Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Firman : Yakobus 2: 9-13

Bagian ini membahas beberapa hal yang sangat signifikan: barangsiapa memandang muka, dia berdosa. Barangsiapa melanggar satu hukum, dia melanggar seluruhnya. Barangsiapa tahu Taurat yang membebaskan bakal menghakimi dirinya, dia harus berjalan di dalamnya. Punya belas kasihan adalah proklamasi kemenangan atas penghakiman. Kita telah membahas soal jangan membeda-bedakan orang kaya dan orang miskin. Yakobus menyinggung hal itu, karena saat itu, di gereja ada kejadian seperti itu, dan akan sering terulang di sejarah. Hari inipun, ada hamba-hamba Tuhan yang jatuh menjadi hamba uang, hamba manusia. Karena pikirannya dasarnya adalah uang, keuntungan materi, maka dia memperlakukan orang berdasarkan penampilan. Keadilan tak mungkin ditegakkan, selama hakim lebih menyukai harta ketimbang menjalankan kebenaran. Itulah perjuangan orang Kristen, itulah sebab Yesus datang ke dunia. Seperti yang tertulis di Yes. 42: lihatlah hambaKu, Dia tak kecewa, tak putus asa, tak membela diri, tak mematahkan buluh yang terkulai, tak memadamkan sumbu yang hampir padam. Dia terus berjuang sampai keadilan ditegakkan di bumi. Maka waktu Kristus di dunia, tidak membedakan orang kaya atau miskin, pemimpin agama atau orang yang dibuang oleh masyarakat, Dia terus menjalankan keadilan, bahkan sampai rela mati di kayu salib, tidak kompromi dengan ketidakadilan yang sudah mendarah daging di kebudayaan manusia. Jika gereja mempersilakan orang kaya duduk di kursi yang nyaman, menyuruh orang miskin duduk di tumpuan kakinya, mana mungkin diperkenan Tuhan? Lakukanlah apa yang kau dengar, hidupkan apa yang kau imani. Itulah prinsip Paulus: bagiku hidup adalah Kristus, aku memberitakan Kristus itu Tuhan. Artinya, Paulus sinkron dalam menghidupkan Kristus yang dia percaya, yakin akan Kristus yang dia hidupkan, maka dia menjadi hamba Tuhan yang berkuasa.

Ayat.9, adalah pengertian Alkitab tentang dosa yang begitu super, begitu paradosikal dan begitu supra rasional. Kita selalu menyebut mencuri, berzinah, membunuh itu dosa. Padahal, yang membenci lebih berdosa dari perokok, yang menjunjung tinggi orang kaya, menghina dan menindas orang miskin lebih berdosa dari penzinah. Itu sebabnya, mari kita transformed through Reformed agar kita kita mengerti kebenaran Tuhan dan selalu to be renewed, diperkenan Tuhan. Saya berharap, GRII dihadiri oleh orang terkaya juga orang termiskin di Indonesia, orang yang berada di posisi paling top juga orang yang paling hina di Indonesia, mereka yang berasal dari segala lapisan menemukan, status mereka yang sama: ciptaan Tuhan.

Suatu kali, saat Gladstone, Perdana Menteri Inggris menerima Perjamuan Suci, petani yang berada disampingnya bergeser, menjauh darinya, tapi Gladstone memegang bahunya sambil berkata: we just the same, we are created by God, we are merely sinners, to be saved by the blood of Jesus Christ. Berulang kali saya ingatkan, kita harus punya tulang punggung yang menopang kita berdiri, postur yang sesuai dengan maksud Tuhan saat Dia mencipta manusia. Celakalah orang yang tulang punggung merosot menjadi ekor yang bisa mengibas-ngibas – itu bukan dignitas manusia yang semestinya. Saya tegaskan, gerakan Reformed Injili atau GRII, setidaknya selama saya hidup, tidak mengadakan pengumpulan dana, tidak mengedarkan prayer letter yang sesungguhnya adalah begging letter. Kita akan memberitakan Firman dengan sungguh, setiap orang harus tahu: perpuluhan adalah milik Tuhan. Barangsiapa mengambil perpuluhan bagi dirinya sendiri, dia adalah pencuri di dalam rumah Tuhan. Tak peduli kau sangat kaya atau sangat miskin, mari kita bersama-sama tunduk menyembah Tuhan. Hal-hal penting yang ada di bagian ini:

  1. Ayat 9, memandang muka adalah dosa. Surat Yakobus memaparkan beberapa konsep dan definisi dosa: barangsiapa melanggar Taurat, dia berdosa. Barangsiapa tahu hal yang bajik tapi tidak melakukannya, dia berdosa. Barangsiapa tidak beriman, dia berdosa. Barangsiapa berkeras hati, dia berdosa. Barangsiapa memandang muka, dia berdosa. Karena Taurat mengajarkan kita tidak boleh melakukan hal itu, kalau orang melakukan, dia melanggar Taurat. 
  2. Taurat utuh. Jangan memandang Taurat secara sebagian, tapi secara total. Jadi pengertian kita akan Taurat jangan seperti orang Yahudi, yang mengembangkan sepuluh hukum menjadi 200-an bahkan 613 hukum. Dan menurut anggapan mereka, seberapa banyak mereka bisa lakukan, sebegitu jugalah kerohanian mereka. Yakobus memberikan satu prinsip, kalau seorang melanggar salah satu hukum, dia melanggar semuanya. Artinya, Taurat tidak bisa dipecah-pecah, harus dimengerti sebagai satu kesatuan. Melanggar Taurat tidak dilihat dari berapa banyak yang kau langgar, karena melanggar satu saja sama dengan melanggar seluruhnya. Lalu siapa yang mungkin melakukan Taurat secara lengkap? Tak satupun, itu sebabnya Paulus berkata: jika kita tidak bisa melakukan Taurat, maka marilah kita yang sudah melanggar Taurat ini berpaling pada Kristus, beriman padaNya dan diselamatkan. Efek sampingnya: orang yang dibenarkan oleh iman melalaikan kelakuan. Maka 100 tahun setelah Martin Luther melakukan Reformasi, gereja Lutheran begitu terperosok menjadi begitu bobrok, bahkan tidak lebih baik dari Katholik. Karena mereka begitu menekankan justified by faith, membiarkan hidupnya tidak karu-karuan. Apa itu ajaran Kristen? Bukan! Karena selain unsur agama, kekristenan punya unsur yang tidak dimiliki agama lain: unsur keselamatan. Tapi waktu orang Kristen hanya mementingkan segi penebusan, melupakan segi agama, kita akan dihina oleh orang beragama lain, kita akan jauh lebih bobrok dari non Kristen, Yesus menegur orang Farisi, karena mereka membanggakan kelakuan, yang mereka kira bisa dipakai untuk menukar penebusan. Orang Kristen justru terbalik, merasa diri sudah selamat, tak perlu menghiraukan kelakuan. Mari kita kembali beriman pada Tuhan dan bersandar pada Kristus. Kita tahu, kelakuan tidak bisa ditukar dengan keselamatan, tapi keselamatan harus membuahkan kelakuan yang baik, Amin? Inilah yang Yakobus maksudkan, maka surat Yakobus tidak bertentangan dengan surat Paulus, karena teologi Paulus dan teologi Yakobus itu sejajar, saling mengisi. Bagi Paulus, iman itu seperti yang didefinisikan oleh Martin Luther: the acceptance of acceptance. I accept the fact, which is so super rational, so illogical. Because Jesus has accepted me such a sinner to become a child of God. Tapi iman harus menjadi satu dorongan, membuahkan kelakuan. Mengapa kita melakukan hukum ini melupakan hukum itu? Kita men-fragmentasi-kan Taurat, tidak melihatnya sebagai satu kesatuan: melanggar satu berarti melanggar semuanya. Suatu kali, saya bepergian dengan mobil, saat itu belum ada central lock, harus mengunci setiap pintu mobil secara manual. Saya lupa mengunci salah satu pintunya, melayanglah semua barang-barang yang ada di sana. Mengapa begitu? Karena lupa mengunci satu pintu sama dengan tidak menguncinya. Contoh lain: sebuah kalung. Kalau salah satu bagiannya terlepas, mungkinkah hanya hilang bagian itu saja? Tidak! Satu terlepas kalungpun lepas dari lehermu. Kalau semua bagian saling berkait. Begitu juga Firman Tuhan, perlu dilihat secara keseluruhan. Inilah sifat saya menangani segala perkara, sulit dimengerti oleh rekan kerja saya: tak terlalu memperhatikan hal-hal kecil, tapi melihat dari keseluruhannya. Sekarang ini GRII punya departemen ini dan itu, orang yang ditugaskan mengelola departemen anu selalu hanya memperhatikan departemennya, tidak mau tahu departemen lain. Berbeda dengan saya, saya melihat secara keseluruhan, apakah semuanya sudah sinkron. Orang yang hanya mementingkan bagian dirinya, tidak mau tahu yang lain, tak mungkin menjadi pemimpin yang penting. Mengapa Musa dipilih oleh Tuhan? Karena dia setia kepada seluruh family of Israel (Ibrani). Taurat mempunyai tiga unsur: a). diberikan atas dasar kasih; all commandments derived from the motivation of love. b). Taurat membebaskan, bukan mengikat. c). Taurat membuat orang melakukannya anggun dan terhormat. tapi manusia salah mengerti ketiganya: Taurat berisi larangan-larangan, maka Taurat mengikat kebebasan, menjadikan manusia budak yang remeh dan hina. Tapi Perjanjian Lama mengatakan: the law will set you free. Perjanjian Baru mengatakan: the truth will set you free. Jadi, Firman didasari kasih yang dari Tuhan. Orang yang melakukannya; mengasihi Tuhan, dengan sendirinya tidak menyembah berhala. Begitu juga orang yang mencintai sesamanya, tak akan membunuh, berzinah,….sampai saat berpacaranpun, dia menghormati pacarnya, memelihara statusnya sebagai perawan, sampai hari mereka menikah baru menikmati kasih yang sempurna. Bukan mempermainkannya atau menodainya. Maka, dikatakan disini, Taurat itu membebaskan, juga dikatakan, Taurat itu utuh. Maka kalau aku cinta Tuhan, aku akan menjalankan Taurat. Aku mencintai sesama, aku menjalankan Taurat. Tanpa kasih, orang akan melanggar Taurat. Tapi, orang yang betul-betul mencintai Allah dan sesamanya dengan cinta yang suci, dia akan melakukan Taurat. Itulah yang saya pelajari selama bertahun-tahun, hasilnya: sesibuk apapun saya tidak mengalami depresi, walau sakit tetap melayani. Dengan begitu, saya menikmati kebebasan yang luar biasa.
  3. Taurat membebaskan. Jika kau tahu, manusia harus dihukum berdasarkan Taurat, maka kau harus menjalani Taurat. Criteria of conduct dari Immanuel Kant: kalau kau menginginkan sesuatu bisa dijadikan dalil universal. Jadikanlah itu sebagai drive yang memacumu untuk melakukannya. Maka saat kau melihat seorang melakukan kesalahan, jangan kau mencercanya, tapi kau sendiri melakukannya. Sementara bagi John Duwey, kalau kau ingin melakukan sesuatu, pikirkan dulu akibatnya tiga kali. Kalau akibatnya bakal buruk, jangan kau lakukan. Saya mengajar filsafat puluhan tahun, saya tahu, tidak ada buku yang lebih tinggi dari Firman Tuhan. Yesus Kristus mengajarkan: kau ingin diperlakukan bagaimana, lakukan itu pada orang. You want to be respected, respect others first –ethic of inisiativity, not passive but active. Ay.12, aku tidak berani berkata-kata atau melakukan sesuatu dengan sembrono, karena aku akan dihukum. Kalau begitu, bukankah berarti aku tidak bebas? No. the law of God is to set you free. Aku tidak melakukan, bukan karena takut dihukum, melainkan karena aku tahu, itulah kewajibanku, jangan sampai aku dihukum karena aku melanggarnya. Tapi kalau aku melakukan sesuatu yang tidak melanggar hukum, aku akan melakukannya dengan berani. Jadi, hukum bukan mengikat, melainkan membebaskan.
  4. Hubungan antara Taurat dan belas kasihan: Ay. 13, kalau kau tidak berbelas kasihan, kau akan menghakimi orang, tapi orang yang berbelas kasihan, keinginan mengampuni lebih tinggi dari keinginan untuk menghakimi. Saat orang lain salah, kita marah-marah. Tapi saat kita salah, kita minta diampuni. Itulah hubungan kita dengan sesama, tidak adil. Manusia suka menghakimi orang, tapi tidak suka mengampuni orang. Saat kita menghakimi seharusnya berbeda: mengampuni. Jadi, kau menghakimi dan mengampuni orang yang sama? Ya. Aku tidak memberlakukan keadilan, melainkan menggunakan senjata lain: kasih. Aku punya dasar, punya hak menghakiminya, tapi aku juga punya pengertian atas kelemahannya, maka aku mengampuninya. Jadi what is the purpose of God to give the law of Moses to the world? Menegakkan konsep dan kriteria keadilan di seluruh kebudayaan manusia. Nyatanya, seluruh negara hukum mengadopsi sepuluh hukum yang kriteranya jauh lebih tinggi dari kriteria apapun, karena sepuluh hukum mencakup personal relationship between person and person as the horizontal equal created creatures yang begitu sempurna dan utuh. Allah memberikan hukum atas dasar cinta, maka hukum Allah bukan hanya mengandung unsur menghakimi, hukum Allah yang kesatu hingga keempat disimpulkan menjadi: your God is the only God, love Him with all your mind, your heart. Lalu dari hukum ke 5 sampai kesepuluh bisa disimpulkan dengan: love to neighbour. Kalau hukum diberikan atas dasar motivasi kasih: mengasihi Tuhan dan manusia, mengapa hukum dipakai untuk menghakimi? Penghakiman tanpa pengampunan hanya mendatangkan kematian, sementara kasih mendatangkan pengampunan, membuahkan penebusan. Itulah konsiliasi, propisiasi, redemption yang ada di dalam kekristenan: belas kasihan. Maka, saat kau melakukan hukum yang akan menghakimimu, kau berhati-hati, tapi saat orang lain tidak berhasil melakukannya, kau menaruh belas kasihan padanya. Karena compassion makes a man great. And the greatest example of compassion in history is Jesus Christ. Alkitab sepuluh kali mencatat, Dia menaruh belas kasihan. Jadi kita menjalankan hukum karena kita mengasihi Allah dan sesama, mengapa kita selalu mengkritik, melayani sambil bersungut-sungut? Kita perlu belajar pada Yesus Kristus, tahu semua kesalahan yang total, yang dilakukan para pemimpin agama, tapi Dia juga punya kasih yang begitu besar, orang berzinah yang tidak diampuni oleh semua orang, Dia ampuni. Bahkan kepada perampok yang dibuang Dia berjanji, hari ini kau akan bersamaKu di Firdaus. Compassion makes your personality becomes imortally important. Sejarah tidak banyak mengagumi orang yang pintar berperang, namun terus mengingat mereka yang berjiwa besar. Saudara-saudara yang hari ini ditahbiskan sebagai diaken, perlu punya pengertian Taurat, agar tidak jatuh di dalam dosa. Tapi juga perlu punya compassion, saat orang tergelincir tahu mengasihi bukan menghakimi dia.
  5. Prinsip terakhir yang mengagumkan di bagian ini, kalimat terakhir dari ay. 13, belas kasihan akan menang atas penghakiman. Mari kita memperlakukan orang sama dengan memperlakukan diri sendiri. Mari kita memiliki compassion: bersukacita bersama orang yang bersukacita, meratap bersama orang yang meratap. Karena etika compassion adalah etika kebersamaan, yang membuat orang tidak merasa tersendiri. Mengapa seorang bunuh diri? No hope, no compassion makes a man to commit suicide. Seorang anak gadis menuliskan di catatan hariannya: aku ingin bunuh diri dengan melompat ke sungai. Tapi kalau di perjalanan menuju ke sungai, aku bertemu dengan satu orang yang mau senyum padaku, akan ku-urungkan niat ini. Dia berangkat ke sungai dan mati. Saat orang menemukan catatan hariannya, banyak yang menangis, ternyata dunia ini begitu kejam, dingin, egois, semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. How can we make this world warmer, more friendly, more beautiful? Only by the cheaper investment: smiling. Mari kita belajar. Taurat memang khas, kaku, suci, adil, tapi juga menyatakan kebajikan Allah. Mari kita belajar to have compassion to others, to understand others more, not only to condemn, karena belas kasihan menang atas penghakiman. Kiranya Tuhan memberkati kita, membuat kita mengerti hukum, bukan untuk menghakimi, melainkan berbelas kasihan. Baca 2:9-13.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

 

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2005_01_09_archive.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube