Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Terkejut, itulah hal pertama saat membaca berita tentang kematian  seorang yang bernama Matthew Warren (27), bunuh diri dengan tembakan senjata api, demikian kata tim penyidik dari Orange County, Kematian anak bungsu Warren terjadi di kediamannya di Pradera Drive, Mission Viejo. Keterkejutan ini bukan tanpa alasan, karena Matthew Warren adalah putra bungsu dari Rick Warren seorang Pendeta ternama di Amerika Serikat dan Penulis buku terlaris The Purpose Driven Life (Hidup Yang Digerakkan).

Saya sudah mati rasa terhadap setiap komentar yang menjatuhkan, namun yang saya perdulikan adalah dengan peristiwa ini bagaimana seorang Rick Warren  yang disamping sebagai seorang ayah dan juga seorang pendeta besar mampu menghadapi hari-hari berikutnya jikalau dia tidak sepenuhnya berpegang pada Tuhan seperti semangat yang selalu  dituliskan dalam buku bukunya.

Yang saya pahami didalam kehidupan ini adalah jikalau sebagai manusia ciptaan kita bersandar dan takut akan Tuhan adalah suatu kepastian ada penghiburan disaat duka, ada rencana agung dibalik setiap peristiwa. Hal ini memaksa kita untuk menyadari bahwa kita adalah manusia yang dicipta (created), terbatas (limited), dan tercemar (polluted) hingga tak pantas untuk menjustifikasi suatu perkara ilahi.

Refleksi Kehidupan Keluarga

Jika kita memperhatikan fenomena kehidupan sekarang ini kerusakan moralitas manusia  menghancurkan batasan dan tatanan manusia yang beradab, kenapa?! apakah mereka atheis?? maaf, bahkan seorang atheis mungkin tidak akan melakukan hal-hal seperti itu…, sebut saja kisah anak membunuh orang tua atau sebaliknya, kasus korupsi yang semakin menggila, militer yang main hakim sendiri, perceraian, homoseksual dan lain-lain.

Pernah saya membaca dalam satu statistik yang 44% bayi dilahirkan di luar ikatan pernikahan, pada umumnya mereka tidak mengenal ayah mereka atau mengalami apa artinya dikasihi. Hanya 34% dari semua anak di Amerika yang tinggal dengan kedua orang tua kandung mereka hingga usia 18 tahun. Pada tahun 1975, 72% para ibu mempunyai pekerjaan dengan anak-anak dibawah 18 tahun. Para ibu yang sibuk ini dikombinasikan dengan ayah yang tidak terlibat dalam mengurus rumah tangga dan sangat sering terjadi kondisi dimana hanya pembantu dan anak yang tinggal dirumah… maka tidaklah heran banyak kekacauan yang terjadi sekarang ini…

Mungkin saja saya salah, namun saya melihat semuanya  itu berawal dari satu komunitas kecil yang bernama “keluarga”, buah dari hubungan keluarga suami, istri dan anak yang tidak harmoni, yang sudah berlangsung cukup lama. Ada seorang teman curcol pada saya, bang! stress saya melihat kehidupan ini  rumah saya besar tapi cuman saya yang tinggal sendiri” saya tanya.. loh kok bisa?” yah begitulah, Istri  jauh dari saya, karena saudara istri jadi bupati maka dia diangkat menjadi PNS dikota yang jauh dari tempat tinggal saya, seorang anak saya tinggal di asrama pada salah satu sekolah keagamaan yang jauh, seorang lagi tinggal sama ibunya…., apakah ini namanya keluarga?

Yang perlu kita pahami adalah sebuah keluarga (orang tua) harus memberikan investasi yang penting kepada anak-anaknya untuk membalas pengaruh-pengaruh dari luar dan membangun di dalam anak-anak kita karakter berkualitas, disiplin diri, hormat terhadap otoritas, komitmen pada kebenaran, keyakinan dalam etika kerja dan kasih terhadap pencipta.

Begitu banyak kisah yang nyata dalam blog nusahati ini yang dapat menjadi pelajaran bagi kita tentang kepekaan orang tua terhadap anak-anak yang dipercayakan Tuhan di dalam keluarganya, ternyata kita tidak cukup mampu untuk mengingatnya dan menjadikannya sebagai pengalaman yang berharga…

Kita semua pernah mengalami saat sukar yang sama ketika kita masih muda, jadi apa bedanya dengan sekarang? Jawabannya adalah ketidakhadiran orang tua, yang tidak lagi memiliki sesuatu untuk diberikan. Beberapa  di antara kita semasih anak-anak pulang kerumah dengan keluarga yang utuh dan saling memperhatikan yang dapat “membungkamkan kita” dari tebing yang curam, untuk menyakinkan kita tentang kasih mereka, dan menolong menempatkan segala sesuatunya  di dalam persfektif kita. Ada orang yang sangat memperhatikan dan yang memberitahukan kepada kita bahwa perlakuan yang kejam dari teman sebaya kita bukanlah akhir dari segalanya.

Karena ketiadaan nasihat yang demikian bijaksana di masa krisis, seperti yang diberikan oleh ayah-ibu kita disaat pulang dari sekolah berkali-kali, anak-anak sekarang tidak mempunyai tempat untuk melampiaskan kemarahan mereka. Beberapa dari mereka menggunakan obat-obatan atau alkohol, sebagian lagi mengasingkan diri, dan beberapa dari mereka dengan sangat menyedihkan melampiaskan kemarahan mereka dalam serangan pembunuhan, bahkan melakukan tindakan bunuh diri.  Jika saja ayah dan ibu ada ditempat  pada saat gejolak itu terjadi. Namun, begitu banyak kesulitan yang menghadang anak-anak dan tidak seorangpun di rumah.

Saya yakin bahwa sebagian besar ibu zaman modern ini sangat memperhatikan suami dan anak-anak mereka daripada aspek lain dalam kehidupan mereka, dan mereka tidak akan menyukai hal lain lebih daripada mengabdikan hidup mereka kepada suami dan anak-anak mereka.

Tetapi mereka terjebak di dalam dunia yang porak poranda dan penuh tuntutan yang terus menerus mengancam untuk mengalahkan mereka. Banyak dari para wanita muda ini juga bertambah sibuk, tidak berfungsi , rumah tangga yang berpusat pada karier, dan mereka menginginkan sesuatu yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Namun, tekanan keuangan dan harapan orang lain menahan mereka pada sebuah roda (jentera) yang membuat mereka kelelahan dan habis tenaga.

Keluarga dengan dua karier selama masa membesarkan anak menciptakan suatu tingkat stress yang menghancurkan. Dan hal itu sering menghalangi anak-anak dari sesuatu yang akan mereka cari selama hidup mereka.

Saya terlalu takut menghakimi bahwa orang tualah yang salah sehingga tercipta monster-monster yang berkedok muka manusia yang lugu, ditambah negara yang tidak perduli pula berperan menciptakan kekacauan-kecauan sekarang ini.

Maka marilah kita para orang tua, merefleksikan kembali arti keluarga, arti anak-anak yang ada pada kita. Mari kita ciptakan generasi yang berkualitas, disiplin diri, hormat terhadap otoritas, komitmen pada kebenaran, keyakinan dalam etika kerja dan kasih terhadap Pencipta… dengan salah satu cara… hadir dalam kehidupan mereka….

Tuhan Memberkati Para Orang Tua

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube