Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats :  1 John 2 : 7 – 11

Yohanes menulis surat ini ketika banyak orang sudah tertipu oleh Gnostikisme. Mereka menganggap filsafat Gnostikisme ini lebih tinggi daripada ajaran Kristen, tetapi ajarannya salah. Sama seperti banyak orang liberal pada saat ini menganggap teologi mereka lebih tinggi daripada ajaran Kristen konservatif, tetapi mereka sudah kehilangan iman yang sejati.

Apa bedanya Kekristenan dengan Gnostikisme? Gnostikisme tidak percaya Kristus yang mati dan dengan darahNya menyelamatkan manusia. Mereka percaya manusia diselamatkan oleh unsur suci yang diturunkan dari Surga kepada orang-orang yang pikirannya terbuka, sehingga orang itu menjadi mengerti dan sadar secara epistemologi. Dalam Gnostikisme, bijaksana yang tinggi menyelamatkan seseorang, saved by holy Wisdom from above. Tetapi 1 Kor 1 : 30 mengatakan “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita”. Christ is our wisdom.

Yohanes adalah satu-satunya rasul yang hidup menjelang berakhirnya abad pertama. Yohanes menyaksikan bagaimana Gnostikisme meracuni banyak gereja pada jaman itu. Tulisan Yohanes ini melawan ajaran Gnostikisme. Gnostikisme mengajarkan bahwa tubuh pada dasarnya jahat, dan roh pada dasarnya suci. Banyak orang menyangka ini sama dengan ajaran Kristen karena Kristus mengatakan “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mar 14 : 38). Tetapi jika demikian, maka kita tidak bisa menerima inkarnasi, karena berarti Kristus mempunyai tubuh yang jahat. Maka rasul Yohanes harus dengan berani melawan ajaran Gnostikisme, terutama pada pasal 4.

Disini Yohanes berbicara tentang terang dan gelap. “Aku tidak memberikan perintah yang baru” berarti kamu sebetulnya sudah tahu, yang aku ajarkan ini sudah pernah diajarkan oleh Kristus. Maka kalau engkau sudah tahu tentang Kristus janganlah kamu menerima ajaran lain yang berbeda dengan ajaran para rasul. Gereja yang sejati adalah gereja yang menerima ajaran para rasul dan secara ketat meneruskan ajaran para rasul.

Ada seorang filsuf bernama Diogenes, dia suka hidup di dalam terang, tetapi merasa bahwa dunia ini begitu gelap. Dia tidak bisa mengatakan “I am the light of the world” seperti Yesus, karena memang dia bukan. Hanya Kristus satu-satunya yang pernah mengatakan “Akulah terang dunia”. Di dalam ayat 9 dikatakan jika kita hidup di dalam terang maka kita bersekutu satu sama lain, dan kita bersekutu dengan Kristus karena Kristus adalah terang.

Yohanes mengatakan bahwa Kristus sudah datang, terang sudah datang dan kegelapan sedang lenyap. Berarti kegelapan tidak akan lenyap secara mendadak, tetapi diusir secara berangsur-angsur sampai pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kali. Bila kita ingin hidup di dalam terang, kita terus menerus mendengar Firman dan kita makin lama makin hidup dalam terang. Kita sudah menerima Kristus sebagai Tuhan tetapi masih banyak kebiasaan-kebiasaan lama belum selesai dibuang. Bila engkau benar-benar sudah menerima Tuhan, tetapi terpeleset jatuh berdosa, maka ada pengantara yang mendamaikan engkau dengan Tuhan. Tetapi jika engkau belum pernah sungguh-sungguh menerima Tuhan, hanya tampak luarnya saja sebagai anggota gereja, maka disini Yohanes memberikan suatu ujian.

“Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar”, itu berarti sudah terbukti, tidak takut untuk diuji. Ternyata kebenaran Kristus adalah kebenaran kekal, ternyata semua perintah Kristus bisa direalisasikan. Dalam teologi Reformed, praktis berarti segala sesuatu yang sudah diwahyukan yang bisa dialami. Maka disucikan, dibenarkan, dipenuhi Roh Kudus adalah hal-hal praktis. Allah Tritunggal juga adalah hal yang praktis karena ketika mengalami cinta kasih seperti Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus saling mengasihi, itu membuat teori yang paling sulit menjadi hal yang praktis karena kita mengalami.

Yesaya menubuatkan orang yang duduk di dalam kegelapan akan ada cahaya akan datang kepada dia. Ini adalah datangnya Kristus ke dalam dunia melalui inkarnasi. Karena Kristus sudah datang, maka mau tidak mau kegelapan sedang lenyap. Terang itu akan di dalam hati manusia, dan manusia itu ada di dalam terang.

Bagaimana kita tahu bahwa seseorang itu ada di dalam terang. Ujian tersebut ada di ayat 9 “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Benci dan kasih adalah dua hal yang paling sulit. Kasih perlu pengorbanan yang besar, kasih meng-consume seluruh hidup kita. Benci mengkikis hidup kita, menggerogoti vitalitas hidup kita. Kebencian membuat kita buta dan tidak obyektif melihat orang lain. Kebencian datang dari setan, tidak perlu membenci orang lain. Jika kita membenci orang, maka itu berarti kita ada di dalam kegelapan.

Mengapa manusia membenci orang? Pertama, karena disakiti, dihina, dianiaya. Kedua, karena iri melihat orang lain yang lebih baik, lebih hebat. Bila kita disakiti orang, baiklah kita belajar dari Kristus untuk mendoakan musuh kita. Bila kita benci karena iri itu membuat diri kita tidak berguna. Seseorang membenci orang lain sama artinya membenci Tuhan dan menghancurkan dirinya sendiri.

Gnostikisme mengajarkan bahwa orang diselamatkan melalui pengertian dan logika. Yohanes mengatakan jika engkau punya pengertian tentang hidup di dalam terang, nyatakan dengan tidak membenci orang. Ini bukan soal pengetahuan, tetapi adalah soal hidup yang dirubah oleh Tuhan menjadi penuh dengan cinta kasih. Kita bisa menghajar anak tetapi tetap mencintai mereka. Kita bisa mengkritik pengajaran yang salah, tetapi supaya orang-orang bertobat. Cinta itu bukan manja. Jika kita hidup dalam terang kita tidak boleh memberikan tempat kepada kebencian. Hiduplah di dalam cinta kasih.

Diringkas oleh Yehezkiel Syamsuhadi

Khotbah Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong (30 Desember 2012)

 

Sumber : https://griimelbourne.org/node/324

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube