Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Pdt. Stephen Tong

Pdt. Dr. Stephen Tong

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu (Kejadian 12:1-6).

Abraham sampai Yesus Kristus ada jarak kira-kira 2000 tahun. Abraham sampai dengan hari ini ada jarak kira-kira 4000 tahun. Panggilan Abraham merubah sejarah hidup manusia. Intervensi Tuhan, sering kali sulit kita terima, tetapi inilah cara Tuhan bekerja. Kadang Tuhan mengintervensi kita lewat serangan-serangan orang yang membuat kita terganggu, lewat perintah mendadak yang harus kita taati, tapi cara Tuhan hanya diketahui Dia sendiri yg melampaui marifat manusia.

Kapankah Tuhan akan mengintervensi? Kita tidak tahu. Di saat kekakuan, kenikmatan memuncak, Tuhan mengguncangkan kita. Tuhan tak berubah, dia yang mau merubah kita. Tuhan yang tidak berubah melihat kita yang selalu rusak dan mundur. Bagi kita ini sulit diterima karena sudah terbiasa hidup dalam kemalasan kita yang nyaman.

Orang yang tidur enak nikmat, mati secara tidak sadar. Cara Tuhan bekerja beda. Menjadi orang Kristen tidak gampang. Sering dikacaukan agar kita tidak tidur.

Pada jaman Nuh, Tuhan mengguncangkan seluruh dunia, new page of history. Tapi waktu Tuhan panggil Abraham, Abraham diberinya cinta kasih dan janji. Saya khusus memilih kotbah ini untuk kotbah minggu pertama dalam tahun baru.

Allah memanggil Abraham, pada umur 75, seperti umur saya saat ini . Hidupnya sudah rutin dan nyaman, di Mesopotamia tempat terkaya di dunia. Meso berarti di tengah. Mesopotamia artinya orang-orang di tengah sungai yang besar, yang dicatat dalam Kejadian pasal 2. Di dalam kitab Kejadian, tercatat ada dua sungai yakni Eufrat dan Tigris. Kedua sungai ini berasal dari Turki Utara. Dua sungai ini menjadi penting. Kebudayaan manusia yang paling penting muncul di situ. Meski ada teori lain yaitu manusia mulai dari afrika, tapi saya tetap menganggap mereka yang mempercayai evolusi, mahluk-mahluk yang ditemukan ahli-ahli mereka bukanlah nenek moyang manusia.

Di antara dua sungai ini, itulah tanah Babilonia, Irak. Tanah ini subur sekali dan ada kota terbesar purbakala yakni kota Ur. Di abad ke-20, kota Ur digali dan ditemukan rumah dengan 165 kamar. Kebudayaan disana berkembang, siapakah orang yang tinggal disana?

Mereka punya tentara sendiri. Abraham termasuk salah satu orang yang kaya di Ur. Abraham dipanggil Tuhan jalan ke Haran. Lalu dipanggil Tuhan tinggalkan. Adakah tempat yang lebih dr Mesopotamia? Tambang emas yang bisa mengolah emas hingga kadar 99.99% sudah ada. Ada semacam batu yang dihias menjadi tempat hias orang-orang kaya. Salah satu kecapi dibuat oleh orang Mesopotamia dan ditaruh di museum di Bagdad, tapi sudah dicuri. Barang tersebut membuktikan kebudayaan manusia sudah mencapai puncaknya.

Dalam peperangan orang yang punya keserakahan langsung ke museum. Tahun 1991, Bagdad waktu diserang, 20 ribu barang dicuri. Dunia sudah mengalami penjarahan yang tidak akan kembali lagi. Banyak orang kaya menyimpan antik untuk diri sendiri dan dijual anak-anaknya. Sejarah terus berputar seperti ini.

Di kota seperti inilah Abraham dipanggil. Ayah Abraham masih hidup ketika Abraham dipanggil. Tinggalkan ayahmu, bangsamu, kata Tuhan. Kalau kita dipanggil Tuhan dari desa ke kota, tentu rasa senang. Banyak orang Kristen yang diracun oleh ajaran karismatik, bahwa sesuatu yang disebut panggilan Tuhan berarti makin mewah. Mereka percaya berkat Tuhan berarti kaya, sukses, lancar dan mewah. Banyak pendeta Karismatik hina pendeta reformed injili yang miskin. Dari pada kaya dunia, miliki tanah gedung yang banyak , tetapi miskin dalam rohani. Jangan iri pda mereka yg kaya , sandar Tuhan cukupkan dengan apa yang dimiliki. Banyak kekayaan dimiliki dibelakangnya ada jerat.

Suatu hari saya di sebuah kota, ada persekutuan Kristen elite, beranggotakan 40 lebih orang, waktu itu saya baru berusia 33 tahun. Saat mereka minta saya berkotbah, saya menolak tetapi saya ingin memberikan pertanyaan. Lalu saya tanya: “apakah pimpinan Tuhan dalam hidupmu?” Lalu masing-masing cerita hanya menerima pimpinan Tuhan dalam kekayaan.

Saya tanya: “Apakah mungkin Tuhan memimpin engkau dari kaya menjadi miskin? Kau orang Kristen tapi mentalmu seperti orang kafir!” Mereka mulai berpikir dan diam.

Hari ini kita melihat satu kebenaran, justru panggilan Tuhan dari yang kaya menjadi miskin, dari yang subur menjadi gersang. Abraham tanya kemana? Tuhan jawab you tidak perlu tanya. Kita melihat prinsip Intervensi Tuhan.  Tuhan mengatakan lima hal pada Abraham :

  1.  saya pasti berkati kamu.
  2. namamu akan menjadi besar.
  3. banyak akan orang dapat berkat dari keturunanmu yang besar.
  4. yang memberkati kamu akan diberkati, yang mengutuk kamu akan dikutuk
  5. bangsa-bangsa akan mendapat berkat dari kamu.

Abraham taat langsung, tidak diskusi dengan istri. Yang jadi istri taati laki-laki, karena laki-laki adalah kepala perempuan. Beberapa hal waktu Abraham dipanggil ia tidak runding istri. Perjanjian Baru mencatat, Sara memanggil Abraham “tuan”. Pimpinan Tuhan memang sulit dimengerti. Satu-satunya salah Sara adalah meminjamkan hambanya untuk menjadi gundik.

Mengapa pada waktu Abraham dipanggil, langsung taat pada Tuhan serta tidak meminta dan tanya dia mau dipimpin kemana? Bukankah ini bodoh? Melawan logika? Membabi buta? Tuhan katakan tinggalkan rumah, bangsamu? Mesopotamia tempat paling nyaman, sejahtera. Banyak orang pindah rumah karena kacau, miskin. Jakarta banyak urbanisasi karena di kampung kurang nyaman. Abraham justru di Mesopotamia sudah sukses dan nyaman. Waktu sudah sukses dan makmur, panggilan Tuhan datang, itu hal yang susah dimengerti. Lalu tinggal melihat reaksi manusia. Nilai manusia tergantung dari bagaimana berespons pada Tuhan. Engkau pasif, Tuhan yang aktif.

Tuhan tidak katakan agar Abraham meninggalkan kekayaan, melainkan agar Abraham membawa semuanya. Bawa semua harta, orang dan hamba. Mereka semua ikut pemimpin yang tidak tahu mau kemana, bukankah itu gila? Bayangkan ribuan unta, orang-orang sejumlah besar pergi kemana? Bagaimana menjawab pertanyaan kemana mau pergi? Teori Martin Luther: orang yang sungguh-sungguh beriman tidak perlu tanya kenapa. Tapi pengertian ini jangan dipusatkan pada jasa orang yang beriman.

Abraham harus taat karena Allah adalah Allah. Semua orang gagal karena doktrin Allahnya tidak beres, semua menyeleweng. Semua kegagalan manusia adalah karena kegagalan teologis. Abraham bukan sumber iman orang Kristen. Ia contoh iman. Dia bapak orang yang beriman, bukan bapak iman. Abraham percaya pada Allah maka dibenarkan. Dibenarkan karena percaya pada Tuhan.

Lima kalimat Allah tidak memberi petunjuk, Abraham akan dipimpin kemana. No revelation, do not ask. Itulah pimpinan Tuhan.  Allah memanggil Abraham, waktu Abraham seorang diri. Apa artinya? Diantara berjuta manusia, hanya Abraham seorang diri dipanggil, bukan karena jasanya.

Dari lima kalimat itu, yang terpenting adalah menjadi berkat bagi orang lain. Kalimat “Lebih baik tidak dilahirkan di dunia” diucapkan Tuhan Yesus untuk Yudas, yang artinya hidupnya sia-sia.

Dua kalimat pertama Tuhan pada Abraham, paling enak didengar. Tapi kalimat ke-3,menjadi berkat bagi orang lain. Wah ini yang ke-3, belum tentu enak. Jangan hanya “in all things give thanks” tapi “in all thanks give things” kata keponakan saya, Johannes Tong. Kalau sudah bersyukur, persembahkan berkat kepada Tuhan.

Tuhan berkata hal ketiga, yaitu “engkau akan menjadi berkat bagi orang lain.” Banyak uang saya terima dari berkotbah di kota-kota saya kembalikan. Alkitab berkata berbahagia orang yang memberi daripada menerima. Waktu memberi jangan diracuni seperti orang karismatik yang liar. “Give willingly, give with thanks.”

Satu hari orang tanya saya: “lebih bahagia mana orang yang mendorong atau yg duduk di kursi roda?”. Jawabnya yang mendorong tentunya, karena bebas, masih bisa melayani. Persis, Yesus Kristus berkata lebih baik memberi. Mari kita belajar menjadi berkat bagi orang lain.

Jika mau menjadi berkat bagi orang lain, harus memberitakan injil, berbagi dengan orang lain. Jika Tuhan memperbolehkan kamu diserang, tak usah bela diri. Lalu jika orang fitnah biarin aja, kata orang Korea, sebelum seorang memfitnah, kalimat itu lengket di mulutnya dulu. Kedua, kalau kutukan itu salah, akan berbalik lagi. Jika memang engkau terkutuk, tak usah dikutuk pun engkau sudah terkutuk.

Di Perancis lebih dari 101 juta kalimat caci maki dituliskan seorang jemaat saya, karena seorang ini saya tolak ketika minta ditahbiskan menjadi pendeta. Sekarang orang ini masih terus menulis, tapi tidak ada yang dengarkan.

Kalimat ke-4, mengatakan yang kutuk engkau terkutuklah.

Kalimat ke-5: “bangsa-bangsa mendapatkan berkat karena engkau.” Dalam Surat Galatia, Paulus berkata : keturunanmu (singular) akan banyak seperti bintang di langit. Jika banyak bagaimana bisa jadi berkat seluruh dunia.? Siapakah satu-satunya keturunan yang menjadi berkat seluruh dunia? Yesus Kristus.

Abraham melihat bahwa kalau dia taat, keturunannya akan menjadi berkat bagi segala bangsa. Dalam lima kalimat Allah pada Abraham, kalimat terakhir menyimpan satu rahasia, puji Tuhan! Semua yang dikatakan Tuhan pasti jadi! pasti dipenuhi, pasti tepat.

Jika orang yang berkata dan tidak bisa dipercaya, apakah kita masih mau mempercayai? Seorang majelis kita tidak punya rumah, karena ditipu oleh pendeta sehingga rugi ratusan juta.  Di dalam janji ada tiga hal: 1.jujur, 2.setia, dan  3.tidak berubah. Inilah Allah, yang dimengerti oleh Abraham. Abraham mengerti doktrin ilahi seperti ini.

Dunia menjadi sekarang ini, berdasarkan janji Allah pada Abraham. The god of abraham, isaac, jacob. Orang yang percaya pada Allah, mengikuti iman Abraham. Tidak gampang meninggalkan hidup lama yang sudah nyaman dan biasa. Mesopotamia berbeda dengan daerah Arab lainnya, ia berada di tengah-tengah dua sungai besar.

Dalam kisah Elisa, Naaman disuruh mandi 7 kali di sungai Yordan oleh Elisa. Naaman merasa ia jenderal yang besar harus mandi di sungai, betapa rendahnya. Kata Naaman “Apakah di negeriku tak ada sungai?” Kalau orang berkata : Stephen Tong sombong, lalu engkau iyakan, orang tersebut hancur. Pendeta di gereja ini punya kekhasan, tidak terlalu pentingkan pujian. Jenderal besar Naaman, tapi diberitahu oleh pembantu dari nabi bahwa, engkau harus taat karena ia nabi.

Ketika Naaman mandi ke 7 kali baru kustanya bersih. Setelah dapat dapat berkat, ia bersyukur. Ada orang yang dibaikin lupa dapat berkat. Ada seorang mantan pendeta disini berkata ada 3 Tiga) gereja yang paling tidak beres, pertama GKI, kedua GKI, ketiga GRII. Katanya karena di GRII ada museum dan di dalamnya ada gambar telanjang. Saya taruh patung lukisan agar orang melihat tahu bahwa dulu manusia berdosa bisa begini.

Waktu Naaman 7 kali mandi, lalu bersyukur pada Tuhan, Naaman mengakui Tuhan Elisa adalah Tuhan yang sejati. Waktu Elisa ditanya oleh Naaman tentang kesulitan Naaman sebagai seorang bawahan dari kerajaan yang tidak mengenal Allah, Elisa mengerti kesulitan agama dan kebudayaan orang lain. Ini bukan kompromi. Kalau berani keluar dari agama dan kebudayaan, itu taat dan berani karena iman.

Abraham diminta keluar. Gampang tidak? Tinggalkan bangsa lalu pergi ke bangsa yang sama sekali kafir? Bagi Abram ini panggilan yang kejam, sulit, dan susah, karena ia sudah 75 tahun tinggal disana. Abraham satu kali pun tidak pernah pulang kembali ke Mesopotamia.

Waktu saya tinggalkan Xiamen 50 tahun yang lalu, saya tidak tahan kembali kesana. Kembali ke kampung halaman sendiri itu lumrah, karena tempat itu memberi angan-angan yang indah. Tapi ketika Tuhan memanggil Abraham, Abraham 100 tahun tak pernah kembali lagi.

Lalu Abraham merantau 100 tahun, di tanah yang dijanjikan pada dia tapi tanah yang masih menjadi milik orang lain. Ketika Sara mati, Abraham tidak punya tanah untuk menguburkan istrinya, sedangkan Tuhan tidak memimpin dia untuk kembali. Lalu Abraham temukan gua milik orang Het, tapi Abraham tak mau mengambil tanah itu cuma-cuma meski orang Het mau memberinya cuma-cuma.

Yang tidak boleh ambil, jangan ambil free. Saya ajarkan prinsip pada Pendeta Nico di Taiwan untuk bayar tempat, tidak boleh free. Bagaimana menjadi orang yang hormat, kita tidak mau menerima hal yang free saja. Semua ini saya belajar dari Alkitab. Alkitab mengatakan, Abraham bilang pada kepala suku Het, tanah ini saya mau bayar. Hari itu, 400 syikal perak, berkilo-kilo perak. Karena Abraham tahu itu tanah perjanjian yang belum direalisasikan Tuhan. Abraham seumur hidup tahu ia tamu. Sampai mati tinggal di daerah bangsa orang lain.  Orang seperti ini sudah jarang. Mari kita belajar yang harus, kita bayar, yang harus kita tanggung, mari menanggung, yang harus kita lunaskan, mari kita lunaskan. Mari kita bertanggung jawab.

Mari kita punya satu pembaruan, jika ada intervensi dan gangguan, mari kita pikirkan untuk taat pada Dia. Karena rencana Tuhan tak mungkin salah. Kalau Abraham tidak taat, tidak mungkin Abraham melahirkan Ishak. Dunia ini akan berubah total dari satu orang yg taat. Segala sesuatu berubah karena panggilan Tuhan ditaati oleh satu orang. Jika puluhan tahun lalu saya tidak taat pada Tuhan, maka tidak ada GRII.

Oleh satu orang yang diberi taat oleh Tuhan, meski begitu susah melakukan kehendak Tuhan, begitu kejam panggilan tersebut, dan melibatkan ratusan orang dibawahnya. Mereka yang mengikuti Abraham tahu Abraham jujur, Abraham tahu Allah jujur, setia dan tidak pernah berubah.

Saya mengajak saudara patuh, taat pada Tuhan. Just follow, just obey. Kalau kita sungguh-sungguh taat, langkah selanjutnya akan dilakukan oleh Tuhan.

Maukah kita taat pada Tuhan? Pemuda pemudi kalau ada panggilan, taat, jangan ragu-ragu.

Catatan Kotbah Pdt Dr Stephen Tong 4 Januari 2015, https://www.facebook.com/notes/10153546431443677/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube