Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”  (Matius 5:8)

Iman berarti pengarahan rohani. Iman berarti pengembalian jiwa seseorang kepada sumber dan sasaran hidupnya. Karena Tuhan adalah Alfa dan Omega, maka kita harus kembali kepada sumber kita yang sekaligus menjadi telos kita. Ini merupakan suatu tema yang tidak habis-habis dalam seluruh kitab suci baik dari PL maupun PB. Melalui nabi dan rasul, Tuhan Allah berseru kepada umat manusia, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan menyembuhkan tanahmu. Aku akan memberikan pengampunan kepadamu, akan mengobati jiwamu, dan Aku akan membawamu kembali menjadi anak-anak-Ku.”

Manusia di dalam kelancaran dan kemudahan selalu menganggap segala anugerah Tuhan itu hanya untuk dipermainkan saja. Manusia dalam kelancaran selalu lupa siapakah Tuhan yang seharusnya menjadi sumber kita, yang kita harus tunduk kepada-Nya. Itu sebab kekayaan, kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan yang sementara selalu mengakibatkan “ketiduran” rohani orang-orang Kristen dan membawa kita jauh keluar dari jalur yang seharusnya tanpa kita sadari.

Kapankah telinga kita terbuka? Kapankah hati kita tersadar? Kapankah langkah kita berubah dan terarah kepada Tuhan kecuali kadang-kadang Tuhan memberikan kesengsaraan dan penderitaan kepada kita? Mimpi-mimpi kekayaan kosong sudah berlalu. Berapa banyak konglomerat baru sadar bahwa kepandaian, uang, pengalaman, kehebatan berusaha, itu hanya menghasilkan kekecewaan belaka. Inilah zaman Indonesia sekarang. Orang yang paling kaya bukan saja tidak mungkin menolong orang lain, bahkan menolong diri sendiri pun sudah kewalahan. Kapankah engkau mau terus tidur? Bukankah ini zamannya kita bangun dan berkata, “Demi nama-Mu ya Tuhan, Engkau menyegarkan jiwaku dan membawa aku kembali ke jalur yang benar. Bukan karena kebaikanku, tapi karena nama-Mu, demi nama-Mu yang kudus, Tuhan bangunkanlah aku kembali kepada-Mu.”

Hal yang kedua dalam iman kepercayaan, iman bukan saja arah rohani, iman juga penglihatan rohani. Apa yang kau lihat dari kedua mata jasmanimu itu tidak penting, tetapi apa yang kau lihat melalui jiwamu dalam kekekalan, itulah yang penting!  Yesus Kristus berkata, “Jika matamu gelap, seluruh hidupmu akan gelap gulita. Bagaimanakah jika matamu yang gelap berada di dalam kegelapan, betapa gelapnya keadaan seluruh hidupmu.”  Waktu Yesus mengatakan kalimat ini, Ia berkata kepada orang Farisi yang menganggap diri sudah mempunyai Taurat, yang menganggap diri sudah mengenal kehendak Tuhan, yang menganggap diri lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Yesus berkata, “Jika mata fisikmu gelap, seluruh tubuhmu gelap. Apalagi kalau mata rohanimu itu gelap.”  Mata rohani, apakah artinya? Itu berarti iman di dalam diri seseorang di hadapan Tuhan Allah.

Semua agama mempunyai pengertian bahwa apa yang dilihat oleh mata luar tidak penting, tetapi mata di dalam lebih penting. Hinduisme mempunyai suatu pengertian, pada waktu otak manusia, hati manusia, dan mata itu menjadi satu garis, ia akan menembus dan akan mengerti kebenaran alam semesta. Mata di luar itu tidak penting. Itu sebab orang India membuat satu berlian dan menaruhnya di dahi, untuk membuktikan ada satu mata di tengah, mata di dalam jiwa yang mempunyai cahaya lebih penting daripada mata di luar.

Tetapi mata itu di mana? Yesus memberikan janji, barangsiapa yang bersih hatinya ia akan melihat Tuhan. Blessed are those who are pure hearted because they will see God. Apa gunanya kalau kita terus dengar khotbah setiap minggu tetapi hati kita, mata rohani kita, diliputi oleh keinginan uang saja. Engkau ikut kebaktian hanya untuk bertemu orang-orang kaya untuk membicarakan perdagangan dengan mereka. Engkau ikut kebaktian hanya untuk mendapatkan isi khotbah yang baik supaya kalau bersaksi di lain tempat mempunyai bahan. Engkau ikut kebaktian hanya untuk mengecek orang ini suka dengan Stephen Tong atau tidak. Apa gunanya engkau datang kebaktian? Engkau datang berbakti adalah menanti firman Tuhan. Engkau datang berbakti adalah membuka hatimu supaya mendapatkan isi yang boleh memberikan kekuatan baru untuk bersaksi bagi Tuhan di dalam dunia ini.

Apakah di dalam kebaktian  engkau berjumpa dengan Tuhan? Setiap kali mendengar khotbah, sudahkah engkau bertemu dengan Allahmu? Setiap kali mendengar firman yang penting-penting, sudahkah engkau melihat nilai rohani yang terkandung di dalamnya? Kita perlu suatu penglihatan, bukan suatu penglihatan di luar, tetapi penglihatan di dalam. The spiritual vision, the spiritual seeing, that is faith.

Di dalam bahasa Inggris pengertian dan lihat itu menjadi satu. Jadi saat kau menjelaskan sesuatu kepada seseorang, ia lalu mengatakan, “I see” engkau tidak perlu bertanya “What do you see now?” karena saat ia mengatakan “I see” tidak berarti aku lihat sesuatu yang baru, melainkan “I see a problem, I understand the matter in my heart.”  Di situ “see” dan “understanding” sudah menjadi satu. Ini arti dari Alkitab juga: orang yang melihat Tuhan, ia mengerti apa yang dikerjakan Tuhan. Orang yang hati nuraninya telah melihat, memandang dan mengerti apa yang dikerjakan Tuhan, dia tidak lagi bertanya “mengapa” kepada Tuhan. Seperti Martin Luther mengatakan, “In the heart of believer, there is no ‘why’ to ask to God.”  Engkau tidak perlu bertanya ‘mengapa’ karena engkau selalu melihat yang dikerjakan Tuhan itu baik adanya.

Dua hari ini saya melihat situasi di Indonesia, hati saya tidak bisa mengerti. Waktu Soeharto berpidato, bisa berdiri 1 jam 20 menit, mungkin supaya diketahui masyarakat bahwa kesehatannya sudah membaik, diperkirakan dollar akan turun, ternyata tidak. Setelah ia berdiri 1 jam 20 menit, besoknya dollar naik lagi. Lalu kita tunggu IMF datang untuk memberikan bantuan kepada Indonesia. Setelah IMF memberikan bantuan, saya kira dollar akan turun, ternyata tetap naik lagi. Mau apa ini?

Dalam beberapa hari ini saya terus berpikir, sebenarnya kesulitan ini mengajar apa kepada kita? Sebenarnya krisis ini memberi kesadaran apa kepada kita? Di dalam krisis dan kesulitan, Tuhan sebenarnya mau bicara apa? Lalu saya mendapatkan kesimpulan kemarin pagi, bahwa kesulitan-kesulitan melanda Indonesia sekarang ini mengena kepada semua lapisan. Orang-orang kaya kena, orang kelas menengah kena, orang miskin kena. Semua orang kena.

Kesulitan ini mau mengajarkan apa kepada kita? Apa maksud Tuhan? Akhirnya saya mendapat satu kesimpulan, selama 15 tahun terakhir ini terlalu sedikit pemuda-pemudi bermutu yang mau menjadi hamba Tuhan. Selama 15 tahun terakhir, pemuda-pemudi yang berkata dengan tangisan, “Tuhan, saya mau menjadi hamba-Mu,” kembali lagi berdagang. “Tuhan, saya mau menjadi hamba-Mu”, akhirnya pergi ke dunia usaha. Karena apa? Menjadi hamba Tuhan itu miskin, menjadi pengusaha bisa kaya. Kredit gampang untuk mengembangkan karier dengan uang yang banyak. Kalau engkau miskin, bisa mendapat isteri macam apa? Kalau uangmu banyak, bisa mendapat gadis-gadis yang suka sekali kepada orang kaya. Inilah 15 tahun terakhir, secara penilaian nilai, the evaluation of value, axiology kekristenan sudah merosot sekali. Kurang sekali orang berbobot, bermutu, menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.  Jadi Tuhan mungkin melalui krisis ekonomi ini memberikan suatu kesadaran, “Hai manusia, ketahuilah uang bukan allah. Uang tak bisa disandari. Kembalilah kepada-Ku dan kerjakan apa yang Kutunjuk dan Kutetapkan di dalam kekekalan bagimu bertugas di zaman krisis ini.”

Selain return to God, kita perlu melihat Dia dari sedalam-dalamnya hati kita yang takut kepada Dia, yang berbakti kepada Dia. Begitu gampang menjadi orang Kristen di negara Pancasila. Begitu gampang mengikuti Tuhan di dalam keadaan yang mendukung agama. Begitu gampang menjadi orang yang melupakan Tuhan juga di dalam zaman dan masyarakat yang mementingkan uang. Engkau boleh memikirkan tak usah pergi mengabarkan Injil. Cari uang dan dengan uang mendukung pekerjaan Tuhan sudah cukup. Ketahuilah, Tuhan mau hatimu, lebih daripada uangmu. Tetapi engkau tidak pernah menjalankan itu karena engkau belum melihat kehendak Tuhan. Belum melihat jelas, belum melihat dengan tuntas apa yang sebenarnya Tuhan mau.

Mari sekarang kita memikirkan istilah “lihat” dan paradoks yang terkandung dari istilah ini. Tuhan yang menciptakan hal-hal yang paling penting, toh menciptakan juga hal-hal yang kita anggap paling remeh dan tidak penting seperti debu. Namun, debu yang begitu kecil pun masih bisa dilihat, tapi Tuhan yang maha besar tak bisa dilihat. Bukankah ini ironis? Apa gunanya mata? Mata itu merupakan kemungkinan potensi untuk mengamat, melihat, mengerti, sesudah itu baru bisa bereksperimen, baru bisa memikirkan lebih lanjut segala sesuatu yang diamati, yang dimengerti atau yang dilihat. Tetapi mata ini telah diciptakan sebagai sesuatu yang paling ironis.

Seorang sastrawan dari New England, Amerika di abad 19 bernama Ralph Emerson mengatakan, “The greatest irony to eye is eye can see so many thing, but eye can not see itself.”  Mata boleh melihat segala sesuatu tapi mata tak pernah bisa melihat mata itu sendiri. Apa matamu pernah melihat matamu sendiri? Engkau hanya melihat bayang-bayangnya yang terbalik di belakang kaca. Mata tak pernah mungkin melihat mata sendiri. Bahkan mata melihat mata yang lain, mata kanan melihat mata kiri, atau mata kiri melihat mata kanan, itu pun tidak mungkin. Waktu mata kirimu melihat ke kanan, si mata kanan akan bergeser ke kanan lagi. Inilah ironi yang paling besar: mata dapat melihat segala sesuatu tetapi mata tak pernah mungkin melihat diri sendiri.

Bukan saja demikian. Untuk menciptakan kemungkinan mata melihat, Tuhan Allah harus menciptakan sesuatu yang dibutuhkan manusia yang tak mungkin dilihat tetapi ada, yaitu udara. Ini ironi yang kedua. Udara itu ada. Udara itu mutlak dibutuhkan, tapi udara tak bisa dilihat. Justru agar engkau bisa melihat orang lain, maka udara yang memisahkan engkau dengan orang lain di tengah matamu dan mata orang lain itu tak boleh dilihat supaya mata bisa melihat obyek lain. Jikalau udara bisa dilihat, maka kita semua setiap hari hanya melihat udara, kita tak bisa melihat anak-anak kita, orangtua kita, isteri atau suami kita, tak bisa melihat apa-apa yang lain karena udara yang bisa dilihat akan menghalangi pandangan kita.

Banyak ironi-ironi seperti ini. Yang adalah materi tidak bisa dilihat, itu udara. Yang mungkin bukan materi, namun bisa dilihat, namanya cahaya. Cahaya itu materikah? Jika cahaya itu materi, mengapa tidak bisa ditimbang beratnya? Jika cahaya itu bukan materi, mengapa ada kecepatan cahaya yang dapat dihitung beberapa ratus ribu km/detik. Cahaya jika bisa dilihat, mengapa tidak ada beratnya? Kenapa ia tidak ada ukurannya? Kalau cahaya bukan materi, mengapa cahaya bisa dilihat? Materi yang disebut udara tidak bisa dilihat, terang yang supra-material justru bisa dilihat. Ini cara Allah bekerja dengan begitu banyak paradoks di dalamnya sehingga engkau harus memikirkan lebih dalam apa arti “melihat”.

Di dalam sejarah ilmu beberapa abad terakhir ini, vibration theory, emission theory, particle theory, dsbnya telah menjajah pikiran manusia. Baik Isaac Newton, Hygene, Faucolt, Albert Einstein, Heissenberg hingga Stephen Hawking, semuanya berbicara tentang cahaya yang bisa dilihat, tetapi tidak ada jawaban mutlak apa itu cahaya.

Alkitab berkata kepada kita, “God is Light” Allah itu cahaya. Sebagaiman Allah itu adalah kasih, Allah adalah hidup dan Allah adalah cahaya. Ketiga hal ini kebetulan dalam bahasa Inggris semua dimulai dengan huruf L : God is Light, God is Love, God is Life. Dan yang paling sulit dimengerti adalah Light, cahaya itu. Waktu kita bicara tentang cahaya, selalu kita berbicara tentang cahaya yang bisa dilihat oleh kedua mata kita ini. Tetapi kitab suci selalu membicarakan cahaya Allah yang jauh lebih daripada kemungkinan kita melihat. Itulah sebabnya di dalam Westminster Confession dikatakan, “The nature light is not adequate.”  Cahaya natural tidak cukup. Kita membutuhkan cahaya supra-natural, cahaya special revelation, yaitu firman Tuhan, firman yang diwahyukan Tuhan. Dan Kristus adalah cahaya yang besar di dalam dunia ini.

Setelah kita berbicara tentang dunia yang kelihatan dan dunia yang tidak kelihatan, maka yang disebut iman adalah berarti semacam kemungkinan di dalam hati kita melihat segala sesuatu melintasi batas kemungkinan mata melihat. Itu namanya beriman. Siapakah orang beriman? Orang beriman adalah orang yang melihat sesuatu melebihi penglihatan matanya. Agustinus dalam bukunya “My Confession” mengatakan, “Iman telah melihat lebih jauh daripada apa yang dilihat oleh mata.”  Itu sebab waktu otak mengatakan, “saya mau mengetahui”, iman mengatakan, “saya lihat dulu, supaya bisa memberitahumu”.  Dengan demikian faith is prior to understanding. Karena iman telah melintasi batas, iman telah memberikan suatu kemungkinan visi yang jauh kepada pengertian. Maka rasio selalu mengikuti iman. Rasio bukan dasar iman, tapi rasio itu pengikut iman. Dalam filsafat dan teologi Agustinus, ia bukan mengatakan understanding to support faitrh, but faith seeking understanding. Iman mencari pengertian. Iman melihat dulu, lalu otak mengatakan, “beritahu saya apa sih yang kau lihat?”  lalu iman mengatakannya kepada otak, dan otak berkata, “sekarang saya mengerti.”  To undersanding what had been seen before by faith that you know what is the meaning and the content of belief. Iman mendahului pengetahuan. Iman menjelajah lintasan. Iman menembus perbatasan. Iman melihat kepada sesuatu yang kekal, yang lebih tinggi, lebih penting dan melampaui waktu dan tempat sehingga understanding membagi sesuatu dan mengadopsi apa yang di-share oleh iman, baru ia mengerti. Dengan demikian iman berada di depan dan iman membuka hati rohani kita sehingga kita bisa melihat.

Orang dunia selalu mengatakan kalimat, “Kalau saya sudah mengerti. Saya akan percaya. Kalau saya sudah melihat, saya akan percaya.”  Ini memperlihatkan kebodohan manusia yang rasionya sudah dipengaruhi dosa. Bahkan banyak pendeta mengkhotbahkan prinsip seperti ini, “Kita melihat dulu anugerah Tuhan, kita melihat dulu kemuliaan Tuhan, kita melihat dulu kuasa Tuhan, lalu engkau pasti beriman.”  Ini ajaran yang salah. Ini ajaran yang tidak sesuai dengan kitab suci. Mari kita kembali kepada Yohanes 11:40, di mana Yesus berkata kepada Marta, “Jikalau engkau beriman, engkau akan melihat kemuliaan Allah.”  Jadi di sini mana yang lebih dulu, melihat kemuliaan Allah atau beriman dulu baru melihat? Beriman dulu baru melihat!

Kita beriman kepada Tuhan, baru kita melihat kemuliaan Allah. “Kalau saya melihat Tuhan berkuasa, kalau Tuhan menyembuhkan saya, kalau Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya, nanti saya akan percaya.” Itu adalah iman antroposentrik, itu iman yang berpusat kepada diri, bukan kepada Tuhan. Jikalau engkau beriman karena Allah telah membuat kuasa firman bergolak dalam hatimu sehingga menimbulkan iman kepercayaan sebagai reaksi yang benar kepada Tuhan dan sehingga iman menjadi hasil dari benih firman Tuhan yang tumbuh di dalam hatimu, maka dengan iman itulah engkau akan melihat kemuliaan Tuhan Allah. Kalau kita mempunyai iman sedemikian, maka di dalam kesulitan, di dalam ketidak-mungkinan, kita bisa berkata, “Tuhan, beri aku kemungkinan  untuk melewati perbatasan ini, melewati kesulitan ini, biar aku melihat ke tempat yang jauh.”

Yesus berkata kepada orang Farisi, “Nenek moyangmu Abraham, memandang hari-Ku dari jauh dan dia sudah melihatnya.”  Kalimat ini tidak bisa dimengerti oleh mereka, sehingga mereka dengan marah berkata, “Usia-Mu belum 50 tahun, engkau berani berkata ‘telah melihat Abraham?”  Yesus berkata, “Sesungguhnya sebelum Abraham ada, Aku sudah ada.”  Before Abraham was, I am. Di situ kita melihat cara Yesus memperkenalkan diri begitu tuntas, begitu singkat, begitu tepat dan begitu berbijaksana. Ia berkata kepada orang Farisi, “Beda engkau dengan nenek moyangmu: engkau mempunyai mata fisik yang melihat-Ku tetapi tidak percaya, tapi nenek moyangmu yang belum pernah melihat-Ku,ia sudah melihat dari hatinya kepada-Ku.”  Ia memandang, ia melihat dan ia menyambut-Ku dengan bersukacita. Abraham dilahirkan hampir 2.000 tahun sebelum Yesus, bagaimana Abraham melihat Dia? Abraham melihat Yesus bukan dengan mata jasmaniah. Abraham melihat Yesus dengan mata rohaniah. Di sini kita melihat, kita diberi suatu potensi yang begitu besar yaitu kemungkinan melintasi zaman, kemungkinan melintasi kesulitan, kemungkinan melintasi krisis, kemungkinan mengatasi segala sesuatu yang berada di dunia fisik, dan kemungkinan terbang dengan iman, kita melihat sesuatu yang jauh di atas dunia yang kelihatan ini. Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:18, “Yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.”  Siapakah yang tetap berharap kepada sesuatu yang bisa dilihat? Kalau itu bisa dilihat, apakah layak menjadi pengharapan kita? Bukankah kita semua berharap kepada sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu berharap kepada dunia kekekalan? Soren Aabye Kierkegaard berkata, “Jikalau pengharapan orang Kristen hanya kepada dunia yang fana ini, maka kita jauh lebih kasihan daripada mereka yang belum mengenal Yersus Kristus.”

Mari kita berputar balik dan insaf, mari kita mendapat kebangunan rohani dan berkata, “Tuhan, mulai hari ini aku akan membuka mata rohani, aku akan memandang lebih jauh, lebih tinggi, melintasi seluruh yang disebut keterbatasan di dunia ini, melintasi waktu, melintasi tempat, melintasi dunia fisika, bahkan melintasi dunia metafisika, melintasi dunia natural, melintasi keterbatasan segala sesuatu di dalam dunia supra-natural, di dalam dunia pewahyuan Tuhan dan rencana kekekalan. Saya akan melihat Allah bertahta di atas.”

Kapankah kesulitan moneter akan lewat? Apakah Amerika sungguh-sungguh adalah penolong Indonesia? Saya katakan, absolutely no!  Ini akan menjadi imperialisme corak baru yang menjajah ekonomi Indonesia. Setelah saham turun sampai rendah sekali, dollar akan menyapu habis saham, sehingga semua hal yang besar dimiliki luar negeri. Negara ini akan menjadi jajahan ekonomi Barat. Dulu jajahan politik, besok akan menjadi jajahan ekonomi. Amerika bukan savior, Amerika bukan penolong. Kalau IMF meminjamkan uang, yang diharapkan adalah bunga. Uang yang banyak jika tidak dibungakan akan rugi. Jika dipinjamkan akan mendapat bunga yang besar. Caltex separuh penghasilannya adalah dari minyak Indonesia. Indonesia memiliki sumber alam, Indonesia mempunyai sumber daya manusia, tetapi kita sekarang berada dalam krisis. Bukan saja krisis uang – itu hanya soal kecil –tapi kriris kredibilitas.

Confusionis berkata pada waktu rakyat tidak lagi mempunyai kepercayaan kepada pemerintah, tidak ada pemerintah yang bisa berdiri tegak. Setelah Perdana Menteri Tanaka turun, penggantinya – Fukuoda – ditanya, “Apakah engkau bisa menjadi perdana menteri?”  Ia tidak menjawab, hanya menulis 5 huruf kanji di situ, “Biarlah rakyat percaya dulu kepadaku, baru aku menjadi perdana menteri.”  Tulisan ini dimuat di surat kabar dan di televisi, Min u sin pu li – it is impossible to establish without the credibility and confidence from my people.

Indonesia bukan sedang dilanda krisis moneter, bukan krisis ekonomi, melainkan krisis iman. Jikalau Presiden tidak lagi dipercaya oleh rakyat, ia sulit menjadi presiden. Jika kabinet tidak lagi dipercaya oleh rakyat, sulit berkabinet. Bank-bank menemukan direktur-direktur korupsi, akhirnya rakyat tidak mau menyimpan uang dalam bank. Lebih aman disimpan di bawah bantal dengan resiko diambil maling, daripada maling elite di bank yang lebih lihai mencurinya. Kalau kepercayaan sudah tidak ada, dari bawah ke atas, secara vertikal maupun secara horizontal, maka seluruh rakyat akan bangkrut, akan rusak. Kepercayaan yang sejati harus dimulai dari kebangunan rohani. A faith in God and be truthful to Him. Kita harus beriman kepada Tuhan. Kita harus jujur dan sungguh-sungguh ikhlas untuk menjalankan kehendak sorga. A man who is sincerely and honestly doing the mandate from heaven, doing the will of God to get the credibility in society.

Berdoalah supaya ada pemimpin-pemimpin yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, pemimpin-pemimpin yang sungguh-sungguh cinta bangsa; pemimpin-pemimpin yang jujur mengatur segala sesuatu di bawah kedudukannya, dengan demikian barulah dunia ini akan normal kembali. Terlalu banyak permainan uang, terlalu gampang menyogok; terlalu banyak korupsi, sekarang ini masih dibiarkan oleh Tuhan. Engkau korupsi masih bisa kaya, engkau berjalan menyeleweng masih bisa subur, engkau berjalan di luar kehendak Tuhan masih bisa makmur. Tapi saat tangan Tuhan melepas kita, negara ini akan menjadi apa? Talentamu akan menjadi apa? Pemerintah-pemerintahmu jadi apa? Rakyatmu jadi apa? Berdoalah agar Tuhan mengampuni dosa Indonesia, dosa-dosa pejabat tinggi yang korupsi, dosa melalui keuangan yang didapat melalui cara yang tidak benar. Mintalah Tuhan memberikan pengampunan kepada banyak orang orang yang akibat dosanya telah banyak merugikan orang yang tidak bersalah, merugikan rakyat yang miskin.  Jikalau dalam 3 bulan yang akan datang, 8 juta manusia tidak lagi memiliki pekerjaaan, 1% saja dari mereka yaitu 8.000 orang menjadi mempunyai pikiran rusak, berarti ada 8.000 perampok tambahan di Indonesia. Jika dalam kepicikan ini mungkin ada 10% (80.000 orang) menjadi perampok dan penjarah, negara ini akan menjadi apa?

Kita sedang menghadapi krisis yang besar. Siap sedialah engkau diculik, dicuri, dirampok, bahkan diperkosa? Bagaimanakah engkau mempersiapkan diri menghadapi hal-hal seperti iini? Jangan tanya, “When I suffer, where were You, God?”  tetapi tanyakanlah, “When I suffer, where is my faith? Did  see His thyrone? Did I see God from my spiritual capacity?”  Waktu segala kesulitan datang, dimanakah imanmu?

Saya selalu memikirkan kalau suatu ketika apa yang saya miliki diambil kembali, ya sudah. Persiapan hati itu membuat saya tidak perlu terlalu takut dan tak perlu kuatir. Jikalau terjadi suatu hari apa yang pernah kita miliki semuanya diambil, apa boleh buat. Kita berkata, “Tuhan, imanku tidak mungkin direbut. Kerohanianku tidak mungkin dirampas. Pengertianku tentang kekayaan firman Tuhan tidak mungkin diambil.”  Kita tetap beribadah kepada Tuhan, tetap menyanyi di malam-malam yang tergelap, tetap bersyukur bahkan pada waktu tahta Tuhan tidak terlihat jelas. Dengan iman kita tahu bahwa Dia tetap bertahta.

Pada tahun raja Uzia meninggal, terjadilah perubahan-perubahan besar. Uzia sudah bertahta berpuluh-puluh tahun – seperti presiden yang bertahta berpuluh-puluh tahun juga – Pada keadaan seperti itu kekacauan mudah ditangani. Pada tahun raja Uzia mati, Yesaya berkata, “Tahun itu aku masuk ke Bait Allah.”  Ayat ini selalu menggerakkan hati saya. Di situ nyata perbedaan yang besar antara orang beriman dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan.

Pada waktu raja rontok, kerajaan itu jatuh, senantiasa kembali kepada Tuhan. Always prepare to return to God, always come to encounter Him. Always come to see His contentment. Orang Kristen jangan hanya melihat kanan-kiri, depan-belakang, timur-barat, utara-selatan.

Yesaya setelah melihat tahta Tuhan, rohaninya berubah. Pada pasal 1 – 5 Yesaya cenderung selalu menegur orang. Tapi sejak pasal 6 ini lain sekali. Saya percaya demikian juga iman kita. Kerohanian kita tidak menampakkan perubahan meskipun sudah menjadi Kristen. Apa sebabnya? Karena kita tidak masuk ke dalam Bait Allah, kita tidak menjumpai Allah. Kebaktian-kebaktian adalah tempat kita berdoa sambil mendengarkan firman, tapi banyak orang datang kebaktian untuk itu saja, lalu selesai. Banyak orang suka cari khotbah yang enak didengar dan tidak panjang.

Di Belanda ada satu alun-alun yang di sisi kanan dan kiri masing-masing ada satu gereja. Di gereja yang sebelah kanan tertulis, “Sunday service including holy communion, 45 minutes.”  Yang di sebelah kiri karena takut kalah, akhirnya menulis, “Here, Sunday service including holy communion only 30 minutes.”  Mengapa kita yang tiap hari rata-rata duduk didepan televisi 4 jam, tapi satu minggu sekali ikut kebaktian, minta sependek mungkin?

Saya mau melihat, mengapa engkau tidak datang kepada Tuhan? Mengapa engkau tidak memutar hatimu kepada Tuhan? Karena engkau bukan mau melihat Dia. Engkau mau menjadikan agama dan kegiatan agama sebagai suatu ornamentasi untuk menghias diri. Saya orang pintar, saya orang kaya, saya juga ada agama. Agama bukan untuk dilihat orang. Agama untuk melihat Tuhan ada di mana.

Yesaya berkata, “Pada waktu raja Uzia meninggal, tahun itu juga politik bergolak, tahun di mana rakyat kacau, tahun di mana kuasa raja habis, tahun di mana masyarakat kacau, tahun dimana kuasa raja habis, tahun di mana tidak menentu siapa lagi yang akan menjadi raja selanjutnya, apa hasil dari pergolakan di tahun demikian? Di tahun yang krisis itulah aku masuk ke Bait Allah.”

Saya ingin bertanya, setiap minggu engkau ikut kebaktian, apakah hanya masuk gedung gereja atau betul-betul masuk bait Allah? Inilah Bet-El. Waktu Yakub bangun dari tidurnya, ia berkata, “This is the temple of God. There is a gate of heaven.”  Ia tahu Tuhan memberikan firman, memberikan kemuliaan, menyatakan diri kepadanya pada waktu kepicikannya (Kejadian 28:16-17). Saya harap di dalam kesulitanmu, baik dalam ekonomi, waktu kehilangan orang yang paling kaukasihi, di dalam krisis bagaimanapun, kembalilah kepada Tuhan, masuk ke dalam Bait Allah, berlutut di hadapan-Nya dan merendahkan diri. Alkitab mengatakan, jika umat-Ku merendahkan diri dan mengaku dosa dengan ratap tangis di hadapan-Ku, Aku akan menghibur dan mengampuni dosanya. Aku akan menyembuhkan tanahnya. Aku akan memberikan kebangunan kepada dia. Kembalilah kepada Tuhan, berlutut dan lihatlah Dia!

Apakah iman? Iman berarti menghadap Tuhan, memandang Dia, dan melihat kemuliaan Tuhan. Di dalam krisis dan kesulitan biarlah iman kita menengadah ke atas. If you failed to book around, now look up ward. Kalau kita sudah kecewa melihat kanan-kiri, depan-belakang, masih ada satu arah, yaitu lihatlah ke atas. Tuhan berkata, barangsiapa yang memandang-Ku dan melihat air muka-Ku, dia tidak akan kecewa. Dari zaman ke zaman, semua nabi dari perjanjian Lama hingga para rasul dari Perjanjian Baru, hanya satu rahasia kuasa yaitu “always look upward,” selalu melihat Tuhan, selalu memandang ke atas, akhirnya mereka punya keberanian yang amat berlainan dengan orang biasa. Ini semua karena mereka bisa melihat empat hal: ada kedudukan yang lebih tinggi daripada kedudukan; ada kuasa yang lebih tinggi daripada kuasa; ada kemuliaan di atas kemuliaan, ada hukum di atas hukum. Jika empat hal ini digabung, engkau mengetahui ada rencana kekal di atas rencana manusia.

Sebagaimana langit lebih tinggi dari pada bumi, demikian kehendak Tuhan lebih tinggi daripada kehendak manusia. Hari depan apa yang akan terjadi? Tidak ada seorang pun bisa tahu situasi akan bagaimana. Siapakah yang paling berkuasa di dunia ini? Semua itu hanya nol. Biarlah engkau memandang melintasi bumi ini dan bersedialah hidup menjalankan kehendak Tuhan dengan melihat Tuhan di dalam iman yang sejati.

 Amin.

Sumber :
Nama buku                :  Iman, Pengharapan & Kasih dalam Krisis
Sub judul                   :  Penglihatan Rohani
Penulis                      :  Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman                    :  26 – 41

 

Sumber : https://www.facebook.com/notes/sola-scriptura/penglihatan-rohani-artikel-pdt-dr-stephen-tong/506660152715776

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube