Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Firman Tuhan : Ibrani 1:10-11

Minggu lalu kita sudah membahas tentang Kerajaan Tuhan dan tongkat pemerintahanNya yang tidak berubah. Cara pemerintahanNya menjadi contoh bagi semua pemerintah. Dia mencintai keadilan, kebenaran dan membenci kejahatan. Itu sebabnya Allah mengurapi Dia dengan minyak sukacita, yaitu Roh Kudus, dan memberi kekuatan kepadaNya. Di awal pembahasan Ibrani ini kita membahas tiga relasi yang terdapat di Ibrani 1:

  1. Relasi antara Kristus dengan Allah Bapa. Dialah cahaya yang keluar daripada terang Tuhan itu sendiri. Wujud dari esensi Allah yang mewahyukan Allah. Jadi relasi antara Kristus dengan Sang Bapa adalah: Dia adalah Pewahyu.
  2. Relasi antara Kristus dengan dunia ciptaanNya. Dia adalah Pencipta, Penopang, dan Pewaris segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta.
  3. Relasi antara Kristus dengan gereja yang ditebusNya. Dia adalah Penyuci dosa yang telah menang atas dosa. Penebus bagi orang Kristen.

Di ayat 10-12, penulis sekali lagi menjelaskan akan relasi antara Kristus dengan dunia yang diciptaNya. Waktu penulis membandingkan Kristus dengan para malaikat, dia melukiskan malaikat bagaikan angin, bagaikan api yang tidak menetap. Sedangkan Kristus memiliki tahta dan tongkat pemerintahan yang tetap sampai selama-lamanya. Sekarang waktu penulis membandingkan Kristus dengan alam semesta, dia berkata, pada mulanya ya Tuhan, Engkau telah meletakan dasar bumi dan langit adalah buatan tanganMu. Semuanya akan binasa, tetapi Engkau tetap ada. Terlihat di sini, perbedaan antara Kristus dengan langit dan bumi. Langit dan bumi dicipta, ditetapkan dasarnya oleh Dia, tapi suatu hari nanti, langit dan bumi akan lenyap. Hanya Kristus, Pencipta yang akan tinggal tetap sampai selama-lamanya (ay. 11).

Ay. 10-12 ini dikutip dari Mazmur 102:26-29, namun pemazmur sendiri tidak menyadari bahwa yang diwahyukan kepada mereka itu adalah oknum kedua dari Allah Tritunggal. Karena wahyu yang diberikan kepada para nabi di Perjanjian Lama (PL) itu masih samar, sampai di Ibr. 1:10-12 baru menjadi jelas.

Di P.L. kepastian bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi masih samar-samar. Sampai di Perjanjian Baru (PB) barulah kita diyakinkan bahwa Allah Anak adalah media yang dipakai untuk menciptakan langit dan bumi (Kol. 1:26), segala sesuatu dicipta through Him and for Him. Dengan lain perkataan, Allah Bapa memakai Allah Anak sebagai Perantara di dalam creatio ex nihilo; to create everything from nothingness.

Apakah perbedaan antara sang Pencipta dengan yang dicipta? Yang dicipta disebut alam semesta, bersifat materi, sedangkan Pencipta bukan bersifat materi. Allah telah menciptakan alam semesta yang bersifat materi, tapi Allah sendiri pasti dan mutlak bukan materi. Jadi, sifat superior, sifat unik yang melampaui segala ciptaan ada pada diri sang Pencipta.

Waktu kita menginjili, kadang-kadang kita bertemu dengan kaum intelektual bodoh yang berkata, coba tunjukkan Allah kepadaku, maka aku akan percaya. Allah adalah Allah. Allah tidak berada di dalam wilayah penglihatan mata kita yang bersifat materi. Jika Allah bisa dilihat, Dia adalah Allah yang terbatas, bukan Allah yang transenden. Tapi karena dia tidak mengerti sifat Allah, maka dia mengajukan pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan anak kecil, “Allah itu dari mana?” Pertanyaan itu mengindikasikan ada satu tempat yang bernama “mana” dan Allah keluar dari sana.

Tapi mungkinkah Allah yang tidak terbatas datang dari tempat yang terbatas? Tentu tidak. Part plus part plus part & ellipsis; can never bigger than the totality. Jika Allah memang tidak terbatas, mengapa kita memasukanNya dengan paksa ke dalam yang terbatas lalu menginginkan Dia keluar dari yang terbatas? Itu tidak mungkin dan tidak logis sama sekali.

Kaulah yang menciptakan alam semesta, yang menegakkan fondasi bumi, kalimat ini memberikan pandangan kosmis yang melampaui semua pemikiran orang Gerika. Pada zaman surat Ibrani ditulis, orang Gerika banyak menulis tentang heavens, banyak berbicara soal metafisika, fisika, kimia, alam semesta, solar sistem, dan lain-lain. Konsep mereka tentang kosmos adalah konsep yang sangat tertutup. Alam berada dengan sendirinya, sanggup mencukupkan dirinya sendiri, mempunyai modal yang cukup untuk memberi jawab kepada siapapun yang mau mencari kebenaran, dan merupakan sasaran yang terakhir. Dengan begitu orang Gerika menjadikan dirinya sebagai subyek dan alam semesta sebagai obyek.

Mereka memikirkan, menganalisa, lalu katanya, inilah alam semesta. Apa yang dimaksud “ini?” Tulisan penyelidikan, hasil pengamatan, konklusi dari hasil studi mereka. Namun bisakah pengertian yang mereka dapatkan itu salah? Bisa saja. Hal itu terbukti dari pemberian Nobel Prize kepada orang-orang yang menemukan kesalahan-kesalahan atau hal-hal yang belum ditemukan para pendahulunya di bidang fisika dan itu berlangsung setiap tahun.

Artinya, kebenaran science belum merupakan kebenaran yang mutlak, melainkan pengetahuan manusia terhadap alam semesta yang semakin hari semakin bertambah dan berubah. Berubah dari hal apa? Dari pengertian yang tadinya kurang tepat menjadi lebih tepat, dari yang tadinya kurang menyeluruh menjadi lebih menyeluruh. Apakah berarti sudah mutlak tepat? Tidak. Maka orang yang hanya mau percaya science dan tidak mau Tuhan adalah orang yang bodoh.

Kecepatan sinar yaitu tiga ratus ribu kilometer per detik. Jadi kalau kita menggunakan lampu senter laser menyorot ke bulan, kapan terang itu terlihat di bulan? Tidak sampai dua detik. Sedangkan untuk menyorot ke matahari, memerlukan waktu kira-kira delapan menit tiga belas detik. Karena jarak matahari ke bumi adalah seratus lima puluh juta kilo meter. Maka matahari yang kita saksikan sebenarnya adalah sinar matahari dari delapan menit tiga belas detik yang lalu.

Jadi Ibrani pasal 1 telah menerobos pengertian orang Gerika yang berbentuk closed system, karena dikatakan dengan tegas di sini alam semesta bukan ada dengan sendirinya melainkan ada Penciptanya. Orang Gerika memikirkan apakah perubahan yang ada di alam itu sungguh-sungguh terjadi atau hanya merupakan gejala saja. Hasilnya, filsafat Gerika terbagi menjadi dua:

  1. Philosophy of Being. Dimulai oleh Zeno dan Parmenaides. Segala sesuatu tidak berubah.
  2. Philosophy of Becoming. Dimulai oleh Heraclitos. Tidak ada satu pun yang tidak berubah. Misalnya meja, sepertinya tidak berubah, padahal dalamnya sudah dihuni rayap, sudah mulai berubah. Sampai suatu hari, ketika rayap merajalela, meja akan ambruk secara mendadak.

Di Ibr. 1:10-12 kita menemukan jawabannya. Hanya Tuhan yang tidak berubah, sedangkan alam semesta, istri atau suami, guru atau murid, materi atau harta semuanya dapat berubah. Jadi, di dunia ini terdapat dua hal. Yang berubah dan yang tidak berubah.

Dari bagian ini juga kita tahu, kita hidup di dalam dunia yang sementara, tapi kita memiliki Tuhan yang menjadi dasar yang memberikan kekuatan pada alam semesta, dan kita harus beriman kepadaNya. Jika kita melihat dunia yang berubah sebagai sasaran terakhir, tidak memandang kepada Dia yang tidak berubah, kita akan kehilangan arah.

Di sini terdapat sebutan “Engkau.” Dimanakah tempat semayam Dia yang disebut “Engkau?” Tempat yang kekal, yang tidak berubah, tahta Tuhan Allah sendiri. Kalau kita memahami ay. 8-9 terlebih dahulu baru memahami ay. 10-12, kita akan menjadi orang yang stabil. Karena kita tahu Dia adalah Allah, Pencipta yang tidak berubah, tahtaNya juga tidak berubah. Dia juga memiliki karakter yang bisa menjadi contoh bagi kita, bahkan Dia juga sasaran akhir kita. Barangsiapa beriman kepadaNya, hidupnya tidak akan goyah untuk selama-lamanya.

Siapakah Yesus Kristus? Ya Tuhan, Kaulah yang menciptakan langit dan bumi. Kaulah yang meletakan fondasi bumi. Orang dulu tidak mengerti bumi ini apa. Tetapi Alkitab mengatakan di dalam kitab Ayub, bumi tergantung di tengah kekosongan, tidak ada yang menopang di bawahnya. Jadi Kitab Suci adalah satu-satunya buku yang melampaui zaman, lebih cepat menyatakan kebenaran Allah dibandingkan dengan penemuan manusia.

Di kitab Ayub 39 terdapat satu bagian yang sangat ajaib: ada cahaya, yaitu cahaya matahari, yang tahu akan tempatnya sendiri. Karena cahaya itulah bumi menyatakan diri bagaikan guci yang diberi cap. Apa maksudnya? Setelah seorang penjunan membuat sebuah guci, dia harus meletakannya di atas alat yang berputar, semakin cepat putarannya, tangan yang membentuk guci itu akan bekerja semakin lincah, dan gucipun menjadi begitu rapi. Setelah guci itu kering, tibalah saat untuk dilukis. Ada dua cara untuk melukis di atas guci. Pertama, dengan menggunakan tangan. Yang kedua, dengan menggunakan cap.

Waktu mencap, guci harus diputar secara perlahan sambil sambil dibubuhi cap. Jarak antara cap dengan cap sudah diukur sebegitu rupa, sehingga semua cap tercetak rapi sekali. Begitulah bumi yang berputar dicap dengan cahaya matahari.

Adapun yang dimaksud dengan fondasi bumi adalah prinsip-prinsip dasar yang Allah tetapkan, yang membuat alam semesta menjadi seperti apa adanya. Mengapa jarak antara matahari dan bumi bukan lima puluh ribu atau lima juta kilometer? Jika jarak bumi sepersepuluh persen lebih dekat dengan matahari, kita akan hangus terbakar. Jika jaraknya lebih jauh sedikit saja, kita akan menjadi beku. Ketepatan seperti itu ditetapkan oleh siapa? Logos.

Logos yang menjadi dasar bagi logi-logi yang lain. Siapakah Dia? Kristus. Jadi melalui Kitab Suci kita menyaksikan adanya prinsip yang Allah pakai untuk menjadi dasar bagi segala sesuatu yang diciptaNya. Prinsip itu adalah Kristus sendiri, itu sebabnya bijaksana terdapat di mana-mana, karena ciptaan Allah mengandung bijaksana di dalamnya.

Pemazmur mengatakan, bijaksanalah yang menjadikan segala sesuatu. Di Alkitab hanya satu tempat mencatat tentang bijaksana yang berbicara dengan otoritas orang pertama, yaitu Amsal 8:20-31. Di dalam seluruh kitab Amsal, istilah bijaksana selalu disebut sebagai dia tetapi di bagian ini, bijaksana menyebut diri sebagai aku. Siapakah ku di sini? Bijaksana yang menjadi arsitek, perancang alam semesta. Siapakah Dia? Kristus, oknum kedua dari Allah Tritunggal sebelum datang ke dunia.

Ayat 10-12 mengakui, ada yang berubah, ada juga yang tidak berubah. Apa yang berubah? Dunia ciptaan. Siapa yang tidak berubah? Tuhan sang Pencipta. Bagaimanakah Tuhan menciptakan dunia ini? Dengan menopang dunia ini dengan prinsip-prinsip dasar yang tidak berubah, namun dunia ini adalah dunia yang berubah, yang tidak kekal, yang akan berlalu dan lenyap. Itu yang dikatakan ayat 10.

Ayat 11-12. Apa yang dimaksud dengan tahun-tahun? Berputarnya bumi, pertukaran musim adalah yang disebut tahun-tahun, tetapi Tuhan yang berada di atas tahtaNya, tahun-tahunNya tidak berubah. Ayat 12, semua yang bersifat materi akan dibakar lenyap (2 Petrus 3), di dalam bahasa Grikanya mirip dengan meledaknya bom atom. Jadi ketika waktu yang Tuhan tetapkan telah tiba, dunia akan diizinkan meledak bagaikan dibom dengan bom atom dan lenyap sama sekali. Semua akan lenyap, seperti pakaian yang digulung, artinya, bagi Tuhan, dunia serta segala nafsu dunia ini akan lenyap, hanya mereka yang menjalankan kehendak Allah tinggal tetap sampai selama-lamanya.

Baca 1 Yohanes 2:15-17. Terjemahan lain dari ayat 16, nafsu daging, nafsu mata dan kesombongan masa hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Adapun wawasan Kristen adalah dunia ini dicipta, dunia ini berubah, dan akhirnya dunia ini akan lenyap.

Tuhan menetapkan dasar dunia dengan memberikan dalil-dalil di dalamnya sehingga bijaksana Tuhan nyata di dalamnya, namun hanya Tuhan saja yang kekal. Ayat 12, tahun-tahun yang tidak berkesudahan dimengerti sebagai hidup kekal yang Tuhan janjikan kepada orang yang pernah hidup di dalam dunia yang sementara dan berubah ini tapi berpegang pada Dia dan menjalankan kehendakNya.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong (13 Februari 2000)

Sumber : https://www.mriila.org/pustaka/eksposisi-ibrani/relasi-kristus-dengan-alam-semesta/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube