Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ukuran tubuhmu kurang penting, ukuran otakmu agak penting, ukuran hatimu adalah yang peling penting (B.C. Gorbes)

Di penghujung tahun 1940-an, di Cincinnati, Ohio, tinggal seorang bocah lelaki kecil yang ingin menjadi anggota tim football “pee wee” di sekolah agamanya yang setingkat SD. Ukuran berat badan minimum untuk menjadi anggota tim adalah 35 kg. si bocah kecil itu berusaha keras agar berat badanya memenuhi persyaratan itu. Si pelatih tahu benar betapa besar keinginan si bocah untuk menjadi anggota tim. Jadi, dia mendorongnya untuk ”menggemukkan diri” dengans etiap hari makan pisang dan minum saridele. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berat badan si bocah mencapai 34,5 kilogram, merasa agak ragu, tetapi masuk juga dalam daftar nama anggota tim.

Sepanjang musim pertandingan, si pelatih menjadikan si bocah itu sebagai pemain cadangan demi kebaikannya juga. Batas ukuran terberat sebagai anggota liga adalah 60 kg, dan si pelatih tidak ingin bocah itu cidera. Namun, pada pertandingan terakhir di musim itu, tim kekurangan pemain dan si pelatih mau tak mau harus memainkan si bocah untuk menghindari kekalahan. Si pelatih memasangnya di bagian bertahan yang aman, dan membayangkan bahwa si bocah akan berada di luar selama permainan adu badan yang keras. Tapi, entah mengapa, pada game terakhir, pemain full-back dari tim lawan berhasil menerobos garis, menghindari garis pertahanan kedua, dan berlari menuju si bocah.

Ketika si bocah mengintip dari balik helmnya, yang kebesaran dan terus-menerus jatuh menghalangi matanya, dilihatnya si pelari itu mendekat. Si bocah membungkuk dan bersiap-siap untuk menebas jatuh si pemain yang berat tubuhnya 60 kg itu. Ketika si pelari semakin dekat, yang bisa digumamkan si bocah hanyalah, ”kakinya berbulu lebat!”. padahal, dia hanyalah seorang anak yang berat badanya tidak sampai 35 kg, tetapi hendak menebas raksasa ”jabrig” itu. Pada saat yang tepat, si bocah mengulurkan tangannya untuk memegang kaki si full-back, berhasil merangkul sebelah kakinya, dan memeluknya sekuat tenaga sambil tubuhnya terseret oleh gerakan si full-back yang akhirnya terjatuh itu. Yang terlihat oleh si bocah kecil itu hanyalah tanah kotor karena helmnya menghantam tanah ketika dia terseret terus sampai ke zone akhir.

Karena merasa sangat malu oleh kejadian itu, si bocah menahan air matanya dan merasa sedih karena telah mengecewakan timnya. Dia kaget sekali ketika si pelatih dan seluruh anggota timnya berlarian ke lapangan untuk memberinya selamat. Si pelatih memujinya karena dia pantang menyerah dan karena tidak membiarkan lawannya yang bertubuh besar itu menggetarkan hatinya untuk tidak menebasnya. Teman-teman satu timnya mendukungnya di bahu mereka dan mereka menobatkannya menjadi ”pemain paling berani”.

Nama si pelatih itu Dan Finley, dan si bocah itu adalah Saya.

Di masa mudanya, Dan, yang sekarang berusia 40-an, adalah seorang atlet hebat yang berpeluang besar bermain di liga utama. Tetapi, Dan terserang polio dan hanya bisa berjalan dengan bantuan alat penjepit kaki dan sebuah tongkat. Dia memutuskan untuk menyalurkan energinya dengan melatih anak-anak. Kegembiraan bermain telah direnggut terlalu awal darinya, dan dia ingin menolong anak-anak agar dapat benar-benar menikmati waktu mereka dengan bermain di lapangan. Sampai sekarang, dia masih melakukan hal itu.

By. Darrell J. Burnett, Ph.D; Chicken Soup for The Soul at work.

Sumber : Chicken Soup for The Soul

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube