Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Kesungguhan adalah dasar dari segala etika, pelayanan, bahkan kesungguhan adalah dasar dari segala sesuatu yang bertahan sampai selama-lamanya. Janganlah takut akan kegagalan, tapi takutlah kalau diri Anda adalah orang yang palsu. Jangan takut hidup Anda tidak berbuah, tetapi takutlah kalau Anda memiliki iman yang tidak murni. Jangan takut digagalkan ataupun dianiaya sehingga Anda menjadi orang yang tidak sukses, tetapi takutlah jika Anda tidak membersihkan hal-hal yang tidak beres dalam motivasi Anda. Kalau kita sudah menerima kualitas yang benar dan teruji, barulah kita mempertumbuhkan kuantitasnya. Berbuahlah banyak.

Banyak orang Kristen yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen dan belum pernah berbuah bagi Tuhan. Bolehkah kita menjadi orang Kristen yang terus menerima anugerah Tuhan tetapi tidak menyalurkannya dalam hidup orang lain? Bolehkah kita menjadi orang Kristen yang terus menerima berkat, tetapi tidak berbuah untuk Tuhan? Bolehkah kita menjadi orang Kristen yang egois? Tidak. Egoisme adalah musuh hidup kekristenan yang terbesar. Hidup Kristen adalah hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan hidup untuk memuliakan Tuhan dan berfaedah bagi orang lain. Kalau prinsip ini terus menerus mendasari akan etika dan tingkah laku kita, maka kita akan menjadi orang Kristen yang rohaninya beres.

A. KONSEP BUAH-BUAH ORANG KRISTEN

Berbuah merupakan suatu tanda. Ini merupakan suatu tanda perbedaan antara ciptaan Allah dan buatan tangan manusia. Yang dibuat oleh manusia, tidak bisa berbuah; sedangkan yang dibuat oleh Allah, bisa berbuah. Toko-toko seni banyak menjual ukir-ukiran kayu yang bentuknya mirip sekali dengan pohon pisang yang sedang berbuah. Meskipun rupanya seperti asli, tetapi pohon tersebut tidak bisa berbuah lagi karena itu buatan manusia. Buatan Tuhan adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa mengeluarkan buah dari hidup yang memiliki kromosom yang sejenis dengan induknya. Yesus Kristus berkata, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah.”  Di sini adalah satu kehendak Tuhan yaitu agar kita menjadi orang Kristen yang berbuah.

1. Buah Merupakan Tanda Kehidupan

Pada waktu sebuah pohon berbuah, ini menandakan pohon itu masih hidup. Jadi buah adalah tanda hidup. Jika Anda mempunyai kehidupan, maka dengan sendirinya kehidupan itu akan mengeluarkan buah. Alkitab berkata, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”(Yakobus 2:17). Dan Alkitab berkata dengan jelas kepada kita bahwa tubuh tanpa jiwa adalah mayat. Demikian pula iman tanpa buah adalah mati. Jikalau kita mempunyai iman di dalam tetapi tidak mempunyai kelakuan di luar, kita merupakan orang Kristen yang mati, orang Kristen yang menipu diri. Yohanes Pembaptis berkata: “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8).

Kita harus membedakan hati pertobatan dan buah-buah pertobatan. Hati pertobatan itu dilihat oleh Tuhan, tetapi buah pertobatan dilihat oleh sesama manusia. Jikalau hati Anda beriman kepada Tuhan, tetapi kelakuan Anda bertentangan dengan iman, maka Anda bukan saja tidak mempermuliakan nama Tuhan, tetapi juga akan memberikan kesempatan bagi orang bukan Kristen untuk menganiaya orang Kristen, mengumpat orang Kristen, dan memfitnah orang Kristen lain, karena buah merupakan tanda hidup.

2. Buah Merupakan Tanda Pertumbuhan

Kalau Anda belum pernah menanam pohon dengan tangan sendiri dan hanya bisa membeli buah-buahan dari pasar, maka Anda belum mengerti apa artinya sabar menantikan dan mengharapkan pohon yang ditanam bertumbuh dan mengeluarkan buah. Jika Anda menanam benih dan menyaksikan benih itu bertumbuh makin besar dan suatu saat berbuah, maka Anda akan sangat terhibur. Demikian juga hidup orang Kristen. Paulus berkata kepada orang Kristen zamannya dengan suatu ilustrasi bahwa ia bagaikan ibu rohani, yang terus bertahan melahirkan anak rohani. Ia bertahan dan sabar menunggu supaya suatu hari, dengan penderitaan seperti seorang ibu yang melahirkan, Paulus bisa melihat Kristus hidup di dalam orang yang beriman.

Kadang kita melihat anak orang lain yang bertumbuh dengan cepat dan heran melihatnya, tetapi tentu saja ibunya yang setiap hari mengasuh dan memberinya makan dan merawatnya tidaklah terkejut melihat anaknya bertambah besar. Buah-buahan yang baik yang dibeli di pasar bisa Anda dapatkan lebih mudah daripada menanamnya sendiri. Berbuah adalah tanda pertumbuhan.

Jika Anda mau menjadi orang Kristen yang bertumbuh, nyatakanlah anugerah Tuhan yang sudah Anda terima kepada orang lain dengan mengabarkan Injil. Setiap orang yang mau melayani Tuhan harus belajar bergumul sendiri untuk bertumbuh, karena bertumbuh itu tidak bisa dibantu atau ditolong oleh orang lain. Ada prinsip-prinsip dasar untuk bertumbuh. Tidak ada satu metode pun yang bisa diciptakan manusia yang dapat dengan mutlak memperkembangkan penginjilan yang sejati. Begitu banyak orang hendak memperkembangkan penginjilan dengan cara yang cepat, bahkan yang tidak sesuai dengan Alkitab. Penginjilan dan iman dari mendengarkan firman Tuhan, mengerti firman Tuhan, bertobat meninggalkan dosa, dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

3. Buah Merupakan Tanda Kematangan

Jika sebatang pohon berbuah, maka buah tidak hanya menyatakan pohon itu hidup dan bertumbuh tapi juga menyatakan bahwa pohon itu sudah matang. Mengapa ada orang Kristen yang rohaninya tidak matang-matang?Karena rahasia kematangan belum diterima dan dijalankan olehnya. Siapakah orang yang kerohaniannya matang?

Pertama: Orang yang matang adalah orang yang tidak lagi mementingkan diri sendiri. Kalau Anda selalu merasa kurang diperhatikan orang lain, maka Anda belum memiliki kematangan secara rohani. Lebih baik Anda mulai memikirkan untuk belajar rendah hati, menyapa orang lain lebih dahulu, melayani orang lain, mengubah pembawaan yang tadinya pasif terhadap orang lain menjadi aktif dan menuntut lebih banyak dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Kalau Anda selalu merasa dirugikan oleh orang lain, maka Anda tak akan pernah merasakan sukacita. Tetapi orang yang menuntut diri sendiri untuk lebih banyak melayani senantiasa memperoleh kesukaan. Manusia yang masih suka mementingkan diri sendiri, tetap belum memiliki kematangan. Namun meskipun orang masih berusia muda, tapi sudah memikirkan orang lain, ia sudah memiliki kematangan. The self centered life is hated by God.  Yesus mengatakan, “Jikalau ada orang mau mengikut Aku, biarlah ia menyangkal diri dan memikul salib.”  Kalau orang selalu menganggap dirinya sebagai yang paling penting, maka justru dia tidak bisa menjadi murid Yesus. Kalau Anda mau berbuah, harus menyangkal sikap egoisme diri pribadi.

Kedua: Bertanggung jawab.  Apa saja yang sudah kita katakan dan janjikan kepada orang lain, harus kita lakukan. Seorang anak kecil dapat melihat keagungan atau keburukan watak orang tuanya melalui berapa banyak mereka memenuhi janji yang sudah mereka ucapkan di hadapan anaknya. Di gereja ada dua macam orang yang kurang bertanggung jawab, yang pertama adalah orang yang tidak melakukan suatu apapun jika itu tidak menguntungkan dirinya sendiri; dan macam orang kedua yaitu orang yang setiap kali mengiyakan setiap pekerjaan, tapi tidak pernah melakukannya.

Tuhan Yesus mengatakan tentang dua orang anak yang diperintahkan oleh ayahnya untuk pergi ke ladang. Anak yang satu menolak perintah ayahnya, sedangkan anak yang lain mengiyakan perintah ayahnya. Tapi akhirnya anak yang menolak perintah ayahnya menyesal lalu pergi ke ladang; sedangkan anak yang tadinya mengiyakan perintah ayahnya malah tidak pergi. Manakah yang lebih baik dari antara dua orang ini? Dua-duanya kurang baik. Lebih baik kita berkata: Ya, lalu menjalankan apa yang diperintahkan. Orang macam apakah Anda di hadapan Tuhan? Kristen macam apakah Anda di hadapan Tuhan? Jika kita mau berbuah, maka kita harus mempunyai kematangan. Kematangan datang dari menyangkal diri, kematangan datang dari perasaan tanggung jawab.

4. Buah Merupakan Tanda Dari Jenis

Buah bukan hanya tanda dari hidup, bukan saja tanda dari pertumbuhan, bukan saja tanda dari kematangan; tetapi buah juga merupakan tanda dari jenis. Kalau memang jenisnya baik, maka buahnya itu baik. Tuhan Yesus berkata: “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” (Matius7:16). Tentu saja tidak mungkin. Di sini Tuhan Yesus menantang dengan suatu pertanyaan yang tidak mempunyai jawaban. Kalau jenisnya tidak beres, maka janganlah menginginkan buahnya beres.

Pada waktu Anda belum menjadi orang Kristen yang matang, akan mudah bagi Anda untuk menerima begitu saja hal-hal yang kelihatannya rohani dan alkitabiah. Tetapi kalau Anda terus memperdalam pengertian Alkitab dan betul-betul mengetahui kerohanian yang sejati, maka Anda akan berwaspada kepada ajaran-ajaran yang simpang siur. Dengan hidup sekehendak hati dan suka mengatakan hal-hal yang tidak ada kebenarannya, banyak pengajar Kristen tanpa sadar sudah bersalah kepada Roh Kudus.

Janganlah Anda mengira bahwa setan tidak bisa memalsukan Roh Kudus. Roh Kudus, Roh yang suci, banyak dipalsukan. Alkitab mengatakan agar kita jangan percaya kepada setiap roh, melainkan harus mengujinya (1 Yohanes 4:1-6). Orang sekarang banyak yang tidak menguji tapi hanya menerima saja. Hal ini sama seperti seorang istri yang membukakan pintu pada tengah malam untuk perampok yang mengaku sebagai suaminya, istri semacam itu baru akan menyesal setelah melakukannya. Begitu banyak orang yang memperhatikan hal-hal yang bukan merupakan prinsip firman Tuhan, tetapi hanya melihat gejala luar yang bersifat emosional, superfisial, dan hanya dibuat-buat oleh manusia. Alkitab berkata: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:15-16). Apakah hidupnya berbuahkan kesucian dan betul-betul mentaati firman?

Bahasa lidah tiruan dimiliki oleh agama-agama lain yang tidak menyembah Tuhan, dan itu terjadi apabila orang yang memeluk agama tersebut sudah masuk ke dalam suasana mistis. Dalam keadaan semacam itu, maka dari mulutnya akan keluar bahasa-bahasa yang berlainan. Kita harus hidup berbuah, dan buah itu adalah buah yang memiliki fakta nyata yang sungguh-sungguh menyatakan bahwa kita memang dipenuhi oleh Roh. Roh Kudus sifatnya kudus, orang yang berbuah dari Roh Kudus mempunyai hidup yang kudus, hidupnya menyukai kesucian. Kalau hidup Anda masih menyukai yang najis, tetapi memiliki gejala seperti dipenuhi Roh Kudus, itu omong kosong. Kalau hidup Anda memiliki kesucian, dalam pikiran, perkataan, dan kelakuan, maka itu menandakan di dalam hidup Anda ada benih yang suci dari Roh Kudus. Jika dalam hidup Anda ada roh kasih, roh setia, roh yang sabar, roh yang mawas diri, roh sukacita, maka itulah buah Roh Kudus yang menyatakan sifat-sifat-Nya dalam hidup Anda. Buah menyatakan akan jenis dari hidup itu. Anda harus lebih memperhatikan hal-hal yang tidak mungkin dipalsukan, lebih dari hal-hal yang mungkin dipalsukan.

Orang yang menyimpan banyak kebencian didalam hatinya, tidak mungkin tidak banyak mengutuk orang lain di dalam perkataannya. Tetapi orang yang banyak mempunyai cinta kasih di dalam hatinya, dengan sesungguhnya akan mengeluarkan kelakuan dan perbuatan yang sejati. Apakah segala yang Anda katakan itu benar, baik, setia, suci dan adil? Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan benih yang baik. Dalam kitab Yeremia, firman Tuhan berkata bahwa anggur-anggur pilihan yang ditanam-Nya berubah menjadi anggur-anggur berbau busuk dan liar (Yeremia 2:21). Apakah hidup Anda sesuai dengan firman? Nyatakan benih dengan jenis yang sesungguhnya yang murni!

5. Buah Merupakan Tanda Derajat Hidup Yang Baru

Buah yang kita nyatakan menunjukkan sampai di mana derajat hidup kita. Peribahasa Tiongkok mengatakan: Dari mulut anjing tidak mungkin keluar gading. Anda tentu merasa aneh kalau ada seekor anjing yang mempunyai gading, tetapi jika di dalam mulut gading yang dewasa lalu keluar gading, itu memang wajar. Tidak setiap gajah memiliki gading, tapi pada suatu taraf tertentu, gading gajah akan keluar. Demikian juga hidup kita,  jangan sekali-kali kita meniru cara orang rohani. Jika seorang rohani berbuat ini dan itu, janganlah selalu menirunya karena bagi orang tersebut hal itu adalah wajar namun bagi kita hal tersebut merupakan paksaan. Bagi orang-orang tertentu, apa yang dikatakannya cocok dengan pribadi dan tingkah lakunya, karena baginya itu alamiah. Tetapi bagi orang yang meniru-niru maka hal itu merupakan paksaan.

Sebuah gelas yang terus menerus diisi penuh dengan air akan meluap. Jika Anda melihat orang rohani yang terus menerus mengalirkan berkat bagi orang lain, lalu Anda ingin menjadi sama seperti dia, itu ibarat gelas yang mengalirkan air melalui pembocoran, bukan mengalirkan air melalui kelimpahan. Yang alamiah itu mengalir melimpah, yang paksaan itu mengalir karena bocor. Kelihatan sama-sama mengalirkan air, tetapi yang pertama adalah alamiah, dan yang terakhir karena paksaan. Berbuah itu harus alamiah, jangan bersaing terhadap orang lain. Jika Anda selalu berusaha menyamakan diri Anda dengan orang lain yang rohani, meniru caranya mencintai Tuhan, caranya berbicara, caranya berdoa dan sebagainya, maka Anda akan memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya. Biarlah Anda menghasilkan buah secara alamiah, mengalir secara alamiah. Karena memaksa diri sendiri seperti orang lain, itu tidak ada gunanya.

Jika orang lain memberikan persembahan yang jumlahnya cukup besar, lalu Anda pun karena memaksakan diri supaya sama seperti orang itu memberikan persembahan dalam jumlah cukup besar padahal Anda tak mampu, bukankah persembahan Anda itu tidak berguna? Jika orang lain bersaksi dengan kalimat-kalimat yang panjang, lalu Anda juga ingin seperti dia bersaksi di atas mimbar dengan kalimat-kalimat sama banyaknya meski dipaksakan, tentu itu akan membuat isi kesaksian Anda menjadi sembarangan saja. Jika orang lain membuat sesuatu yang benar, lalu Anda juga meniru dia membuat sesuatu yang benar untuk sekedar menyaingi orang tersebut, maka hal itu juga tidak ada gunanya.

Buah adalah hasil yang alamiah, sehingga tidak ada pohon yang bisa dipaksa untuk berbuah. Waktu pohon sudah sampai tarafnya berbuah, maka buah akan muncul. Namun karena ada perbedaan derajat, maka walaupun dalam satu pohon, tentu ada buah yang masam dan ada buah yang manis. Mulai sekarang janganlah Anda meminta sesuatu pada Tuhan sesuai dengan kehendak sendiri ataupun memaksa Tuhan untuk taat kepada Anda, itu bukanlah doa. Berdoalah supaya Anda digarap oleh Tuhan sehingga bertumbuh, betul-betul mengerti dan betul-betul menghasilkan buah secara alamiah seperti apa yang diinginkan oleh Tuhan. Berjanjilah kepada Tuhan dalam doa untuk tidak lagi menjadi orang yang egois seperti sebelumnya, tidak lagi menjadi orang Kristen yang tidak berbuah, tidak lagi menjadi orang Kristen yang kekanak-kanakan, tetapi menjadi orang Kristen yang mau berbuah di dalam anugerah Tuhan dan yang memuliakan Dia.

B. PRINSIP DAN PENERAPAN HIDUP BERBUAH

Sebelum Yesus Kristus naik ke atas kayu salib, Ia mengumpulkan semua murid yang dicintai-Nya, menunjukkan kepada mereka akan kasih yang tuntas, kasih yang sampai kesudahan kepada mereka. Dalam Yohanes 15 kita melihat pengajaran penting dari Tuhan Yesus tentang hidup yang berbuah, yang berlainan dengan banyaknya ajaran orang masa kini tentang buah yang dihasilkan Roh Kudus. Dalam Injil Yohanes pasal 14 dan 16, pekerjaan Roh Kudus dipaparkan dengan jelas, antara lain mempertobatkan orang dan mengajar orang tentang kebenaran. Tetapi Yohanes 15 memiliki tempat tersendiri, karena didalamnya mengajar bahwa hidup yang berbuah yaitu hidup sesudah dipenuhi Roh Kudus.

Tanpa Roh Kudus tidak ada orang yang sungguh-sungguh bisa hidup suci, memiliki buah yang sungguh-sungguh, dan perlengkapan untuk berani memberitakan Injil. Dalam pasal ini, istilah Roh Kudus tidak banyak muncul, karena tersisip di dalam hidup kita yang berkaitan dengan Tuhan, hidup manusia digabungkan dengan suatu kekuatan yang mengeluarkan kuasa hidup yang berasal dari pokok kepada carang.

Yesus berkata: “Akulah pokok anggur yang sejati dan kamulah ranting-rantingnya.” Dari pokok sampai ke carang (ranting) ada cairan yang menggabungkan dan itu sebenarnya melukiskan pekerjaan Roh Kudus yaitu dengan menggabungkan kita sebagai orang beriman kepada sumber iman kita yaitu Yesus Kristus. Ada orang Kristen yang melayani Tuhan tidak habis-habis, tapi selalu merasa kurang melayani; dan sebaliknya ada pula orang Kristen yang tak pernah melayani tetapi merasa dirinya adalah orang Kristen yang cukup baik. Adakah pekerjaan Roh Kudus dalam kita pada saat melayani Tuhan?

Doktrin yang paling penting dan paling banyak ditiru serta disamar-samarkan dengan ajaran yang palsu dan tidak beres adalah doktrin tentang Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh yang suci. Segala gejala-gejala kehidupan di luar yang kelihatannya suci tetapi tidak mengakibatkan kesucian yang sesungguhnya yang keluar dari dalam hidup Anda, tidak pernah menjadi tanda bahwa orang itu sungguh-sungguh dipenuhi Roh Kudus. Pada waktu Yesus Kristus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu….”(Yohanes 15:7); ini menunjukkan suatu penggabungan yang hanya mungkin dikerjakan oleh Roh Kudus.  Kristus berada dalam diri kita melalui hadirnya Roh Kudus, kita bersatu dengan Kristus melalui penggabungan yang dilakukan Roh Kudus. “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kudus, ia bukan milik Kristus.” (Roma 8:9).

Roh Kudus menggabungkan kita dengan kematian Yesus Kristus, dan dengan otomatis juga menggabungkan kita dengan kebangkitan Yesus Kristus. Karena Roh Kudus telah membangkitkan Kristus dengan kuasa kebangkitan, maka Roh Kudus juga akan membangkitkan kita dengan kuasa kebangkitan yang sama. Dengan kuasa Roh Kudus, kita boleh melayani dengan tidak mengenal lelah, melayani tanpa memperhitungkan pengorbanan, melayani dengan kerelaan dan sukacita, serta berbuah terus dalam hidup yang berkelimpahan.

Ada perbedaan besar antara orang yang hidupnya papa dengan orang yang hidupnya kaya. Orang yang hidupnya kaya, terus mengalirkan anugerah dan berkat Tuhan. Dari mulut dan perkataannya mengalir perkataan yang indah bagaikan madu rohani, tingkah lakunya memberikan teladan yang membangun bagi orang lain, hidup yang limpah dihasilkan dari kepenuhan Roh Kudus. Waktu Roh Kudus memenuhi seseorang dan betul-betul mengurapi seseorang, maka orang ini mengeluarkan kalimat yang indah, sifat dan tingkah laku yang indah, ketegasan dan keadilan yang seturut kehendak Allah, kesucian, tidak kompromi dengan dosa dan penuh dengan kesabaran terhadap sesama manusia – orang ini tidak toleran terhadap dosa, tetapi mengasihi orang berdosa.

Beberapa prinsip yang Tuhan berikan tentang bagaimana berbuah, kita dapatkan di sini:

  1. Senantiasa Berada Dalam Tuhan, Istilah senantiasa berada di dalam Tuhan, memiliki dua arti yaitu kontinuitas dan konsistensi. Banyak orang tidak mengerti akan kontinuitas ini sehingga mereka kadang-kadang cinta Tuhan, kadang-kadang cinta hantu; kadang-kadang pergi kepada Tuhan, kadang-kadang pergi ke klenteng. Orang seperti ini tidak memelihara suatu kesetiaan di dalam kontinuitas. Keadaan senantiasa ini menjadikan kita orang yang terus hidup di dalam Tuhan. Jika kita memerlukan 300 liter oksigen tiap hari untuk bernafas, bolehkah jika kita selama dua jam berturut-turut bernafas dan berusaha menghirup 300 liter oksigen, lalu selama sepuluh jam berikutnya tidak bernafas lagi? Tidak, karena hidup memerlukan suatu kontinuitas, satu keberlangsungan. Senantiasa merupakan suatu keberlangsungan yang sinambung untuk memelihara diri di dalam Tuhan. Setan selalu berkata: “Ayo keluar dari hidup dalam cinta Tuhan, ambil cuti dan nanti setelah ambil cuti baru kembali lagi ke kandang Tuhan.”  Prinsip firman Tuhan selalu berkata: “Hendaklah kita selalu berada di dalam cinta Tuhan, jangan menjadi seorang yang hari ini panas, besok dingin, hari ini giat, besoknya tidak.” (band. Wahyu 3:14). Ini adalah hal yang paling sering terjadi di kalangan pemuda-pemudi yang mau melayani Tuhan. Lebih mudah memulai  pelayanan bagi Tuhan daripada memelihara kontinuitas pelayanan itu. Lebih mudah mati bagi Tuhan daripada hidup setengah mati bekerja bagi Tuhan selama berpuluh-puluh tahun dalam dunia. Konsistensi dan kontinuitas harus terus menerus terjadi dalam hidup melayani Tuhan. Hendaklah kita tetap berdoa meminta jiwa yang senantiasa tetap berada di dalam kasih Tuhan. Banyak orang Kristen tidak dapat berbuah karena mereka menolak untuk terus menerus taat kepada Tuhan. Mereka taat hanya untuk sementara waktu lalu setelah itu mencoba untuk menipu dan memanipulasi kemudian meninggalkan Tuhan. Jangan bermain-main dengan Tuhan, karena Tuhan adalah TUHAN, maka Anda harus menyerahkan diri untuk taat. Adakah yang mengganti tempat Tuhan di dalam hati Anda? Apakah konsistensi dan kontinuitas Anda melayani Tuhan masih seperti dulu atau tidak? Yesus mengatakan jika Anda selalu berada di dalam Dia, maka Anda akan berbuah. Cara kesuksesan berbuah yang sejati, yaitu terus menerus berada di dalam Tuhan, bukan hidup kerohanian yang panas-dingin.  Ikan yang hidupnya di permukaan laut adalah ikan yang ikut arus dan ombak. Waktu permukaan laut tenang, ikan itu ikut tenang; waktu ombak bergolak, ikan itu bergolak karena ia terpengaruh oleh permukaan laut yang tidak tetap itu. Tidak demikian halnya dengan ikan yang hidup di laut yang dalam. Biar bagaimana pun ombak bergolak ia tetap stabil. Kita memerlukan kestabilan dan kemantapan rohani yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan, senantiasa berada di dalam Tuhan – ini adalah rahasia berbuah yang pertama.
  2. Suci Di Dalam Firman, Yesus berkata: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang Kukatakan kepadamu” dan “firman-Ku tinggal di dalam kamu.”  Darimanakah kesucian dihasilkan? Sebagai orang Kristen, bagaimanakah kita bisa menjadi lebih suci? Apakah dengan doa kita bisa langsung menjadi suci? Alkitab ada mengajarkan tentang doa memohon kesucian, hati yang lurus dan hidup yang suci. Pemaparan Alkitab tentang cara yang konkrit untuk hidup yang suci adalah hidup menjadi suci karena firman bekerja di dalam hati. Firman Tuhan mempunyai kuasa penyucian yang tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Salah satu contohnya mungkin Anda pernah alami, yaitu saat di mana Anda sungguh-sungguh mempersiapkan hati dan diri untuk mengikuti kebaktian, membuka hati Anda seperti tanah yang sudah dipersiapkan untuk ditanami benih. Lalu waktu Anda mendengarkan khotbah, hati Anda diterangi dan ditelanjangi oleh perkataan-perkataan dari firman Tuhan yang diucapkan oleh pengkhotbah, sehingga Anda melihat diri sendiri begitu banyak kesalahan yang perlu dibereskan di hadapan Tuhan. Ada dua tanggapan jika Anda dalam keadaan seperti ini, pertama, yaitu Anda dapat saja bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa, walaupun firman Tuhan sudah menerangi hati Anda. Kedua, yaitu Anda bersikap mengoreksi diri dan membersihkan diri kembali. Yang manakah yang menjadi respons Anda? Yesus Kristus mengatakan bahwa firman itu membersihkan. Jikalau firman membersihkan Anda, maka Anda akan berbuah. Hari ini terlalu banyak orang Kristen tidak bisa berbuah, tidak mempunyai kekuatan berbuah karena hidupnya tidak dibersihkan firman Tuhan. Jika motivasi tidak bersih, maka perkataan kita tidak mungkin mengandung kuasa. Tuhan tidak akan mengaruniakan kuasa bagi mereka yang memiliki motivasi-motivasi yang tidak beres dalam melayani Dia. Jikalau kita menjadi orang Kristen yang tidak bersih, baik dalam pikiran, hati dan tangan, maka kita tidak mungkin mempunyai kuasa untuk berbuah. Apakah hubungan antara firman Tuhan dan kesucian? Yesus Kristus dengan jelas mengatakan dalam Yohanes 17:17, “Kuduskanlah mereka (murid-murid Kristus) dalam kebenaran; Firman-Mu adalah kebenaran.”  Hanya melalui kebenaran-lah manusia bisa menjadi suci dan itu berada di dalam Firman Tuhan. Itu sebabnya, jika kita tidak memberitakan firman, tidak mungkin ada pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh kebenaran yang menguduskan. Waktu kita mendengarkan dan menerima Firman, firman itu sendiri menjadi cahaya menerangi segala kesalahan dan dosa yang ada pada kita. Firman itu sekaligus menjadi pisau yang mengoperasi dan membuang segala yang tidak beres dalam hidup kita. Firman itu juga menjadi seperti air yang menguduskan kita. Jikalau Anda sudah mendengarkan khotbah selama puluhan tahun dan kelihatan menjadi seorang Kristen yang tua, tetapi hidup Anda lebih najis dari sebelumnya, celakalah Anda!  Jikalau Anda sudah masuk ke dalam gereja, lalu setelah kebaktian Anda keluar dan hidup lebih kotor daripada sebelum masuk ke gereja atau tanpa ada perubahan, maka kebaktian yang Anda ikuti itu tidak menjadi berkat bagi Anda. Kebaktian itu bukan menjadi berkat tetapi menjadi kutukan, dan firman yang Anda dengarkan akan menjadi tuntutan yang menghakimi Anda pada hari kiamat. Mengapa banyak orang yang membaca Kitab Suci sambil menghakimi dan menuntut orang lain? Alkitab mengatakan bahwa barangsiapa datang kepada firman Tuhan, sama seperti berdiri di hadapan cermin (Yakobus 1:22-24). Waktu melihat cermin, maka yang Anda lihat bukanlah cermin itu sendiri tetapi diri Anda. Bukankah jika Anda melihat cermin, maka yang Anda lihat adalah diri Anda sendiri? Dengan melihat diri di cermin, maka Anda dapat tahu ketidak-beresan dalam diri Anda, kotornya Anda dan kurang bagusnya Anda. Waktu Anda melihat kotornya diri Anda melalui cermin, bukankah Anda bersyukur dapat melihat hal itu, lalu pergi membersihkan diri? Demikianlah seharusnya yang kita lakukan bila kita mendengar Firman Tuhan. Mintalah Tuhan membersihkan diri Anda. Setiapkali sebelum membaca Kitab Suci, berdoalah mohon penyucian dari Tuhan, dan setiap kali setelah membaca Kitab Suci, hiduplah lebih suci. Setiap kali sebelum mendengarkan khotbah, bersiap untuk rela dibersihkan oleh Firman. Setelah mendengarkan khotbah, hiduplah lebih bersih. Dengan hidup secara demikian, Anda bisa berbuah bagi Tuhan.
  3. Pemotongan dan Pembersihan Daun, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang sudah Kukatakan kepadamu.”  Dalam terjemahan lain, kata dibersihkan  berarti dipotong supaya lebih rapi. Apa yang tidak diperlukan harus dibuang, sehingga yang sisa adalah yang perlu saja. Mendidik anak-anak memerlukan bijaksana seperti Tuhan memotong daun-daun yang tidak perlu tumbuh. Kenakalan anak-anak harus diperhatikan dengan saksama, kalau perlu dihukum dengan bijaksana. Marah-marah tidak ada gunanya dalam pendidikan anak, tetapi mendidik dengan ketat, dengan mengingat bahwa apa-apa yang tidak perlu dalam diri mereka mesti dibersihkan. Itulah pendidikan yang efisien dan efektif. Hal-hal yang bersifat membesarkan diri harus dipotong demi hidup yang berbuah. Apa yang merupakan kemuliaan diri dan kebanggaan-kebanggaan Anda akan dipotong oleh Tuhan supaya Anda berbuah. Pada waktu ‘gunting’ Tuhan memotong Anda, hendaklah Anda bersabar. Kadang-kadang Tuhan mengambil pacar Anda atau anak yang paling Anda cintai, karir, kecukupan materi, atau hal lain yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya dan bahkan hari depan kelihatan begitu suram sehingga kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat. Mungkin Anda bertanya: “Dimanakah Tuhan? Aku tidak melihat kemuliaan-Mu. Di manakah Tuhan? Aku tidak melihat penyertaan-Mu.”  Tuhan tinggal diam seolah-olah tidak menjawab sampai Anda mengerti firman yang mengatakan bahwa Dia sedang membersihkan dan memotong daun-daun yang merintangi Anda berbuah. Pada waktu api yang besar menelan kota London, maka setelah selesai kebakaran besar itu, raja Inggris menugaskan seorang arsitek yang besar bernama Christopher Ramm membangun kembali gereja St. Paul yang megah. yang lalu dipakai oleh pangeran Charles melangsungkan pernikahan. Ukiran-ukiran yang besar dan bagus dipasang kira-kira 260 kaki tingginya dari tanah. Ada seorang yang mengukir salah satu hiasan di situ dan berdiri pada tempat tertinggi dari gereja itu. Ia sedang memandangi hasil ukirannya yang baru saja selesai. Tetapi secara tidak sadar, ia memandangnya sambil berjalan mundur setapak demi setapak sampai sudah berada di ujung papan pembatas. Jika ia mundur setapak lagi ia pasti jatuh dan mati. Seorang rekan dipinggirnya melihatnya, lalu amat terkejut karena posisi berdiri rekan pengukir itu sudah amat berbahaya, bahkan mungkin jika ia berteriak memperingatkan malah akan membuat rekan tersebut jatuh. Akhirnya tidak ada cara lain, maka ia mengambil kuas seorang yang sedang mengapur dinding dan merusak hasil ukiran rekannya itu. Waktu ukiran tersebut dicat tidak karuan oleh rekan yang berusaha menyelamatkannya itu, si pengukir amat marah dan langsung menghampiri dia dan mau memukulnya. Tapi orang itu lalu memperingatkan dan menunjuk tempat di mana si pengukir itu berdiri. Akhirnya si pengukit sadar bahwa rekannya itu sedang berusaha menyelamatkan dirinya.

Demikian Tuhan kita, kadang-kadang Dia merusak gambaran yang kita idam-idamkan, mengambil orang yang paling kita cintai dan memberikan hal-hal yang paling sulit dalam hidup kita. Cara Tuhan seringkali melawan logika dan pikiran manusia, tetapi justru cara Tuhan adalah cara yang terbaik.

Mungkin sudah lama Anda marah dan dengan tangisan Anda berdebat dengan Tuhan, tetapi biarlah Anda mendengar suara Tuhan yang penuh kasih, yang mengatakan bahwa hal itu perlu dikerjakan dalam diri Anda untuk kebaikan Anda. Bisakah Anda dengan air mata kembali kepada Tuhan dan bersyukur atas ‘gunting’ Tuhan yang sedang memotong daun-daun yang indah dalam diri Anda sehingga Anda kelihatan gundul?  Maukah Anda tetap mencintai Tuhan? Maukah Anda mendapatkan rahasia hidup berbuah?

Amin.

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/sola-scriptura/rahasia-hidup-yang-berbuah-artikel-pdt-dr-stephen-tong/621118084603315

 

Nama Buku        :  Hidup Kristen Yang Berbuah

Sub Judul          :  Rahasia Hidup Yang Berbuah

Penulis              :  Pdt. DR. Stephen Tong

Penerbit            :  Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1992

Halaman            :  11 – 26

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube