Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. (1 Samuel 18 :6 – 9)

Firman ini menceritakan sebuah peristiwa penting yang melukiskan betapa beragamnya hati manusia, yaitu : antara hati Saul dan hati Daud. Saul adalah seorang raja yang diangkat secara demokratis yang pertama dalam sejarah. Bukan Tuhan yang mengangkat, tetapi manusia yang mengangkat. Alkitab mencatat, ini merupakan satu-satunya permintaan manusia dengan suara rakyat meminta Tuhan mengikuti permintaan manusia, dan dikabulkan oleh Tuhan. Berbeda sekali dengan Tiananmen, ketika orang-orang Republik Cina meminta demokrasi atau lebih baik mati. Deng Xiao Ping mengatakan,”Saya tidak akan memberikan demokrasi, dan akan memberikan pilihan kedua yang kalian minta, yaitu mati.”

Ketidaktaatan Manusia

Ketika orang Israel meminta Tuhan mendengarkan mereka, mereka menginginkan seorang raja. Maka Samuel dengan sedih datang kepada Tuhan, “Apakah permintaan mereka dikabulkan? Tuhan, bukankah Engkau Raja Israel?” Sekarang rakyat dengan suara dewan perwakilan rakyat seluruhnya meminta Tuhan mendengar mereka, bukan mereka mendengar Tuhan. Mereka meminta raja, ini suara demokrasi. Tuhan bilang,”Dengarkan saja.” Di sini kita melihat bahwa Tuhan tidak pernah membunuh kebebasan. Tuhan tidak pernah mengikat kebebasan manusia. Tuhan memberikan kebebasan yang berakibat mematikan kebebasan.  Ada keliaran kebebasan berdasarkan ambisi kebebasan yang tidak mau taat kepada Tuhan. Disitulah pertama kali demokrasi membunuh demokrasi. Ini ironi yang kita pelajari dalam Alkitab untuk menjadi cermin setiap zaman,

Demokrasi tidak dibunuh oleh theokrasi. Demokrasi juga tidak dibunuh oleh monarki. Demokrasi dibunuh oleh demokrasi itu sendiri. Maka berdirilah sebuah kerajaan yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pemimpin yang paling penting dan utama. Rakyat berkeinginan memimpin sendiri dengan memilih seorang raja berdasarkan ukuran atau standar manusia. Apa syaratnya? Bertubuh tinggi dari yang lain, mempunyai tubuh yang kekar, mempunyai postur fisik yang melebihi orang lain. Saul menjadi raja karena kehendak rakyat, karena kebolehan fisik, dan karena anugerah Tuhan. Tapi dia tidak mengembalikan kemuliaan Tuhan.

Alkitab mengatakan, Tuhan yang begitu bijaksana menyatakan kebodohan manusia. Manusia memilih pemimpin yang bertubuh besar. Tuhan mengirim Goliat yang lebih besar lagi dari pemimpin yang mereka pilih  agar mereka jera. Manusia selalu berfikir dirinya pintar. Barang siapa berpikir dirinya pintar, dia sedang bersandiwara, dia akan dikucilkan oleh Tuhan. Kalau kita menganggap diri pintar, mengira dapat mengelabui orang, dan selalu menyimpan motivasi yang tidak jujur dibalik setiap tindakan kita, apakah Tuhan tidak tahu? Orang yang menganggap diri pintar  adalah orang yang menganggap semua orang lain bodoh dan bisa ditipu olehnya, tapi akhirnya semua dipermainkan Tuhan karena dia mempermainkan diri terlebih dahulu. Ketika orang Israel memilih raja yang bertubuh besar. Tuhan mengirim Goliat agar raja Israel yang bertubuh besar itu ketakutan tidak berani keluar. Berbulan-bulan orang Israel mendegar hujatan orang kafir yang mempermalukan Allah mereka. “Jika Yehovah Allahmu, jikalau Dia Tuhanmu, kirimlah seorang yang berani berperang dengan saya.” Kata-kata itu tidak dapat dijawab.

Bukankah pada hari-hari ini kita mendengar suara Amerika, suara Irak, suara-suara saling mengadu kuasa? (Konteks kalimat ini adalah perang Irak 2003, di mana Amerika dan sekutunya menyerang Irak dan berusaha untuk menangkap Sadam Hussein, yang diperkirakan menyembunyikan senjata-senjata pemusnah massal, yang akhirnya tidak terbukti). Itulah suatu kerutinan yang terus terjadi dalam sejarah. Manusia mau menyatakan bahwa diri mereka lebih hebat daripada yang lain. Tapi setelah mendengar suara yang lebih hebat dari yang”paling hebat.” maka yang”paling hebat” itu menjadi kerdil, menyembunyikan diri dengan tidak bersuara. Sekalipun saat itu nama Tuhan diejek dan dihujat. Tuhan berkata,”Aku mengirim Goliat dari barisan musuh yang begitu besar untuk menakuti kamu, dan Aku mengirim Daud yang lebih kecil dari siapa pun untuk melawan yang paling besar, untuk membuktikan bahwa bersandar pada Tuhan adalah lebih penting daripada bersandar pada manusia.”

Pikiran Tuhan VS Pikiran Manusia

Daud adalah seorang anak bungsu. Daud seorang yang kurang dipandang. Bahkan ayahnya sendiri melupakannya. Waktu Samuel bertanya, “Inikah anakmu semuanya?” Ayahnya menjawab, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang mengembalakan kambing domba.” Ketika Daud dibawa kepada Samuel, Tuhan berkata, “ Inilah dia yang berkenan kepada-Ku, yang menjadi raja Israel.” Pimpinan Tuhan mengherankan sekali. Tuhan kadang membangkitkan anak kecil yang kamu hina untuk menjadi pemimpin yang paling penting. Saya sungguh-sungguh mau mempelajari semua prinsip Alkitab. Ketika mempelajari, saya merasa gentar, karena  cara kerja Tuhan sangat berbeda dengan cara kerja kita.

Kemudian Daud diberi pakaian perang Saul  untuk berperang. Raja pada zaman dahulu harus maju berperang. Raja zaman sekarang hanya berada di istana, lalu memerintahkan serdadu berperang sampai mati, sementara raja bersembunyi di belakang. Pada zaman dahulu, orang yang berani dibarisan depan, yang berani maju berperang, dialah yang boleh menjadi raja. Gerakan Reformed Injili harus kembali kepada Alkitab. Orang-orang yang berani berjuang dari nol baru boleh menjadi pemimpin. Mereka yang hanya mau menerima yang enak saja, silahkan pergi. Bekerja dari tidak ada menjadi ada, menginjili orang dari bukan Kristen sampai menjadi Kristen, baru boleh menjadi pemimpin. Ini prinsip Alkitab. Kalau semua prinsip Alkitab ini tidak dijalankan,  gereja ini boleh tidak ada di dalam dunia. Setiap khotbah yang tidak saya jalankan, lebih baik tidak saya khotbahkan. Saul mempunyai baju besi yang begitu kuat, sangat defensif, sangat menolong agar tidak celaka oleh panah musuh. Tetapi Daud mengatakan bahwa baju itu  terlalu berat dan membuatnya tidak bisa bergerak. Cara Tuhan adalah menanggalkan hal-hal yang terlalu memberatkan secara duniawi. Gereja-gereja yang terlalu mementingkan organisasi, keuangan, orang kaya, tidak akan disertai oleh Tuhan. Tetapi gereja yang bersandar pada Tuhan, walaupun tidak memiliki baju baja, akan disertai Tuhan, seperti Tuhan menyertai Daud. Banyak orang kaya telah menggunakan begitu banyak uang menjalankan begitu banyak usaha, dan memiliki serta mengerjakan banyak talenta untuk memperkaya diri sendiri, tetapi berapa banyak yang mereka pakai untuk melebarkan kerajaan Tuhan? Berapa banyak waktu uang, talenta, anugerah Tuhan yang kamu pakai untuk memperkembangkan usahamu, dan berapa banyak waktu yang kamu pakai untuk berdoa mengembangkan kerajaan Tuhan?

Saul berbaju baja, Saul berorganisasi, Saul memiliki tentara. Tapi Tuhan bertanya, di manakah kamu? Bersembunyi dan tidak berani keluar. Di luar ada suara setan, suara Goliat yang berkata, “Yehovah, jika Engkau Allah, di mana umat-Mu? Keluarlah dan berperang melawan saya!” Tuhan tidak memakai jenderal, tidak memakai organisasi, tidak memakai tentara, tetapi memakai Daud yang berkata, “Tuhan, aku mau dipakai oleh-Mu.” Kalau besok ada seorang Daud yang usianya masih muda menjadi pemimpinmu, apakah kamu bisa menerima? Saul berkata, “Tidak! Kalau saya yang menjadi raja, maka seharusnya terus saya yang menjadi raja. Saya dipilih oleh MPR, oleh rakyat, tidak ada orang yang  boleh mengganggu status quo saya.”  Ini semua terus  terjadi dalam sejarah. Tapi manusia sengaja membutakan diri, sengaja melawan Tuhan, sengaja bermain dengan Pencipta langit dan bumi.

Di manakah Saul? Di atas taktha, takhta apa? Takhta yang goncang. Karena hanya menghadapi suara kafir yang berteriak-teriak, dia sudah tidak bisa melawan. Dimanakah kuasa rakyat?  Kalau rakyat melihat raja tidak berjuang, mereka juga tidak berjuang. Mereka hanya menunggu sampai ada seseorang yang dapat melawan Goliat, agar mereka mendapatkan  kemerdekaan yang kokoh. Tapi Saul tidak keluar. Akhirnya Daud berkata, “Aku yang keluar. Aku yang pergi,” Daud memang masih muda, kurang berpengalaman, tidak mempunyai gelar, tidak mempunyai prestasi akademis, tetapi mempunyai Tuhan. Sejak sejarah gereja dimulai sampai sekarang, silahkan Anda melihat dan mempelajari, apakah orang-orang yang memajukan gereja  adalah orang akademisi, atau  orang kaya, atau orang yang mempunyai kekuatan organisasi, atau justru adalah orang-orang yang sepenuhnya bersandar pada Tuhan? Anak-anak yang sekolah  theologi, silahkan sekolah lebih banyak, silahkan studi sebanyak mungkin, tetapi kalian perlu belajar untuk bersandar pada Tuhan lebih dari semua itu. Saya bukan anti akademis, saya pribadi memiliki lebih dari 10.000 buku, tetapi saya senantiasa bergumul untuk setiap khotbah, dan tidak mencuplik dari lembaran buku-buku karya orang lain.

Kemenangan Cara Tuhan

Kita harus mengerti, hanya Tuhan yang memberkati sejarah, memberkati gereja, memberkati pekerjaan-Nya sendiri, tidak ada unsur lain. Daud maju berperang dengan mengambil lima batu kecil dari sungai Yordan. Menurut Wang Ming Dao, karena batu itu bundar, maka sebenarnya tidak mudah untuk batu demikian menusuk masuk ke dalam tubuh orang lain. Bukankah seharusnya yang lancip lebih baik? Tapi justru Tuhan menyuruh Daud mengambil batu yang licin. Batu menjadi licin karena terasah oleh alam dan air di tepi sungai selama ribuan tahun. Sampai kehebatannya sendiri sudah dihancurkan, menjadi licin, menjadi tidak lagi mempunyai “tanduk-tanduk.” Mengapa banyak hamba Tuhan yang tidak bisa dipakai Tuhan? Karena terlalu banyak “tanduk-tanduk,” terlalu hebat, terlalu pintar, dan terlalu sadar dirinya pintar. Tuhan memakai orang yang mau dilatih, mau diasah, mau dilicinkan sampai tidak ada lagi tanduk untuk menjadi alat di tangan Tuhan sendiri.

Begitu Daud melempar batu itu, segera Goliat jatuh. Ini adalah hal yang mengubah sejarah, yang mengubah hukum alam, yang mengubah hukum militer, yang mengubah situasi politik. Yang selama ini menangis menjadi tertawa, yang tertawa menjadi menangis.  Karena Tuhan mengubah iklim. Tuhan bisa memakai hanya 300 orang anak buah Gideon sementara dua puluh dua ribu orang lainnya disuruh pulang. Tuhan bisa memakai satu Daud untuk menghancurkan Goliat dan mengubah Israel dari kalah menjadi menang. Apa gunanya demokrasi? Apa gunanya Saul? Apa gunanya tentara? Apa gunanya baju baja yang begitu besar? Ketika Tuhan  mau mengerjakan sesuatu, jangan kita berasumsi cara kita lebih baik daripada cara Tuhan.

Daud tidak berhenti sampai disana. Daud yang kecil memenggal kepala Goliat dengan pedang Goliat. Memakai senjata musuh untuk membunuh musuh. Ini  yang dikatakan sebagai senjata makan tuan. Pedang Goliat yang semula mau menghancurkan Daud akhirnya menjadi pedang yang memenggal kepala Goliat sendiri. Kepala Goliat yang penuh dengan darah dibawa Daud pulang  dan semua orang Israel berseru, “Saul membunuh beribu-ribu…” Saul mendengar , dan dia senang karena berfikir rakyat masih taat kepadanya. Tetapi Tuhan tahu siapa pemenang sebenarnya, bukan organisasinya, bukan rajanya, tetapi ada unsur X yang tidak diketahui dunia, yaitu seorang muda yang taat kepada pimpinan Roh Kudus dan yang bersandar pada Tuhan. Setiap gerakan akan timbul dari orang-orang yang  betul-betul bersandar pada Tuhan, dan dari situ akan ada kelanjutan dan kelestarian kemenangan yang diijinkan Tuhan.

Iri Hati Saul

“Saul membunuh beribu-ribu, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Pada saat ini X-Ray  Tuhan memunculkan hasil, jiwa seorang pemimpin. Saul memikirkan satu hal, “ beribu-ribu untuk saya, berlaksa-laksa untuk Daud. Kalau demikian, apalagi yang tersisa dari takhtaku? Tunggu dia yang naik, matilah saya.” Mulai hari itu, Saul dengki, takut, marah, benci, dan berencana membunuh Daud. Semua ini tercatat dalam Alkitab . Iri hati itu begitu jahat. Iri hati bukan anak tunggal, iri hati adalah nenek moyang yang melahirkan cucut buyut yang tidak habis-habis. Orang yang iri pasti akan mendengki, mulai marah, membenci, membunuh, dan tidak berhenti pada iri saja. Orang yang iri tidak mungkin tidak akan mendengki. Sesudah mendengki, pasti menganggap yang dengki itu musuh, meskipun sudah banyak ditolong. Sesudah menjadikan orang itu musuh, dia mulai marah kepada orang itu. Ketika kamu mengamati segala gerak-geriknya, kamu mulai takut, benci, dan berusaha membunuhnya.

Pemimpin yang berjiwa demikian, apakah bisa disebut seorang pemimpin? Bukankah seluruh Israel sekarang boleh hidup terus hanya seorang Daud yang membunuh Goliat? Seharusnya Daud ditinggikan dan dimuliakan, tetapi Daud hanya diangkat sebagai perdana menteri. Kalau Daud diangkat menjadi Jenderal dari semua Jenderal, maka semua jenderal pun akan membenci Daud. Seorang muda yang mempunyai talenta khusus bersandar pada Tuhan akan menjadi sasaran penindasan oleh mereka yang lebih senior. Kalau kita benar-benar mau diberkati oleh Tuhan, kita harus belajar melihat pimpinan Tuhan, belajar memuliakan Tuhan yang patut dimuliakan, dan taat kepada apa yang diatur oleh Tuhan.

Ada empat hal yang ditulis dalam Roma 13. Yang sering dikhotbahkan dari Roma 13 adalah taat pada penguasa. Pemerintah-pemerintah dunia paling senang kalau gereja mengkhotbahkan ini. Tapi saat saya mengkhotbahkan ayat ini, versi saya berbeda. Ada empat butir penting, yaitu :

  1. Yang kepadanya harus diserahkan pajak.
  2. Yang harus ditakuti,takutilah
  3. Yang harus dihormati, hormatilah dan
  4. Yang harus dikasihi, kasihilah

Di sana ada kewajiban, ada obligasi, ada tanggung jawab. Kalau seseorang harus dihormati, hendaklah kita menghormati dia, jangan kita tidak menghormatinya. Kalau seseorang harus ditakuti, takutilah dia, jangan dimusuhi. Kita harus takut kepada orang yang patut ditakuti. Kita harus menghormati orang yang patut dihormati. Kita harus memuji orang yang patut dipuji. Ketika kamu memuji seseorang, dan ada orang yang benci pada orang yang dipuji, maka di situ ada iri hati. Kalau memang patut dipuji, pujilah. Itu namanya kebesaran hati.

Ada orang yang dari mulutnya hanya muncul kritik, tidak pernah pujian, karena di dalam hatinya tidak ada tempat untuk menerima, melihat, mendengar, menampung kelebihan orang lain. Kalau ada orang lebih baik dari saya, bagaimana saya harus bersikap? Saya harus mengakuinya. Kalau ada orang lebih cantik, lebih tampan, lebih cakap dari kita, kita harus mengakuinya, lalu kita bersukacita , dan bersyukur. Jangan kita membenci dan mengharapkan dia cepat mati. Kebesaran hati dan hati yang lapang adalah sumber kebahagiaan. Milikilah hati yang besar, hati yang bisa menerima kelebihan orang lain, hati yang bisa menikmati kelebihan orang lain, hati yang mengakui kelebihan orang lain, hati yang berani memuji orang lain.

Bukan berarti kalau kita memuji orang lain, kita tidak boleh mengkritiknya. Bukan berarti kalau kita memuji orang lain. Kita tidak bisa menikmati kelebihan orang lain. Semua ada waktunya dan harus pada  tempatnya. Yang patut dipuji, pujilah. Yang patut ditakuti, takutilah. Yang patut dihormati, hormatilah. Yang patut dikritik, kritiklah. Tetapi barang siapa mengkritik orang lain, sebelum melakukannya, harus mengisi dan mendoakan orang yang dikritik tersebut. Janganlah kamu tidak pernah menangisi dia, tidak pernah benar-benar terbeban untuk memperbaiki dia, tetapi hanya mengkritik dan mengkritik saja. Ini suatu sikap yang sepatutnya ditunjukan oleh setiap orang karena menerima pengaturan Tuhan yang memang tidak memberikan talenta kepada setiap orang secara merata. Tidak ada anugerah yang merata. Anugerah yang merata adalah ide komunisme yang tidak pernah terjadi.

Tuhan  memberikan talenta kepada setiap orang secara unik dan berbeda-beda, ada yang dua ribu, ada yang lima ribu, ada yang sepuluh ribu. Setiap orang tidak diberi secara sama rata. Ada orang yang lebih kaya, ada orang yang lebih miskin, itu lumrah. Ada orang yang lebih bodoh, itu wajar. Ada orang yang lebih sehat, ada orang yang lebih sakit, itu tidak apa. Apakah saya yang batuk iri kepada kamu yang tidak batuk? Apakah saya harus mendoakan agar kamu juga batuk, baru saya menerima bahwa Tuhan itu adil? Itu tidak benar. Kalau saya batuk, itu adalah bagian saya. Saya akan mencari obat untuk menyembuhkan, tetapi kalau tidak ada dan harus mati, ya tidak apa-apa juga, karena memang manusia harus mati. Tetapi sebelum mati marilah kita membandingkan, saya yang batuk-batuk sambil terus berkhotbah, sedangkan yang tidak batuk malah ketiduran, manakah yang lebih baik? Kalau mau membandingkan, kita harus membandingkan dengan cara demikian.

Ditiongkak ada seorang bernama Lu Xun, yang saat ini dijunjung tinggi oleh Komunis. Padahal kalau dia masih hidup, dia pasti mengkritik Komunisme habis-habisan. Dia salah seorang pujangga terbesar pada abad kedua puluh. Dia salah seorang pujangga terbesar pada abad kedua puluh. Di dalam sebuah ceritanya, dia menceritakan seorang yang bernama Ah Qi, yang selalu iri hati dalam hal apa pun. Dia selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Kalau dia tidak bisa memilikinya, dia akan marah besar. Satu kali dia duduk disebelah seorang pengemis yang kotor sekali, lalu dia iri hati karena dia kurang kotor. Pengemis itu mendadak mengeluarkan seekor kutu busuk yang besar, memencet kutu itu sampai darahnya keluar. Ah Qi tidak mau kalah, mencari-cari sampai menemukan seekor kutu busuk yang lebih besar lagi, dan juga memencet kutu itu sampai keluar darah yang lebih banyak lagi. Orang yang iri hati bisa menjadi gila seperti ini, sampai-sampai dalam masalah kutu busukpun tidak mau kalah dengan orang lain, karena dia memiliki jiwa seekor kutu busuk.

Alkitab mengatakan, Saul setelah mendengar kalimat itu, menjadi takut, marah, dan ingin membunuh. Ketiga hal tersebut menjadi “anak-anak” keturunan dari emosi iri hati. Sekarang Daud menjadi orang yang berposisi dalam kesulitan; dia tidak salah, dia cinta Tuhan, dia diberkati oleh Tuhan, dia mengalahkan Goliat, itu  tidak salah kalau diiri. Susah bukan?Jangan. Saudara-saudara, lebih baik diiri daripada mengiri. Diiri tidak perlu susah. Kalau diri merasa susah, itu bodoh. Ketika kita diiri, kita seharusnya bersyukur kepada Tuhan karena ternyata posisi kita superior sampai diiri oleh orang lain. Tapi jangan membenci orang yang mengiri kepada kita, sebaliknya harus kasihan padanya, “Tuhan, ampuni dia karena dia tidak memiliki sesuatu yang saya miliki yang diiri olehnya. Berarti anugerah Tuhan besar bagi saya, biar anugerah Tuhan juga besar baginya agar dia tidak perlu iri lagi kepada saya.”

Orang yang suka iri mudah sakit. Mengapa? Karena Amsal 14:30 mengatakan, iri hati membusukkan tulang. Dalam terjemahan lain, iri hati adalah kerusakan dari tulang seseorang. Kanker kulit tidak sulit diketahui, karena langsung terlihat. Saya mengenal seseorang yang terkena kanker tulang. Dia tidak mengetahui kondisi tulangnya yang rusak dan keropos, satu hari dia mengangkat barang yang berat, lalu tulangnya langsung patah di dalam. Mengapa? Karena tulangnya tidak memiliki kekuatan untuk menahan berat apapun. Orang yang iri hati bagaikan tulangnya kena kanker. Tulangnya dibusukan oleh iri hati.

Penyebab Iri Hati        

Hal-hal apa yang menjadikan kita mudah iri hati? Pertama, talenta yang kita miliki tidak sebanding dengan talenta yang dimiliki oleh orang lain. Apakah kamu menjadi iri hati ketika menyadari bahwa kamu tidak memiliki talenta sebanyak talenta orang lain. Apakah kamu menjadi iri hati ketika menyadari bahwa kamu tidak memiliki talenta sebanyak talenta orang lain? Saya sudah bekerja setengah mati tetap tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Sementara dia bekerja sedikit saja sudah jadi. Kehebatan orang lain itu menjadi  penyebab manusia iri. Kedua, keindahan penampilan orang lain selalu menjadikan iri hati. Ketika kamu melihat diri sendiri begitu bagus, lalu mendadak datang orang lain yang lebih bagus, maka sekarang kamu kelihatan tidak secantik itu lagi, maka kamu menjadi iri dan membenci dia. Ketiga, keuangan kita tidak semapan atau sekaya yang dimiliki orang lain. Kalau kamu melihat orang kaya, dia membeli apa pun mudah, kamu membeli apapun sulit. Kamu mempunyai keuangan yang tidak cukup bahkan untuk hal-hal yang sederhana, sementara dia mempunyai kelebihan keuangan yang bahkan bisa dipakai untuk berbuat dosa atau untuk merusak orang lain, maka kamu iri dengan keuangannya dan mulai bersungut-sungut kepada Tuhan Allah.

Kitab Mazmur dan Amsal berkali-kali memperingatkan manusia untuk tidak iri kepada kekayaan orang lain. Meskipun orang lain lebih kaya daripada kita, jangan kita iri atau cemburu kepadanya. Mungkin mereka berada di jalan yang lancar, tetapi merupakan jalan yang licin dan mudah jatuh. Pemazmur dengan jelas mengatakan , “Aku melihat mereka begitu cepat bertumbuh, begitu cepat lancar, mereka cepat sekali menjadi kaya. Tetapi setelah aku masuk ke dalam Bait Allah, aku baru sadar, Tuhan membiarkan mereka berjalan di dalam jalan licin kebawah.

Waktu Henry Kissinger datang ke Tiongkok yang saat itu masih miskin, dia sengaja memakai kalimat bertanya kepada Chou En Lai, “Mengapa orang Cina kalau berjalan semua membungkuk? Kita orang Amerika semua berjalan dengan tegak dan gagah.” Chou En Lai dengan pintar menjawab, “ Sebab orang Cina sedang mendaki gunung, sedangkan orang Amerika sedang menuruni gunung,” Kissinger memang pandai tetapi dia menghadapi Chou En Lai yang lebih pandai lagi.

Pada saat kamu susah, janganlah iri hati. Orang yang susah mungkin sedang mendaki gunung. Orang lancar, mungkin itu terakhir kalinya lancar. Banyak orang kaya dalam dua generasi kemudian menjadi orang miskin. Jangan sombong, tetapi juga jangan iri. Orang yang cepat kaya, apakah kekayaan itu diperoleh dari kelakuan yang bersih dan etika yang bersih? Kamu tidak tahu. Hanya Tuhan yang tahu. Kalau kekayaan diperoleh dari kecurangan, penipuan, kejahatan, dan ketidakjujuran, maka kekayaan itu tidak bisa tahan lama. Bisa dipegang di dalam tangan orang demikian juga tidak lebih dari tiga generasi. Peribahasa Tionghoa mengatakan, “Fu qui bu quo san dai” (Kekayaan tidak lewat dari tiga generasi). Kalau kekayaan diperoleh secara tidak jujur atau tidak beres; di dalam dua generasi sudah hancur.

Kamu tidak perlu iri dengan orang kaya, karena di sana Tuhan memberikan ujian kepada dia, apakah dia benar-benar layak memiliki kekayaan. Kalau tidak, akan diambil kembali. Uang hanya pinjaman saja, dipinjamkan oleh Tuhan. Kalau kamu miskin, tapi kamu jujur, kamu tidak perlu takut; mungkin Tuhan sedang menumpuk kekayaan yang sementara tidak diberikan kepadamu, tetapi untuk anak cucumu yang harus kamu didik baik-baik. Ini semua ajaran penting di dalam Alkitab. Melihat orang kaya jangan iri, melihat orang cantik jangan iri, melihat orang pintar jangan iri, melihat orang berkuasa jangan iri. Tetapi justru karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa, hal-hal ini selalu membuat  kita iri dan menjadi sumber dan penyebab peperangan dunia. Mulai dari merebut kekayaan, kecantikan, kepintaran dan kekuasaan, inilah hal-hal yang mengakibatkan kita iri dan mau merebut kemuliaan.

Bersambung…

Diambil dari buku  Pdt. Dr. Stephen Tong , DLCE:  Pengudusan Emosi (Hal 161 s.d 176)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube