Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ibr. 11:13-16

Dalam 1 Kor. 13:13 Paulus memberitahukan, sekarang yang tinggal pada kita adalah iman, pengharapan dan kasih, di antara ketiganya kasihlah yang terbesar. Mengapa Paulus menyejajarkan ketiga hal itu? Mengapa ketiganya disebut sebagai hal yang masih tinggal pada kita? Karena ketiganya adalah unsur yang amat penting dari kerohanian kita. Dengan perkataan lain, kehidupan rohani orang Kristen dibangun di atas dasar iman, pengharapan dan kasih. Mengapa demikian? Karena “tanpa iman, tak seorang pun bisa diperkenan oleh Allah” artinya: dengan iman kita datang ke hadapan Tuhan. Iman adalah mengakhiri peperangan, pergumulan pribadi lalu bersandar pada keselamatan yang Allah sediakan di dalam Kristus. Iman berarti tidak lagi mencoba memperkenan hati Tuhan dengan jasa kita, iman berarti kita tidak datang ke hadapan Tuhan dengan kelakuan kita, iman berarti kita bersandar pada keselamatan yang telah digenapkan oleh Tuhan Yesus. Maka iman adalah dasar yang paling penting dalam kekristenan. Iman jugalah yang membedakan kekristenan dari agama-agama lain. “Tanpa iman tak seorang pun bisa diperkenan Tuhan” melalui iman kita menang atas dunia ini.

Pengharapan berasal dari iman kita kepada kesetiaan Tuhan. Dengan kata lain, kesetiaan Tuhan adalah dasar dari pengharapan kita, dan janji Allah yang didasarkan atas kesetiaan-Nya adalah jaminan bagi pengharapan kita. Karena iman kita menang atas dunia ini, karena pengharapan kita dimampukan untuk mengarahkan pandangan kita pada dunia yang lain. Maka setelah kita beriman, kita segera masuk pada tahap pengharapan. Yang kita harapkan bukanlah dunia yang nampak ini, karena dunia yang nampak sementara adanya, sedangkan dunia yang kekal adalah dunia yang tidak nampak. Apakah yang membawa kita menemukan dunia yang tidak nampak? Pengharapanlah. Jadi, iman menghasilkan pengharapan dan pengharapan membawa kita mengarah pada kekekalan. Dengan demikian, iman memampukan kita menang atas dunia ini dan pengharapan memampukan kita melintasi dunia ini melihat akan dunia yang ada di sana, itulah yang membuat kita tidak terlalu mengutamakan dunia yang nampak ini.

Iman dan pengharapan memampukan kita melalui hidup rohani yang melampaui hidup di dunia ini. Baru setelah itu timbul hal yang ketiga: kasih. Setelah kita mempunyai iman, kita mampu menang atas dunia ini. Setelah kita memperoleh pengharapan, kita mampu melihat dunia yang ada di atas dunia ini dengan jelas. Setelah kita memiliki kasih, kita mampu menoleh ke belakang untuk memulihkan dunia ini. Puji Tuhan, tidak ada satu agama pun yang sanggup mengungkapkan unsur rohani yang lebih jelas daripada apa yang diungkapkan oleh Alkitab. Belum pernah ada satu filsafat yang mengajarkan kepada kita tentang inti sari hidup rohani yang begitu limpah. Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang beriman kepada Allah. Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang memandang kehendak Allah dari tempat yang jauh. Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang menikmati kasih Allah dan membagi-bagikannya kepada orang lain.

Dua minggu yang lalu, kita sudah membahas tentang iman adalah suatu penerobosan. Minggu yang lalu, kita membahas tentang iman adalah suatu pelampauan. Pengharapan memampukan kita melampaui siksaan waktu, melampaui proses penderitaan. Orang yang hidupnya lancar merasa waktu berlalu dengan begitu cepat, tapi orang yang sedang menderita merasa waktu adalah penyiksa yang kejam. Tatkala kita mampu melampaui siksaan waktu, barulah kita menikmati substansi kekekalan. Maka tidak heran hanya di dalam kekristenan terdapat begitu banyak musik yang agung. Karena musik memampukan seorang yang hidup di dalam waktu menikmati sesuatu yang melampaui waktu. Musik merupakan seni daripada waktu, juga merupakan seni yang melampaui waktu.

Allah menganugerahkan pengharapan kepada kita, maka orang Kristen yang hidupnya dekat dengan Allah waktu menaikkan puji-puji lupa akan berlalunya waktu, karena dia sedang menikmati kekekalan. Yang dimaksud tentu bukan semacam pelarian, karena faktanya orang Kristen yang sudah beriman masih tetap hidup di dalam dunia yang real, tapi dia pun mampu melalui hidup rohani secara nyata. Sebab itu, orang Kristen bukan lari dari realita melainkan melampaui realita dan kemudian mengubah realita. Seorang yang berpengharapan tidak dibelenggu oleh kenyataan hidup masa sekarang, karena dia mampu melihat dua realita: adanya masa kini dan adanya otoritas kekekalan. Orang yang hanya mengutamakan realita masa kini adalah penganut materilisme, tapi orang yang mampu memandang akan adanya otoritas kekekalan adalah orang yang berpengharapan. Paulus berkata, kita bukanlah orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan. Itu sebabnya, tatkala orang kafir kehilangan anggota keluarga atau orang yang paling mereka kasih akan menangis begitu rupa, karena mereka tidak mempunyai pengharapan. Tapi kata Paulus, kamu bukanlah orang-orang yang seperti itu, mengapa kamu bersedih seperti layaknya orang-orang yang tidak berpengharapan? Tidakkah kamu tahu, bahwa kita adalah orang-orang yang berpengharapan? Allah mengambil orang-orang yang kita kasihi adalah lebih dahulu membawa mereka ke tempat yang kekal, yang bahagia, saat itu, mereka berhenti dari segala pergumulan hidup untuk menikmati sukacita di dalam ribaan Allah yang kekal. Sebab itu, bagi orang Kristen, baik hidup atau mati, baik hidup yang sekarang ataupun hidup yang akan datang, baik yang nampak ataupun yang tidak nampak, kita sudah menang bahkan menang dengan gemilang atas semua itu. Karena tak seorang pun sanggup memisahkan kita dari kasih Allah, kasih yang berada di dalam keselamatan Yesus Kristus. Dengan demikian, orang Kristen adalah orang yang berpengharapan.

Dari manakah datangnya pengharapan?

1. Pengharapan datang dari iman yang sejati dan iman yang sejati datang dari firman.

Jadi firman Tuhanlah dasar bagi iman kita, dan iman itulah yang membawa kita menaruh harap pada rencana Allah yang kekal. Ini adalah sirkulasi yang baik, sirkulasi yang indah. Istilah iman di dalam Bahasa Yunaninya disebut pistos, di dalam bahasa Latinnya disebut fide. Apa artinya? Yang setia, yang sejati, yang bisa diandalkan. Kalau seorang berkata “Aku beriman” “apa yang kuimani?”, “Allah yang setia, yang sejati, yang bisa diandalkan”. Karena Allah itu sejati, Allah itu setia, Allah itu bisa diandalkan, sebab itu aku percaya kepada-Nya. Kalau Allah berdusta, kalau Allah mengatakan sesuatu yang hampa, tidak berarti, bukankah imanku kepada-Nya sia-sia adanya? Tapi sebaliknya, karena firman Allah adalah sejati, maka bila aku tidak menaruh imanku pada firman-Nya, bukankah itu berarti aku bodoh adanya? Sebab itu, Allah yang sejati dan firman yang sejati adalah dasar di mana kita membangun iman yang sejati. Itu membuktikan istilah iman dan firman yang terdapat di dalam Alkitab mempunyai kaitan satu dengan yang lain. Puji Tuhan!

Mengapa iman bisa menghasilkan pengharapan? Kalau iman kita sudah dibangun di atas kesetiaan dan kesejatian Allah, yang berjanji pasti akan menggenapi semua yang tertulis di dalam firman-Nya, itu artinya kita berpengharapan. Allah bukan hanya Allah yang setia dan sejati, Dia juga merupakan Allah yang berfirman kepada manusia. Berbeda dengan ilah-ilah palsu yang berada di dalam kuil, mulutnya tidak bisa berbicara, matanya tidak bisa melihat, telinganya tidak bisa mendengar, karena Alkitab lebih dari 6.000 kali menuliskan: Allah berfirman, Allah berfirman, Tuhan berfirman, artinya Allah kita adalah Allah yang berfirman dan tak satu kalimat pun yang Allah ucapkan tidak disertai dengan kuasa. Firman-firman Allah itu disatukan dan terbentuklah Alkitab P.L. dan P.B. dengan lain perkataan, Allah kita adalah Allah yang memberikan janji-Nya kepada kita. “Tuhan, siapakah nama-Mu?” jawab-Nya, nama-Ku Yahwe. Apa arti Yahwe? Allah yang ada sejak dulu dan yang akan ada sampai selama-lamanya itu memberikan janji-Nya kepada manusia. Apa yang dimaksudkan dengan janji? Dia telah menetapkan rencana-Nya bagi kita, lalu memberitahunya kepada kita dan menjamin pasti akan menggenapinya.

2. Pengharapan datang dari janji Allah.

Allah memberikan janji-Nya kepada kita: Aku akan berbuat ini, berbuat itu. Istilah yang dipakai untuk janji:

  1. Testament, sesuatu yang berhubungan dengan testimony.
  2. Covenant, dengan nyawanya memberi jaminan bahwa apa yang dikatakan itu benar adanya.
  3. Promise, gabungan dari dua istilah Latin: pre (yang kemudian berubah menjadi pro) dan mission (yang kemudian berubah menjadi mise), gabungan dari pre dan mission itu kemudian berubah menjadi Promise. Mempunyai arti yang sangat dalam: sebelum Allah meletakkan misinya ke atas bahumu, Dia terlebih dahulu memberitahukan sesuatu kepadamu; before the mission is given to you, God had told you something previously. Sebab itu, sebelum seorang menerima misi dia sudah terlebih dahulu menerima janji Allah.

Ada sebagian orang Kristen yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan apa-apa bagi Tuhan, ada sebagian orang Kristen sudah memberi sedikit bagi pekerjaan Tuhan, ada juga orang-orang penting di dalam sejarah gereja, sebelum terjadi sesuatu sudah terlebih dahulu menemukan janji Allah dan mereka melakukan pekerjaan Tuhan dengan penuh keberanian. Mengapa? Karena mereka yakin, Allah yang mereka percaya adalah Allah yang memberikan pengharapan kepada manusia, Allah yang berfirman dan memberikan janji-Nya kepada manusia. Maka sebelum Allah menyerahkan tugas kepada mereka, Dia sudah terlebih dahulu memberikan janji-Nya kepada mereka. Jadi seorang yang mempunyai visi adalah seorang yang mengemban pre mission, seorang yang akan, melaksanakan misi itu dengan berani. Dengan cara seperti itulah pekerjaan Tuhan digenapkan.

Allah menjadikan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada, Allah membangkitkan orang dari kematian, perubahan itu bukanlah perubahan yang dibahas oleh teori Evolusi — terus berkembang — melainkan perubahan yang terjadi secara mendadak, yang dilakukan oleh Allah sendiri. Dalam proses Evolusi, jika tidak terjadi perubahan yang mendadak, tidak mungkin terjadi kemajuan, itu sebabnya, mereka yang berpegang pada teori Evolusi percaya bahwa perubahan yang mendadak membuahkan kemajuan. Namun ironisnya, ilmiah membuktikan: perubahan yang mendadak justru membuahkan kemunduran. Contohnya: ketika tubuh manusia yang terus menerus mengalami perubahan secara konsisten itu mampu mencapai usia lanjut, itu disebut panjang umur. Tetapi tatkala di dalam tubuh manusia terjadi suatu perubahan yang mendadak, itu tandanya dia terserang penyakit kanker. Itu sebabnya teori Evolusi dibangun di atas dasar ketakhyulan, hanya perubahan mendadak yang dicatat di dalam firman Allah adalah kemajuan yang sejati: sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada, orang mati dibangkitkan adalah pekerjaan Tuhan yang mendadak, yang berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lain.

Puji Tuhan! Karena Dia adalah Allah yang memberikan janji, itu sebabnya, berpegang pada janji Allah membuat pengharapan kita terjamin.

3. Pengharapan datang dari penderitaan.

Ini merupakan satu hal yang sulit dipahami, tetapi begitulah ajaran yang Alkitab berikan kepada kita: penderitaan mendatangkan ketekunan, ketekunan mendatangkan tahan uji, dan tahan uji mendatangkan pengharapan. Di sini kita temukan empat langkah: penderitaan, ketekunan, tahan uji, pengharapan. (Baca Rm. 5:2-3).

Mengapa penderitaan bisa menghasilkan ketekunan? Karena manusia yang, tidak pernah menderita ingin serba terburu-buru. Ada hal-hal tertentu meski kita tidak sabar lagi menantikannya tetap harus menanti. Contohnya: mungkinkah kalau kau berkata kepada isterimu, sudah sejak lama saya ingin punya anak, sekarang saya sudah menikah, bulan depan kau harus melahirkan seorang anak. Tentu tidak mungkin, bukan? Kau harus menunggu dia hamil. Kalau isterimu baru hamil satu bulan mungkinkah bulan depan dia melahirkan anak? Tidak mungkin. Kau harus sabar menunggu sampai sembilan bulan. Bagaimana tergesa-gesa pun tidak ada gunanya, harus menanti dengan tekun. Apakah nilai dari penderitaan? Allah menginginkan kita belajar bersabar. Adakah semua kesabaran bernilai? Saya membagi ketekunan ke dalam dua kategori:

  1.  Untukhal yang membutuhkan ketekunan, janganlah kau lakukan dengan tergesa-gesa.
  2. Untuk hal yang tidak penting, kau tidak perlu bertekun.

Contohnya: ketika saya akan berkhotbah di Hong Kong, kau berkata, pak Tong, jangan naik pesawat, naik kapal laut saja, biar bapak belajar bersabar. Maka kalau saya harus berkhotbah 2 jam pada tgl 2 April, saya perlu menghabiskan enam hari di kapal laut untuk menuju ke sana, dan setelah selesai khotbah, memerlukan enam hari lagi untuk kembali. Kesabaran seperti itu adalah kesabaran yang tidak ada artinya. Apalagi tiket pesawat juga tidak lebih mahal dari tiket kapal, selain itu, dua belas hari perjalanan itu sebenarnya bisa saya pakai untuk melakukan banyak hal. Meskipun demikian, kesabaran yang berarti, khususnya kesabaran yang dibutuhkan dalam prinsip pertumbuhan, tidak boleh tidak kita miliki. Waktu kau menyaksikan seorang Kristen yang baik sekali rohaninya: kata-katanya selalu membangun orang, lalu kau berkata, saya ingin menjadi seperti dia dalam waktu dua hari. Itu tidak mungkin. Tahukah kau bahwa Allah pernah memberinya pengalaman menderita selama 20 tahun, selama itulah kerohaniannya bertumbuh perlahan-lahan sampai menjadi begitu berlimpah, jiwanya menjadi begitu mantap, pemikirannya menjadi begitu teliti. Sebab itu, ada kesabaran yang tidak kita butuhkan namun ada juga kesabaran yang tidak boleh tidak kita miliki. Kita perlu membedakan: kesabaran mana yang bernilai.

Kesabaran-kesabaran yang bernilai selalu mempunyai hubungan yang positif dengan penderitaan, apa sebabnya? Karena kesusahan membuat seseorang tahan menderita, memupuk kekuatan batinnya menjadi semakin kuat. Bagaimana bentuk huruf kesusahan di dalam bahasa Mandarin? Serentetan perkara menusuk hati kita, sebab itu, kita perlu belajar bersabar dalam kesusahan bukan? Bagaikan bentuk huruf kesabaran di dalam bahasa Mandarinnya? Menusukkan belati yang tajam di jantung. Tentu saja, apa yang baru saya ungkapkan adalah menganalisa huruf Mandarin bukan menelaah Alkitab, karena Alkitab yang asli bukan ditulis dalam bahasa Mandarin. Namun di dalam pemikiran orang Tionghoa terdapat konsep ini: seorang yang sabar kekuatannya besar sekali. Keberanian orang yang memukul orang belum bisa dibilang besar, karena keberanian orang yang dipukul tapi masih bisa menahan diri lebih besar dari padanya.

Dari manakah datangnya pengharapan? Kesusahan mendatangkan ketekunan, setelah bisa tekun satu kali, dua kali, tiga kali, lambat laun bisa tahan uji. Masih ingatkah anda saat menantikan kelahiran anak pertamamu begitu tegang? Kali pertama menjadi ibu juga tegang: Saya mempunyai seorang famili, waktu baru punya seorang anak, kaleng susu yang sudah kosong pun tidak boleh dibuang, katanya, ini adalah kaleng- kaleng susu yang diminum anak pertama saya. Setahun kemudian, ratusan kaleng susu menumpuk di sana, barulah dia sadar, rumah saya jadi tidak karu-karuan, barulah dibuangnya. Ketika anak pertama mimisan serasa dunia hampir kiamat, telpon ke sana ke mari, mencari dokter, membuka kamus, menanyakan kepada tetangga, apa yang bisa saya lakukan? Tapi ketika anak keduamu mengalami hal yang sama, kau akan berkata dengan santai, tidak apa-apa, sebentar lagi darah akan berhenti dengan sendiri. Ketika anak yang ketiga mengalami hal yang sama, kau tidak menghiraukannya. Ketika anak yang keempat mengalami hal yang sama, kau hanya berkata, sana, minta tolong kepada kakakmu. Ketika anakmu yang kelima mengalami hal yang sama, kau bahkan memukul meja sambil berkata, kalau mau mimisan di luar saja, jangan di dalam kamar, coba lihat, karpetnya menjadi kotor. Mengapa begitu? Karena kau sudah terbiasa menghadapi hal itu. Orang yang sudah banyak mengalami kesusahan, meski kesusahan lain menimpa dirinya, dia juga tidak ambil pusing. Waktu saya masih kecil, kadang-kadang saya merasa ibu kurang memberi perhatian kepada saya, tetapi setelah saya dewasa, saya mulai memahami: ibu saya sudah menjanda pada waktu dia baru berusia 33 tahun, maka dia harus merangkap peran sebagai ibu juga sebagai ayah, begitu sibuk, mana ada waktu untuk memperhatikan ke delapan orang anaknya? Tatkala pengalaman hidup saya sudah semakin bertambah, saya memahami: ibu saya tahu hal-hal mana yang dia perlu pedulikan dan hal-hal mana yang tidak perlu terlalu dipedulikan. Karena dia sudah terlatih. Sebab itu, orang yang belum pernah mengalami kesusahan, waktu kesusahan datang dia menjadi begitu tegang. Tapi orang yang sudah sering mengalami kesusahan, meski menghadapi kesusahan yang besar sekalipun masih tampak tenang luar biasa.

Kesusahan mendatangkan ketekunan, ketekunan mendatangkan tahan uji, tahan uji mendatangkan pengharapan. Dari manakah datangnya pengharapan? Dari iman. Dari manakah datangnya pengharapan? Janji Allah. Dari manakah datangnya pengharapan? Kesusahan. Puji Tuhan! Setelah seorang mempunyai pengharapan, kuasa apa yang dia miliki? Orang yang berpengharapan adalah orang yang aktif, yang kuat. Di dunia ini ada dua macam manusia: ada yang belajar berani melalui penderitaan yang dialaminya, ada juga yang setelah mengalami begitu banyak penderitaan malah menjadi penakut. Pernahkah kau tahu ada sebagian orang yang semakin tua semakin takut ini, takut itu: takut kalau-kalau ada orang jahat atau pencuri datang, sebab itu, pintunya harus dipasangi tujuh, delapan buah kunci baru berani tidur, sebagai akibatnya: dia tidak berani melakukan apa-apa. Di dunia ini hanya ada dua jenis manusia:

  1. Melakukan apa pun pasti ada kesulitan, jadi sebaiknya tidak melakukan apa-apa.
  2. Kesulitan apa pun terjadi pasti ada jalan keluarnya.

Mana yang lebih baik? Yang kedua. Permisi tanya: anda termasuk yang mana? Yang ketiga. Apa itu yang ketiga? Tidak peduli kedua-duanya. Sesungguhnya, di dunia ini hanya ada dua jenis konsep:

  1. Harus membuahkan hasil — kesulitan apa pun menghadang, saya tetap mengerjakannya.
  2. Perlu mengamankan diri — kalau bertemu kesulitan, saya pasti akan berhenti.

Suatu kali, di Hong Kong, ada dua orang Pendeta berdiskusi: yang seorang berkata, mari kita berjuang untuk menyukseskan hal ini. Karena inilah pekerjaan yang dikehendaki Tuhan. Yang lain menjawab: saya tidak mau melakukannya, karena dari kecil sampai sekarang saya sudah menetapkan: hal-hal yang sedikit tidak menguntungkan tidak akan saya lakukan. Setelah mendengar jawabannya, pendeta yang pertama jadi bengong, dia mencari saya dan berkata, pak Tong, sungguh tidak terbayang, saya telah mendapatkan rekan kerja yang seperti itu: “hal- hal yang tidak menguntungkan saya tidak akan saya lakukan”. Sebagai manusia pun, rasanya tidak boleh bersikap seperti itu, apalagi sebagai orang Kristen. Kalau orang Kristen saja tidak pantas bersikap seperti itu, apalagi seorang pendeta. Sungguh kasihan!

Maukah kau mencapai kesuksesan? Harus punya keberanian. Haruskah menghadapi kesusahan? Biar lebih tahan uji dan lakukanlah dengan penuh pengharapan. Pasti ada kesulitan, namun tidak ada satu kesulitan yang tidak ada jalan keluarnya. Dengan semangat seperti itulah saya melayani Tuhan 41 tahun. Kadang-kadang saya merasa sudah terlalu letih, saat itu, saya akan berkata kepada diri sendiri, memang sudah tiba pada masa pensiun, tetapi saya masih ingin melayani. Lelah itu normal, tapi kalau saya mampu meneruskan itu adalah supra normal. Alkitab mengatakan, meskipun lelah, teruslah mengejar. Saya berharap semangat seperti ini bisa menjalar pada hamba-hamba Tuhan yang lain, juga menjalar pada para majelis, penatua, dan setiap kita. Kalau Tuhan masih memberikan 10 tahun kepada saya, saya berharap dalam sepuluh tahun itu kita bisa membeli sebuah tempat untuk institut di Amerika. Kalau Tuhan kehendaki, saya akan merintis beberapa gereja di Amerika. Setelah membina para penerus di tempat ini, maka gereja di sini akan menjadi mode dalam menelaah Alkitab secara ketat, mengutamakan berita firman Tuhan yang disampaikan di mimbar, memelihara iman kepercayaan yang murni, bobot rohani yang mantap, tidak mengenal kompromi dalam membangun hidup rohani orang Kristen. Kalau Allah masih memberikan umur panjang kepada saya, maka pada saat daratan Tiongkok sudah ada perubahan-perubahan, saya berharap, sebelum saya tutup usia masih sempat mengadakan KKR besar di kota-kota besar Tiongkok. Hidup saya penuh dengan pengharapan, tak peduli betapa sulitnya situasi kita, keadaan ekonomi kita, yang penting iman kita tidak berubah, pengharapan kita tidak berubah, di hari-hari yang akan datang, biarlah sejarah sendiri yang membuktikan kita adalah orang-orang yang pantang menyerah kepada dunia.

Pengharapan menghasilkan kuasa yang begitu besar, yang membuat kita mampu untuk maju terus. Apa lagi yang dihasilkan oleh pengharapan?

  1. Membuat kita sadar bahwa hidup kita di dunia hanyalah sebagai musafir. Dunia ini bukan rumah kita yang kekal, sebab itu, tidak seharusnya kita mencurahkan semua pikiran, semangat dan kekuatan kita hanya bagi dunia ini saja, kita perlu mengadakan persiapan bagi hari depan. Mentalitas seperti ini hanya mungkin kau miliki, apabila kau sungguh menyadari dirimu adalah seorang musafir. Kita mempunyai pengharapan yang kekal. Itu sebabnya kita perlu membangun sistem konsep nilai yang kekal, juga perlu menghasilkan buah-buah yang bisa tinggal tetap sampai selama-lamanya. Pemikiran seperti itu yang mampu menyatukan pengharapan dan pelayanan kita.
  2. Memberi kekuatan yang ulet pada kita.Setelah memperoleh pengharapan hidup kita menjadi lebih sempurna. (Baca 2Kor. 1:8-11). Bagian firman Tuhan ini memberitahu kita, pengharapan bukan hanya membuat kita menyadari keberadaan kita di dunia hanyalah seorang musafir, pengharapan juga membuat kita menyadari bahwa kita tidak bisa bersandar pada diri sendiri melainkan harus bersandar pada Allah yang membangkitkan orang dari kematian. Di bagian firman Tuhan inilah Paulus mengemukakan keadaannya ketika berada di Asia, katanya, kalian semua tahu, kami menghadapi kesulitan, kami ditindas begitu rupa, kekuatan kami tidak mampu menanggulanginya, bahkan pengharapan untuk hidup pun sudah tidak ada lagi, kami sudah tidak mempunyai pengharapan, apa jadinya? Di dalam keadaan seperti itulah dia mendapatkan satu pengalaman: meskipun hatiku sudah memastikan: aku pasti mati. Tak jelas apa sebabnya, kita sering mengaitkan susah dengan kematian: susah setengah mati (bahasa Mandarin: susah sampai mati). Waktu kita mengalami kesusahan juga condong mengatakan, mati aku. Kalau sudah mati, mana bisa komentar? Meskipun kau berseru ‘mati aku’, kau masih hidup bukan? Paulus pun mempunyai pengalaman seperti itu: hatiku sudah memastikan, aku pasti mati. Adakah dia mati? Tidak. Mengapa? Karena dia masih punya pengharapan. Pengharapan membuatnya tidak bersandar dirinya sendiri, hanya bersandar kepada Allah yang membangkitkan orang dari kematian. Puji Tuhan! Maka seorang yang berpengharapan akan memutar arah hidupnya: kalau dulu dia bersandar pada dirinya, pada kepandaiannya sendiri, pada pengetahuannya, pada pengalamannya, pada talentanya, tapi sekarang dia menyadari, semua itu tidak dapat disandari, maka dia berbalik arah dan berkata, Tuhan, aku hanya bersandar kepada-Mu. Karena Engkaulah Allah yang membangkitkan orang dari kematian.
  3. Memberi sukacita. Paulus berkata, karena kami mempunyai pengharapan, maka kami menantikan datangnya hari itu dengan sukacita, meskipun kami berada di dalam kesusahan kami tetap bersukacita. Mana mungkin orang yang sedang menderita bisa bersukacita? Ada dua orang wanita yang sama-sama menggendong anak: yang seorang menggendong anaknya sendiri, yang lain menggendong anak majikannya. Berat badan anak yang digendong ibunya 6 kg; berat badan anak yang digendong pembantu hanya 5 kg. Mana yang lebih berat: anak yang mempunyai berat badan 6 kg atau anak yang mempunyai berat badan 5 kg? Tentu yang berat badannya 6 kg bukan? Namun mana yang merasa lebih berat? Yang menggendong anak 5 kg. Bagaimana mungkin? Karena yang dia gendong adalah anak majikannya bukan anaknya sendiri, maka kalau dia nakal bisa saja dicubitnya, kalau ibunya tidak melihat, bisa saja dipukulnya. Tetapi si ibu yang menjaga anaknya sendiri, meski dilihat orang atau tidak dilihat orang, dia akan terus menerus mengelus-elus kepala anaknya sambil berkata, kau anak manis, cepat besar ya! Mengapa bisa begitu berbeda? Karena si ibu mempunyai pengharapan: meski lelah menggendongnya dia adalah anakku. Sedangkan si pembantu tidak mempunyai pengharapan seperti itu, dia justru berpikir untuk apa saya berharap dia bertumbuh besar. Saya menggendongnya setengah mati, setiap bulan hanya diberi Rp. 200.000. Maka kalau ibunya tidak di rumah, letakkan saja di tempat tidur, biarkan dia menangis setengah hari, tidak usah dipedulikan. Bila dia mendengar ketukan pintu, tahu majikannya pulang, dia segera menggendong anak itu sambil mengatakan, sayang, sayang, sambil membukakan pintu. Dia mengerjakan pekerjaannya tanpa sukacita, karena dia tidak mempunyai pengharapan atas anak itu. Kalian yang sudah menjadi orang tua tentu memahami apa yang saya katakan ini. Setiap kali memandangi anakmu, kau tidak lagi mengeluh dirimu sudah tua, karena anak yang masih kecil, yang ganteng itu adalah wakilmu, meskipun harus menjadi tua pun kau rela. Tetapi bila kau tidak mempunyai anak, setiap kali bercermin dan menemukan dirimu semakin hari semakin tua, kau merasa tidak rela. Waktu kau melihat anakmu mempunyai anak dan kau menggendong cucumu, kau akan tertawa dengan begitu senang. Meski terasa berat kau tetap mau menggendongnya, semakin berat semakin merasa senang, “Lihat, cucuku begitu besar.” Apa yang menyebabkan semua itu? Pengharapan. Orang yang mempunyai pengharapan, meski berada di dalam penderitaan masih tetap mempunyai sukacita.
  4. Memiliki dinamika untuk melalui hidup yang suci. Seorang yang berharap kepada Tuhan akan menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang yang menantikan kedatangan Kristus tentu akan memelihara kesucian dirinya. Semua ini saling kait mengait. Mana ada orang yang sambil menantikan kedatangan Kristus sambil berbuat dosa dengan sengaja? Hari kedatangan Kristus sudah dekat, aku akan memelihara bajuku yang putih, supaya pada waktu aku menyambut Dia di tengah-tengah kemuliaan, tidak terdapat cacat cela. Saat pengantin wanita menantikan kedatangan pengantin pria, dia tentu mengenakan gaun pengantin yang putih. 10 Menit lagi pengantin pria akan datang, dilihatnya ada anak yang sedang main layang-layang, mungkinkah dia ikut main layang-layang dulu sampai pengantin prianya datang? Tidak mungkin. Karena 10 menit lagi pengantin pria akan datang, maka harus memelihara kebersihan gaunnya begitu rupa, tidak akan membiarkan barang setetes tinta menodai gaunnya, juga tidak akan membiarkan debu melekat di tubuhnya. Dia akan menyucikan diri sambil menantikan kedatangan pengantin prianya. Demikian juga setiap orang yang menaruh pengharapan pada Tuhan pasti akan memelihara kesucian dirinya. Adakah hidupmu tidak suci? Karena kau tidak mempunyai pengharapan. Adakah kau sungguh mempunyai pengharapan? Maka kau harus melalui hidup yang kudus. (Baca 1Yoh. 3:2-3). Kiranya Tuhan memberkati kita, agar kita yang mempunyai pengharapan ini berani melakukan pekerjaan Tuhan, melalui hidup yang kudus, sambil menantikan kedatangan Kristus yang kedua.(EL)

 

Sumber : https://www.sabda.org/lead/01/jun/2006/kepemimpinan_pengharapan_di_tengah_krisis

 

Judul Buku : Momentum 38 Desember 1998
Judul Artikel : Pengharapan Di Tengah Krisis
Penerbit : LRII
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 25-35

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube