Sekitar pukul 16:00 WIB saya diinformasikan melalui media Pop Up (suatu jaringan internal di kantor) bahwa esok hari pulul 09:00 WIB ada undangan ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak atau lebih tepatnya Direktorat Keberatan dan Banding untuk mengikuti formalitas pembahasan sebuah Surat Edaran. Dan tidak ada yang menarik untuk dibahas dalam pertemuan 3 (tiga) jam tersebut sampai akhirnya ketika hendak pulang dan  berada di lobby kantor saya mendengar suara orang memanggil.

Saat menoleh ke sumber suara yang memanggil diantara banyaknya pegawai yang berseliweran (jam istirahat)  saya melihat dua orang yang saya kenal, mereka adalah eselon IV yang saya kenal 10 tahun yang lalu, namun kini ada yang berbeda yang satu tetap masih eselon IV dan yang satu sudah menjadi eselon II dan yang pasti saya masih tetap menjadi eselonong boy :D. Para pejabat tersebut murka karena saya tidak ada niat mencari tahu dan mampir keruangan mereka, sedikit memaksa mereka mengajak saya mampir… dan disinilah diskusi sebenarnya dimulai…

Mengenang Kisah Lama

Diawali dengan mengenang ketika masih satu kantor dulu, ketika saya menjadi anak buah beliau dan bagaimana kesungguhan kami bekerja yang menghasilkan suatu prestasi dan penghargaan. Kami mengaminkan cara-cara berbeda dan non birokrasi dalam mencapai target dan cita-cita saat itu yaitu Penerimaan Negara sungguh sangat berhasil.

Ada gejolak dan kegalauan saat melihat mereka kembali mengenang ketika mereka sama-sama menjadi pejabat eselon IV dahulu dan kini nasib yang berbeda, dan banyak hal lainnya tentang keberadaan sahabat-sahabat setelah 10 tahun berlalu.

Melihat Institusi Ini Ke Depan

Sebagai seorang Penelaah Keberatan  tentunya momen yang pas untuk “curcol” kepada pejabat, tentang posisi penelaah keberatan sekarang ini, dengan spontan saja saya sampaikan jika jabatan pelaksana khusus tersebut sebaiknya dihapuskan saja bila perlu sama direktoratnya sekalian, karena bukankah lebih baik jika wajib pajak mengajukan keberatan langsung saja ke pengadilan pajak, dan kami diberdayakan sebagai Pemeriksa atau pelaksana lainnya saja. Ternyata beliau juga memiliki pemikiran yang sama walau tentu dengan syarat-syarat yang tidak jauh berbeda dengan yang saya bayangkan.

Memang tidak dapat ditawar lagi bahwa, kedepan Direktorat Jenderal Pajak harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari PNS untuk dapat menaikan pendapatan dari pegawai paling vital di Republik ini.

Mencari Formula Penggalian Potensi Penerimaan

Sangat menarik, mencermati pemikiran seorang pejabat dalam bagaimana mengelola dan memaksimalkan teknik dan cara dalam menggali potensi perpajakan demi pencapaian penerimaan sebagai bukti bahwa penerimaan itu bukanlah sesuatu yang bersifat “given“. Harapannya hasil pemikiran tentang teknik penggalian potensi tersebut dilakukan oleh tingkatan pemimpin dan dilapangan nanti tinggal pelaku eksekusi saja (dengan semangat beliau memberikan contoh2 yang tampak seperti di negeri awan).

Akhirnya tibalah kesempatan untuk menjelaskan dari sudut pelaksana akar rumput seperti saya, saya tegaskan bahwa jika pelaksana dibawah memiliki pengetahuan teknis perpajakan yang baik namun tidak diiringi dengan kesungguhan dalam bekerja percuma memiliki program yang bagus, bahkan yang mengerikan jika tidak memiliki pengetahuan teknis perpajakan.

Motivator atau Inspirator

Diawali oleh beliau tentang  calon presiden dimana masing-masing  memiliki jiwa sebagai seorang Motivator dan seorang lainnya sebagai Inspirator dan manakah  yang lebih diperlukan untuk kondisi republik saat ini. Untuk menimpali pernyataan tersebut saya memberi ilustrasi berdasarkan pengalaman saya demikian; saat menemani seorang teman yang akan menghadapi sidang tesis, dan saat itu saya duduk berhadapan dengan seorang gadis yang menurut dugaan saya bukan lah mahasiswa pasca sarjana karena  masih terlalu belia, sampai akhirnya ketika seorang ibu keluar sambil mengucapkan ucapan syukur saat keluar dari ruang sidang, “Thanks God, saya sudah lulus dengan nilai sangat memuaskan dan dapat menjadi motivasi buat anak saya kelak,” katanya sambil menuju ke anaknya yang ada dihadapan saya…. Tak tahu apa yang membuat saya hingga saya menyeletuk demikian, “maaf, Bu…. saya kira apa yang ibu lakukan bukan lah motivasi buat anak ibu, tidak sama sekali!”  hening sesaat, saya menyadari bahwa ibu itu sangat kecewa mendengar ucapan saya, bahkan seorang Bintang Satu disamping saya yang sedang menunggu jadwal Sidang pun membusungkan dadanya…. namun tidak berlangsung lama saya katakan… “Apa yang telah ibu lakukan adalah lebih dari motivasi tetapi suatu inspirasi buat anak ibu, dia tidak akan pernah melupakan apa yang ibu lakukan hari ini”. Adapun poin yang ingin saya tekankan adalah inspirator adalah pelaku dari kebijakan itu sendiri yang dapat memotivasi…. artinya Indonesia butuh kedua tipikal pimpinan berjiwa seperti itu.

Tak terasa dua setengah jam kami diskusi banyak hal, yang membuka pikiran kami tentang pola pemikiran yang sangat jauh berbeda tentang kebijakan dan rancangan dengan apa yang menjadi realitas …. selamat mengkaji bos!