Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Stephen-TongPengkhotbah: Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanggal: Minggu, 15 Februari 2015

Bacaan Alkitab: 1 Yoh 2:23-27

Iman Kristen tidak mengatakan kita bisa langsung datang kepada Tuhan Allah tanpa Pengantara. Itu bukan iman orang Kristen. Di dalam hal tentang Pengantara, hanya ada 2 macam agama: yang pertama, tidak perlu Pengantara, yang kedua perlu banyak pengantara. Yang menganggap tidak perlu Pengantara, mau langsung datang kepada Allah itu adalah Islam dan agama-agama yang tidak mengenal Kristus tetapi mengaku adanya Allah sebagai Pribadi di sorga. Yang menganggap perlu banyak Pengantara itu adalah Katolik. Karena Katolik selain datang melalui Kristus, mereka datang melalui Sanctus-Sanctus atau orang-orang suci yang sudah dikanonisasikan oleh Vatikan dan yang di dalam sejarah mereka ikut berandil karena jasa mereka kelebihan. Karena jasa mereka selain menyukupi kebutuhan rohani mereka sendiri, masih ada kelebihan yang disimpan, bergabung bersama di dalam satu tempat yang namanya: The Treasury of Saints. Itulah sebabnya kalau engkau datang kepada Tuhan Allah melalui Kristus masih kurang, melalui Maria masih kurang, melalui Petrus masih kurang, melalui Saint Teresa masih kurang, melalui Saint Sebastian dan banyak Sanctus-Sanctus yang menjembatani kita dengan Tuhan.

Dua macam ajaran ini bukan ajaran orang Kristen, bukan ajaran dari Alkitab, karena Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia bisa langsung datang kepada Tuhan dengan keadaan diri yang berdosa. Kita yang najis, Allah yang suci. Kita yang terbatas, Allah yang tidak terbatas. Kita yang bertubuh materi, Allah yang adalah Roh. Kita yang dicipta, Allah Sang Pencipta. Kita yang adalah relatif, Allah yang mutlak. Kita di bumi, Allah di sorga. Di tengah-tengah antara manusia yang dicipta dan Allah yang mencipta harus ada Pengantara. Nah, Pengantara itu tidak mungkin berasal dari manusia. Pengantara itu tidak mungkin dari pihak dunia ini untuk menuju ke sorga. Itulah sebabnya tidak ada pendiri agama yang bisa membawa manusia ke hadapan Tuhan Allah.

Lalu Pengantara itu dari mana? Pengantara itu dari Tuhan Allah sendiri. Dari pihak Allah, bukan dari pihak manusia. Sama seperti engkau tercemplung ke dalam sumur, lalu engkau mempunyai tali, engkau mau mengangkat diri melalui tali yang kuat keluar dari sumur? Tidak mungkin. Karena tali itu harus dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Saudara-saudara, bagaimanakah engkau yang berada di bawah jurang dengan tali bisa naik ke atas? Saudara-saudara sekalian, kecuali yang dari atas menurunkan tali itu lalu engkau pegang talinya baru bisa diangkat ke atas. Seperti Bahasa Tionghua mengatakan seorang raksasa tak mungkin mengangkat diri dengan kekuatan yang luar biasa. Dia boleh dengan kekuatan mengangkat barang-barang yang lain, tetapi tak mungkin dia mengangkat diri sendiri. Maka dari Antroposentris tidak ada jalan. Dari manusia tidak ada jalan. Dari agama tidak ada jalan. Tidak ada seorang dari dirinya sendiri yang berdosa bisa melepaskan diri dari ikatan dosa.

Tidak ada seorang yang dicipta, dengan kekuatan yang dicipta, boleh datang menuju kepada Sang Pencipta. Itu adalah khayalan. Itu adalah semacam ide dari agama yang berdasarkan pada diri manusia. Kalau saya berbuat baik, saya boleh datang kepada Tuhan. Kalau saya berbuat baik, saya akan diterima. Maka agama-agama paling banyak kembali kepada satu istilah yang disebut: “mudah-mudahan boleh diterima”. Mudah-mudahan itu tidak mudah, saudara-saudaraku! Karena Allah mengatakan Dia adalah Allah yang suci dan Dia tidak akan melihat dosa. Itu sebabnya kecuali Allah menaruh kasihan, Allah membuka pintu, Allah menurunkan anugerah, Allah mengirim Pengantara, tidak ada jalan membawa kita kepada Allah.

Di situlah pengharapan kita ada pada seseorang yang disebut Anak. Sang Bapa mengirim Sang Anak dan inilah menjadi kunci pengharapan seluruh umat manusia. Saudara-saudara sekalian, itulah sebabnya Yohanes dengan tegas mengatakan: Barangsiapa yang menolak Anak, dia itu anti Kristus. Karena Anak itu adalah Kristus. Kenapa manusia menolak? Karena tidak ada Kristus. Maka tidak mungkin kita diselamatkan. Jikalau setan menipu manusia, dia akan berkata: jangan percaya kepada Kristus.

Saya sampai sekarang tidak mengerti satu hal. Mengapa ada orang di dunia ini yang benci kepada Yesus? Kenapa Yesus dibenci? Saya pernah menantang ini kepada pemimpin-pemimpin komunis: “Apa sebabnya? Apa alasannya?” Saudara tidak akan menemukan alasan 1% pun mengapa engkau melawan Kristus. Saudara-saudaraku ini seperti sudah biasa: bila satu orang melawan, saya juga melawan; orang tidak percaya, saya juga tidak percaya. Banyak orang dilahirkan di agama Islam, dari kecil diajarkan untuk melawan Nasrani, melawan Kristus. Dari kecil melihat salib mereka benci. Padahal mereka tidak pernah pikir tidak ada alasan 1% pun manusia membenci Yesus.

Adakah orang lebih suci dari Yesus dalam sejarah? Tidak ada. Adakah orang mencapai hidup rohani setinggi Yesus? Tidak ada. Bandingkan semua pendiri agama, bandingkan dengan semua penghulu agama, bandingkan dengan semua yang disebut nabi oleh manusia, bandingkan semua orang yang disebut ahli ulama, bandingkan hidup mereka dengan hidup Yesus Kristus. Why people reject Jesus? Why people oppose Jesus? Why people hate Jesus? Tidak ada alasan bagi siapa pun mengatakan: saya ada cukup alasan untuk membenci Kristus. Tidak ada sesuatu yang bisa dibenci. Tidak ada sesuatu kelemahan-Nya yang bisa dicari. Di dalam Kristus ada kesempurnaan yang mutlak, kesucian yang tertinggi, ada keanggunan sepanjang sejarah semenjak Adam diciptakan. There is no reason to oppose Christ.

Saya tidak mau engkau menjadi orang Kristen karena ikut-ikut. Tak ada gunanya. Papa Kristen, saya Kristen. Karena keluarga Kristen, saya Kristen. Karena marga Kristen, saya Kristen. Karena suku Kristen, saya Kristen. Saya dilahirkan di Minahasa, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Tapanuli, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Mojoagung, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Menado, pasti Kristen. Tak ada gunanya. Saudara, engkau dilahirkan di garasi, tidak jadi mobil kok! Engkau dilahirkan di keluarga Kristen, tidak jadi orang orang Kristen. Engkau harus dilahirkan ulang oleh Roh Kudus. Engkau harus dilahirkan dari atas baru engkau menjadi orang Kristen.

Saudara sekalian, jangan ikut-ikut menjadi orang Kristen! Tapi saya membalikkan kalimat ini: Jangan ikut-ikut melawan Kristus! Barangsiapa ikut-ikut orang menjadi Kristen, tak ada nilainya. Barangsiapa juga ikut-ikut orang lain melawan Kristus, juga tidak ada alasannya. Saudara-saudara, jangan ikut arus. Terlalu banyak orang tidak ada pendirian. Terlalu banyak orang ikut-ikut orang lain membabi buta.

Saudara-saudara, itulah sebabnya pada abad 19, Søren Aabye Kierkegaard mengatakan: Orang yang eksistansi serta bertanggung jawab pribadi di hadapan Allah adalah orang yang tidak mengikut otoritas yang telah mempengaruhi kita. Kalimat ini bisa mengajak pemberontakan yang besar. Kalimat ini bisa menjadi hasutan supaya orang tidak taat kepada sesuatu yang harus ditaati. Tetapi kalimat ini dari motivasi Kierkegaard adalah bertanggung jawab di hadapan Tuhan Allah. Kalau saya tahu saya diperhadapkan dengan Tuhan Allah, saya tidak ikut tradisi-tradisi yang salah. Karena saya tahu dari Firman boleh mengkritik, dari Firman boleh memberikan pencerahan, dari Firman boleh menilai kembali.

Tradisi tidaklah terlalu penting. Tradisi-tradisi yang tidak benar jangan diikuti. Otoritas-otoritas yang tidak masuk kebenaran tidak diikuti. Sehingga kita akhirnya bertanggung jawab di hadapan Tuhan sebagai eksistansi individu yang dicipta langsung daripada kehendak Tuhan. God created me with the responsibility to exist before Him alone. Allah menciptakan saya supaya saya harus bertanggung jawab sebagai seorang pribadi karena saya dicipta langsung oleh Dia, harus menghadap kepada Dia. Ini menjadi semangat Kekristenan. Ini menjadi semangat etos kerja yang sungguh-sungguh. [Karena ada bos, maka saya kerja baik; kalau gak ada bos, saya gembos. Kalau ada rektor, saya baik-baik; kalau tidak ada rektor, saya sembarangan. Kalau papa mama melihat saya, saya kelihatan alim sekali; kalau mereka tidak ada, saya liar.] – Itu bukan manusia. Itu binatang. Itu binatang sirkus. Itu binatang yang diawasi oleh seseorang yang mempunyai kekuatan untuk membikin mati hidup dia, sehingga dia menjadi budak, diperbudak oleh otoritas sehingga dia tidak bisa mempertanyakan otoritas itu betul tidak, pokoknya saya takut. Seseorang yang betul-betul bertanggung jawab bukanlah demikian. Seorang yang bertanggung jawab mengerti eksistansi itu berada di hadapan Allah, satu menghadap satu. To be exist is to be oneself alone before God.

Jadi saya takut kepada Tuhan bukan karena diperintah oleh siapapun. Saya mencintai Tuhan bukan karena ada sesuatu yang merayu saya. Saya menaati pemerintah dari Tuhan bukan karena saya ingin memperoleh hak. Saya harus menjalankan kebenaran bukan karena saya didesak/ dipaksa oleh siapapun, karena saya bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Saudara-saudara, menjadi orang yang bertanggung jawab secara demikian, itulah semangat Kekristenan. Mengapakah barang-barang yang dibuat di Jerman lebih baik daripada yang dibuat di Perancis? Mengapakah mesin-mesin yang dibikin di Swiss telah jadi lebih baik dari Itali? Sama-sama Eropa, sama-sama negara Kristen? Karena mengerti etos kerja sebagai eksistansi bertanggung jawab di dalam theologi reformed. Saudara mungkin sudah ikut kebaktian di sini 10 tahun baru tahu kenapa reformed, dulu ikut-ikut reformed.

Pada hari Saint Bartholomew’s Day, Raja Perancis menipu orang Protestan, “Saya akan menerima engkau secara resmi, tidak ada lagi diskriminasi, tidak ada satu penganiayaan, sehingga orang Protestan boleh mendapatkan kenikmatan bersama dengan orang Katolik sama seperti warga negara Perancis yang sah. Penganiayaan akan berhenti, hak asasi akan disamaratakan.” Maka untuk merayakan peresmian satu hukum yang baru ini, Raja Perancis memberikan undangan kepada orang-orang Protestan, orang reformed sebanyak 100 ribu untuk kumpul bersama makan pesta pora. Raja memberikan undangan makan besar-besaran kepada Protestan untuk diterima kembali di dalam pangkuan negara. 100 ribu orang kira-kira ikut di dalam perjamuan Raja itu. Di tengah-tengah mereka sukacita kepada Tuhan seolah-olah Tuhan sudah dengar doa mereka. Namun kemudian di tengah-tengah acara makan, terdengar suara kuda dan suara tentara Perancis dari istana, mereka lalu dibakar hidup sampai mati, dibakar mati hidup-hidup 100 ribu orang. Itu penipuan, bukan sungguh-sungguh mau membikin mereka bebas, bukan sungguh-sungguh mau menghapus diskriminasi. Mereka membersihkan Protestan dari daerah Katolik, maka dibunuh, dibakar hidup-hidup sampai mati. Ada yang teriak dengan suara keras, ada yang sadar mereka sudah ditipu, mereka melarikan diri sebagian. Dan yang tidak ikut pesta itu, sudah mengetahui hal ini mungkin ada sesuatu penipuan, mereka melarikan diri sepanjang malam keluar daripada kota-kota Perancis, mereka pergi ke Genewa. Dan inilah menjadi hari terakhir Perancis bisa menghasilkan barang yang paling bermutu di dalam sejarah. Semenjak hari itu, Perancis tidak bisa menghasilkan mesin yang terbaik, mesin yang paling bermutu, paling akurat, karena orang-orang yang bertanggung jawab kepada Tuhan sudah tidak ada di situ.

Sekarang saudara kalau beli barang Perancis, beli barang fashion, bukan beli barang quality. Engkau dapat Pierre Cardin, Christian Dior, engkau mendapatkan barang-barang Perancis yang bagus, yang mewah tapi tidak bermutu akurat. Engkau kalau beli jam yang paling baik dari Perancis itu cuma Cartier, tapi Cartier tidak bikin di Perancis, dibikin di Genewa, daerah reformed. Karena apa? Karena etos kerja. I exist before God. I do everthing inspected by God. I give responsible only to God. Dari poin ini engkau tidak heran kalau mesin yang baik tidak dibikin di daerah Istanbul, tidak dibikin di daerah Timur, dari Budha, dari Konfusians, hanya di daerah reformed, daerah setelah pengaruh reformasi. Sebelum Martin Luther mengadakan reformasi, jerman tidak pernah menghasilkan sesuatu yang bermutu tinggi untuk mengalahkan seluruh dunia. Tetapi setelah reformasi, seluruh sejarah berubah arah karena etos kerja before God.

Tetapi kenapakah ada agama-agama yang menganggap manusia dapat langsung datang kepada Allah? Keunikan Kristen adalah bukan itu. Engkau datang kepada Allah hanya melalui Kristus. Nah ini bedanya. Mengapakah menjadi orang Kristen? Karena diajak oleh kawanmu? Karena bosmu orang Kristen? Karena majikanmu adalah orang majelis GRII maka engkau menjadi orang Kristen? Tak guna! Jangan ikut-ikut orang lain. Engkau harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan Allah, karena engkau dicipta oleh Tuhan dan Tuhan yang mencipta adalah Tuhan yang menentukan ada Pengantara.

Nah Kristus dan Kristologi dan keunikan kekristenan dengan Kristus ini, Pengantara ini, kalau digeser kekristenan hancur. Christianity is not Christianity if Christ is erased. Christianity is Christ. Kekristenan adalah Kristus! Tanpa Kristus bukan Kristen. Tanpa Pengantara Kristus, tidak ada iman Kristen. Orang yang menolak Kristus, tidak ada keselamatan di dalam Kekristenan bagi dia. Saudara-saudara, Yesus berkata: “Akulah jalan, Akulah kebenaran, dan Akulah hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kecuali melalui Aku.” Ini harus diperjuangkan oleh kekristenan. Ini harus diperjuangkan oleh GRII.

Saudara-saudara, Pengantara ini:

  1. Satu. Tidak ada Pengantara yang kedua. Kenapa? Karena tidak ada taraf yang bisa dicapai oleh orang lain dibandingkan Kristus. Satu-satunya Pengantara. Ini adalah wahyu Tuhan.
  2. Pengantara itu bukan dari manusia. Kenapa? Siapa pun yang paling suci tetap berdosa. Siapa pun yang paling baik tetap dicipta. Siapa pun yang paling agung tetap terbatas. Limited, created, polluted. Ini tiga kondisi bikin tidak ada satu manusia pun yang mana, dari negara apa, agama apa, kebudayaan apa, dari zaman apapun yang sanggup menempati tempat satu-satunya Pengantara.

Saudara-saudara sekalian, Tuhan mencari dari tengah-tengah manusia tak ada Pengantara karena semua manusia berdosa, semua dicipta, semua terbatas. Bagaimana agung, terbatas; bagaimana suci, najis; bagaimana hebat, dicipta. Maka yang dicipta mengganti yang dicipta tidak bisa. Yang terbatas menolong yang terbatas tak bisa. Yang berdosa menolong yang berdosa tak bisa. Orang yang dikurung di dalam penjara mau menolong sebelahnya keluar dari penjara tak bisa. Karena dia sendiri dikunci di dalam. Yang berdosa tidak bisa menolong yang berdosa. Maka di dalam Alkitab mengatakan satu kalimat: “All the saints, which one are you turning to?” Engkau sedang berpaling kepada orang suci yang mana? Kepada siapa? Engkau bilang: aku berpaling kepada Konghucu. Dia berdosa. Engkau berpaling kepada Yesaya, dia berdosa. Engkau berpaling kepada pendiri agama yang lain, berdosa. Engkau berpaling kepada Abraham, dia berdosa. Engkau berpaling kepada siapa pun di dalam dunia, itu semua orang suci yang berdosa.

Lalu kepada siapa? Yesus berkata: Akulah tidak pernah berbuat dosa. Siapa di antara kamu yang bisa menunjukkan dosa yang Dia perbuat? Jawaban untuk pertanyaan itu nihil. Sudah 2 ribu tahun tak ada orang yang bisa menjawab karena memang Kristus tidak berdosa. Maka mengapakah Pengantara bukan dari manusia? Karena manusia itu bagaimanapun terbatas, tercipta dan terpolusi sehingga tidak mungkin menjadi Pengantara. Maka Tuhan mau cari dari malaikat tidak bisa karena malaikat semua terbatas. Malaikat itu semua tidak mempunyai kemungkinan untuk berdiri di antara Allah dan manusia, karena syarat menjadi Pengantara manusia hanya satu, harus dwi sifat. Yang disebut dwi sifat yaitu dia sendiri harus Allah dan dia sendiri harus manusia. Kalau Pengantara itu adalah manusia saja, tak mungkin dia menjadi Pengantara. Kalau Pengantara itu hanya Allah saja, tak mungkin dia menjadi Pengantara. Karena Allah itu suci, Allah itu Roh, dan Allah itu kekal. Dan Allah yang suci tak mau bertemu dengan yang berdosa. Allah yang kekal, Dia sulit bergabung/ bersekutu dengan orang yang sementara.

Maka Pengantara itu harus mempunyai dwi sifat. Ini yang menjadi syarat yang paling penting mengapa Pengantara itu cuma satu, yaitu the two nature within one person. Dua sifat di dalam satu pribadi. Sifat ilahi, sifat manusia. Siapa? Tak mungkin Konghucu, tak mungkin Abraham, tak mungkin Musa, tak mungkin Yosua, tak mungkin Yesaya, tak mungkin Daniel, tak mungkin Paulus, tak mungkin Petrus karena mereka hanyalah manusia saja. Maka tidak ada seorang di luar Kristus yang cukup syarat, yang mempunyai kualifikasi yang benar untuk menjadi Pengantara. Maka Tuhan mengatakan: I sent my son. Aku mengirim Anak-Ku. Aku mengutus Anak-Ku, Anak-Ku yang kudus, Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah Dia. This is my Son, listen to Him. My beloved Son.

Bersambung

(Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan)

 

Sumber : https://griimelbourne.org/ibadah/kebaktian-minggu/ringkot-details.aspx?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube