Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

KARUNIA PELAYANAN

Di dalam 1 Korintus 12: 4-7 dikatakan, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”

Ini berarti setiap orang Kristen diberi karunia, tidak terkecuali. Karunia ini bukan karunia jabatan, tetapi karunia pelayanan, maka setiap orang harus melayani. Ketika seorang Kristen melayani, harus berdasarkan karunia yang ia dapat dari Tuhan, bukan berdasarkan kepandaian dan keinginan pribadinya, atau gelar dan ilmu yang diraihnya, dan bukan berdasarkan setumpuk pelayanan yang ia miliki, atau teknik dan psikologi yang ada padanya. Perhatikan: jangan membawa semua filsafat, psikologi, taktik dan pengalaman perdagangan dan usaha Saudara masuk ke dalam Gereja! Di dalam Gereja kita melayani dengan karunia, bukan dengan strategi atau cara pengalaman duniawi.

Talenta dan Karunia

Mungkinkah Tuhan menjadikan pengalaman di dunia ini sebagai karunia? Mungkin. Jadi apa beda talenta-talenta alamiah dengan karunia-karunia Roh Kudus? Jika seseorang, sebelum bertobat begitu pandai menyanyi atau main musik, kemudian ia memakai kemampuan menyanyi atau main musik untuk menonjolkan diri dan menyatakan kehebatannya, mengharapkan tepuk tangan bagi dirinya dan bukan demi untuk Tuhan, maka ketika ia melayani di Gereja, ia sedang berbuat dosa. Seorang yang pandai berdagang dan pandai berorganisasi, lalu memakai cara organisasi dunia untuk mengatur seluruh Gereja supaya orang melihat dia hebat dan pandai, maka ia sedang berbuat dosa, karena Allah menggunakan pengurapan dan pengudusan Roh Kudus untuk menjadikan keahlian yang Saudara kuasai untuk pelayanan bersama. Itulah pelayanan.

Apa beda antara talenta alamiah dengan karunia-karunia?: Jika talenta-talenta alamiah diberikan oleh Tuhan belum dikuduskan oleh Roh Kudus, ia belum dapat disebut sebagai karunia. Yang disebut karunia adalah talenta yang sudah mengalami pengudusan dari Roh Tuhan. Semua talenta alamiah yang belum mengalami pengudusan dan pengertian dari visi dan motivasi pengabdian yang sungguh-sungguh, tidak dapat dipakai untuk melayani Tuhan. Itu sebab, di dunia ini banyak orang pandai, tetapi terkadang Tuhan lebih memilih memakai orang biasa untuk melayani Dia. Mengapa? Karena Tuhan tidak menguduskan talenta yang bermotivasi tidak benar, sehingga talenta-talenta itu tidak diubah menjadi karunia.

Sepertinya tidak ada kalimat seperti ini didalam Alkitab yang secara eksplisit mengatakan demikian, tetapi secara prinsip dikatakan bahwa, “segala pemberian yang baik berasal dari Allah.”  Saya percaya ketika seseorang menjadi ahli musik, kemampuan itu berasal dari Tuhan. Orang yang dapat mengerti filsafat atau ekonomi, kemampuan itu berasal dari Tuhan. Tetapi jika ketika seseorang mengerti segala sesuatu dengan talenta yang diberikan oleh Tuhan, tetapi tidak diserahkan untuk dikuduskan bagi Tuhan, talenta ini tidak dapat dipakai untuk pelayanan demi kepentingan semua orang, karena karunia diberikan kepada seseorang untuk membangun semua jemaat.

Setiap orang Kristen harus melayani. Jangan menganggap Saudara belum mempunyai kesempatan untuk melayani karena belum naik mimbar. Pelayanan bukan berarti harus dari mimbar. Pelayanan bersama dilakukan di bawah mimbar. Jika Saudara mengetahui ada saudara seiman yang sakit, silahkan lawat dia, hibur dan kuatkan dia. Orang yang tidak mau melayani satu sama lain, hanya mau naik mimbar saja, ia belum mempunyai jiwa melayani.

Pelayanan berarti membesarkan Kristus di segala kegiatan yang berusaha memuliakan Dia dan menjadi faedah bagi sesama dalam tubuh Kristus. Itulah pelayanan. Konsep pelayanan yang salah perlu dikoreksi dan harus dibenahi. Kalau semua orang baru merasa melayani setelah ia menjadi majelis, maka Saudara hanya melayani yang rendah saja. Saudara perlu melayani satu sama lain, menolong orang yang imannya goncang, meneguhkan mereka yang sedang susah dan menjadi petunjuk jalan bagi mereka yang sedang kalut, dan memberikan jawaban bagi mereka yang memerlukan. Semua ini adalah pelayanan.

Ketika saya bertobat pada usia 17 tahun,saya tidak mempunyai kesempatan untuk naik mimbar, tetapi saya menyisihkan puluhan persen dari uang yang saya peroleh untuk membeli traktat dan Kitab Suci. Lalu saya sengaja naik bis dari Surabaya ke Pasuruan atau kota-kota lain untuk membagikan traktat. Tidak ada satu orang pun yang saya kenal di kota itu,tetapi saya memberitakan Injil dari satu rumah ke rumah yang lain. Itu pelayanan. Saya tidak menunggu naik mimbar.

Suatu ketika, seorang pendeta Belanda memberikan saya kesempatan untuk mengajar sekolah minggu di tempat ia mengajar, karena ia akan cuti selama satu bulan. Saya menerima kesempatan itu dan mempersiapkan diri baik-baik. Setiap hari saya berlatih berkhotbah. Akhirnya semua latihan saya habis hanya dalam waktu 10 menit, padahal masih ada 40 menit lagi. Anak-anak sangat senang dan minta terus, tetapi saya sudah kehabisan bahan. Hari itu saya hanya minta Tuhan pimpin, semua yang pernah saya dengar saya utarakan disitu. Saya tidak tahu hari itu bagaimana saya menghabiskan waktu yang 50 menit itu. Setelah itu pendeta memberikan kesempatan untuk saya terus melayani disitu. Dalam waktu satu tahun, sekolah minggu yang hanya 27 orang itu menjadi 400 orang.

Saya tidak menunggu untuk dapat naik mimbar baru dapat dan merasa melayani Tuhan. Saya dapat melayani di jalanan, atau pergi ke rumah sakit untuk memberikan traktat di setiap kamar. Berulang kali diusir, tetapi saya pergi lagi ke tempat yang lain. Jangan Saudara pernah menganggap bahwa tidak ada kesempatan melayani. Di seluruh Jakarta ini, yang tinggal di dalam kota saja berjumlah 9 juta orang. Setiap pagi, orang-orang yang datang dari sekitar Jakarta, seperti Bogor, Tangerang, Bekasi, berjumlah sekitar 3 juta orang. Berarti di Jakarta ada sekitar 12-13 juta orang. Setiap tahun ada penambahan sekitar 1 juta orang dari daerah yang masuk ke Jakarta. Omong kosong tidak ada kesempatan melayani. Itu tipuan setan. Pelayanan tidak harus dari atas mimbar. Kalau di Jakarta dapat didirikan 10.000 Gereja yang masing-masing dalam 10 tahun dapat menjadi 500 orang, maka seluruhnya hanya mencapai 5 juta orang. Belum cukup untuk mengisi seluruh kebutuhan kota ini. Tetapi saya tidak ingin Saudara terlalu cepat keluar dari “Yerusalem” sebelum diisi dan mendapat pengertian firman yang baik.

Di dalam ayat 8-11 dikatakan, “Sesuai yang dikehendaki oleh Roh Kudus.”  Kalau Roh Kudus mengehendaki Saudara beriman, maka Saudara akan beriman lebih besar daripada yang lain. Kalau Roh Kudus memberikan kepada Saudara karunia berbahasa Roh, maka Saudara akan dapat berbahasa Roh. Jika Roh Kudus memberikan kepada Saudara karunia untuk menyembuhkan, maka Saudara akan dapat menyembuhkan, karena semua itu berdasarkan kedaulatan Allah. Untuk itu kita perlu mencamkan beberapa prinsip :

  1. Karunia-karunia diberikan untuk membangun tubuh Kristus, satu dengan yang lain.
  2. Karunia-karunia diberikan kepada setiap orang yang sudah menerima kelahiran baru dan otomatis sudah mendapat Baptisan Roh Kudus.
  3. Karunia-karunia tidak ada yang diperoleh dengan meminta paksa kepada Allah.
  4. Karunia-karunia diberikan menurut kemauan kedaulatan Roh Kudus, sesuai dengan kerelaan-Nya dan kedaulatan-Nya.
  5. Karunia-karunia tidak dapat dipindahkan dari satu orang kepada orang lain, karena pilih kasih atau karena mandat jabatan. Seorang yang mempunyai kekuatan untuk melakukan mujizat, ketika akan meninggal tidak dapat mewariskan karunia itu kepada orang lain.
  6. Karunia tidak dapat diambil atau dimiliki melalui kursus pribadi. Orang menginginkan karunia bahasa Roh karena kalau tidak mempunyai itu, ia merasa tidak mempunyai Roh Kudus. Prinsip ini tidak beres dan tidak berdasarkan Alkitab, tetapi sudah banyak tertanam dalam diri orang Kristen. Orang-orang yang ingin mendapat karunia bahasa Roh lalu berusaha mendapat dengan cara kursus, merupakan pemaksaan terhadap Roh Kudus untuk mengikuti kehendak manusia.

Pelanggaran-pelanggaran seperti ini berakibat fatal bagi Gereja dan menyebabkan Gereja membuka pintu lebar-lebar bagi setan untuk mengganggu kita. Jika Saudara hanya memiliki satu karunia tertentu dan tidak memiliki karunia yang lain, jangan menghina karunia yang ada pada Saudara. Jangan mengatakan bahwa karunia tertentu lebih penting daripada yang lain. Jangan Saudara meminta karunia tertentu untuk membuktikan bahwa Saudara mempunyai Roh Kudus. Memang di antara jabatan-jabatan itu ada yang lebih penting daripada yang lain, seperti rasul lebih penting dari nabi, tetapi jangan Saudara rendah diri karena Saudara tidak mempunyai karunia lidah.

Di Surabaya ada seorang pendeta, mantan dokter, mengatakan bahwa karunia lidah adalah karunia yang paling penting dan paling sulit diterima. Itu sebabnya kita harus mengejarnya. Dari Alkitab bagian manakah ajaran seperti ini? Setiap kali Alkitab mengatakan tentang karunia lidah, selalu diletakkan di paling belakang. Saya berani mengatakan bahwa karunia lidah merupakan karunia yang paling tidak penting berdasarkan 1 Korintus12:28-29. Di dalam ayat ini, diungkapkan urutan atau ordo dari karunia-karunia itu, sedikit berbeda dengan di ayat 4-8, di mana sepertinya urutan ini tidak terlalu ditegaskan. Maka karunia lidah merupakan karunia yang paling rendah dan paling tidak penting, bukan karunia yang tertinggi dan terpenting.

Banyak Gereja saat ini membuat teologi yang tidak bertanggungjawab dan terbalik dari konsep Alkitab yang benar. Fungsi rasul, gembala, penginjil diabaikan, tugas pengajaran firman diabaikan, kebenaran firman disepelekan, tetapi mujizat dipentingkan, karunia lidah dipentingkan, orang yang paling kaya diberi kedudukan yang paling penting.

Dalam 1 Korontus 12:4-8, kita melihat karunia-karunia tersebut diawali dengan karunia kata-kata dan diakhiri dengan karunia kata-kata. Yang pertama adalah kata-kata hikmat, dan kata-kata pengetahuan. Yang terakhir adalah kata-kata bahasa Roh dan penerjemahannya. Mengapa diletakkan seperti itu dan tidak terbalik? Mari kita perhatikan dua hal, yaitu:

Pertama, kedua kata-kata yang pertama berkaitan erat dengan penasfsiran terhadap nabi dan rasul. Ini menyebabkan seseorang dapat menjadi seorang guru atau gembala yang memberikan penafsiran tentang nabi dan rasul secara benar. Ia dapat mengajar, menguraikan Kitab Suci dan berkhotbah. Ini adalah karunia-karunia yang lebih penting, sehingga diletakkan di depan, sedangkan untuk dapat ber-glosolalia dan menerjemahkannya diletakkan di paling belakang. Kita harus meletakkan dengan cepat mana yang paling penting, mana yang paling tidak penting; mana yang utama dan mana yang terakhir di dalam pelayanan satu sama lain di Gereja.

Orang-orang “Toronto Blessing” berdasarkan teologi yang disodorkan oleh “Third Wave Movement” dipimpin oleh John Wimber dari Vineyard Movement. Orang ini pernah salah diundang oleh Fuller Theological Seminary. Saya mengenal John Wimber, dan sejak 1974 saya sudah mengenalnya di Swiss. Saat itu saya sudah melihat dan mengatakan bahwa orang ini kelak akan mengacaukan dan menyelewengkan Gereja. Sekarang hal itu terjadi. Ketika ada tokoh dari Fuller datang ke Indonesia, orang mengatakan kepada saya, mengapa saya tidak mendukungnya, karena ia dari Fuller. Saya rasa Fuller boleh terkenal, tetapi tidak cukup. Ketika orang meminta agar saya memperkenankan orang itu berbicara sedikit di Gereja yang saya pimpin, saya menolak. Saya harus berbuat demikian karena saya menjalanklan tugas yang dibebankan oleh Dia yang mengutus saya. Saya harus berfungsi sebagai penjaga gawang. Penjaga gawang kelihatan tidak terlalu sibuk, tetapi pada saat-saat kritis, ia justru menjadi orang yang paling sibuk dan berjuang habis-habisan agar jangan ada yang salah masuk ke gawangnya. Saya harap setelah saya menjadi tua dan tiada, tugas sebagai penjaga gawang ini berada di tangan Saudara sekalian. Kita harus menjaga kesucian, kesejatian, keabsahan, dan kebenaran pelayanan dalam Gereja.

Para penyelia Gelombang Ketiga, yang memulai gerakan Toronto Blessing, tidak melihat bahwa hal ini akan berkembang sedemikian jauh,  menjadi sedemikian kacau balau dan liar, yang mengakibatkan rusaknya kekristenan di seluruh dunia. Mereka hanya menikmati pertambahan kuantitas. Kita harus selalu mengingat bahwa kualitas harus mendahului kuantitas! Kita harus menjaga kualitas terlebih dahulu, maka kuantitas akan dengan sendirinya bertambah. Jika kita tidak mempertahankan kualitas, dan kita mulai berkompromi dengan kuantitas, maka kita akan menjual diri dan membuang hak kesulungan kita.

Orang-orang seperti John White dan John Wimber dari Vineyard Movement menjelaskan dua karunia pertama dalam 1 Korintus 12:4 ini dengan salah luar biasa. Mereka menafsirkan bahwa kata-kata bijaksana berarti Roh Kudus memberikan manifestasi kepada seseorang sampai orang itu dapat mengungkapkan kata-kata secara supranatural. Saya kira itu bukan pengertian karunia itu yang sesungguhnya. Pengertian yang sesungguhnya adalah orang-orang yang membangun jemaat dengan menguraikan firman yang telah ditegakkan melalui rasul dan nabi. Lalu dengan bijaksana menguraikan hal itu, sampai orang mendapatkan iman berdasarklan firman yang diwahyukan oleh Tuhan.

Dengan cara demikian baru Gereja dapat didirikan dengan tegak. Bukan di dalam pengertian orang yang membutuhkan penghiburan karena sakit jantung atau karena patah hati. Bukan  sesempit itu pengertian  di sini. Tafsiran-tafsiran yang salah seperti ini mengakibatkan Alkitab dibuang dan segala gejala-gejala supranatural dijunjung tinggi dan akhirnya terjadilah tertawa-tertawa yang tidak terkontrol, seperti yang terjadi di Toronto Blessing saat ini.

Kedua, kedua kata di ayat 4 merupakan kata-kata yang dapat diuji oleh Alkitab, sedangkan kedua karunia kata di ayat 8-10 merupakan kata-kata yang lebih sulit diuji langsung oleh Alkitab. Orang yang berglosolalia, lalu kita tidak mampu secara peka mengujinya dan kita lalu terlalu cepat menerimanya, maka kita telah jatuh masuk ke dalam jerat tipuan Iblis. Di dalam buku-buku teolog-teolog Injili berulang kali mengungkapkan berbagai penerjemahan bahasa Roh yang sama sekali salah dan berbeda dari yang seharusnya, tetapi orang tidak menyadari kesalahan-kesalahan seperti itu.

Saya mengungkapkan apa yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu di New York. Seorang berkhotbah, lalu mulai berkata dalam “karunia lidah”. Lalu seseorang datang dan menerjemahkannya. Orang yang menerjemahkan itu berkata, “Pujilah Yesus,….sembah sujud kepada Dia,…rendah hati dihadapan Dia….”  Para hadirin begitu terharu dan merasa bahwa inilah Roh Kudus yang sedang turun ke dalam kebaktian mereka. Tetapi di dalam kebaktian itu, ada seseorang yang merekamnya, dan mengirimkan kasetnya pada seorang professor linguistik yang sangat ahli di Columbia University. Setelah diselidiki, profesor itu kemudian mengatakan bahwa orang itu bukan cuma mengatakan kata-kata ngawur, tetapi juga berkata-kata dengan bahasa tertentu. Ia mengenal bahasa itu, dan bahasa itu masih ada dan masih dipergunakan oleh orang-orang dari suatu suku yang sangat kecil dipegunungan Kaukasus, di perbatasan Eropa dan Asia. Tetapi ia menegaskan bahwa ketika ia mendengar antara bahasa aslinya dan penerjemahannya sama sekali berbeda. Kata-kata asli dari bahasa itu berarti: “Kutuklah Yesus….bencilah Dia, buanglah Dia dan jangan percaya kepada Dia….” Tetapi penerjemahnya mengatakan, “Pujilah Yesus….sembahlah Dia….dstnya.”  Akibatnya Gereja ini disesatkan dan menganggap bahwa saat itu Roh Kudus sedang memberikan karunia lidah kepada pendeta itu. Tanpa mereka ketahui, mereka sedang ditipu oleh setan dengan tipuan ganda, yaitu: (1) memalsukan roh tanpa mereka sadari, dan (2) memalsukan penerjemahan, sehingga mereka mengkonfirmasikan bahwa itu dari Roh Kudus.

Kalau setan tidak berbijaksana tinggi, ia pasti bukan setan! Kalau setan begitu bodoh, sampai orang yang baru Kristen dapat segera membedakan siapa dia dan siapa Roh Kudus, maka pasti setan itu tidak berdaya. Setan tidak bodoh. Justru orang yang baru bertobat, yang begitu cinta Yesus, dijebaknya. Lalu begitu banyak orang Kristen lama yang tidak mau berbicara tentang Roh Kudus, dianggap dingin dan mati serta apatis, sehingga orang Kristen tidak dapat menolong orang Kristen baru dan menyegarkan iman orang Kristen baru. Para pimpinan Gereja, majelis Gereja hanya rebut berebut kekuassaan di dalam Gereja, sehingga tidak memimpin orang lain di dalam terang Roh Kudus, dan orang-orang Kristen baru begitu giat di luar, sehingga akhirnya ditipu dan tidak ada orang yang dapat menolong mereka.

Kita berada di suatu zaman yang sangat sulit. Jika kita hanya dapat menyembah sujud kepada kuantitas, lalu merasa bila banyak orang datang, itu tanda Roh Kudus bekerja, dan kita jatuh secara takhayul di dalam prinsip yang salah ini, maka kita langsung jatuh ke dalam tangan Iblis untuk mengacaukan seluruh kekristenan. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk berdiri dan kembali ke jalan yang benar.

Alkitab menegaskan: Apakah semua menjadi rasul? Tidak. Apakah semua menjadi nabi? Tidak. Apakah semua menjadi guru? Tidak. Apakah semua melakukan mujizat? Tidak. Apakah semua menyembuhkan? Tidak. Apakah semua mendapat karunia lidah? Tidak. Berarti, kita harus taat kepada kehendak Roh Kudus, menerima apa yang terbaik yang Roh Kudus berikan kepadakita.

Tiga hal yang dapat kita lihat mengenai karunia bahasa Roh :

  1. Orang berkata-kata, pendengar langsung mengerti dalam bahasa lain (Kisah Para Rasul.
  2. Orang berkata-kata, sendirian di dalam doa, tidak dibawa ke tempat umum, sehingga itu merupakan relasi pribadinya sendiri dengan Allah.
  3. Orang berkata-kata di hadapan umum, tetapi karena orang lain tidak mengerti, maka perlu diterjemahkan, sehingga Roh Kudus memanggil orang kedua untuk menerjemahkannya. Maka penerjemah itu bekerja sama dengan Roh yang sama yang memberikan karunia berkata-kata itu, sehingga jemaat dapat dibangunkan.

Apakah yang kedua dan ketiga masih diperlukan hingga saat ini? Kita tidak dapat memutlakkannya. Jika Roh Kudus masih mau memberikannya, kita bersyukur. Tetapi yang banyak terjadi di dunia ini sekarang ini, saya berani mengatakannya sebagai pemalsuan, bukan pekerjaan Roh Kudus yang asli.

Pernah suatu kali di Rusia, ada seorang pengkhotbah Amerika yang berkeliling memberitakan Injil. Selama itu, ada seorang pemuda Gereja Baptis setempat dengan setia menjadi penerjemahnya ke dalam bahasa Rusia. Pengkhotbah Amerika itu dengan setia memberitakan Injil ke Gereja-gereja bawah tanah di Rusia. Pada suatu hari, ketika ia datang mau berkhotbah, orang memberitahu kepadanya bahwa ia tidak dapat lagi berkhotbah, karena pendengar tidak mengerti bahasa Inggris, sedangkan penerjemahnya sudah ditangkap oleh KGB. Ia sedih sekali dan ia berdoa dengan sungguh. Malam itu, ia tetap datang ketempat kebaktian, tidak ada orang yang dapat menerjemahkannya.Tuhan bekerja di dalam hatinya, dan ia mulai berkhotbah. Ketika ia berkhotbah,semua yang mendengar, mendengarnya dalam bahasa Rusia. Hal ini terjadi dan inilah karuinia Roh Kudus yang sejati. Tetapi hal itu pun tidak diberikan kepada semua orang dan tidak dapat dituntut, dikejar oleh semua orang. Di saat-saat kritis dan diperlukan, Tuhan akan memberikan perlengkapan untuk bersaksi sesuai dengan kehendak Roh.

Orang-orang yang terjebak oleh takhayul bahwa tanpa karunia tertentu ia belum dibaptis oleh Roh Kudus dan belum memiliki Roh Kudus, sehingga membuat mereka menuntut untuk mendapatkan karunia-karunia itu dan mengakibatkan mereka tidak mau menerima Roh Kudus, tetapi mau menuntut pemahaman yang mereka tegakkan sendiri berdasarkan konsep yang mereka buat sendiri. Mereka menjadi orang-orang yang dipakai setan.

Penutup

Saya berdoa agar Roh yang secara status sudah membaptiskan setiap orang percaya ke dalam tubuh Kristus, Gereja yang kudus dan am, pada hari Pentakosta, secara praktik akan turun kepada setiap orang yang sungguh-sungguh menerima kesaksian dan taat kepada Injil yang diberitakan kepadanya, bertobat dan menerima Yesus Kristus; akan mengaitkan dia dengan kuasa-Nya, sehingga memungkinkan dan menguatkan dia di dalam tugas penginjilan, kesucian, hidup memuliakan Tuhan, dan mengikuti pimpinan Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Tuhan memberkati kita, menggairahkan dan menambah-nambahkan karunia yang sudah kita miliki untuk melayani satu dengan yang lain dan membangun seluruh jemaat.

Amin.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/sola-scriptura/karunia-karunia-roh-kudus-bagian-2-artikel-pdt-dr-stephen-tong/611168442264946

Nama buku        :  Baptisan & Karunia Roh Kudus

Sub Judul          :  Karunia-Karunia Roh Kudus

Penulis              :  Pdt. DR. Stephen Tong

Penerbit            :  Momentum, 2011

Halaman            :  126 – 139

 

Artikel Terkait :

Karunia Roh Kudus (Bagian I)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube