan benar dan sepenuhnya dapat diandalkan. Firman Tuhan harus diberitakan kepada setiap generasi. Saya telah menginjili sebuah generasi, dan saya berkata kepada rekan saya bahwa generasi seterusnya pun harus menerima penginjilan.

Allah Tritunggal adalah hal yang terpenting, karena Tritunggal adalah basis dan fondasi dari persatuan. Allah yang Tritunggal baru merupakan Allah yang sejati. Allah Tritunggal merupakan fondasi saling mengasihi. Yesus berkata kepada para murid “Engkau hendaknya saling mengasihi, agar dunia tahu engkau adalah murid-Ku.”

Ketika Clinton memperdamaikan Palestina dan Israel, ini adalah perdamaian yang naif. Saya bukan tidak menyetujui perdamaian. Orang Yahudi dan Islam yang tidak mempercayai Allah Tritunggal, tidak mungkin memiliki konsep kasih yg sejati yang mempersatukan.

Orang Kristen harus bersekutu dan bersatu. Fondasi dari kesatuan orang Kristen adalah Allah Tritunggal. Kasih di antara Tritunggal itu menjadi fondasi persatuan. Tanda orang Kristen bukan lambang salib yang tergantung di rumah, bukan pula ditandai oleh adanya bishop/pastur apalagi pohon natal. Pohon natal boleh ada atau tidak ada. Pohon natal dan sinterklas adalah simbol yang tidak berguna. Kekristenan yang sejati adalah Allah Bapa, Anak, dan Allah Roh Kudus. Allah Tritunggal adalah Allah yang saling bekerja sama.

Kristus datang ke dalam dunia berkorban bagi pendamaian yang mengakibatkan persatuan kita. Yesus berdoa agar kita bersatu. Orang Belanda dulu adalah musuh dan penjajah, mereka kini berada bersatu. Kalian anak Allah, kita juga anak Allah. Karena cinta kasih Kristus kita bersatu.

Bagaimana kita bersatu? Inilah yang tidak dimengerti secara benar oleh gerakan oikumene.

  1. Dalam Yohanes 17, kita dipersatukan karena nama Allah. In the name of holy one.  Agama lain hanya berkata “God is merciful God” , tapi tak ada agama mana pun mengatakan “Allah ADALAH kasih” . Allah adalah kudus. Hallowed be thy name. Kita menghabiskan 6 bulan membahas kekudusan Allah. Gereja Tuhan hanya mungkin bersatu di dalam NAMA Allah. Di dalam cinta kasih, di dalam kebenaran dan di dalam kekudusan, baru kita dapat bersatu.
  2. Persatuan hanya mungkin terjadi dalam iman dan pengertian yang sama di dalam firman Tuhan. Persatuan bisa terjadi ketika kita sama-sama percaya pada kebenaran Firman Tuhan. Gerakan Oikumene menyatukan yang percaya dan tidak percaya kebenaran. Kita harus memproklamasikan peperangan antara yang percaya dan tak percaya! Apakah kekristenan dan komunisme bisa bersama? Kita semua ditebus, percaya pada kebenaran yang Allah wahyukan. Allah adalah kebenaran, Dia tidak mungkin mewahyukan yang tak benar pada manusia, Dialah sang pewahyu itu. Ketika engkau mengetahui Allah melalui apa yang diwahyukan, engkau mengenal dia menurut motivasi yang murni. Inilah satu-satunya kemungkinan mengenal Allah. Allah yang benar, yang jujur melalui kebenaran-Nya yang sungguh-sungguh diwahyukan pada kita, maka baru kita benar-benar dapat bersatu.

Mengapa kita bersatu? Bersatu karena apa? Bukan persatuan dengan pelacur. Ketika saudara menikah, bersandar pada fondasi kebenaran Allah. Seperti Kristus dan gereja. Persatuan datang dari Tuhan, dari Kristus. Tak ada kemungkinan untuk bersatu jika bukan dari kasih & kebenaran Tuhan.

Dalam MOU dengan University of Kampen pagi ini, kita bersatu karena kita percaya pada nama yang benar dan pada kebenaran. Bersatu dengan orang-orang Belanda yang memiliki iman yang sejati & murni.

Share Catatan Kotbah Pdt Dr Stephen Tong – MOU STTRII dengan University of Kampen – Minggu, 21 Desember 2014, sumber : https://www.facebook.com/notes/10153484449388677/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube