Tong Ming Ming berusia 35 tahun dan merupakan orang pertama di Singapore yang mendonasikan sebagian besar liver- nya untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Apa yang menggerakkan hatinya untuk melakukan hal ini?

Saya seorang sopir taksi. Dulunya, selama 10 tahun saya berprofesi sebagai anggota kepolisian. Saya memutuskan untuk menjadi sopir taksi karena saya membutuhkan lebih banyak waktu luang. Saat saya punya waktu luang saya akan menjemput and mengantar orang- orang yang kakinya sudah diamputasi untuk perawatan di Rumah Sakit Tan Tock Seng. Saya juga mengantar dan menjemput orang- orang tua dari rumah mereka ke tempat ibadah. Selain itu saya melayani sebagai mentor untuk anak- anak yang bermasalah, saya membutuhkan waktu untuk mengatur kegiatan and pertemuan dengan anak- anak itu. Bertugas sebagai anggota kepolisian tidak memberikan saya kebebasan waktu untuk melakukan semua kegiatan volunteer itu. Saya tidak punya jam kerja yang tetap. Setiap hari setelah saya menerima cukup ongkos untuk menutup sewa taksi dan juga biaya bensin, saya akan pergi melakukan kegiatan sebagai seorang sukarelawan. Orang- orang yang saya bantu itu, mereka orang kurang mampu yang tinggal di rumah susun satu kamar di Chinatown, Lavendar dan Jalan Minyak. Anak- anak bermasalah itu dari Grace Haven Children Home dan juga tempat rehabilitasi. Kapan saja mereka membutuhkan saya untuk mengantar atau menjemput mereka, saya akan pergi. Selalunya saya tidak menerima bayaran dari mereka.

Saya lagi ikut latihan sebagai anggota militer cadangan saat saya membaca di Facebook tentang seorang yang membutuhkan transplantasi liver/hati yang urgen. Saya tidak kenal orang itu. Setelah itu saya mendapat kabar bahwa teman saya mengenal teman lain yang mengenal orang itu. Memang sangat rumit! Tapi bagaimanapun, saya merasakan hati saya digerakkan dan saya perlu meresponi panggilan untuk donasi liver itu. Saya turut berempati dengan keluarga ini karena ayahnya hanya punya waktu 7 hari untuk hidup jika transplantasi tidak dilakukan dalam jangka waktu itu.

Terdapat suatu gerakan dari dalam hati. Suatu beban yang berat yang menggerakkan saya untuk memberikan tanggapan walaupun saya sama sekali tidak mengenali orang ini. Saat saya pergi bertemu dengan para dokter yang akan melakukan operasi transplantasi, mereka menjabarkan resiko- resikonya. Saya perlu mendonasikan 70% dari liver saya, kandung empedu (gall bladder) saya harus dikeluarkan, itu berarti saya tidak bisa menyetor cairan empedu, dan cairan ini dibutuhkan untuk mencerna lemak. Jadi setelah operasi, berat badan saya akan bertambah, karena kandung empedu saya sudah dikeluarkan. Kadar kematian adalah 1%. Itu berarti satu orang dari 100 orang akan meninggal di atas meja operasi. Terdapat efek samping yang lain juga yang diakibatkan oleh obat- obatan yang perlu saya ambil, antaranya adalah kemungkinan mendapat penyakit diabetes dan juga tekanan darah tinggi.

Tapi saya melangkah dengan damai Tuhan. Saya harus membawa ibu saya karena saya memerlukan keluarga terdekat untuk memberikan izin. Ibu saya tidak bermasalah. Sejak kecil, dia tahu saya senang membantu orang. Saat saya masih kecil, saya sudah memberitahunya bahwa jika saya meninggal, donasikan semua organ tubuh saya. Jadi, dia tahu kenapa saya harus melakukan ini. Ibu saya sepenuhnya mendukung saya.  Tapi ibu saya sangat dilelahkan karena harus melewati banyak wawancara dari pihak rumah sakit dan otoritas. Karena di bawah Hukum Transplantasi Organ, tidak boleh ada tranksaksi keuangan, jadi pihak berwenang sangat berhati- hati dengan proses seleksi. Komite Etik harus memastikan bahwa saya tidak sedang menjual liver saya.

Di dalam hati tidak ada rasa takut, karena angka kematian 1% tidaklah terlalu tinggi. Bagi saya, saya perlu melakukan apa yang penting –  menyelamatkan nyawa. Saya tidak terlalu pusing dengan efek samping dan juga angka kematian. Operasi dilakukan pada hari Jumat. Operasi saya berlangsung selama 9 jam. Mereka harus membedah saya dulu, mengeluarkan liver saya. Dan saat saya sedang dijahit kembali, para dokter akan mengoperasi Saudara Toh. Jadi kami dioperasi berdampingan. Seluruh operasi berlangsung selama 20 jam.

Pasca operasi, saya dengan Sdr Toh menjadi sahabat baik. Saya sudah beberapa kali diundang ke rumah dan kami menjadi agak akrab, hal yang tidak mengherankan karena sebagian dari saya ada di dalam dirinya sekarang. Dia mulai membagi tentang keluarganya dan secara kebetulan, ibu saya menemukan bahwa ibu dan ayahnya Sdr Toh dulunya berasal dari kampung yang sama. Memang dunia ini sangat kecil!

Bagi Sdr Toh, memang sangat urgen, karena dia membutuhkan transplantasi dalam waktu 7 hari, kalau tidak, dia akan meninggal. Saya berasal dari keluarga yang tidak utuh jadi saya bisa bayangkan bagaimana anaknya yang hanya berumur 3 tahun akan kehilangan ayahnya. Mungkin hal ini yang mendorong saya untuk menanggapi permohonan bantuannya. Waktu di SMP, saya mengenal seorang guru yang bernama Yap, dia sangat aktif membantu orang, dan dia akan membawa kami ke panti- panti asuhan dan panti- panti jompo. Dari situ saya belajar tentang membantu orang lain. Saya sendiri membantu orang lain karena besar di keluarga yang bermasalah. Disebabkan masalah yang ditimbulkan oleh ayah saya, kami harus menjual dua rumah kami untuk membereskan masalahnya. Dari pengalaman pribadi saya, saya tidak mau ada orang lain yang harus melewati apa yang telah pernah saya lewati.

Saya tahu saya tidak dapat menolong banyak orang, saya tidak dapat menolong seluruh dunia. Tapi jika saya dapat menolong hanya satu orang, membuat perbedaan di dalam hidup satu orang saja, itu bagi saya sudah cukup. Saya tidak tahu. Banyak orang yang berpikir bahwa saya mempunyai pekerjaan yang bagus di kepolisian, mengapa saya meninggalkan itu untuk menjadi seorang pekerja sosial/seorang sukarelawan. Saya pikir, prioritas hidup saya berbeda. Hidup bukan tentang memperoleh uang dan mobil. Saya pikir hidup jauh melampaui itu semua. Terdapat suatu tujuan yang lebih tinggi di dalam hidup kita.

Sumber : https://www.cahayapengharapan.org/kesaksian_hidup/texts/a_beautiful_life.htm